Share

Raise - Betrayal of The Knight Templar Season 1
Raise - Betrayal of The Knight Templar Season 1
Author: Farmuhan

Prolog

“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”

Itulah sumpah yang selalu diucapkan oleh Andreana Merlinstone kepada suaminya, Muhanov Merlinstone ketika Templar mulai memburunya untuk dibunuh. Andreana terus melindungi Muhanov dari seluruh gempuran Templar yang datang kepadanya.

Percikan dan kilatan cahaya saling menyambar saat pertempuran Andreana melawan seluruh Templar yang mengejarnya. Senjata Suci Apel Eden dibuat mengamuk oleh Andreana dengan melancarkan serangan dahsyat yang membuat tubuh anggota Templar tercerai berai. 

Puncaknya, Andreana bertarung sendirian melawan para Grand Master yang dulu pernah disebutnya sebagai saudara seiman. Para Grand Master terus menggempur Andreana habis-habisan. Seluruh senjata suci yang mereka miliki diarahkan kepada Andreana sebagai pembersihan dosanya. Serangan-serangan dahsyat mereka sampai menggetarkan dan merusak tanah disekitarnya.

Pertarungan antar Grand Master itu membuat anggota Templar lainnya tidak bisa masuk ke dalam medan perang yang ganas itu. Batas tanah antara yang rusak dan tidak menjadi batas mereka untuk tidak masuk ke dalam medan tersebut. Sekali mereka masuk, mereka akan langsung hancur lebur.

Andreana terus berjuang melawan serangan mereka. Dia mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya sampai melampaui batas fisiknya. Senjata Suci Apel Edennya sampai menolak perintah Andreana karena tuannya mau mati, tapi dia terus memaksa Apel Eden menguras nyawanya agar Muhanov bisa dia lindungi.

 Hanya saja perjuangan Andreana terhenti saat sebuah kilatan cahaya tiba-tiba mengarah kepada Muhanov. Kilatan cahaya itu membuat mereka berdua terpisah untuk selamanya. Muhanov bisa mendengar tangisan Andreana yang berusaha menggapai tangannya yang tidak bisa dia raih. Perlahan suara andreana menghilang bersama seluruh sumpahnya yang lenyap dalam kegelapan.

***

“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”

Suara tersebut terdengar lagi. Suara istrinya yang sangat Muhanov rindukan. Suara itu terdengar lirih dan sedih tapi masih bisa terasa di hati. Suara tersebut muncul saat terjadi sebuah pertarungan besar yang sekarang terjadi di depannya. Pertarungan besar yang mempertaruhkan kembalinya Andreana kepadanya. 

Hanya saja Muhanov tidak mengerti dari mana suara itu berasal. Apa dari Andreana yang sekarang berada di depannya sambil mengacungkan senjata suci Apel Eden kepadanya? Atau dari seorang wanita yang memegang sebuah tongkat bendera yang terus bercahaya untuk melindungi dirinya?

Muhanov tidak tahu apa yang terjadi Dia mencoba berdiri lalu berjalan untuk mendekati wanita tersebut. Meskipun kakinya terasa sakit untuk digerakkan dan mata kanannya berdenyut-denyut kaena pendarahan yang tidak bisa berhenti, dia terus berjalan dan berjalan menuju cahaya dari wanita yang melindunginya.

Saat Muhanov berhasil meraih tangan yang memegang bendera tersebut. Dia terkejut ketika melihat wajah yang tidak asing baginya. Wajah yang selama ini dia rindukan semenjak Templar mengambil istrinya darinya, “An...dreana?” begitulah lirihnya.

Wanita tersebut menoleh kepada Muhanov. Dia tersenyum kepadanya dengan perasaan lega. Hanya saja dia harus konsentrasi dan tetap mengangkat tongkat benderanya untuk melindungi Muhanov. 

Tongkat benderanya terus bercahaya menahan serangan besar yang diarahkan oleh Andreana. Tangan wanita itu gemetaran karena rasa takut yang bersemayam dalam dirinya. Tapi rasa takut itu bukan karena kematian yang sekarang siap menjemputnya, tapi takut jika dia harus berpisah dengan Muhanov lagi. 

Wanita itu lalu menarik pedang dari sabuknya. Tapi entah kenapa pedang yang dia ambil terasa berat; tangan kanan yang memegangnya gemetaran; tangan kirinya sendiri sedang berusaha menahan agar tongkat benderanya tidak jatuh. Hanya saja dia tetap berusaha tegar dan mengacungkan pedang tersebut kepada Andreana.

Lantunan doa mulai dibisikkan oleh wanita tersebut. Muhanov tidak bisa mendengar apa yang dia lantunkan. Yang Muhanov tahu hanyalah air mata yang berjatuhan di tangannya. Wanita itu menangis dengan tetap menatap Andreana yang ada di depannya. 

“Muhanov. Aku bersumpah atas nama Tuhan. Aku akan melindungimu”

Itulah kalimat terakhir yang wanita itu berikan kepada Muhanov sebelum cahaya terang dari tongkat benderanya membutakan semuanya. 

