I Called You SNOW
I Called You SNOW
Author: Intan SR
Prolog

Malam ini masih seperti biasa. Menunggu seseorang yang sangat berharga bagi hidupku.

Kekasih? Bukan, dia bukan kekasihku. Tapi aku harus menyebutnya apa? 

Dia adalah lelaki yang sudah mengisi hidupku selama lebih dari dua tahun ini.

Dia sangat polos, dia sangat lucu dan dia sangat menggemaskan.

Namanya adalah Snow.

Malam ini katanya akan turun salju. Makanya aku tetap berada di sini tak memedulikan dingin yang hampir saja membekukan tubuhku.

"Masih menunggu dia?" tanya seorang lelaki yang kemudian duduk di sebelahku.

"Hmm, tentu saja," jawabku.

"Apa kau yakin kalau dia akan kembali," desahnya sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

"Aku yakin. Dia tak pernah mengingkari janjinya selama ini." Aku tersenyum pada Foster, lelaki yang juga sahabatku.

"Aku masih penasaran."

"Penasaran apa?"

"Bagaimana pertemuan pertamamu waktu itu."

"Apa kau yakin akan mampu mendengar ceritaku sampai pagi?" tanyaku. Sangat panjang cerita mengenai aku dan Snow.

"Tentu. Kau bisa menceritakannya serinci mungkin."

Aku tersenyum. Mataku memandang langit gelap malam ini. Sambil menunggu salju turun, mungkin aku akan menceritakan bagaimana aku bertemu dengan Snow.

Waktu itu …

Aku baru saja kehilangan kedua orang tuaku dalam kecelakaan pesawat. Di dunia ini aku hanya memiliki mereka. Dan sangat berat bagiku jika aku harus menjalani hidup ini sendirian.

Namun—Pamanku Edward menampungku sampai aku lulus sekolah. Karena setelah lulus dari sekolah, aku pun ingin mencari pekerjaan dan hidup mandiri.

Akan tetapi dia menentangnya, karena baginya aku masih seperti gadis kecil beberapa tahun yang lalu.

Yang selalu menangis jika melihat foto ayah dan ibuku.

"Kau tak bisa hidup sendirian, Elena," katanya dengan frustrasi.

Tetapi keputusanku sudah bulat. Aku tak ingin merepotkan Pamanku dan juga istrinya.

Apalagi di rumah itu bukan hanya aku saja yang dihidupi, tapi ada anak seumuranku yang bernama Mia anak dari pamanku.

"Aku bisa, aku pasti bisa. Umurku sudah lebih dari 18 tahun, aku sudah bukan anak kecil lagi." 

Setelah perdebatan itu dan setelah aku bisa meyakinkan pamanku. Akhirnya dia bisa melepaskanku pergi. Hanya saja, dia menyuruhku untuk tinggal di rumah ayah dan ibuku.

Rumah yang dulu ia tempati sebelum melahirkanku. Rumah yang tidak aku ketahui karena mereka tak pernah menceritakannya padaku.

Dan aku menerima tawaran itu, asalkan aku bisa hidup sendirian dan mandiri. Kupikir itu tidak akan masalah.

Tetapi ternyata aku keliru. Rumah yang kupikir hanya rumah tua ternyata tak hanya sekadar tua. Maksudku, rumah itu benar-benar seperti tak layak pakai.

Lantai yang berlantaikan dari kayu tersebut seakan bisa roboh jika aku berjalan di atasnya. Dan atapnya—ada lubang yang sangat indah jika malam dan akan menjadi sumber panas jika siang.

Aku benar-benar tak bisa tinggal di sana. Apalagi listrik sudah diputus sejak lama agar tidak terjadi kebakaran.

Sepertinya pamanku sengaja agar aku menyerah. Namun tidak, aku tidak akan menyerah dan akan tinggal di sana. Dan jika sudah memiliki uang maka aku akan menyewa rumah yang lebih layak.

Dan sialnya aku harus pergi ke sana malam-malam. Hawa dingin merasuk hingga ke tulang ketika aku menginjak di pekarangan rumah itu. Sangat gelap dan aku hanya membawa ponsel yang bisa kugunakan untuk menyinari rumah tersebut.

