Share

Bab 1 - Pernikahan

Bab 1 - Pernikahan

Pohon Dewi Narrum memekarkan bunga berwarna Ungu kemerahan, bunga itu lalu melepaskan diri dari pohon tersebut dan terbang memutarinya sambil menari-nari dengan anggun. Bunga itu juga melepaskan semacam kelap-kelip serbuk bunga dan menghujani 3 orang yang berada di bawahnya. Pohon itu mengulangi prosesnya sampai membuat kubah bunga yang memutari mereka bertiga.

“Dewi Narrum, terima kasih sudah hadir dalam pernikahan yang sakral ini. Namaku Sofia Merlinstone, Ratu Varangian, memohon berkahmu untuk hari yang terindah bagi umatmu.” ucap Ratu Sofia.

Sofia menengadahkan tangan ke atas sambil menangkap salah satu bunga yang turun di antara mereka. Dia lalu mengambil tongkatnya dan digerakkan memutar, lonceng yang ada di atasnya juga ikut bersuara dengan tempo yang sama saat bunga itu menari. Sofia lalu memukul dua orang di depannya dengan pelan menggunakan tongkatnya. Setelah itu dia memutarinya selama 3 kali dan berhenti tepat di depan mereka.

Sofia memberikan senyum kepada kedua orang tersebut dan bersamaan dengan itu Dewi Narrum langsung turun dari atas pohon dan berdiri di atas kepala Sofia.

“Aku ucapkan selamat kepadamu kepada sang pria Muhanov Merlinstone, Homonculus dari Adripil Merlinstone dan sang wanita, Andreana Sheffield, anak dari Adrian Sheffield serta domba sang Tuhan.” kata Dewi Narrum.

Dewi Narrum berdiri dengan tegap, gaun berwarna ungu kemerahan yang berasal dari bunga di pohonnya memberikan keindahan dan keanggunan yang mempesona. Kepalanya dihiasi dengan sebuah mahkota dari rangkaian daun gandum yang melingkar di kepalanya dengan 3 simbol yang aneh di tengahnya. Rambut hijau panjangnya dikepang seperti bentuk air terjun dan terurai panjang sampai menyentuh tanah.

Andreana langsung merinding saat Dewi Narrum berdiri di atas kepala Sofia. Pesona sang Dewi membuatnya jadi sangat gugup.

Dewi Narrum tahu jika Andreana gugup, dia lalu turun dari kepala Sofia dan mendekatinya.

“Jangan takut. Aku memang Dewi yang menciptakan mereka, tapi aku bukan orang yang menakutkan.” kata Dewi Narrum sambil mengelus kepala Andreana. 

Sang Dewi lalu menjentikkan jarinya lalu keluarlah Satu rangkaian bunga yang berasal dari pohonnya, dia lalu memberikannya kepada Andreana.

“Terima…. Kasih.” ucap Andreana gemetaran.

“Rangkaian Bunga ini disebut Ayu, yang artinya Keindahanmu bagiku.” ucap Dewi Narrum.

Setelah itu Dewi Narrum terbang ke atas dan berdiri lagi di atas kepala Sofia. Sofia lalu mengangkat tongkatnya.

“Atas namaku Sofia Merlinstone dan Dewi Narrum, hari ini aku akan mempertanyakan kalian berdua atas janji yang akan diukir ke dalam pohon ini. Aku Sofia, mewakili sang pria, bertanya kepadamu, Muhanov Merlinstone apakah kau bersedia untuk mendampingi, melindungi, dan menyayangi Andreana sebagai wanita yang akan menjadi belahan jiwamu serta keturunanmu nanti?” tanya Ratu Sofia.

“Ya.” jawab Muhanov dengan singkat dan tegas.

Lalu giliran Dewi Narrum bertanya.

