Cinta Sang Merpati
Cinta Sang Merpati
Author: Deany Na
Chapter 1: Sepasang Merpati

Suara sumbang seorang pemuda terdengar memekakkan, mengikuti alunan musik dari lubang-lubang radio yang tidak kalah kerasnya. Pemuda tersebut melajukan kendaraan beroda empat menuju Kota Bandung, tampak di google maps dari layar ponselnya, menempel erat pada dashboard mobil.

Dari mulai bangunan perkantoran, supermarket, hingga mall yang tinggi menjulang beralih menjadi bangunan-bangunan sedang dan kecil. Perjalanannya tak lama lagi berakhir setelah melewati pepohonan berjejer di sepanjang jalan. Hawa sejuk semakin terasa pada setiap inci kulitnya. Dia memilih mematikan AC agar tubuh tidak membeku. Suasana Bandung mulai terasa kental setelah melewati beberapa persimpangan jalan dan stasiun-stasiun di sana.

Pemuda tersebut memberhentikan kendaraannya tepat di sebuah rumah dengan halaman depan yang cukup luas. Ketika menengok google maps, lingkaran biru menunjukan lokasinya berada di Kecamatan Majalaya.

Dia menurunkan kaca mobil, sudah ada seorang pria menunggu di depan rumah, terdapat garasi mobil di samping kanan rumah. Pemuda itu segera memarkirkan mobil kesayangan di luar garasi berlantai semen setelah pagar besi digeser oleh pemiliknya.

Dia keluar dari mobil berlogo ‘T’. Pakaian yang digunakannya sangat sederhana sekali. Hanya kaus hitam bertuliskan 'Komunitas Pecinta Merpati' dengan sablon bergambar merpati tepat di tengah dada. Tak lupa celana pendek berwarna abu-abu di bawah lutut dengan saku di kedua sisinya. Dia menyisir rambut hitamnya kebelakang, sambil mematut diri di depan kaca mobil.

“Assalamu'alaikum!” seru si pemuda dengan senyum melintang, lalu melangkah lebar menghampiri pria berkaus putih dan bercelana hitam itu. “Bapak Dedeng Koswara, ‘kan?”

“Wa'alaikumussalam. Iya, ini saya, Dedeng. Asli,” jawab Pak Dedeng langsung menyalami pemuda di depannya dengan tersenyum ramah sekali.

“Ah, kirain salah alamat, hehe. Ini saya Regi Aerlangga, Pak. Yang mau beli merpati hias bapak,” jelas Regi, cengirannya terlihat jelas setelah mengusap dada. Lega.

“Oh, hayu atuh, Jang Regi. Urang ngopi hela,” ajak Pak Dedeng sambil merangkul Regi masuk ke rumahnya. [Oh, ayo, Nak Regi. Kita ngopi dulu].

“Engh, ngopi?”

“Iya, ngopi,” ujarnya seraya memperagakan tangan mengaduk kopi.

Regi menolak. Kedua tangannya terangkat dan menggeleng pelan. “Enggak, deh, Pak. Saya mau liat-liat merpatinya dulu, boleh?”

“Boleh-boleh. Kandangna sebelah sini,” jawabnya sembari mempersilakan Regi berjalan terlebih dahulu. Mereka melangkah beriringan menuju ke belakang rumah Pak Dedeng.

Kicauan merpati anakan sudah terdengar sejak tadi. Semakin nyaring ketika mereka sampai di sebuah kandang burung berbentuk rumah, berdinding kawat, dengan atap dari seng bercat putih. Banyak sekali jenis merpati di dalam, ada juga yang terbang keluar lewat pintu kayu—di dekat atap—bercat putih yang sengaja di buka oleh pemiliknya.

Sisi luar terdapat beberapa pohon tertanam. Dahan dan daunnya menutupi atap, membentuk kesan asri di sekitar kandang. Padahal arloji pada tangan menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit, yang seharusnya mentari menyorotkan hawa panas dari sinarnya. Namun, ini Bandung. Tetap terasa sejuk meski bayangan diri hanya terlihat seperempat dari badan.

Pak Dedeng membuka pintu, mempersilakan Regi masuk terlebih dahulu. “Maaf, ya, Jang. Sedikit kotor kandangna.”

“Enggak juga, Pak. Bersih kok di sini.”

Kondisi di dalam kandang benar-benar bersih sebenarnya—mungkin Pak Dedeng sekadar berbasa-basi. Lalu karena warna kandang dominan putih, jadi lebih enak di pandang. Regi menengok sisi kiri dan kanan kandang, terbentang meja panjang, di atasnya berjejer rumah burung layaknya kos-kosan berbentuk kotak. Dia langsung mengenali bahan dasar rumah burung, terbuat dari aluminium sehingga mudah untuk dibersihkan.

“Jadi, kalau Jang Regi lagi nyari indukan, ada di sebelah sini," ujar Pak Dedeng mengacu pada kotak di kanan, terhitung lima kotak dari depan, "kalau sebelah sana kebanyakan masih piyik[1] dan baru di lepas dari indukna. Jadi, suarana teh masih 'kikk kikk kikk' gitu.”

Regi hanya mengangguk-angguk saja sambil memicingkan mata. “Kalau merpati yang baru dijodohkan ada enggak, Pak?” tanyanya seraya mengapit jempol di dagu.”

