Share

AMORAGA
AMORAGA
Author: NadiaNade

AMORAGA - 1

"Every human being has a different nature. Maybe you represent one of the qualities that I don't like."

.

.

I made this story especially for those of you who have always faithfully read my story.

.

.

Happy reading.

        

     Deru napas cewek itu terdengar lebih keras saat ia telah sampai ke depan gerbang sekolah. Seragamnya basah oleh keringat. Rambut panjangnya sedikit berantakan, namun dengan cepat cewek itu merapikan penampilannya sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh memasuki gerbang hitam yang ada dihadapannya. Sebelum melangkah ia berdoa sambil memejamkan matanya, "Semoga aja, guru piket lagi gak pengin lihat gue hari ini. Sekali ini aja, tolong jangan sampe ketahuan. Besok, kalo telat lagi, gue bakal nyium kaos kakinya Deri. Beneran, gak bohong. Amin."

Amora—cewek itu menoleh ke kanan-kiri, sebelum akhirnya ia memanjat gerbang setinggi 2 meter. Bagi Amora, memanjat gerbang sekolah bukan hal sulit. Jangankan gerbang sekolah, Amora bahkan mampu memanjat pohon kelapa yang tingginya 5 meter. Setelah melempar tasnya, Amora melompat dengan sempurna. Ia tersenyum senang, lalu menepuk belakang roknya yang agak kotor. Ia meraih tasnya hendak pergi, namun suara seseorang menghentikan langkahnya. "Pak, Amora telat!" teriak cowok jangkung yang kini berdiri tak jauh darinya. Segala sumpah-serapah ingin sekali Amora keluarkan, namun ia urungkan saat seorang pria berpakaian olah raga menghampirinya.

"Amora Natasha!"

Amora mengehela napas berat. Ia melirik cowok yang kini sedang berdiri dengan wajah datarnya. Jika saja Pak Indra tidak datang, maka cowok menyebalkan itu akan mendapatkan amarahnya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Pak Indra yang kini sudah berdiri di hadapannya.

"Saya mau masuk kelas, Pak. Kan, udah masuk jam pelajaran." Amora menatap Pak Indra dengan takut-takut. Meskipun ini bukan pertama kalinya Amora terlambat ke sekolah, tapi setiap berhadapan dengan Pak Indra, Amora selalu saja ketakutan. Bukan karena Pak Indra galak seperti guru piket kebanyakan, tapi karena Pak Indra selalu memberinya hukuman yang paling menyebalkan. Apalagi kalo bukan ...

"Bersihkan halaman sekolah sama Raga!"

Amora menunjukkan ekpresi tidak terimanya. "Yah, masa sama Raga mulu, Pak. Saya gapapa, deh, kalo disuruh beresin halaman sendiri. Tapi jangan sama Raga. Kalo lihat dia bawaannya pengin ngatain mulu. Nanti malah nambah dosa saya, Pak."

"Yang suruh kamu sama dia terlambat, siapa? Kalo gak mau sama Raga, besok-besok kalo terlambat ajak si Deri, biar dihukumnya sama Deri."

"Siap laksanakan, Pak!"

"Laksanakan apa?"

"Laksanakan hukuman Bapak bersihin halaman bareng anak koala." Amora menunjukkan cengiran khasnya, lalu cewek itu langsung pergi dari sana disusul Raga di belakang. Kadang, Indra heran, kenapa murid secantik dan semanis Amora, kelakuannya tidak sesuai dengan wajahnya? Anak jaman sekarang hanya tahu mempercantik diri daripada mempercantik kelakuan dan hati.

Amora berjalan menuju halaman dengan wajah kesal. Ia sengaja mempercepat langkahnya. Tepat saat tiba di halaman, Amora langsung menatap cowok yang sedari tadi ingin sekali ia maki. Cewek itu menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu tersenyum sinis. "Seneng banget, ya, lo? Dihukum bareng gue?"

Raga menunjuk dirinya dengan jari telunjuk, kemudian tertawa sinis. Cowok jangkung dengan rambut agak kecokelatan dan hidung mancung itu terlihat tidak suka dengan apa yang Amora tuduhkan.

"Maaf udah ngecewain lo. Tapi gue gak seneng."

"Kalo gak seneng, kenapa setiap kali gue telat, lo selalu ngadu? Bilang aja, lo mau dihukumnya bareng gue, kan?"

Raga mengambil sapu yang tersampir di dekat pohon, lalu melemparkannya ke depan Amora. "Bodoh! Ya jelas gue mau lo dihukum bareng gue. Biar apa?" Raga sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Amora, "Biar gue gak perlu repot-repot nyapu halaman sekolah."

Raga menyunggingkan senyum, lalu menepuk bahu Amora pelan. "Yang bersih, ya, Amora sayang."

Raga berjalan melewati Amora yang kemarahannya sudah berada di puncak. Kepalanya memanas, tangannya mengepal. Cewek itu berjalan agak cepat menghampiri Raga, lalu melempar sapu itu tepat mengenai kepala. Raga membelalak matanya sambil meringis memegangi belakang kepalanya, lalu menatap Amora kesal.

"Sapu yang bersih, ya, Raga sayang," teriak Amora yang langsung meraih tasnya dan berlari menuju kelas. Raga yang melihat itu hanya bisa mengumpat dalam hati.