“Dan aku, Narrum, mewakili Sang wanita, Andreana Sheffield, bertanya, apakah kau bersedia menerima pria ini sebagai pasanganmu yang akan mendampingi, melindungi, dan menyayangimu dan ditunjuk sebagai pria yang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas tubuh, jiwa, serta keturunanmu nanti?” tanya Dewi Narrum sambil membuka tangannya dengan lebar

Andreana sedikit kaget saat Dewi Narrum bertanya kepadanya, meskipun dia sudah mempersiapkan hatinya untuk pernikahan ini, tapi Sang Dewi yang berdiri tegap di atas kepala Sofia memberikan tekanan yang sangat besar kepadanya.

Andreana lalu mengangkat kepalanya dengan perlahan untuk menatap Sang Dewi, Dewi Narrum membalasnya dan diberikanlah sebuah senyuman yang begitu cantik, begitu indah, tapi terasa menyeramkan. Ketika Andreana menatapnya, tubuhnya langsung membeku dan seolah-olah ingin berkata: Tunduklah padanya, patuhilah dia, menyembahlah kepadanya. 

Andreana bahkan tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya terbuka tapi lidahnya terasa dipegang dan ditahan untuk tidak berucap satu katapun. Rasanya jika dia salah mengucapkan kata yang akan keluar dari mulutnya, maka Dewi Narrum akan melakukan sesuatu yang mengerikan kepadanya. 

Muhanov melihat Andreana berusaha mengeluarkan jawabannya, tapi mulutnya hanya terbuka tanpa ada sepatah kata suarapun. Dia lalu memegang tangan Andreana, mungkin dengan memegang tangannya Andreana bisa berhenti gemetar.

Andreana sedikit terkejut ketika tangannya dipegang, dia menoleh kepada Muhanov yang tersenyum padanya. Mereka berdua saling memandang selama 5 detik, Andreana sadar bahwa Muhanov sudah berada di sampingnya, dia berusaha menghilangkan kegugupannya dengan menghirup nafas dan melepaskannya secara perlahan

“Saya, Andreana Sheffield, menerima Muhanov Merlinstone sebagai pendampingku.” jawab Andreana dengan monoton dan kaku

Dewi Narrum jadi tertawa, “Kau tidak perlu menjawabnya terlalu panjang seperti itu, Andreana.”

Andreana langsung gugup lagi saat Dewi Narrum membalasnya. Dewi Narrum tertawa lagi melihat Andreana yang terus gugup karena melihatnya. Dewi Narrum lalu mengangkat kedua tangannya

“Atas namaku, Narrum, Dewi Penguasa Bumi Utara memberkahi pernikahan ini dan menerima kalian berdua sebagai sepasang suami istri yang sah.” ucap Dewi Narrum dengan lantang.

Pohon tersebut mulai menggugurkan daunnya di dekat Dewi Narrum, kedua tangannya dia rapatkan dan membentuk wadah untuk menangkap daun tersebut. Dia genggam daun tersebut dengan erat-erat dan menaburkannya dengan perlahan di atas kepala Muhanov dan Andreana

“Muhanov dan Andreana, berikan tangan kiri kalian.” kata Dewi Narrum.

Muhanov langsung mengangkat tangan kirinya dengan santai sedangkan Andreana belum mengangkatnya. Muhanov lalu memegang tangan kiri Andreana dan membantunya untuk diangkat sampai Andreana baru sadar kalau disuruh mengangkat tangan kirinya. Setelah kedua tangan kiri mereka terangkat, Dewi Narrum lalu memunculkan sebuah panel [Information], panel itu mengeluarkan sirkuit sihir yang langsung mengikat jari manis mereka. Perlahan-lahan panel itu bertuliskan nama:

|Muhanov Merlinstone|

|Andreana Sheffield|

Yang langsung berubah menjadi

[Andreana Merlinstone]

Ikatan sirkuit sihir itu langsung mengikat sirkuit sihir di jari manis mereka berdua. Muhanov dan Andreana merasakan rasa sakit di jari manis mereka, rasanya nyeri sesaat seperti digigit semut. Setelah selesai, panel [Information] menghilang.

