Share

My Cold Doctor (Indonesia)
My Cold Doctor (Indonesia)
Author: Selfie Hurtness

Tragedi Ban Kempes

“Sial!” umpat Selly kesal ketika menyadari ban mobilnya kempes, mana dia buru-buru pagi ini! Ia memukul setir dengan gemas lalu melangkah turun guna memeriksa kondisi ban mobilnya.

Kempes, benar-benar kempes! Selly memijat pelipisnya dengan gemas. Mana setengah jam lagi sosok menyeramkan itu sudah visiting lagi! Ia merogoh iPhone-nya mencoba mencari pertolongan ketika kemudian Pajero putih itu berhenti tepat di belakang mobilnya.

Selly mengerutkan keningnya, siapa itu? Apakah kenal dengan dirinya sampai-sampai ia harus berhenti dan hendak menolong dirinya? Eh ... tapi kata siapa ia hendak menolong Selly? Siapa tahu ia hanya berhenti hendak menerima telepon atau mungkin hendak membuang sampah? Membeli minuman atau koran? Tidak ada yang tahu bukan?

Belum hilang rasa terkejut Selly ketika tahu yang turun dari mobil itu adalah sosok Anggara Tanjaya, dokter bedah senior sekaligus salah satu konsulennya yang tadi ia sebut menyeramkan itu. Sosok dingin dan galak setengah mati yang membuat sosok itu begitu di takuti oleh para koas dan residen bagian bedah.

“Saya tiga puluh menit lagi visiting dan kamu malah berhenti di sini?” tanya sosok itu ketus.

Kalau log book dan nilainya tidak perlu tanda tangan sosok itu, rasanya Selly sudah ingin melepar iPhone itu tepat di jidat laki-laki tiga puluh tujuh tahun yang saat ini sialnya tampak begitu tampan dengan setelan scrub warna biru tuanya. Wajahnya begitu bersih dengan bibir merona merah, manik matanya hitam legam, mennyorotkan tatapan sedingin es dan setajam scalpel

“Ban mobil saya kempes, Dok!” guman Selly lirih sambil menundukkan kepalanya. Tampan sih, cuma sorot matanya itu begitu tajam dan menusuk, membuat Selly tidak berani menatap langsung ke dalam mata itu.

“Ada bawa ban cadangan?” tanya sosok itu dingin.

“Ada, ta-tapi ....”

“Antar anak saya ke sekolah, mobilmu biar saya yang urus. Kita ketemu di rumah sakit!” titahnya tegas sambil menyodorkan kunci mobil.

Selly mengangkat wajahnya menatap wajah dengan rahang tegas berwibawa itu dengan seksama. Dia mau membantu Selly menganti ban mobil Selly yang kempes?

“Kenapa diam? Ayo buruan keburu anak saya telat dan kita sendiri juga telat!” gumannya tegas sambil menjejalkan kunci mobil itu ke dalam tangan Selly.

“Ba-baik Dokter, terima kasih banyak!” Selly buru-buru masuk ke dalam Pajero putih yang nampak begitu bersih dan kinclong. Sama seperti pemiliknya yang selalu berpenampilan bersih dan rapi.

“Felicia diantar kakaknya dulu nggak apa-apa kan?” guman Anggara dari jendela mobil yang diturunkan itu.

“Kenapa, Pa?” protes gadis itu yang tampak tidak nyaman dengan Selly yang sudah duduk di balik kemudi.

“Jadi Kak Selly ini mahasiswi Papa, ban mobilnya kempes, dia nggak bisa ganti, jadi biar Papa yang bantu dan Felicia diantar Kak Selly ke sekolah, oke?”

Felicia tampak menoleh dan menatap Selly dengan seksama. Selly hanya melempar sebuah senyum manis ke arah gadis yang menurut perkiraannya masih berumur empat tahunan itu.

“Iya deh, Papa hati-hati ya!” guman gadis itu kemudian.

“Siap, kamu juga hati-hati ya, Sayang!” Anggara menatap ke arah Selly yang masih kikuk dan grogi setengah mati itu, “Titip anak saya, saya tunggu di rumah sakit!”

“Baik, Dokter. Sekali lagi terima kasih banyak!”

Sosok itu hanya mengangguk, senyum yang merekah itu hanya diberikan pada Felicia, untuk Selly? Jangan harap! Selly bergegas menghidupkan mesin mobil dan membawa mobil itu pergi meninggalkan sosok dokter Anggara dan Honda Jazz putihnya yang kempes ban itu.

Ini kali pertama bukan ia membawa mobil sebesar ini? Keringat dingin sudah menitik dan membasahi dahinya, semoga tidak terjadi apa-apa, hanya itu harapannya.

