Mercusuar
Mercusuar
Author: Andrea Lee
Rindu

PRAAANG!

“Dasar istri tidak tahu diri. PELACUR KAU!”

Aku kecil berusaha keras menutup kedua lubang telinga yang menangkap kalimat makian tadi. Pekik hardikan itu sungguh-sungguh menyiksa. Walau sudah disumpal dengan lipatan bantal erat-erat, tetap saja suara kerasnya itu berhasil menerobos masuk.

Dengan refleksnya, aku dorong kuat-kuat sumpalan bantal hingga daun telinga ini terasa sedikit sakit. Sampai kemudian aku yakin kalau suara-suara yang bernada penuh emosi itu tidak mengusik lagi di dalam gendang telinga.

Diriku bahkan mendadak dibuat meringkuk di dalam selimut abu-abu yang katanya hadiah pemberian orang yang barusan mencela ibu tadi.

“Suami bajingan. Pergi sana, sama perempuan peliharaanmu!”

“BANGSAT KAMU!”

PLAAAK!

Satu suara seperti pipi yang ditampar keras terdengar lagi dari depan kamar tidur yang lampunya sengaja dimatikan.

Aku hanya melihat pergulatan itu dari siluet bayangan perkelahian mereka yang muncul di gorden penutup celah pintu kamarku.

Tak lama, suara itu menghilang.

Sayup-sayup kegelapan malam yang ada di luar rumah mungil ini pun mulai menjalar masuk.

Dan tak lama, aku mendengar pintu depan rumah dibuka dengan paksa hingga deritnya begitu jelas terdengar.

Entah siapa yang keluar dan pergi. Apakah ibu? Atau mungkin ayah yang pergi lagi? Ah, aku sudah tidak peduli.

Sayup-sayup kemudian mulai mendengar suara lirih yang lain. Yaitu suara ibu yang menangis pelan.

Rintihannya amat lirih namun sangat mengiris hati. Walau waktu itu aku tidak dan belum memahami apa arti dari sebuah sakit hati, tetapi sepertinya aku mulai mempelajarinya.

Ibu terdengar menangis di luar. Entah dari ruang tamu, atau di ruang kecil yang di dalamnya ada meja serbaguna yang biasa aku pakai untuk sarapan, atau mungkin di sudut tembok kamarku persis.

Tangisannya kian mendayu-dayu. Begitu sedih menyayat. Begitu dalam.

Dan aku merasakannya kini.

Pelan-pelan kaki-kaki ini bergerak menepi dari atas ranjang. Lalu turun menjejaki lantai yang ada di bawahnya. Dan dengan sedikit keberanian dan rasa penasaran, akhirnya aku membuka kain gorden yang memisahkan isi kamar dengan suasana sedih yang tadi terjadi di luar sana.

"Bu?" tanyaku pelan.

Kulihat ibu sedang terduduk lemas dengan wajah yang datar tanpa harapan sedikitpun.

Aku dibuat bingung. Apakah kesedihan itu karena ulah ayah, atau karena ulah kenakalanku, atau akibat penyesalan karena sudah melahirkanku?

Aku tidak mengerti.

Dan dalam tubuh yang berdiri kaku di samping kusen pintu ini, ibu melempar pandangannya yang memanggil aku untuk segera mendekat.

Disekanya derai air matanya. Lalu kedua lengan tangannya ibu luruskan panjang-panjang.

Bibir ibu tak lama bergerak-gerak menahan pilu, kedua kelopak matanya bahkan berkedip perlahan memanggil lagi dengan caranya yang lain.

"Kemari, nak."

Aku yang teringat pesan moral ibu agar selalu mematuhi perintah orang tua tanpa harus menanyakan maksud dan tujuannya, segera menjawab panggilan itu.

Pelan-pelan, aku berjalan dan semakin dekatkan diri dengan sosok ibu yang yang masih duduk pasrah di sudut lantai. Kemudian aku merunduk, dan akhirnya masuk ke pelukannya yang masih terasa hangat dan nyaman.

Kedua mata ini lalu ku pejamkan erat-erat, sambil mencoba rasakan kembali detak jantung dan riak naik turun jalan napas ibu yang setiap malam menemaniku menjelang tidur.

“Maafin Lukman ya bu. Sudah bikin ibu menangis.”

“Tidak apa-apa, anak manis. Ibu tidak apa-apa kok.”

Kurasakan ibu sepertinya tersenyum barusan. Gerak pipinya terasa sekali di atas tempurung kepala.

Lama kelamaan tangisan ibu kian menyusut, dan akhirnya surut sama sekali.

“Bu, Lukman ngantuk.”

“Iyah… Tidur ya nak, tidur sama ibu.”

Lambat laun ibu mulai menyanyikan lagu gubahannya sendiri. Lagu yang selalu dia nyanyikan kalau aku mau menikmati tidur yang menghapus lelah dan kemudian menyegarkan.

“Tidurlah, tidur. Anak ibu yang baik. Anak ibu yang soleh. Anak ibu yang pintar. Tidurlah, tidur. Biar ibu yang menjagamu.”