“Sekarang kalian bisa mengecek panel tersebut di [Relationship].” ucap Dewi Narrum

Muhanov lalu mengecek panel [Relationship], panel tersebut merupakan panel baru berada dibawah panel [Information] yang akan ada jika seseorang menikah. Disana tertulis dengan jelas:

|Muhanov Merlinstone, Suami ; Andreana Merlinstone, Istri|

“Dengan ini kalian sudah dengan resmi dinyatakan sebagai suami istri, dengan bantuan panel [Relationship], kalian bisa melihat panel [Information] setiap pasanganmu, seperti apa kemampuanmu, skill, level, dan lain-lain yang ingin kau tahu. Dengan ini tentu saja tidak ada kerahasiaan antara kalian berdua soal informasi yang ada pada tubuh kalian. Hanya saja ya kalau yang berada di luar itu semisal pembagian exp, kenangan, siapa orang yg pernah kau temui atau hubunganmu dengan orang lain semisal teman atau saudara tidak akan diketahui” ucap Dewi Narrum menjelaskan dengan singkat soal panel [Relationship] tersebut.

Andreana menitikkan air matanya, dia lalu terjatuh sambil tetap melihat panel [Relationship] yang terlihat di depannya. Andreana akhirnya mendapatkan kebahagian yang selama ini dia impikan sejak lama, menikah dan menjadi seorang istri untuk pria yang dicintainya sepenuh hati. Dia tidak bisa menahan seluruh air matanya dan terus menangis sambil tersenyum bahagia.

Muhanov lalu berlutut di sampingnya dan mengelus kepalanya, dia juga ikut bahagia melihat Andreana, Muhanov lalu menghapus air matanya dengan sapu tangannya tapi Andreana menepis tangan Muhanov. Dia menarik kerah jubah Muhanov, menutup matanya dan langsung diciumnya. 

Kedua bibir mereka bersentuhan dengan lembut, Muhanov sedikit terkejut saat Andreana menciumnya, dia lalu berusaha mengikuti ciuman Andreana. Tubuh Andreana dirangkulnya agar tidak jatuh. 

Buah Dada Andreana yang besar menekan dada Muhanov, rasa empuk dan kenyal yang diberikan olehnya bisa Muhanov rasakan saat buah dadanya menekannya lebih dekat. Tapi itu membuat sedikit jarak antara mereka sehingga saat Andreana menggerakkan bibirnya, dia agak tidak dapat mengontrol posisinya. Lidah Andreana sering tergelincir tapi Muhanov berusaha menyesuaikan ritmenya agar Andreana tidak terburu-buru. 

Rasa ciuman yang dirasakan Muhanov juga terasa manis, dia berpikir seperti inikah rasanya berciuman dengan tulus? Dia bisa merasakan rasa manis bibir Andreana yang lembut. Ah, rasanya seperti buah Stroberi yang baru saja matang. 

Muhanov lalu menahan kepala Andreana dan membiarkan Andreana menikmati ciumannya. Air mata Andreana mulai mengalir jatuh dan menyentuh kedua bibir mereka tapi dia tidak merasa terganggu dan tetap mencium Muhanov dengan lembut. Tangan Andreana merangkul leher Muhanov agar dia bisa menciumnya sekali lagi.

Mereka berdua berciuman dengan mesra di depan Sofia dan Dewi Narrum, Sofia tidak tahan melihat mereka berciuman meskipun dia sendiri juga sudah menikah duluan.

“Dewi Narrum, apakah tidak apa-apa mereka berciuman di tempat ini?” tanya Ratu Sofia

“Tidak apa-apa kan? Lagipula inilah hal terindah yang hanya bisa dimiliki manusia.” jawab Dewi Narrum

“Tapi ini tempat suci.”

“Yang mereka lakukan adalah perbuatan suci, aku juga tidak akan menolak jika kau berciuman saat menikah di tempat ini juga. Yah aku juga tidak memberitahumu kalau kau tidak dilarang dan malah meninggalkan tempat ini setelah ritual pernikahanmu selesai.”

“Begitu ya.”

Sofia terlihat kecewa, tapi dia masih tidak tahan melihat mereka berciuman karena rasanya tidak sopan untuk dilihat.

