Share

AMORAGA - 5

"Love is simple. The tricky thing is you."

.

.

\

Happy Reading

        

"Hai, Ra."

Amora baru saja akan memaki Raga, namun ia urungkan saat Pak Indra masuk ke dalam kelas. Amora terpaksa menahan amarahnya terlebih dahulu. Ia duduk dengan wajah bete. Raga itu benar-benar bisa menghancurkan mood nya. Tapi sepertinya Raga tidak terganggu dengan hal itu. Aneh sekali. Amora mengeluarkan buku matematikanya. Ia mencoba untuk fokus ke depan tanpa memerdulikan keberadaan Raga. Meskipun tidak bisa.

Di tengah pelajaran, Pak Indra memberikan beberapa soal latihan untuk dikerjakan. Inilah yang Amora tidak suka. Latihan soal matematika. Amora memang bodoh sekali dalam pelajaran ini. Itu sebabnya ia masuk kelas B. Tapi tidak apa ... ia beruntung, karena selama dua tahun belakangan ia tidak sekelas dengan makhluk bernama Raga. Entah kenapa, ia seperti sedang terkena azab. Sialnya ia harus sekelas dengan makhluk menyebalkan itu untuk satu tahun ke depan.

Amora menggaruk alisnya, kemudian bergumam, "Kenapa, sih, guru selalu ngasih contoh soal latihan gampang, tapi soal latihannya kaya racun?"

Raga sempat menoleh, melihat Amora yang tengah kebingungan. Lucu sekali melihat Amora yang tampak sangat menggemaskan dengan wajah bodohnya. "Nomor berapa yang gak ngerti?" tanya Raga yang membuat Amora menoleh malas.

"Semuanya gue gak ngerti, termasuk sikap lo ke gue sekarang. Gak ngerti gue. Mending lo diem aja. Gue lagi gak pengin marah."

Raga mengerutkan dahinya. "Yang mau bikin lo marah, siapa? Kan, gue, cuma menawarkan bantuan kalo seandainya lo butuh pencerahan biar bisa ngerjain soal latihannya."

Amora memutar bola mata malas, lalu mengambil ponselnya di saku kemudian menyalakan senter dan menaruh di atas kepalanya. "Nih, gue udah dapet pencerahan. Puas?"

Raga tertawa sumbang, kemudian menoyor kepala Amora dengan pulpen. "Itu cahaya, bodoh. Bukan pencerahan."

"Suka-suka gue, dong, mau pencerahan atau cahaya, kek, bodo amat!" Amora sedikit berteriak, membuat beberapa anak menoleh ke arahnya termasuk Pak Indra.

"Amora, kamu sudah mengerjakan soalnya belum? Kenapa malah marah-marah di belakang?" tanya Pak Indra.

Amora berdiri dari duduknya, kemudian menatap Pak Indra, bersiap melontarkan sejumlah khotbah yang sudah ia tahan sejak awal pelajaran tadi. "Pak. Saya keberatan kalo disuruh duduk sama Raga. Saya gak mau duduk sama dia, Pak!" kata Amora.

Pak Indra menyilangkan kedua tangannya, lantas menatap Amora yang kini sedang menyampaikan ketidak-sukaanya duduk bersama Raga. "Saya sengaja atur supaya kalian duduk berdua. Saya tahu kamu paling pintar di kelas A, Raga. Saya juga tahu kamu yang paling pintar di kelas B, Amora. Tapi ... kalo yang paling pintar aja kerjaannya telat mulu setiap hari, apa gak pusing saya lihatnya? Saya kasih kalian duduk berdua sebagai contoh di kelas ini. Supaya kalo salah satu dari kalian telat, saya bisa hukum dua-duanya."

"Yah, masa dihukum dua-duanya? Kan, kita gak ada urusan, Pak. Kita beda dunia," kata Amora tidak terima.

"Ya makanya, jangan ada yang telat! Biar kalian belajar datang pagi. Kalo perlu, datang sebelum Pak satpam buka gerbang."

"Tapi, Pak—"

"Tidak ada bantahan! Amora, selesaikan tugasnya!"

Amora mendengus sebal. Ia menghentakkaan kakinya beberapa kali ke lantai. Bahkan cewek itu sampai mengigit dasi saking kesalnya. Beda hal nya dengan Amora yang masih terbakar emosi, Raga terlihat biasa saja. Itu malah membuat Amora semakin kesal. "Kok, lo diam aja? Lo gak mau buat perhitungan atau ngerasa keberatan gitu, kalo kita duduk berdua? Secara, kita ini rival."

Raga tersenyum samar sambil terus mengerjakan latihan soalnya tanpa menoleh ke Amora. "Ribet."

Amora menatap Raga dengan tatapan terkejut. Sesimple itu jawaban dari seorang Raga? Hey, ini tidak seperti Raga yang biasanya. Ada apa dengan otak cowok itu? Amora mengepalkan tangannya, lalu duduk kembali di kursinya sambil menahan amarah.