Setelah itu terjadilah Ledakan besar yang langsung menghancurkan semuanya. Wanita tersebut bersama Muhanov terlempar sangat jauh.

Ledakan besar tersebut langsung membuat wanita itu jatuh pingsan. Setelah beberapa menit, dia terbangun. Rasa sakit dari seluruh tubuhnya langsung menusuk sampai membuat dia sulit untuk bangun. Terutama kakinya yang terasa hampir tidak bisa dia gerakkan.

Wanita itu lalu berusaha mengumpulkan tenaganya untuk mengambil tongkat bendera yang terpisah 3 meter darinya. Dia terus berusaha merayap sampai dia mendapatkan tongkat bendera tersebut. Dia lalu mencoba berdiri sambil bertumpu dengan tongkat benderanya.

Wanita itu lalu mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri. Pemandangan yang sangat mengerikan terhamparkan di matanya. Seluruh wilayah yang diserang oleh Andreana semuanya rata dengan tanah. Manusia, binatang, pohon, dan rumah tidak luput menjadi korban. Ledakan tersebut melelehkan mereka semua sampai dia bisa mencium bau gosong yang menyengat dari mereka.  

“Muhanov! Muhanov!” 

Ada seorang berteriak memanggil nama Muhanov. Wanita itu penasaran siapa yang memanggil Muhanov. Dia mencoba berjalan ke tempat arah suara itu berasal sambil menembus asap dan kabut yang berasal dari mayat-mayat yang terbakar.

“Muhanov! Muhanov!”

Ternyata ada seorang gadis muda yang berusaha membangunkan Muhanov. Gadis tersebut memakai baju yang aneh dengan sebuah peti mati di belakangnya. Dengan menahan sakit dari luka kakinya, Wanita itu lalu mencoba mendekati mereka untuk melihat apa yang terjadi pada Muhanov.

Wanita itu langsung terkejut dengan kondisi Muhanov yang mengenaskan. Mata kanan Muhanov hancur sampai bola matanya keluar dari wajahnya. Tubuhnya juga penuh dengan luka besar yang membuat darah keluar tanpa henti. Gadis yang memegangi tubuh Muhanov langsung menangis ketika merasa sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan dari Muhanov. 

Wanita itu lalu berlutut dan dia mulai ikut menangis juga. Dia terlihat sangat menyesali apa yang sudah terjadi. 

Tapi…

Wanita tersebut tidak menyerah. Dia lalu mencoba menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari temannya yang mungkin masih selamat dari ledakan tersebut. Karena dia ingat temannya juga sudah mendapatkan perlindungan bendera itu dan mungkin terlempar juga. 

“Montmorency!” teriak wanita itu ketika dia melihat temannya terbaring tidak jauh dari mereka.

Wanita itu lalu berdiri dan berjalan dengan pelan mendekati tubuh Montmorency. Dia lalu berlutut untuk memeriksa kondisinya. Dia langsung bernafas lega ketika melihat temannya masih hidup dan hanya pingsan.

“Aku rasa, aku hanya bisa sampai di sini saja, Montmorency” gumam Wanita tersebut sambil mengelus kepala Montmorency, “Maafkan aku yang sudah merepotkanmu. Tolong jaga mereka untukku, ya?”

Wanita itu lalu mengambil sebuah belati kecil dari saku Montmorency. Belati tersebut berwarna putih dengan sebuah simbol 3 bulan di ujungnya. Setelah dia mengambilnya, dia lalu kembali ke tempat Muhanov.

Wanita itu lalu berlutut di samping tubuh Muhanov. Dia lalu mencabut belati tersebut dari sarungnya. Setelah itu tangannya dia angkat dan mengarahkan mata belatinya ke mata kanannya. Kelopak mata kanannya dia biarkan terbuka menatap ujung mata pisau tersebut.

Narrum Permission. Compile: Horologia. Generate Command: Open Bridge, Clockwork manipulation. Execute ” ucap wanita itu dengan pelan.

Seketika permukaan mata kanannya berubah menjadi sebuah mesin jam kecil. Dua buah jarum jam di sana lalu berputar tidak karuan dan langsung berhenti tepat pada angka 12:00. Setelah itu dia mulai menusukkan belatinya kepada mata kanan tersebut.

“Apa kau yakin dengan itu?” tanya Dewi Narrum yang langsung muncul di sampingnya membuat wanita itu berhenti sejenak, “Jika kau melakukannya, kau tahu apa yang terjadi kan?”

“Ini pilihan terakhirku, Dewi Narrum. Yang paling penting adalah dia tetap hidup” balas wanita tersebut, “Lagipula, jika dia mati. Permintaan yang telah Engkau kabulkan kepadaku akan menjadi sia-sia”

“Baiklah”

Dewi Narrum lalu menghilang dari pandangannya dan wanita itu langsung menusukkan belati tersebut ke matanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status