FORBIDDEN SCANDAL
FORBIDDEN SCANDAL
Author: Ishokuiki
PAMIT

"Besok aku mau menemui klienku di Osaka. Mungkin aku akan menginap untuk beberapa hari," Pria tampan, berkulit bersih, berbadan porposional itu monoleh ke pintu kamar yang telah kubuka. Alex angkat bicara ketika melihatku masuk.

Tampak ia tengah sibuk mondar-mandir dari lemari ke tempat tidur. Memasukkan pakaian dan barang-barang yang akan dibawa, ke dalam koper dan tasnya. Dari rautnya, sepertinya dia terlihat bingung. Kira-kira apa saja yang harus dibawa.

Maklum saja, biasanya jika dia akan pergi, aku yang selalu menyiapkan barang-barang yang perlu dibawanya. Sedangkan kali ini, sepertinya pria itu ingin mengerjakan sendiri.

"Kok mendadak, Sayang," balasku sambil mendekatinya, mecoba membantu memeriksa. Sekiranya barang apa saja yang harus dia bawa.

Kuraih koper Alex. Namun, bergegas dia menariknya kembali dengan sedikit kasar. Hingga membuatku terperangah. Menatap heran menyaksikan sikapnya yang tak seperti biasa.

"Sudah, nggak usah. Semua sudah selesai aku rapikan kok," ucap Alex. Tangannya dengan cepat menutup dan memutar tuas anak kunci hingga kopernya benar-benar tertutup rapat. Dan, menyimpan kuncinya ke dalam kantung tas.

Tak biasanya dia berprilaku seperti itu. Kasar dan bicaranya agak ketus. Wajahnya pun terlihat tegang. Guratan di dahinya melukiskan ada beban yang sedang dia pikirkan. Mungkin ada masalah dengan kliennya kah? Entahlah. Semoga semuanya baik-baik saja.

"Hans!” panggil Alex dari lantai atas pada Hans—sopir pribadi kami.

“Ya, Tuan?” jawab Hans seketika. Langkahnya pun terdengar cepat menghampiri suara yang memanggilnya.

“Koper sama tas saya, tolong kamu taruh di dalam mobil, ya. Sekarang! Soalnya besok pagi-pagi saya berangkat. Biar nggak ada yang ketinggalan," perintah Alex setelah melihat Hans sudah berada di hadapannya.

"Baik, Tuan," jawab Hans patuh. Dia pun segera membawa koper dan tas itu setelah Alex mengeluarkannya dari kamar.  Sopir itu mengangkat benda yang dimaksud Alex menuruni tangga menuju garasi mobil. Badannya yang besar terlihat tak masalah untuk membawa barang itu. Tampak ringan tanpa beban yang berat.

“Jangan lupa, besok pagi-pagi kamu antar saya ke bandara, ya,” lanjut Alex sebelum Hans menghilang di balik tembok membawa koper dan tasnya ke mobil.

“Baik, Tuan!” jawab Hans seraya menoleh dan mengangguk.

“Loh, apa nggak besok saja naruh di mobilnya, Sayang? Biar aku cek dulu. Takutnya ada yang ketinggalan,” protesku. Kutatap wajahnya sambil mengernyitkan dahi. Mencoba menerka keanehan malam ini yang menimpa suamiku. Serasa hati ini berbisik, sepertinya ada yang tak beres dengan Alex. Namun, aku mencoba untuk menepisnya.

“Nggak usah! Sudah aku cek tadi," tolaknya dengan suara yang setengah oktav meninggi. Garis rahangnya yang tegas terlihat mengeras. Matanya tajam menatap, namun tak lama dia membuang pandangannya. Kedua telapak tangannya mengusap wajah, seolah-olah dia ingin membuang semua keresahan yang terlukis di wajahnya. Tak sedikit senyum pun tersungging.

Mungkinkah dia kesal denganku? Entahlah. Aku bingung melihat sikap Alex yang tak semestinya padaku.

Kupandang lekat pemilik wajah tampan itu. Yang dihiasi warna kebiruan pada sekeliling dagunya. Bekas bulu-bulu halus jambang yang belum lama dia cukur. Untuk memastikan bahwa lelaki itu dalam keadaan baik-baik saja. Tak secuil masalah atau tekanan dalam jiwanya.

Tak biasanya, dia yang selalu mengandalkan aku untuk melayani segala keperluannya, tapi kali ini Alex lebih memilih membereskan sendiri.

Ah! Mungkin dia tak mau merepotkan aku. Dia hanya ingin berusaha sendiri tanpa campur tanganku. Aku mencoba berfikir positif.