Sabar, Amora. Orang sabar jodohnya cepat datang.

***        

Amora mengaduk es tehnya sambil sesekali memaki Raga dengan makian yang benar-benar membuat kepala Gita hampir pecah mendengarnya. Begitupula dengan Deri yang sampai kehilangan selera makannya karena terus-menerus mendengar Amora mengoceh tentang Raga ... Raga ... dan Raga.

"Ra, mulut lo bisa sobek kalo terus-terusan ngomongin itu anak koala. Diemin aja apa, sih. Pusing gue dengarnya."

"Gak bisa! Dia itu nyebelin, Der. Lo tahu, kan? Dia bisa aja ikut gue protes tadi. Tapi lo tahu dia bilang apa? R-I-B-E-T, ribet."

"Ya emang ribet. Udah, sih, terima aja takdir kalian. Mungkin itu azab supaya kalian lebih cepat tobat dan berhenti jadi rival."

Amora melempar bakwannya ke wajah Deri, membuat cowok itu langsung mengeluarkan ponselnya dan langsung membuka kamera. Deri memeriksa setiap inchi wajahnya, kemudian menghela napas lega. "Alhamdulillah, aman." Cowok itu langsung mengambil selfie setelahnya dan memandang hasil selfienya dengan puas. "Sip, ganteng bener gue."

Gita sampai tersedak mendengar Deri memuji dirinya sendiri. Memang, sih, Deri itu tampan. Tapi apa tidak bisa tidak terlalu berlebihan seperti itu? Membuat Gita dan Amora muak saja.

"Dimakan, Ra. Jangan ngomel aja, ih. Pamali."

Amora mengigit bakwannya dengan wajah kesal. Gue benci lo, Raga.

Seperti panggilan batin, tiba-tiba saja Raga datang ke kantin bersama Bayu. Amora sempat melirik cowok itu dengan tatapan seakan ingin mencakar habis-habisan. Tapi buru-buru ia mengalihkan pandangannya saat Raga juga meliriknya. Menyebalkan.

Sedang asik makan, tiba-tiba saja Bayu menghampirinya. "Amora."

Amora hampir tersedak. Ia meneguk es teh nya lalu menatap Bayu tajam. "Gak tahu orang lagi makan, ya? Keselek gue," omel Amora sambil menepuk dadanya.

"Lo harus bantu gue. Gak boleh nolak."

Amora melotot. "Bantu apaan? Dateng-dateng langsung minta bantuan udah kaya korban banjir. Ogah, ah!" tolak Amora.

"Emang lo tahu, gue mau minta bantuan apa? Lo aja gak tahu, kan? Make segala nolak duluan."

"Gue tahu, lo bakalan minta tolong aneh. Pokoknya gue gak mau."

Bayu sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Amora, membuat cewek itu terpaksa mundur. "Raga lagi ke ruang musik bentar. Nanti tolong kasihin ini ke Raga. Gue sakit perut, gak tahan."

Bayu menyodorkan sebuah ponsel di depan Amora. Cowok itu memegangi perutnya yang terasa melilit. Sebenarnya tadi Raga menitipkan ponselnya pada Bayu. Cowok itu ingin mampir ke ruang musik sebentar dan menyuruh Bayu memesan makanan. Tapi, apalah daya perut seksinya itu terasa sakit. Jangan tanya kenapa Bayu meminta tolong Amora. Anggap saja, alam sedang berbaik hati mendekatkan dua manusia itu dengan membuat Bayu sakit perut.

"Apaan, sih. Kok gue? Emang gue tempat penitipan barang? Emang gue mas-mas JNE? Emang Raga anak sultan yang mesti gue anterin barangnya? Ambil sendiri, lah. Dikasih kaki buat jalan, bukan buat pajangan."

"Bus*t, dah, itu mulut kalo ngomong," decak Bayu.

"Kaga mau, gue."

Gita dan Deri hanya menatap satu sama lain. Mereka juga tidak tahu harus berkomentar apa. Daripada jadi sasaran mulut pedas Amora, lebih baik diam saja.

"Please, Ra. Gak tahan nih, gue. Kebelet banget, sumpah. Lo masa tega ama gue?"

"Gita aja, noh!"

"Eh, enggak. Gak mau gue!" tolak Gita dengan cepat. Kali ini Bayu menatap Amora dengan tatapan memelas. Ah, cowok ini benar-benar ....

"Yaudah, sana lo pergi. Nanti gue anterin." Senyum Bayu mengembang. Ia menaruh uang 20 ribu disamping ponsel Raga.

"Sekalian nasi gorengnya ambilin!" Baru saja Amora ingin memaki, cowok itu sudah berlari secepat kilat.

"Gila. Cepet banget larinya."

***

Related chapters

DMCA.com Protection Status