Finding Nami. ( INDONESIA )
Finding Nami. ( INDONESIA )
Author: HANINA
1. Namida Hamashaki.

"Aaaah akhirnya bisa benapas dengan lega."

Seorang gadis cantik berwajah oriental dengan memakai atribut kelulusan mahasiswa, lengkap memakai toga dikepalannya merentangkan tanganya keatas sambil menyunggingkan senyumnya. Rambutnya tergerai indah sambil membawa sebuah bucket bunga mawar putih dari kakak seniornya.

Terimakasih senpai(kakak tingkat/kakak kelas ataupun kakak laki-laki yang lebih senior)." Nami menyunggingkan senyuman termanisnya.

"Jangan tersenyum manis begitu, aku jadi tambah berat melepaskanmu untuk kembali ke negara asalmu Nami san." (san adalah tambahan nama panggilan untuk adik kelas/adik tingkat atau teman wanita dalam bahasa Jepang).

Yup Namida Hamashaki, gadis manis berusia 23 tahun yang baru saja menyelesaikan kuliah tingkat akhir di salah satu universitas terbaik di Jepang. Tokyo university selama lima tahun itu ialah putri dari Yamada Hamashaki seorang pengusaha terkenal keturunan Jepang. Bermula dari kakek Nami yang mengembangkan usahanya ke Indonesia, telah tertambat hatinya dengan seorang gadis yang masih ada hubungan dengan kerabat Kesultanan Surakarta dan akhirnya memutuskan untuk menetap di Indonesia setelah menikahi gadis pujaanya.

Secara fisik Nami terlihat lebih mirip dengan sang mama yang berasal dari Hawai. Percampuran darah antara Jepang, Indonesia dan Hawai menjadikanya terlihat unik.Dengan tinggi 156 cm dan berat badan 45 kg ditunjang oleh baby face look, nami terlihat seperti anak lulusan SMA karena terlihat mungil diusianya yang sudah mencapai 23 tahun.Dengan mata lebar yang menyerupai sang mama, Nami semakin menarik karena memiliki kulit putih warisan dari sang papa. Rambut hitam bergelombang juga menjadi salah satu daya tarik fisik yang dimiliki oleh Nami tanpa harus repot ke salon untuk mengikuti trend rambut terkini.

Dari dulu, Nami sering dikejar oleh cowok-cowok lingkungan sekolah maupun dilingkungan komplek perumahanya. Pembawaanya yang supel dan friendly membuatnya mudah untuk bergaul dengan siapapun. Sampai dimasa kuliah juga masih sama, sering didekati oleh berbagai cowok yang berbeda untuk menjadi kekasihnya. Salah satunya kakak tingkat seniornya yang bernama Takeshi Kaneshiro, cowok asli Jepang yang rela cuti kerja hanya untuk menghadiri hari kelulusan kuliahnya.

"Apakah keluargamu belum juga datang Nami san?"

"Mereka masih dalam perjalanan kesini senpai."

"Duh sudah nggak sabar, ketemu calon mertua. Awwww, sakit Nami san." Takeshi mengaduh kesakitan setelah Nami mencubit lenganya.

"Jangan ngaco, senpai. Awas kalau sampai ngomong yang aneh-aneh dengan kedua orang tuaku, aku akan blokir nomor dan akunmu." Nami melotot garang.

"Bwa ha ha ha ha aduh aduh sakit perutku, wajahmu nggak cocok untuk bertampang galak Nami san. Kamu kelihatan lucu seperti Nobita ha ha ha." Takeshi tertawa terpingkal-pingkal.

"Terserah." Nami membuang mukanya.

Wajah Nami seketika berubah cerah ketika melihat kedua orang tuanya sudah berdiri di ujung undakan tangga dibawahnya. Nami berlari dengan tergesa menuruni tangga, membuat Takeshi ingin memarahinya karena jarak antara Nami dan orang tuanya terlalu jauh. Dari undakan tangga yang paling atas, Takeshi cuma bisa mengumpat dalam hati karena aksi Nami yang berbahaya.

"Paaaaa maaaaaa." Nami langsung merangkul kedua orang tuanya.

"Maaf kami terlambat sayang, pesawat kami sempat delay waktu transit di Hongkong."

"Nggak papa pa, yang penting kalian sudah datang."

"Duh anak mama tambah cantik aja kalau pakai baju beginian."

"Dari dulu juga Nami udah cantik ma. Eh kak Naka kemana ma? Katanya mau datang. Awas kalau bohong." Nami mengerucutkan bibirnya.

