Chapter 9: Wanita Aneh

“Alhamdulillah, Baik. Jang Regi sendiri?”

“Saya juga baik, Pak. Bapak di sini mau nonton aja atau?”

“Oh, kalau saya baru aja daftarin Merpati Wulung saya di sini. Jang Regi mau liat?”

“Boleh.”

Seperti tiga bulan lalu, mereka mengobrol dengan baik, bagaikan teman akrab yang baru bertemu setelah sekian lama. Rencana Regi berhasil, selama bercakap-cakap dengan Pak Dedeng ia tidak ditanyai lagi soal merpati yang sudah dijual pada seorang wanita cantik.

Tak terasa kontes unggas berbulu cantik akan segera dimulai. Pak Dedeng meminta izin dengan sopan meskipun dirinya lebih tua dari Regi. Mereka akhirnya berpisah, sementara Regi segera menjauh dari kerumunan orang dan keluar dari ruangan in-door tersebut.

“Gila! Untung si bapak gak sadar,” sesal Regi. Ia menggeleng sembari menghembuskan napas kasar. “Setidaknya gue bisa ngalihin topik, jadi aman,” gumamnya sambil berjalan mendatangi mobil yang di parkir dekat pohon jambu air. Tapi, gue jadi penasaran sama merpati yang gue jual itu. Padahal kualitasnya jempolan, pikirnya.

Lama berdiri di samping mobil, seorang wanita mendekati Regi. Wanita berhoodie abu itu menepuk pundak Regi perlahan. Namun, karena pikirannya sedang di tempat lain, Regi terperanjat sampai berbalik dengan mata menatap horor tanpa suara.

“Maaf, saya membuat Anda terkejut, ya?” tanya si wanita begitu santai.

Rasanya ingin marah. Tapi melihat wanita berbodi bagus di hadapannya sekarang membuat emosi negatif menguap tanpa sisa.

***

“Jadi, Nona ingin saya mengadopsi remaja laki-laki ini?” tanya Regi, ia duduk bersebelahan dengan si wanita di dalam mobil. Lalu mengamati foto yang diberikan si wanita. Dalam foto tersebut, terdapat seorang remaja laki-laki yang diajari cara berjalan oleh seorang gadis. Remaja itu berambut putih, sangat aneh sekali.

“Iya, untuk semua biaya hidupnya biar Tuan saya yang menanggung.”

Regi mengernyit, ia menatap wanita di hadapannya. Wanita itu sungguh tak punya ekspresi yang menyenangkan, hanya datar sejak mereka bertemu. “Memangnya kenapa dengan anak ini?”

“Anda tidak perlu tahu.”

Agak menjengkelkan. Jawabannya tidak memuaskan sama sekali. Pandangan Regi terpaku pada klakson mobil. “Baiklah. Tapi bagaimana Nona bisa menemukan saya?”

“Saya masih memiliki nomor ponsel Anda. Saya bisa melacak nomor ponsel.”

Njir! Serem juga ini cewek. Kata-katanya kayak agak aneh gitu. Semakin lama jawaban si wanita terasa kaku. Rasanya seperti sedang mengobrol dengan AI[1] Google Asisten, tapi yang ini lebih canggih berkali-kali lipat.

“Anda mau menerima tawaran dari saya?” tanya si wanita.

“Hm, boleh juga.” Padahal Regi belum menjawab secara pasti. Namun, si wanita langsung berkata, “Baiklah kalau begitu saya pamit. Jangan lupa informasikan setiap perkembangannya melalui pesan chat.” Wanita cantik itu pergi begitu saja meninggalkan Regi yang masih mencerna setiap perkataan darinya.

Bukan main, sepertinya memang ada yang tidak beres dengan wanita itu. Pertama kali bertemu, Regi merasa tidak begini perangainya. Ia ingat seringai di bibir merona si wanita. Sedangkan yang sekarang, seperti orang yang berbeda.

Mendadak, ponselnya berdering. Pada layar terdapat nama si penelepon, ‘Majikanku’. Regi lekas mengangkat teleponnya. “Halo, sayang. Iya maaf, aku pulang sekarang deh. Kamu mau aku bawain apa di sini? Oya, ok. Siap.”

Panggilan telepon terputus. Napasnya terasa lebih berat dan dalam selepas mengobrol dengan seseorang bernama ‘Majikan’. Ingatannya kembali pada obrolan dengan si wanita. Tampaknya akan membutuhkan waktu cukup lama untuk menuntaskan misi ini, karena Regi harus meminta izin dulu kepada sang majikan.

“Semoga berjalan lancar,” gumamnya berdoa sepenuh hati.

***

Nadya dan Pak Haji Arifin berjalan berbarengan di koridor panti. Mereka berbincang-bincang soal perkembangan para pasien di sana.

“Selamat ya, saya ikut senang mendengar kabar pernikahan Nak Nadya dan Nak Jaka. Maafkan bapak tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian,” tutur Pak Haji.

Nadya memandangi lantai koridor, merasa segan jika harus bertatap muka. “Tidak apa-apa Pak Haji, saya udah senang bapak masih ingat. Terima kasih untuk kado pernikahannya.”

Merekapun kembali mengobrol hingga tak terasa sampai di depan pintu ruangan pemilik panti. Sebelum masuk ke dalam Pak Haji Arifin mendadak berbalik. “Ngomong-ngomong soal pasien remaja yang berkelakuan aneh, gimana keadaannya sekarang?”