Setelah Andreana puas dengan ciumannya, dia merasa sudah cukup dan membiarkan Muhanov membalas ciumannya sekarang. Muhanov membalasnya dengan membuat lidah Andreana menari bersama dengan lidahnya. Gerakan bibir Muhanov juga agak terlalu cepat dan kasar sehingga Andreana kadang tidak bisa mengikuti ritmenya. Meskipun ciuman Muhanov terasa aneh tapi Andreana membiarkan Muhanov menikmatinya karena sekarang dia adalah suaminya.

Setelah keduanya puas berciuman. Muhanov pelan-pelan melepaskan kepala Andreana. Muhanov bisa melihat wajah dan telinga Andreana yang langsung memerah. Rasanya jadi lucu ketika warna merahnya jadi sama dengan rambutnya.

“Terima kasih Muhanov.” ucap Andreana dengan pelan sambil membersihkan bibirnya.

Muhanov dengan lembut memegang kedua tangan Andreana dan membantunya dia berdiri. Setelah itu mereka berdua berpegangan dan berdiri menghadap Dewi Narrum dan….. Sofia yang sedang memalingkan mukanya saat mereka berciuman.

“Sofia, mereka sudah selesai.” ucap Dewi Narrum menyentuh kepala Sofia dengan kakinya.

Sofia lalu menoleh dengan perlahan dan melihat Muhanov dan Andreana yang sedang berpegang tangan. Dia juga melihat Andreana yang mukanya sangat merah menahan malu.

“Oh sudah selesai?” ucap Ratu Sofia sambil membalikkan badannya, setelah itu tongkatnya dia ketuk ke pohon 3 kali “Dasar, kalian berciuman lama sekali. Kalau bukan karena ritual, aku sudah menghukum kalian karena kalian berciuman di depanku.”

Dari tanah pohon tersebut lalu muncullah dua bunga, bunga itu langsung melepas dirinya dari tangkainya dan langsung melayang menuju tangan Dewi Narrum.

“Muhanov Merlinstone dan Andreana Merlinstone, dua bunga ini adalah bunga kalian. Aku akan menaruhnya ke atas pohonku sebagai bukti pernikahan kalian. Dengan ini aku harap kalian bisa hidup bahagia dan saling membantu sama lain, aku harap cinta yang kalian dirikan di tempat ini akan terus hidup serta memberikan kalian kebahagian.” ucap Dewi Narrum.

Dewi Narrum lalu melayang, perlahan-lahan dia menghilang bersama dua bunga yang dipegangnya. Beberapa saat kemudian, dua bunga itu muncul di salah satu dahan pohon Dewi Narrum menandakan bahwa Dewi Narrum selesai melakukan tugasnya.

“Ok Ritual sudah selesai.” Sofia menepuk tangannya “Selamat untuk kalian dan semoga kalian bahagia.” Sofia lalu menyamai mereka berdua “Maaf aku tidak bisa memberikan kalimat yang bagus untuk kalian, berhubung aku sangat buru-buru untuk menghadiri agendaku selanjutnya, aku akan meninggalkan kalian disini. Kau tahu pintu keluarnya kan Muhanov?”

“Ya.”

Sofia lalu membuka jam di matanya, dia membuka sebuah portal lalu langsung masuk ke dalamnya dan menghilang meninggalkan Muhanov dan Andreana.

Andreana masih sedikit malu untuk berbicara, pikirannya sekarang bercampur aduk karena ciuman tadi dan dia hanya bisa menundukkan kepalanya. Melihat itu Muhanov jadi tertawa sedikit.

“Andreana.” panggil Muhanov.

Tapi Andreana belum merespon.

“Andreana?” panggil Muhanov sekali lagi 

Tapi Andreana masih terpaku sambil memegang erat tangan Muhanov.

“Andreana!” teriak Muhanov langsung di depannya.

Andreana langsung sadar kalau Muhanov sekarang ada di depannya. Wajah Muhanov sangat dekat dengannya sampai-sampai Andreana mundur ke belakang karena terkejut.

“A—ada apa? Eh? Ada apa?” tanya Andreana.

