Share

8. Farhan Merapat

Setelah menghabiskan seluruh makanan di atas meja, mereka pulang. Selama di perjalanan, Arini dan Tio diam seribu bahasa. Lelaki yang disukai Arini itu terlalu pendiam. Terkadang membuat gadis itu sulit mengerti apa yang sedang dipikirkan olehnya.

“Tio, memangnya kamu ingin ikut festival di mana?” tanya Arini membuyarkan keheningan.

“Oh, aku akan mengikuti festival di Jepang. ‘Shorts Shorts Film Festival’ kamu tahu, kan,” tutur Tio sambil tersenyum manis.

“Ah serius mau ikutan festival itu?” Mata Arini terbelalak dengan membuka mulutnya lebar-lebar.

“Serius.” Menganggukkan kepala.

“Semoga saja film kita masuk nominasi,” harap Arini berbunga-bunga.

“Amiin, aku pun berharap demikian.” Tio menepikan mobilnya. Akhirnya dia sampai di depan gerbang rumah Arini.

Tio kembali membukakan pintu mobil untuk Arini. Saat Tio melakukan hal itu, Ibu Arini melihat semua kejadian itu. Dia merasa bersalah pada anaknya ini jika tahu apa yang sudah orang tuanya rencanakan.

Terlihat jelas wajah Arini sangat cerah, anak dokter itu memang sangat tampan. Tidak heran jika wanita manapun yang melihat paras tampan seperti itu pasti menyukainya. Terlihat juga ada raut gembira di wajah tampan itu. Apakah keputusannya akan tepat?

Tio melihat Ibu Arini berdiri di depan pintu. Dia tersenyum sambil membungkukkan sedikit tubuhnya. Ibu Arini mengangguk sambil tersenyum simpul. Tio kembali ke rumahnya dan Arini pun sudah bersiap diberondongi pertanyaan seputar Tio.

“Rin, Ibu mau minta bantuan kamu,” ucap Ibu Arini sambil meraih putri semata wayangnya.

“Iya Bu,” jawab Arini. Dia menyimpan tasnya lalu mengikuti Ibu menuju dapur. Mereka berdua duduk di meja makan. Ibu Arini menuangkan air minum untuk Arini.

“Rin,” panggil Ibu Arini. Wajahnya terlihat sangat serius, seperti ada sesuatu hal yang pasti membuatnya resah.

“Iya Bu,”

“Sepertinya kamu dekat dengan anak sebelah, apa kamu berpacaran sama dia?” tanya Ibu Arini sambil memegang cangkir di atas meja.

Sudah kuduga Ibu akan mengatakan hal demikian

“Aku tidak berpacaran sama Tio, Bu,” jawab Arini sambil menundukkan pandangannya.

“Terus apa kamu menyukai anak itu?” Ibu Arini ingin memastikan.

“Kenapa Ibu tanya hal itu? Arini baru saja bertemu dia kembali setelah lima tahun tidak bertemu,” jelas Arini. Tangannya terus menggosok paha, sesekali juga dia menggoyangkan sebelah kakinya.

“Apa dia mantan kamu?”

“Bukan, dia hanya lawan main Arini waktu audisi pertama. Sejak saat itu Arini nggak pernah ketemu lagi,” jawab Arini kembali. “Sebenarnya ada apa sih Bu?” lanjutnya.

“Tidak,” jawab Ibu Arini singkat. Dia terdiam lalu beranjak dari kursi dan pergi ke halaman belakang rumah.

Arini semakin mencurigai tindak-tanduk ibunya. Dia ingin mengejar tetapi urung karena semakin banyak bertanya semakin rumit pula jawabannya. Akhirnya dia kembali ke kamar.

Tidak lama, ada suara ketukan pintu. Arini membukakan pintu dan melihat Farhan berdiri sambil membawakan sebuah buket bunga cantik. “Farhan, ada apa kamu ke sini?” tanya Arini sambil mempersilakan Farhan masuk.

“Kamu sudah pulang,” ucap Farhan tidak menjawab pertanyaan.

“Iya baru selesai syuting. Kamu dandan rapi mau apa? Wah mau apelin pacar kamu ya,” terka Arini sambil mengacungkan jari telunjuk kea rah Farhan.