“Sekolah Felicia di mana, Sayang?” tanya Selly yang sadar bahwa ia tidak tahu di mana sekolah anak konsulennya itu.

“Tadika Putri, Kak. Lurus aja nanti lampu merah belok kiri, sekolahnya kanan jalan.” Jawab bocah itu lugas, membuat Selly tertegun sesaat. Sekecil ini dan sudah bisa dengan baik mengingat dan memberi petunjuk jalan? Astaga hebat, sama bapaknya dikasih makan apa sih?

“Oke siap!” jawab Selly sambil tersenyum, ia harus fokus, ini bukan mobilnya dan jangan lupa pemilik mobil ini adalah penentu kelulusannya! Mana anaknya Selly bawa lagi, bisa habis Selly kalau sampai kenapa-kenapa.

“Kok ban mobil Kakak bisa kempes?” tanya Felicia yang begitu anteng duduk di joknya itu.

“Nggak tahu, kena paku mungkin. Padahal tadi sebelum berangkat Kakak sudah cek dan semua baik-baik saja.”

Tampak gadis itu mengangguk tanda mengerti. Selly hanya melirik sekilas dan tersenyum. Fokusnya kembali pada kemudi di tangannya dan jalanan yang terhampar di hadapannya.

“Kakak besok jadi dokter juga dong berarti?” tanyanya yang mulai nyaman dengan keberadaan Selly.

“Iya nih, doakan kakak selalu lancar pendidikannya ya?” senyum Selly merekah, membayangkan ada gelar ‘dr.’ di depan namanya itu membuat ia semangat setengah mati menjalani semua suka-duka kepaniteraan klinik-nya ini, semua demi gelar dokternya!

“Iya, Kakak yang semangat ya!”

“Pasti dong, kalau Felicia besok pengen jadi apa, Sayang? Jadi dokter juga kayak papa?” obrolan dengan gadis itu sedikit membuatnya sedikit rileks.

“Iya dong, besok Felicia pengen jadi dokter jantung!” jawab sosok itu dengan semangat.

“Lho kok dokter jantung? Kan papa dokter bedah?” Selly tersenyum, dari mana anak ini bisa punya cita-cita jadi dokter jantung?

“Iya, kakek dokter jantung, dan Felicia kepengen kayak kakek nanti.”

Selly mengangguk, rupanya darah murni dokter turun-temurun. Ia menyimak gadis itu yang masih asyik bercerita panjang lebar itu, dalam hatinya, Selly ingin segera sampai di sekolah Felicia, sampai di rumah sakit dan semua baik-baik saja!

***

Anggara memasukkan semua peralatan dan ban yang baru selesai ia ganti itu. Susah memang kalau perempuan yang bawa mobil. Peralatan selengkap ini masih bingung pas bannya kempes.

Anggara tersenyum simpul, lengkap juga peralatan yang dibawa koasnya itu. Anggara berani bertaruh bapaknya pasti yang sudah menyiapkan semua ini.

Setelah membersihkan tangan dengan tisu basah yang ada di dashboard mobil, Anggara bergegas masuk dan duduk di belakang kemudi. Matanya tertuju pada tas yang tergolek di jok yang ada di sebelahnya itu. Bukan apa-apa, di tas tertempel id card milik gadis pemilik mobil ini.

“Selly Veronica Hariadi, dokter muda.”

Anggara tersenyum, ya ... panggilan untuk para mahasiswa kepaniteraan klinik adalah dokter muda, meskipun mereka belum benar-benar mendapat gelar dokter mereka. Mereka harus lulus kepaniteraan klinik, UMKPPD, OSCE terlebih dahulu supaya bisa mendapatkan gelar dokter mereka, Anggara sudah melewati itu semua oleh karena itu ia paham betul bagaimana perjuangan para dokter muda ini hingga akhirnya dapat STR dan bisa praktek mandiri.

Anggara menghela nafas panjang, ia melirik arlojinya. Sedetik kemudian ia bergegas menghidupkan mesin mobil dan membawa mobil itu melaju menuju rumah sakit tempat dia bekerja.

Bagaimana dengan gadis kecilnya tadi? Ia harap koasnya itu menjaga dan mengantarnya dengan baik. Karena Felicia adalah satu-satunya harta paling berharga yang Anggara miliki.

Comments (7)
goodnovel comment avatar
Hafidz Nursalam04
lhxykxulcluxohxkh
goodnovel comment avatar
M Arkanudin
ok baguuusss
goodnovel comment avatar
Yuli Defika
apa judulnya kak
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status