Share

AMORAGA - 3

"Non Mora, ayo buruan! Nanti telat lagi," teriak Bi Daru dari bawah menggunakan speaker corong yang selalu dipakai untuk memanggil Amora dari bawah.

"Bentar, Bi. Lagi nyari dasi," teriak Amora. Padahal, ia tahu teriakannya tidak akan terdengar. Setelah menemukan dasinya, Amora turun menggunakan lift. Saat sampai di lantai utama, Amora langsung berlari mengambil sandwich dari piring yang dipegang Bi Daru. "Mora berangkat, Bi. Assalamua alaikum."

"Waalaikum salam. Hati-hati, Non."

Mora berlari menghampiri Pak Sam yang tengah siap dengan motor besarnya. Dengan helm hitam dan jas senada, Pak Sam terlihat sangat keren. Amora mengacungkan kedua jempolnya. "Beuh, cakep!"

"Siap, Non?" tanya Pak Sam saat Amora sudah duduk di belakang.

"Let's go, Pak!"

Amora dan Pak Sam melesat pergi menuju sekolah. Jika kesiangan begini, Pak Sam akan mengantar Amora dengan motor ketimbang mobil. Kata Pak Sam, kalo pakai motor bisa nyalip-nyalip macam valentino rossi. Dan benar saja. Hanya butuh sepuluh menit bagi Pak Sam untuk sampai ke sekolah. Lima menit sebelum gerbang ditutup. Setelah berpamitan dengan Pak Sam, Amora berlari masuk melewati Pak Indra yang tengah berdiri di depan gerbang. Amora tersenyum ramah lalu menyapa sang guru, "Pagi, Pak. Bapak ganteng hari ini. Tadi pagi sarapan nasi, kan, Pak?"

"Kenapa gitu?"

"Iya gapapa. Kalo sarapan rumput, mah, kambing namanya."

Baru saja Pak Indra akan protes, Amora sudah berlari ke dalam. Tak selang beberapa lama, Raga datang dengan motor merahnya melewati Pak Indra begitu saja tanpa menyapa. Pak Indra sampai terbatuk karena asap motor milik Raga. Cowok itu tidak peduli dan malah langsung masuk tanpa meminta maaf pada Pak Indra.

Amora berlari sambil mengunyah sandwichnya yang belum habis. Ia bersenandung sambil berjalan sedikit melompat. Saat itu, Raga datang dengan sengaja menyenggolnya, membuat sandwichnya terjatuh. Raga menoleh ke belakang. "Kalo punya makanan jangan dibuang-buang. Mubazir."

"Ngeselin banget, si, lo, anak koala!"

Raga tidak menggubris Amora yang marah-marah. Cowok itu melanjutkan langkahnya menuju kelas. Hal yang paling Amora syukuri di kehidupannya ini adalah tidak satu kelas dengan Raga.

Amora berjalan dengan wajah kusut. Ia membanting tasnya ke meja. Cewek itu menyilangkan kedua tangannya. "Kenapa, sih, cowok kaya dia harus ada di kehidupan gue? Kenapa dia harus muncul kayak kutukan nyai lampir?"

"Mak lampir," koreksi Gita.

"Sama aja!"

"Beda, Ra. Kalo Nyai itu udah tua, kalo Mak itu masih kenceng kulitnya."

Amora menatap temannya itu. "Peduli amat kalo kulitnya kenceng atau kendor. Pokonya Raga itu terkutuk."

"Hush, jangan ngatain gitu. Gak baik. Nanti orangnya denger, gimana?"

"Bagus. Sekalian gue penginnya face to face."

"Jangan, Ra. Lo mana tahan lihat gantengnya dia yang gak nyelow banget, sumpah. Ntar yang ada lo gak bakal bisa marah."

Amora mendengus, lalu menunjuk asal, seolah Raga memang ada di sana. "Yang bagus dari dia emang mukanya doang, selebihnya zonk. Lagian, dia ganteng karena blasteran, bukan produk asli Indonesia."

"Widih, kalo soal Raga, ngatainnya lancar banget ya, Ra?" kata Deri yang baru saja datang. Cowok bertubuh kurus dengan rambut agak keriting ini punya nama Deri Alfiansyah. Deri itu tipe cowok humoris yang malu-maluin. Dengan wajah nya yang lumayan tampan, Deri juga terkenal di kalangan cewek. Playboy mungkin terlalu agung untuk menjulukinya.

"Kenapa gitu sama Raga? Sini, cerita sama Abang Deri."

Deri duduk di kursi yang ada di depan meja Amora. "Biasa, lah. Raga cari masalah mulu sama Mora."

Deri menggaruk dagunya sambil mengangguk. "Ngapain lo ngangguk-ngangguk?" tanya Amora, sewot.

"Gue tahu, Ra. Dari penglihatan seorang Deri Alfiansyah, fix, kayaknya Raga suka sama lo."

"Ngaco!" ucap Amora dan Gita bersamaan.

"Lah, kalian gak percaya sama gue?"

"Kalo Raga suka sama Mora, gak mungkin dia jahatin Mora terus."