“Ih, apaan. Aku nggak apelin pacar. Aku tadi diberi ini sama muridku,” jawab Farhan.

“Oh gitu, ya udah bunganya buat aku aja. Kamu kan laki-laki buat apa bawa-bawa bunga,” pinta Arini dengan polosnya.

“Ya udah ini buat kamu.” Menyerahkan buket bunga ke tangan Arini.

“Eh, Farhan aku nggak pernah lihat ada foto cewek lain di kamarmu, kenapa?” tanya Arini penasaran.

“Hahaha, aku nggak suka foto. Ya foto di kamarku kan itu semua pemberian kamu jadi kupanjang saja,” jawab Farhan takut ketahuan.

“Oh iya, aku ada sesuatu buat kamu Han.” Arini pergi menuju kamarnya. “Eh, sekalian saja kamu bantu aku,” ajaknya.

Farhan mengikuti Arini ke kamarnya. Kamar Arini masih seperti dulu, tidak berubah. Foto dirinya dan Arini pun masih terpajang cantik di atas meja belajar. Ternyata wanita itu tidak pernah melupakannya. “Rin, fotoku masih kamu pajang aja. Memangnya cwok kamu nggak marah?” tanyanya.

“Ah, aku nggak punya pacar Han. Kamu tau kan Erik Mahesa,” ucap Arini.

“Iya, dia pernah menjadi lawan main kamu kan,” jawab Farhan sambil duduk di tempat tidur Arini.

“Aku sama dia berpacaran lama, hampir tiga tahun,” jawab Arini.

“Oh iya benar, aku tahu pernah ada gossip tentang itu. Jadi itu benar?” tanya Farhan.

Arini mengangguk, matanya berlinang, tidak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Meskipun dia sudah tidak mencintai Erik, tetapi rasa sakit itu masih ada.

“Dia selingkuh ya,” ucap Farhan. Arini mengangguk. “Dia melakukan hubungan suami istri dengan Susan. Saat itu aku hancur banget, Han.” Menghapus air matanya sendiri.

Farhan berdiri, dia lalu berjongkok di hadapan Arini. Menengadahkan kepala, matanya tertuju langsung pada Arini. “Aku yakin kamu bisa bahagia,” Farhan menyemangati Arini. Dia menghapus air mata Arini yang masih membasahi pipinya.

“Farhan, Kenapa kamu belum punya pacar? Padahal kamu tampan,” tanya Arini.

“Aku nunggu kamu,” jawab Farhan serius.

“Hah.” Arini membuka matanya lebar-lebar.

Farhan meraih jemari Arini dengan erat. Dia usap punggung tangannya lalu dia taruh telapak tangan Arini ke dadanya.

Arini menelan saliva, jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Rasanya sangat aneh ketika Farhan melakukan itu.

“Hahahaaha, jangan bercanda,” elak Arini sambil  menepuk bahu sahabatnya.

Farhan bergeming. Dia tidak sedang bercanda. Tidak pernah ada keraguan dalam hatinya untuk mencintai sahabatnya.

Arini tidak bisa berkata-kata. Selama ini memang tindakan dan juga perhatian sahabatnya itu melebihi dari esensi seorang teman pada umumnya. Tidak bisa dipungkiri, selama dia bersahabat dengan Farhan, perhatian yang diberikan lelaki itu sangatlah besar. Bahkan orang sekitarnya merasa jika ada hubungan yang lebih dari seorang teman. Akan tetapi Arini selalu menyangkalnya. Bukan karena dia tidak menyukai Farhan, dia takut jika dia sudah terlalu percaya diri Farhan menyukainya, tetapi Farhan hanya menganggap teman saja.

“Aku tidak akan memaksa, kita akan tetap menjadi seorang teman. Terlepas kamu menolakku atau tidak,” ucap Farhan.

Arini mencoba menarik garis bibirnya ke atas. “Iya, kita kan sahabat sudah lama. Namanya pernah menyimpan rasa tidak aneh kan. Kamu lelaki, aku perempuan ya saling suka kan wajar,” jawab Arini mencoba tenang.

“Pokoknya kamu harus semangat. Kalau kamu mau meraih cita-citamu, aku akan selalu dukung kok,” ucap Farhan. Raut wajahnya kembali seperti biasa. Arini mulai merasa nyaman lagi setelah dia tadi merasa kikuk

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status