Mungkin jika sewaktu-waktu aku mati. Tak akan ada yang tahu karena rumah ini sangat jauh dari peradaban. Tetangga yang seharusnya ada di sebelah rumahku ternyata jaraknya lebih dari seratus meter.

Aku tak yakin kalau mereka bisa mendengarku jika aku berteriak memanggil mereka.

Aku menghela napasku dalam-dalam. Tak bisa terus menggerutu karena hanya akan membuatku lemah dan payah.

Aku harus bisa membuktikan pada pamanku kalau aku bisa hidup mandiri.

"Aghh!!" pekikku setelah melihat seekor tikus menyambutku dengan berdiri di depan pintu ketika aku hendak masuk ke dalam.

"Sialan!" rutukku. 

Bau pengap dan kayu lapuk menusuk ke hidung. Bagaimana aku bisa tinggal di sini?

Kenapa ayah dan ibuku membeli rumah ini? Aku benar-benar tak habis pikir.

Aku meletakkan tasku di atas lantai, dan seperti dugaanku. Kayu lapuk itu terdengar seperti mau patah.

Sepertinya aku harus berhati-hati.

Lalu aku membuka plastik penutup sofa yang ada di ruang tamu. Mungkin untuk sementara aku akan tidur di sofa itu malam ini.

Tetapi … debu langsung terbang ke wajahku dan membuatku sampai terbatuk-batuk.

Astaga! Lalu aku harus tidur di mana?

Aku membuka plastik yang menutupi meja. Mungkin aku bisa tidur di sana satu malam ini, karena debu yang ada di atas meja bisa kubersihkan dengan kain.

Tapi rasanya sangat aneh. Begitu keras dan—tak nyaman.

Namun rasa kantukku mengalahkan semuanya. Sampai pada akhirnya aku tertidur dan tak memikirkan apa-apa lagi.

**

BRUUAKKK!!!

Mataku langsung terbuka karena terkejut. Itu seperti suara benda yang terjatuh ke bawah. Tapi apa?

Aku mencoba untuk memejamkan mataku, karena kupikir itu adalah sapi tetangga yang sedang bermain salju dan terjatuh dari atapku.

Ah sial! Imajinasi macam apa itu. Mana mungkin ada sapi—dan tetanggaku—

Untuk sesaat aku tercenung. Keringat dingin mengucur padahal cuaca sangat dingin. Bulu kudukku meremang, aku sangat takut.

Lalu tak lama setelah aku sibuk dengan pikiranku. Terdengar suara langkah mendekati rumahku.

Lantai kayu yang ada di beranda berderit.

"Tolong, jangan ada maling di hari pertamaku tinggal."

"Rumah ini tak ada apa-apanya. Buat apa maling datang ke sini?"

Aku terus berdoa karena barangkali Tuhan sedang ingin mengabulkan permohonanku.

Suara derit itu tak terdengar lagi. Namun aku malah semakin penasaran. Hingga aku menurunkan kedua kakiku pelan-pelan dan bergerak menuju depan pintu.

Aku mengintip dari jendela yang bertirai debu. Mataku melebar tak percaya ketika melihat apa yang ada di beranda rumahku.

"Pria mesum!" pekikku tertahan.

Aku menutup mulutku sendiri. Melihat lelaki tanpa busana itu ada di depan rumahku.

"Jangan-jangan dia mabuk dan nyasar sampai di sini?"

Aku mengambil tasku—barangkali bisa untuk menyambit lelaki itu.

Akan tetapi, ketika aku keluar. Lelaki itu menatapku dengan wajah yang polos. Mata yang indah itu menyihirku, mata dengan warna biru dan juga kulitnya yang putih pucat.

"Apa kau kedinginan?" Aku malah bertanya seperti itu padanya.

Lelaki itu malah tersenyum, seperti anak lelaki kecil yang sedang menatap ibunya.

Namun senyum itu malah membuatku curiga!

BUG!!!

Aku memukulnya dengan tasku yang sudah kuisi dengan batu sebelum ke rumah ini. Dan alhasil dia pingsan.

Aku mengikatnya tapi sebelumnya kuberi dia selimut agar tidak kedinginan.

Mataku memandang yang aneh pada wajahnya. Dia sama sekali tidak mengeluarkan darah. Dan dalam pingsannya, dia masih bisa tersenyum.

"Dasar orang aneh."

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status