        ***

Bagi Amora, menyelesaikan sekolah adalah hal nomor satu yang ada di prioritas hidupnya. Amora selalu berusaha menjadi yang terbaik di kelasnya. Tidak ada alasan menarik untuk itu. Hanya ... ia ingin kedua orang tuanya membanggakannya. Orang tua Amora jarang sekali pulang, bahkan nyaris tidak pernah. Mereka tinggal di Italia. Setiap bulan, Amora selalu dikirimi uang ... uang ... dan uang. Setiap hari ulang tahunnya, Amora selalu berdoa agar kedua orang tuanya pulang. Namun, tidak ada satu pun dari keduanya yang bahkan sekadar mengucapkan selamat ulang tahun. Sudah hampir 10 tahun Amora tidak pernah dikunjungi keduanya. Amora sudah terbiasa, menjadi anak yang terlihat tidak punya orang tua. Tidak peduli bagaimana orang lain memandangnya sebagai anak simpanan, anak haram, anak tak dianggap. Amora tidak pernah marah. Itu karena Amora merasa yang dikatakan mereka ada benarnya. Mungkin kehadiran Amora tidak pernah diinginkan sehingga ia ditinggalkan. Tapi, Amora yakin kedua orang tuanya punya alasan. Jika mereka tidak memerdulikannya, mereka tidak akan memberikan seluruh fasilitas mewah, uang, bahkan disekolahkan di sekolah paling bergengsi di Jakarta. Mungkin Amora hanya harus menungu ... Menunggu kedua orang tuanya kembali dan mengatakan, 'Amora, kami pulang'.

"Ra." Sebuah suara membuyarkan lamunannya. Amora menoleh mendapati Gita—teman sebangkunya.

"Bengong aja. Mikirin gue, ya?"

Amora tidak menjawab dan kembali fokus pada Bu Ratna yang sedang menulis latihan di papan tulis. Gita berbisik lagi, "Berantem lagi sama Raga?"

Mendengar nama itu disebut, Amora langsung menoleh menatap Gita dengan tatapan mengerikan. "Sekali lagi lo sebut nama dia, besok gak usah duduk sama gue."

"Yaelah, gitu doang ngambek. Gue kira lo udah kebal sama Raga. Bukan sekali-dua kali, lo berantem sama dia. Kok, sekarang ngambeknya beda?"

Amora menyentil kening Gita, lalu kembali menatap bukunya. "Berisik! Buruan kerjain soalnya!"

"Iye, Bu hajah."

Setelah kelas selesai, Amora dan Gita merapikan bukunya. Mereka sudah siap menyerbu kantin untuk mengisi cacing perut yang sekarang sedang berdemo. Kedua cewek itu berjalan sambil mengobrol. Mereka tidak sadar, Raga dan Bayu juga berjalan di belakang mereka. Raga melihat tali sepatu Amora yang terlepas. Alih-alih memberitahu, cowok itu malah menginjak talinya, membuat langkah Amora tertahan dan hampir terhuyung ke depan jika saja Gita tidak cepat menahannya. Raga dan Bagas tertawa agak keras, membuat Amora marah besar, dan ... PLAK!

Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi putih Raga. Beberapa anak yang sedang lewat langsung bergidik ngeri melihat tatapan Amora semarah itu. Amora memang terkenal ramah dan baik hati. Tapi, siapa yang tidak tahu jika Amora akan terlihat sangat mengerikan jika sedang marah. Dan hanya satu orang yang bisa membuat Amora semarah itu ... Saraga Imanuel.

"Kalo lo ada masalah sama gue, kita selesain sekarang!" teriak Amora, menggebu-gebu.

"Gue bercanda, kali, Ra. Sewot amat, sih."

"Hidup lo itu gak ada faedahnya banget, sumpah. Gak bisa, ya, sehari aja gak bikin gue marah? Cowok devil kaya lo itu, harusnya gak ada di bumi."

Amora menarik tangan Gita pergi menuju kantin. Raga yang melihat kepergian Amora langsung tertawa sinis.

Gita menaruh semangkok bakso ke depan Amora yang masih saja marah-marah karena kejadian tadi. Kalau sudah begini, Amarah cewek itu tidak akan padam dengan mudah. "Udahlah, Ra. Lo, kan, tahu sendiri kalo Raga emang gitu orangnya. Cowok kaya dia gak akan tiba-tiba dapet hidayah. Modelan kaya gitu mesti kena azab dulu baru tobat."

"Gak ngerti gue. Kenapa, sih, dia itu seneng banget bikin gue emosi? Itu cowok hatinya udah ketutup micin, kali, ya? Gak berperasaan banget, sumpah."

"Tapi gue heran. Disaat semua orang takut sama Raga, cuma Bayu yang enggak. Itu anak musang nempel mulu sama Raga."

"Cuma ada satu kemungkinan kalo kaya gitu." Amora menyuap baksonya lalu melirik ke arah Raga dan Bayu yang duduk tidak jauh dari mereka. "Dua-duanya sama-sama manusia terkutuk. Bedanya, Bayu lebih sering dapet hidayah."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dindainsr_
keren aaaaaaa semangat kak......
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

DMCA.com Protection Status