Lagu itu ibu nyanyikan hingga lima kali, kemudian dia pelankan nada suaranya, hingga akhirnya perlahan-lahan menghilang.

Aku, yang pura-pura tertidur lagi di dalam pelukannya, menatap ke pecahan piring yang ada di lantai di dekat meja kayu tempat kompor yang biasa ibu gunakan.

Hamparan tajamnya ada dimana-mana. Mungkin besok pagi ibu akan berhasil menghilangkan jejak pecahannya lagi. Tetapi kali ini, aku berhasil melihat dengan mata kepala sendiri, seperti apa bentuk luluh lantahnya.

Tanganku tak lama berubah melingkar memeluk dadanya. Lalu, begitu aku berhasil memeluknya, ku eratkan rangkulan tangan itu, seolah menyampaikan maksud kalau aku tidak mau kehilangan sosoknya. Apapun itu kondisinya. Apapun.

“Hhhhh…..”

Aku mendengar ibu mendesah barusan.

Dalam hembusan napasnya yang terasa berat itu, aku seperti merasakan semua beban yang sedang ibu luapkan.

Lagi-lagi aku berpikir.

Apakah karena ulah ayah, atau karena ulah kenakalanku. Atau mungkin memang, karena penyesalan sudah melahirkanku.

Aku pun bingung. Sungguh-sungguh tidak mengerti.

Mungkin karena memang belum waktunya aku memahami semua itu.

Tetiba, aku merasakan tiupan angin dingin yang menjalar di punggung. Dinginnya begitu menusuk-nusuk. Bahkan tumpuan kaki ibu yang ku gunakan sebagai alas duduk, dibuatnya bergerak-gerak.

“Sebentar ya sayang,” ucap ibu sebelum akhirnya dia menguatkan pelukannya kemudian berdiri dan membawaku bergerak menghampiri pintu depan yang terbuka lebar.

Ibu menutup pintu itu pelan-pelan. Suaranya begitu lembut. Berbeda dengan suara yang aku dengar sebelumnya.

Dan begitu bunyi anak kuncinya diputar, aku merasakan udara yang lebih hangat. Terlebih kehangatan dari pelukan ibu.

Sekarang, ibu berjejak melangkah sambil sesekali menumpu ke tembok yang lewat di sampingnya.

Mungkin karena beratnya beban yang ibu emban, atau mungkin karena berat badan yang semakin bertambah.

Ah, aku memilih perkiraan yang terakhir saja.

Karena ibu begitu lihai memilih makanan yang murah bergizi untukku selalu, aku pun berhasil tumbuh menjadi anak yang baik, soleh dan pintar sesuai doa dan lantunan lagunya.

Beratku sekarang berapa ya?

Terakhir ditimbang bersama ibu saat berkunjung ke klinik di ujung kompleks, jarum angkanya menunjuk ke angka dua puluh lebih sedikit.

Aku saat itu hanya bisa menerka-nerka artinya. Yang pasti, saat tubuh ini berusaha melompat-lompat kecil di atas tumpuannya, jarum itu ikut bergerak-gerak mengimbangi iramaku. Bahkan, jarumnya masih bergerak-gerak kecil saat aku sudah berdiri diam. Lalu bibir ini, hanya bisa tersenyum.

Jarum itu lucu.

“Berapa bu?” tanyaku waktu itu.

Tak lama, setelah ibu mencermati ujung jarumnya, dan membaca isyarat angka apa yang ditunjukkan olehnya, ibu akhirnya menyimpulkan, “Dua puluh dua. Alhamdulillah.”

Ibu akhirnya tersenyum senang, aku pun juga ikutan tersenyum bersamanya.

Dan senyumannya itu, semakin melebar saat dokter memberitahukan kalau demam tinggi yang pernah aku rasakan karena terlalu banyak minum es teh manis, sudah lenyap menghilang.

Kata ibu, karena aku anak yang pintar dan rajin minum obat pemberian pak dokter itu, walau rasanya ada yang agak getir di ujung lidah.

“Hhhhh..”

Ibu mendesah lagi. Kali ini rasanya lebih lepas. Aku tidak mengerti kenapa. Tetapi yang pasti, dalam satu napas yang barusan ibu buang, aku merasakan kalau penat yang ibu hadirkan sejak tadi sudah berangsur-angsur menguap.

“Bismillah…”

Kata mulia itu ibu tuturkan dua kali dalam jeda kira-kira empat detik. Sebelum akhirnya,

Simak terus kelanjutannya ya. Jangan lupa subscribe, beri komentar, star dan gift terbaik kamu juga.

Comments (4)
goodnovel comment avatar
Indah Yuliana
wah, awal yang menegangkan, ada masalah apa ya sampai si ayah semarah itu? ceritanya ngalir... runtut enak dibaca. lanjut thor..
goodnovel comment avatar
Triyuki Boyasithe
astaga, baru aja mulai udah dimaki2. kwkwkw. Btw, untuk tanda serunya cukup tiga atau kelipatannya. contoh: Praaang! atau Prang!!! Ini setahuku, ya? Haha. CMIIW
goodnovel comment avatar
Jessicasyj89
rapi banget thor merinding aku jadinya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status