"Kakak disini Nami." Nakamura keluar dari belakang orang tuanya dengan merentangkan kedua tanganya.

"Kak Naka." Nami langsung menubruk tubuh kakaknya yang jangkung. Berbeda dengan Nami, Naka berpostur tinggi dan bermata sipit seperti ayahnya.

"Duh yang baru lulus tambah glowing aja."Walau terpaut jauh umur mereka, tapi tidak mengurangi kedekatan antara Nami dan kakak laki-lakinya.

"Mana hadiahnya?" Nami mengitari kakaknya dan meraba-raba saku jaketnya Naka.

"Nih ya, cantik-cantik tapi otak pemalak." Naka menyentil kening Nami.

"Yeee bukannya kakak sendiri yang janji, kalau Nami lulus dengan hasil cumlaude. Kakak bakal ngasih hadiah buat Nami." Nami menyebik.

"Iya beres, nanti hadiahnya kalau udah nyampe rumah. Kamu punya cowok disini?" Naka melihat cowok berwajah khas Jepang sedang berinteraksi dengan kedua orang tua mereka.

"Siapa?" Nami menoleh ke arah pandangan kakaknya." Ohhh dia, Namanya kak Takeshi. Cowok Jepang kakak senior Nami waktu kuliah disini."

"Naksir kamu?"

"Biasa, pesona adik kakak ini sulit ditolak oleh semua cowok he he he." Nami mengibaskan rambutnya.

"Dih narsis. Tapi ada satu cowok yang kayaknya nggak bakal tertarik sama kamu."

"Siapa?"

"Ada deh, nanti kamu juga tahu. Cepetan kesana gih, tuh papa sama mama nungguin kamu untuk foto, nanti kakak nyusul."

"Iya ah, bawel." Nami berjalan menghampiri kedua orang tuanya.

"Ohayo (selamat pagi)senpai." Takeshi membungkukan badanya sebagai tanda hormat kepada seseorang yang baru dikenalnya, seperti kebiasaan adat bangsa yang terkenal dengan keramahannya itu.

"Ohayo." Naka membalas sapaan Takeshi dengan hal yang sama.

"Perkenalkan, nama saya Takeshi. Saya adalah kakak senior Nami di universitas ini. Senang bisa bertemu dengan anda" Sambil menerima jabat tanganya Naka, Takeshi memperkenalkan dirinya.

"Nakamura, kakaknya Nami. Kamu-----salah satu cowok yang mengejar Nami?" Tanya Naka to the point.

"He he he tepat sekali senpai, tapi sampai sekarang belum ada kemajuan." Takeshi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Jangan putus asa, karena sampai sekarang belum ada cowok yang bisa menaklukan hatinya. Jadi masih ada celah"

"Emkhhh boleh bocorin kriteria yang Nami mau untuk bisa menjadi kekasihnya senpai."

"Tinggalkan nomormu Takeshi kun(kun,panggilan untuk adik tingkat atau teman laki-laki),kalau ada waktu akan kuberitahu oke?"

Terimakasih senpai, dengan senang hati." Takeshi mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Naka." Kalau senpai ada kunjungan bisnis atau liburan kesini,hubungi aku.Aku akan dengan senang hati untuk menemani senpai."

"Oke, itu bisa diatur Takeshi kun."

"Baiklah, aku harus pergi dulu, aku hanya cuti setengah hari. Ini sudah waktunya aku harus kembali ke kantor. Sampai jumpa senpai." Takeshi berpamitan kepada Naka lalu menemui Nami dan kedua orang tuanya untuk berpamitan.

"Ma bilangin papa, Nami pengen magang kerja disini selama satu tahun ma." Nami menggoyang-nggoyangkan tangan mamanya.

"Lah papanya juga disini ngapain nyuruh mama.Pa itu anak kesayanmu minta magang disini selama setahun,gimana pa?" Kamaya ibunya Nami menoleh kepada suaminya.

"Tidak bisa sayang, lima tahun sudah cukup bagimu untuk berjauhan dengan kami. Kali ini kamu harus pulang. Ada sesuatu yang harus kamu lakukan." Yamada mengelus kepala Nami dengan sayang.

"Apaan sih pa, Nami penasaran."Nami menunjukan wajah keponya.

"Kepo." Naka menyentil hidung mancung adiknya.

"Aduh kakakkkkk."

"Nanti juga kamu tahu sayang, setelah kita sampai di rumah kita."

TBC.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status