Chapter 7: Ke Jakarta

Dini hari di Bandung sudah seperti dini hari di gunung. Hawa sejuk bagai es meleleh menelusup dari celah-celah pakaian. Nadya dan Nur tidur berdua di mobil, sedikit terusik dengan hawa dinginnya. Jaket hitam ukuran laki-laki membungkus tubuh Nadya bagai selimut. Sementara Nur tertutup jaket tebal yang baru ia beli kemarin malam di toko grosir dekat rest area.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan kaca berulang-ulang di sebelah Nur tidur, tapi tidak digubris. Nur masih memejamkan matanya erat, seperti tak ingin diganggu oleh siapapun.

Namun, suara ketukan itu makin sering, kemudian muncul seseorang balik kaca mobil. “Nur ... bangun ... udah subuh ...,” bisiknya.

Seketika Nur menegakkan badan dan menutup mulut saat menguap. Dirinya membuka pintu mobil kemudian meraih tas kecil berisi mukena pada dashboard mobil. Kedua maniknya masih sulit terbuka meski sudah turun. Rupanya yang memanggil adalah Fadil, terlihat membawa sebotol air mineral di tangan.

“Ini, minum dulu. Biar seger,” ujar Fadil seraya menyodorkan botol.

Nur tersenyum dengan mata tertutup, meraih botol tersebut lalu berkata, “Thanks.”

Setelah itu, Nur membuka tutup botol dan meneguknya. Bulu kuduk seketika meremang berkat rasa air yang hambar dan dingin bagai air es. Kedua matanya jadi cemerlang, tidak lagi berat seperti tadi. “Ini air es?” tanya Nur.

“Bukan, air biasa kok.”

Alis Nur bertaut beberapa saat. “Oiya lupa, ini ‘kan Bandung,” ucapnya sambil cengengesan ketika ingat posisinya sekarang.

Jadi, mereka memutuskan untuk menginap semalam di Rest Area Saduma. Sebab kedua pemuda yang bertugas menyetir tampak tak bisa melanjutkan perjalanan karena mengantuk dan lelah. Mereka berangkat dari Jakarta siang hari dan sampai Pangandaran tengah malam. Selama perjalanan, polisi dan perawat di sana yang menangani si pasien.

Para perawat dan polisi terluka cukup serius ketika menggiring pasien masuk ke mobil ambulans. Itu sebabnya, pengelola puskesmas di sana menghubungi Komunitas Mental Health untuk menjemput pasien, puskesmas tersebut tidak sanggup menangani keliaran pasien dan hanya komunitas ini yang mau menerimanya. Sementara komunitas sejenis tidak ada yang berani mengambil risiko. Perawat khusus mental di sana juga terbatas, cukup masuk akal menjadikan hal tersebut sebagai alasan.

Mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta agak siangan setelah menginap semalam di Pangandaran. Masalahnya sekarang, tak ada satu pun Rumah Sakit atau puskesmas yang berani menampung pasien. Alasannya hampir sama. Tidak cukup perawat, sarana dan prasarana yang tidak memadai, bahkan sampai ada yang jujur bahwa mereka takut menanganinya.

“Gimana?” tanya Jaka pada Nadya yang baru saja menghubungi salah satu RS di Jakarta—tempat komunitas mereka berdiri.

Namun, Nadya menggeleng lemas. “Sama aja, mereka menolak.”

“Terus gimana? Masa kita bawa pasien ke panti Sinar Asih? Orang-orang spesialis aja pada gak sanggup, apalagi orang-orang kita?” tanya Jaka bertubi-tubi. Sedangkan Nadya tampak memalingkan wajah, bingung.

Tidak mungkin juga mereka membawa pasien yang sangat ‘berbeda’ ini ke panti yang masih baru dibangun. Tapi, tidak ada pilihan lain.

Fadil dan Nur baru saja selesai salat subuh. Mereka berjalan mendekati Nadya dan Jaka yang berdiri tepat di depan ambulans.

“Lo pada kenapa?” tanya Nur heran.

Nadya dan Jaka, melirik berbarengan. Gerak tubuh mereka terlihat lesu. Nadya menghela napas kemudian berkata, “Puskesmas dan RS, gak ada satu pun yang bersedia menampungnya.” Sudut mata Nadya memandangi badan ambulans di belakang yang berisi pasien.

“Terus gimana sekarang?” tanya Fadil.

“Entah. Pilihan satu-satunya ... membawa pasien ke panti Sinar Asih, di JakPus[1].”

“Kalau gini caranya, mereka sama aja kayak lepas tanggung jawab. Anj*nglah.” Jaka mengumpat. Dia melempar topi hitamnya ke mobil lalu melangkah jauh dari temannya. Dia menghembuskan napas ke langit dengan menolak pinggang.

Nur berlari kecil ke arah Nadya. Melihat Jaka yang emosi, membuatnya sedikit takut. “Menurut gue enggak apa-apa, buat sementara aja. Lagian ada lo yang bisa bikin dia tenang. Gue juga bakal bantu urusin. Gak usah khawatir,” tuturnya sambil menyunggingkan senyum manis. Lipstik warna coral membikin Nur terlihat makin menarik senada dengan kerudungnya.

Dari posisinya yang semula Fadil tersenyum. Senyuman yang hanya ia tunjukkan untuk Nur seorang. Fadil melangkah mendekat teman-temannya sambil membuka pintu mobil yang ada topinya Jaka. “Ayo, berangkat sekarang. Nanti keburu siang.”