Pria itu tak membalas tatapanku. Dia mengalihkan pandangannya dan bergegas beranjak dari hadapanku. Seolah-olah tahu aku sedang mencari jawaban sebuah teka-teki di wajahnya. Dia tak ingin aku akan menemukan jawaban itu. Dia menuju ranjang. Merebahkan tubuhnya, bersiap menuju peraduan.

Aku pun menyusulnya, merebahkan tubuh di samping Alex yang mulai bersiap-siap memejamkan mata. Aku mendekat. Seraya merentangkan tangan untuk memeluk tubuh Alex. Mencoba merayu sambil bermanja. Merasakan hangat tubuhnya dan mendengarkan detak jantung dari dadanya yang bidang.

Tanganku mengusap-usap di atas dadanya, yang senantiasa menjadi tempatku bersandar dikala aku resah. Mencoba mencairkan suasana yang sedikit membeku. Sudah menjadi tradisi, sebagai pasangan suami istri kami selalu mempunyai ritual wajib jika salah satu diantara kami akan pergi untuk menginap. Walau hanya satu hari.

Namun, ternyata malam ini tidak. "Aku mau tidur, karena aku mau berangkat pagi-pagi. Takut besok kesiangan." Alex menepis tanganku, tanpa membuka sedikit pun netranya. Tampak jelas dia menolak ajakanku untuk bercinta malam ini.

Alex memalingkan tubuhnya membelakangiku, sambil menarik selimut tebal menutupi tubuhnya hingga leher.

Seketika aku terdiam. Mematung dengan mulut yang menganga. Kukerutkan dahi, merasa tak percaya apa yang terjadi baru saja.

Dari rentetan kejadian tadi hingga di atas ranjang. Benar-benar hal yang tak biasa.

Biasanya Alex selalu hangat, apa lagi jika mendapatkan penawaran yang paling disukai kaum pria dari wanita. Dia pasti tak kan pernah menolak. Pria itu pasti akan menyerang dengan garang hingga tanpa ampun.

Gak seperti biasanya, aneh. Aku bersungut dengan perasaan sedikit kecut. Kutarik kembali tangan ini. Memutar tubuh, membalas membelakangi pria yang malam ini sudah melukai hatiku.

Tak terasa, netraku menghangat. Perlahan buliran bening luruh membasahi pipi dan kain pembungkus bantal. Dada terasa sesak, hingga meninggalkan isak.

Rasanya sulit sekali aku mempercayai kejadian ini. Hingga mataku pun sulit untuk terpejam. Seribu tanya menghiasi benak.

Alex. Ada apa dengan dirimu, Sayang? Nggak seperti biasanya, kamu bersikap seperti ini padaku. Satria Alexa Darmawan yang aku kenal penuh kasih sayang. Selama dua puluh tahun dalam pernikahan kita. Nggak pernah kamu membuat kusedih. Apa lagi menangis seperti ini. Tapi, kenapa malam ini sikapmu begitu berubah?

Bukan… bukan… ini bukan Alex yang aku kenal. Tapi, siapa? Ah! Hal ini tak bisa dibiarkan begini. Aku harus tahu, aku harus menanyakan, apa yang tengah terjadi pada dirimu?

Kembali aku memutar tubuh menghadap pria itu. Ingin rasanya membangunkan dia untuk menanyakan semua kejanggalan ini. Agar besok permasalahan selesai tanpa ada beban yang mengganjal. Namun, ternyata rencanaku gagal. Kuurungkan niat ini. Ia tampak sudah tertidur lelap. Membuatku tak tega untuk membangunkannya.

Alex merubah posisinya. Kutatap lelaki itu dengan lekat, wajahnya yang menengadah lurus ke langit-langit kamar. Mulutnya yang sedikit terbuka, menghasilkan alunan nada dari tenggorokannya berirama turun dan naik.

Ya sudah lah, besok pagi saja. Sebelum Dia berangkat ke bandara. Aku mendengus pelan sambil terus memandangi parasnya. Menelusuri satu per satu seluruh inderanya. Memastikan kembali, tak ada yang berubah pada suamiku.

Malam semakin larut. Suasana semakin hening. Yang terdengar hanya detakan jam dinding dan dengkuran Alex yang saling bersahutan di kamar. Namun, mata ini tak ingin terpejam juga. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil air wudhu. Sholat sunah malam. Mengadu kepada sang Khalik pencipta alam semesta di sepertiga malam, tentang apa yang sedang aku rasakan saat ini.

Hingga tak terasa aku terlelap diatas sajadah dan mukena yang masih menutupi tubuhku.

Bersambung…!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status