“Kamu dari tadi aku panggil tidak menjawab.” kata Muhanov

“Ah” Andreana baru sadar, dia langsung melihat Muhanov yang sedang berdiri di depannya. Mukanya langsung memerah lagi, dia lalu menutupi mukanya.

“Kamu kenapa?”

“Jangan lihat.” ucap Andreana memalingkan mukanya.

Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, dia bingung antara bahagia karena pernikahan dan ciuman tadi, dia berusaha menenangkan pikirannya terutama ciuman tadi. Apalagi itu adalah ciuman pertama yang dia lakukan dan saat berusaha mengingat ciuman tadi, dia langsung merasa sangat malu.

Muhanov jadi ingin tertawa saat melihat Andreana yang sepertinya sedang berusaha menahan malu.

“Tidak kusangka, kamu yang sudah kepala empat ternyata masih seperti gadis kecil.” sindir Muhanov.

Andreana merasa terhina saat Muhanov mendengarnya, dia langsung membuka tangannya dan menarik kerah Muhanov, “Tentu saja, itu tadi ciuman pertamaku dan jangan kau—” 

Andreana berhenti bicara saat Muhanov menatapnya, melihat bibir Muhanov, dia jadi teringat saat berciuman dan mukanya langsung memerah.

Andreana menutup mukanya lagi dan sekarang berlutut di depannya.

“Kau tidak perlu malu sampai sebegitunya kan?” kata Muhanov ikut berlutut lalu mengelus kepalanya, “Sudahlah, buka tanganmu dan lihat aku baik-baik.”

Muhanov memegang kedua tangan Andreana dan dengan lembut dia menarik tangan Andreana lepas dari mukanya. Setelah Muhanov berhasil membuka kedua tangan yang menutup wajahnya, dia bisa melihat muka Andreana yang masih memerah, tidak hanya itu telinganya juga masih memerah.

“Kita sudah menikah kan?” tanya Andreana.

“Ya.” Jawab Muhanov.

Andreana lalu membuka panel [Relationship], dia ingin mengecek kembali apakah dia sudah menikah dan dia senang karena dia sekarang sudah benar-benar menikah dengan Muhanov. Andreana lalu menutup panelnya dan sekarang dia berusaha menenangkan diri.

“Sekarang, kau mau kemana Andreana.” tanya Muhanov

“Untuk sementara, bolehkan aku pulang?” balas Andreana

“Pulang?”

“Iya, pulang, ke rumahku di kota Sheffield, Kerajaan Brito.n”

“Oh.”

“Aku ingin mengabari orang tuaku dan teman-temanku di Templar. Tidak apa-apa kan?”

“Ya baiklah.”

Muhanov lalu membantunya untuk berdiri.

“Dan kau harus ikut!” ucap Andreana.

Muhanov langsung memalingkan matanya, dia jadi ingat saat Muhanov bertemu dengan orang tua Andreana yang sangat tegas menolak lamaran Andreana. Apalagi dia pernah ditantang oleh Ayahnya untuk membuktikan apakah dia pantas jadi suami anaknya. Rasanya jadi aneh ketika penerima lamaran malah yang harus ditantang oleh ayahnya.

Andreana melihat wajah keraguan Muhanov, dia tahu apa yang Muhanov dia khawatirkan saat mengajaknya ke Sheffield.

“Kau harus ikut Muhanov, kau sekarang suamiku. Jangan khawatir soal ayahku, nanti akan kuhajar dia jika dia mencoba menyakitimu.” kata Andreana.

“Kau…. kau tidak perlu seperti itu Andreana.” jawab Muhanov.

“Biarkan saja, ayahku itu orang yang merepotkan. Apalagi kau sekarang suamiku, tunjukkan wibawamu sebagai suami dari Ksatria Kudus Wanita Templar” kata Andreana  sambil menepuk keras pundak Muhanov, tapi dia langsung memalingkan mukanya lagi karena masih malu soal ciuman tadi.

“Baiklah Andreana, tapi Elizabeth juga boleh ikut kan?”

“Elizabeth?” Andreana berpikir sejenak “Baiklah, dia boleh ikut.”

Muhanov langsung memeluk Andreana.

“Terima kasih.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status