Nadya memeluk lengan sembari tersenyum simpul. Ia menjawab, “Baik, baik sekali. Perkembangannya sangat pesat, bahkan sekarang sudah bisa berjalan. Saya enggak nyangka bisa secepat itu. Dia juga udah bisa ngobrol walau masih sedikit terkendala.”

“MasyaAllah, baguslah kalau begitu. Nak Nadya sudah kasih nama?”

“Sudah, namanya Theo.”

“Bagus, namanya cocok. Tapi, untuk rambut aslinya ... lebih baik diwarnai hitam saja. Bagaimana?”

Nadya menatap lantai, cukup setuju dengan usulan Pak Haji Arifin. Mungkin setelah ini, dirinya akan mengajak Theo pergi ke salon. Sekalian memotong rambut yang sudah panjang dan juga poninya hampir menutupi mata.

“Sebenarnya saya mengusulkan begitu karena ada yang ingin mengadopsinya. Bagaimana menurut Nak Nadya?”

Nadya mengerjap, menatap Pak Haji lekat. “Mengadopsi? Siapa?”

“Sepasang suami-istri muda.”

“Bukan, maksud saya siapa yang akan diadopsi?”

“Nak Theo. Bapak belum memutuskan apa-apa karena ingin tahu bagaimana pendapat Nak Nadya.”

Alis Nadya berkerut, ada secercah keraguan dalam dada. “Bapak menyimpan berkas-berkas penting soal pengadopsi? Saya ingin tahu dulu riwayat hidup mereka.”

“Ada, di ruangan saya. Nak Nadya tunggu di sini sebentar, ya.”

Nadya mengangguk dan tersenyum ramah. Pak Haji segera mengambil berkas-berkas penting dari sepasang pengadopsi dan menyerahkannya pada Nadya.

“Saya pinjam ini sebentar, boleh?”

“Ya, silakan. Jangan lupa dikembalikan kalau sudah,” ujar Pak Haji dengan nada jenaka.

“Hehehe, siap! Bapak gak usah khawatir, pasti saya kembalikan.”

Sementara di kamarnya, Theo sedang membaca buku, membuka lembar demi lembarnya. Berawal dari buku ‘Aku Ibu Budi’ hingga buku untuk para remaja SMA, semua yang sudah dibaca akan disimpan bertumpuk di samping tempat tidur. Sudah 5 bulan lebih Theo ada di panti Sinar Asih, tidak kesulitan lagi untuk berjalan atau sekadar mandi dan makan sendiri. Nadya pun sudah jarang menemuinya, padahal dirinya sangat merindukan Nadya. Bukan karena dia menyukai Nadya, hanya saja keinginan bertemu ini bak seorang adik yang merindukan kakaknya.

Theo menutup buku agak keras, ia sudah selesai membaca. Mendadak suara ketukan pintu terdengar. Theo menoleh dan lekas bangkit dari duduk. Seketika hati kian berbunga kala menatap seorang Nadya tersenyum padanya.

“Pagi,” sapa Nadya agak canggung, “sudah sarapan?”

“Sudah.” Meski Theo telah membaca banyak buku, tapi cara bicaranya masih kaku dan belum terlatih. Beberapa kata kadang agak sulit untuk diungkapkan.

“Kamu habis baca buku apa?” tanya Nadya kemudian duduk bersamaan dengan Theo di pinggir ranjang.

Theo lekas menyodorkan buku pada Nadya, rupanya itu adalah buku pelajaran yang dibelikan oleh perawat lain. Pandangan Nadya tertuju pada tumpukkan buku di belakang Theo. Sebagian judulnya tak jauh berbeda dengan yang digenggamnya sekarang. “Sepertinya kamu ingin sekolah seperti yang lain, ya?” tanya Nadya menatap lekat manik hitam Theo. Nadya dengar dari curhatan para perawat yang mengurusnya, Theo sering memperhatikan anak-anak sekolah yang lewat dari balik pagar panti. Bahkan Theo pernah keluar pagar hanya karena penasaran dengan remaja-remaja seusianya.

Sementara Theo sekadar menjawab pertanyaan Nadya dengan satu kata saja. Raut wajahnya belum menunjukkan banyak ekspresi layaknya manusia biasa, terlihat datar sepanjang hari.

“Tapi, kalau bacaannya buku pelajaran terus, kamu bakal kesulitan berbicara loh.” Nadya tersenyum kemudian menunjukkan buku yang ia sembunyikan dibalik punggung. Pantas saja sejak tadi satu tangannya terus berada di belakang.

Theo penasaran, sangat-sangat penasaran. Namun, otot mukanya tidak berubah sedikitpun. Ia bertanya, “Itu buku apa?”

“Ini buku ‘Cara-Cara Berkomunikasi Dengan Baik dan Benar’. Mau membacanya?”

“Aku mau.” Theo menerima buku tersebut dan mulai membaca dengan serius.

Seulas senyum mengembang pada bibirnya. Sudah sebulan lebih Nadya tidak menjenguk Theo setelah berhasil mengajarkan cara berjalan dengan baik. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia menjadi lebih sibuk akibat urusan pribadi.

Bersambung...

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status