Deri berdeham pelan, lalu menyilangkan kedua tangannya. "Gini, Git. Ada banyak cara menyampaikan rasa suka. Kalo cowok modelan kaya gue, pasti pake cara sweet binti diabetes. Kalo cowok modelan Raga yang GGB, pasti pake cara sok-sok jahat, terus tiba-tiba mengklaim lo sebagai pacar, abis itu mulai sayang, deh."

"Itumah, mirip cerita di novel yang gue pinjemin ke lo, bodoh! Jangan samain dunia ini sama dunia novel yang isinya lebih banyak halu daripada realita." Gita memukul kepala Deri dengan buku paketnya. Cowok itu meringis sambil tertawa pelan. Ia memang baru saja selesai membaca novel yang dipinjamkan Gita, tentang badboy dan cewek lugu yang tiba-tiba jadian gara-gara si cowok yang dengan gak ngotaknya ngumumin bahwa cewek itu pacarnya. Dramatis sekali memang.

"Omong-omong, GGB apaan, dah?" tanya Amora setelah beberapa saat terdiam.

"Ganteng-ganteng bangs*t."

***        

"Gue janji gak bakal ngulangin lagi, Ga," kata seorang cowok yang kini sedang berlutut di hadapan Raga. Cowok itu mengatupkan kedua tangannya memohon.

"Lo kira, semua cewek itu bisa lo ajak main-main kaya di timezone? Mereka manusia juga kaya lo, bodoh! Bahkan mereka lebih mulia dari lo. Jangan sebut diri lo cowok kalo kerja lo cuma bisa nyakitin yang lebih lemah!" omel Raga dengan suara lantang. Seorang cewek sedang bersembunyi di belakang Bayu dengan ketakutan.

"Lo juga sama, kan? Lo juga nyakitin Amora. Perlakuan lo ke dia sama aja kaya perlakuan gue ke cewek gue. Terus apa bedanya?" tanya cowok itu tidak terima.

"Gue sama lo beda! Gue ngelakuin ini supaya lo gak jadi kaya gue. Supaya cewek lo gak jadi kayak Amora!" Raga mengepalkan tangaannya menahan agar tidak memukul cowok itu lagi. "Pergi! Pergi sebelum gue matahin tulang-tulang lo itu!"

Cowok itu bangkit, lalu berlari pergi meninggalkan atap. Raga masih menahan emosinya. Bayu menatap cewek yang masih ketakutan itu. "Tenang aja. Dia gak akan ganggu lo lagi. Kalo dia masih ganggu lo juga, jangan ragu bilang gue sama Raga."

Cewek itu mengangguk, lalu melirik Raga sebentar. "Gue gak tahu, kalo ternyata Raga baik. Dia selalu kelihatan jahat, tapi setelah kejadian ini, gue tahu Raga gak benar-benar bersikap jahat," kata cewek itu.

"Raga gak jahat. Dia cuma bersikap tegas yang kadang kelihatan jahat di mata kalian. Yaudah sana balik. Bentar lagi bel masuk."

Cewek itu melangkah pergi. Bayu menghampiri Raga yang masih berdiri di tempatnya tadi. Bayu menepuk bahu Raga pelan. "Balik, yuk!"

"Emang gue sekejam itu sama Amora, ya?"

Bayu menggaruk alisnya, bingung mau menjawab apa. "Gimana, ya, Ga. Dibilang kejam, sih—" Bayu melirik Raga sebentar. Takut-takut jawabannya mengundang amarah cowok itu. Bayu menahan napas sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya, "—iya."

Raga menghela napas pelan. Ia menatap Bayu dengan tatapan sayu. "Bagus kalo kejam. Lagian, bentar lagi gue pergi."

"Lo, kok, ngomongnya gitu, sih, Ga. Kan, gue jadi sedih. Gak ada yang tahu umur, Ga. Siapa tahu aja, Tuhan baik hati sama lo mau kasih lo umur panjang. Setidaknya, lo berhenti, lah, bersikap gitu ke Amora. Di antara semua cewek yang ada di sekolah, kenapa mesti Amora coba? Karena dia cantik, uh?"

Raga memejamkan matanya. Membiarkan angin siang menerpa wajah tampannya. Cowok itu membayangkan perlakuan jahatnya pada Amora, lalu Raga bergumam, "Karena dia adalah orang yang gak boleh nangis saat gue pergi."

"Lo suka Amora?"

Raga tersenyum simpul. "Menurut lo, gue punya alasan buat suka dia?"

Bayu menghela napas. Ia berdiri menatap langit. Hari ini cuaca sangat cerah, dan sejuk. Berada di atap sekolah pada saat seperti ini adalah hal terbaik. Bayu menyilangkan kedua tangannya. "Suka itu gak usah pake alasan. Kalo lo mau suka sama dia, silakan! Ini tentang hati, bukan pelajaran bahasa inggris yang kalo jawab soal harus ada reasonnya."

Raga tertawa pelan. Ia merangkul Bayu lalu ikut memandang langit biru dihadapan mereka. "Di antara semua anak Aeris, kenapa lo milih gue buat jadi temen lo?"

"Karena lo Saraga Imanuel." Bayu menatap Raga dengan wajah kagum.

***

Related chapters

DMCA.com Protection Status