“Ada, sebelah sini,” ujar Pak Dedeng beralih pada kotak sebelah kiri. Regi ikut memutar tubuh kemudian menunduk bersamaan dengan Pak Dedeng.

“Oh! Sepasang Merpati Show King!” seru Regi, matanya mengerjap, berbinar cerah ketika pintu kotak dibuka. Sedangkan sepasang merpati di dalam kotak perlahan mundur ke pojokan.

“Bapak menangkarkan merpati hias apa saja selain jenis ini?” tanya Regi setelah puas menatap merpati dengan bulunya yang putih bersih itu. 

“Ada banyak, kalau di sini cuma ada 4 jenis. Termasuk yang ini, Lahore, Fantail, sama satu lagi Saxon Fairy Swallow.

“Waduh, sangar-sangar, ya.” Dengan senyuman yang tidak pernah pudar, Regi menolak pinggang seraya berucap, “Saya boleh liat-liat yang lain 'kan, Pak?”

“Oh, boleh atuh. Silakan diliat-liat dulu, Jang.”

Mendengar persetujuan dari pemiliknya, Regi tersenyum lima jari, telapak tangan digosokkan sampai terasa hangat. Satu per satu rumah para merpati ia buka.

Pada rumah pertama, sepasang Merpati Show King tadi mundur kembali ke sudut. Warna bulunya sangat bersih dan seputih susu. Merpati jantan berdiri dengan dada membusung, sementara betinanya berlindung di balik si jantan. Pada sarang kayu berisi jerami, belum ada bekas retakan cangkang telur ataupun lelehan lendir dan air, menandakan bahwa mereka belum menjadi indukan.

“Benar-benar baru dijodohin ya. Cara breeding-nya gimana nih, Pak?” tanya Regi, tangannya berusaha menangkap si pejantan, namun lolos berkali-kali.

“Saya mah cuma pakek satu cara aja kalau di sini. Biarin aja indukna meloloh anakna sampe siap dipisahin. Kalau di penangkaran yang satuna saya pakek cara babuan juga,” jelas Pak Dedeng.

Regi mengangguk lagi, cukup paham dengan penjelasan Pak Dedeng, “Jadi selain di sini, bapak menangkarkan beberapa jenis merpati hias di tempat lain juga?”

“Uhun, Jang. Soalna kalau di dieu sadaya mah terlalu sempit kandangna.” [Iya, Nak. Soalnya kalau di sini semua terlalu sempit kandangnya.]

Untungnya Regi sedikit belajar tentang bahasa Sunda, sehingga dirinya cukup mengerti perkataan dari Pak Dedeng.

Regi kembali membuka rumah merpati. Kali ini, giliran Merpati Lahore yang terlihat begitu anggun. Corak hitam dari paruh dan pialnya membelah leher hingga punggung dan sayap, mirip seperti penguin. Tampak si betina sedang mengerami telur-telurnya dan membekur pelan agak terganggu. Sementara sang jantan berdiri di dekat betinanya, melirik-lirik waspada.

“Yang ini udah bertelor toh, Pak?”

“Iya, kalau yang itu baru kemarin bertelur.”

“Wah, keren!” seru Regi, melanjutkan kembali melihat-lihat yang lain.

Pada rumah burung ke tiga ada sepasang Merpati Fantail. Ciri yang paling menonjol yaitu pada ekor mereka yang menyerupai kipas.

Yang terakhir memiliki nama cukup panjang, yaitu Saxon Fairy Swallow. Sesuai dengan namanya 'peri', jenis merpati yang satu ini menang sangatlah menarik. Bagian kepala sampai ekor berwarna dasar putih. Sedangkan sayap dan bulu-bulu kaki berwarna lain—sesuai induknya. Pada kepalanya terdapat noktah warna—yang hanya memenuhi dahinya saja. Sementara kakinya terbungkus oleh bulu-bulu hias. Jika dirawat dan tidak banyak yang patah, kakinya akan terlihat seperti mengenakan sandal bulu.

Dari kejauhan terdengar kumandang azan asar, tidak terasa sudah selama ini Regi berada di kandang merpati, rasanya tidak ingin keluar.

“Saya mau salat dulu, ya, Jang. Istri saya lagi buat kopi, Jang Regi bisa duduk dulu di teras rumah,” jelas Pak Dedeng, memasukan kembali ponsel ke dalam saku celana setelah mengetik sesuatu pada layarnya.

“Oke, Pak. Siap!” Regi mengacungkan jempolnya dengan senyuman seperti biasa. Seketika netranya melirik rumah kotak berisi Merpati Show King setelah Pak Dedeng tak tampak keberadaannya.

Regi membuka lagi pintu seukuran rumah kotak itu. Tatapannya tajam dengan seringai aneh mencuat dari bibir. Sang merpati jantan tampak waswas, menatap Regi dengan mata bulatnya.

“Kalian akan kubeli sebentar lagi. Jadi, siap-siap, oke?”

Sang jantan merasakan aura aneh dari manusia di depannya. Itu sebabnya dari pertama melihat Regi, si pejantan refleks melindungi betinanya.

Bersambung... 

________________________________________


Ket:

[1] Merpati anakan, masih belum lengkap lar-nya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status