“Eh, lu. Nyetir ambulans yang satunya. Ini bagian gua,” tegas Jaka, kedua matanya memberikan kode dengan berkedip.

Awalnya Fadil tidak mengerti maksud dari kedipan Jaka. Tapi setelah melihat Nadya, ia mengatupkan bibir menahan senyum yang hampir terbentuk. “O-oya. Mbak Nur bareng saya lagi ya?” tanya Fadil sedikit tergagap.

Nur melirik Fadil sebentar lalu menatap Nadya sambil menggenggam tangannya. “Kalau ada apa-apa sama pasien, chat gue ya?”

Nadya mengangguk lalu berkata, “Hm, makasih ya, Nur.”

Nur tersenyum hangat lalu menatap Fadil. “Ayuk deh,” jawabnya atas pertanyaan Fadil sambil tersenyum simpul.

Walhasil, mereka berangkat pukul 06.30 WIB. Hanya akan berhenti saat bahan bakar mulai menipis atau saat sampai di tempat tujuan, yaitu panti rehabilitasi untuk para ODGJ. ‘Sinar Asih Bakal Belaka’ sering di singkat SABABE.

***

Zaara, menggerak-gerakkan pulpen di atas buku terbuka dengan sebelah tangan menopang dagu. Akan tetapi, halaman buku masih putih, tak ada coretan hitam sedikitpun di sana.

Padangannya tidak tetap. Ada saatnya Zaara menatap meja guru dengan lekat tapi sedetik kemudian beralih pada murid lain yang mengobrol di sisi kanan dan kiri. Di kiri ada Lalisa dan genknya sementara di kanan berkumpul anak-anak pintar, tampaknya sedang mengerjakan tugas dari pak guru—sebenarnya mereka tidak pintar-pintar amat, hanya memiliki ranking bagus di kelas ini saja.

Mengapa Zaara tidak ada keinginan untuk berbaur? Entahlah, malas. Karena mau sekuat apapun dirinya mencoba, dua kelompok itu tak ada yang sudi menerimanya. Bukan salah mereka juga, mungkin karena dirinya sendiri yang terlalu kaku dan tidak bisa melebur dengan mereka. Itu sebabnya daripada diabaikan serupa orang-orangan sawah yang tak hidup, lebih baik memisahkan diri. Keliatan keren dan misterius menurut Zaara. Padahal yang sebenarnya dia lebih terlihat seperti anak ansos[2].

“Gue jadi kangen Randa. Pulang sekolah nanti ... gue jenguk aja deh,” gumam Zaara sembari menghembuskan napas kasar.

“Zaara Yulanda!”

Tiba-tiba suara cempreng nan memekakkan tersiar dari arah pintu kelas. Yulia baru saja dari kelas lain sembari menggenggam ponsel pintar yang masih memutar video di Metube. Teman-teman di sana, melirik Yulia penasaran, tapi ada juga yang sinis menanggapi teriakan Yulia sebab tidur siangnya terusik.

“Ganggu aja lo, gak liat apa gue lagi tidur?” pekik seorang siswa berandalan pada bangku jajaran paling belakang.

“Hehehe, maap.” Yulia menciut, langkahnya memendek karena takut disemprot lagi oleh preman sekolah.

 Kemudian dirinya duduk sebelah Zaara. Kembali memutar video si cowok liar. “Liat, Ara. Dia langsung viral! Banyak metubers yang membahasnya juga, bahkan sampe ke luar negeri beritanya.”

Zaara menatap layar ponsel beberapa saat kemudian bertanya malas, “Terus apa hubungannya sama gue?”

Yulia mengerutkan kening. “Ya ... gak ada sih. Tapi ‘kan—”

“Stttt!” Ara membungkam mulut Yulia dengan satu telunjuknya. “Gue mau demus mumpung masih jam istirahat. Lo kalau mau gosip sama yang lain aja ya?”

Seketika Yulia memberengut. “Oke oke, gue pikir lo bakal tertarik makanya gue kasih tau. Yadalah, gue ngegibah di kelas 11-E lagi aja sama Sisil.”

Zaara bisa bernapas lega, lantaran Yulia sudah hilang dari pandangan. Bukannya tidak mau mengobrol dengan Yulia, hanya saja dia ingin sehari saja tidak memikirkan si cowok liar. Karena sejak kejadian itu, bayang-bayangnya tidak pernah hilang. Zaara lelah memikirkannya, tapi juga penasaran.

Sebenarnya manusia macam apa dia itu? Kenapa tingkahnya aneh sekali? Zaara meraih ponselnya dan berselancar internet, tak disangka ia menemukan kasus serupa pada tahun 2018 yang terjadi di Luar Negeri. Rupanya kasus seperti ini memang langka, bahkan hanya ada satu kasus di dunia dan kasus di Indonesia ini adalah yang ke dua.

“Sekarang tahun 2025, jaraknya jauh banget.” Zaara terpaku sesaat. “Ah, terserahlah. Pusing kalau dipikirin terus.” Dia menyerah dan memilih untuk melupakan dengan cara mengalihkan semuanya pada musik yang ia dengar.

Bersambung...

_______________________________________

Ket:

[1] Jakarta Pusat

[2] Anti Sosial

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status