Bab 4_ Petikan Prosa

Hening sempat menyekat kelas sebelum akhirnya menjadi begitu bergemuruh. Apa yang diucapkan Smith tidak pernah terduga sebelumnya. Hal itu secara otomatis memperluas pemahaman teman-temannya tentang apa yang diterangkan Pak Jack.

“Bagus Smith. Sepertinya kau telah memperhatikan Janu jauh sebelum Bapak memintanya. Hehehe.”

Suara tawa Pak Jack lekas diikuti oleh gelak tawa teman-teman Smith satu kelas. Tapi suara tawa itu segera terhenti saat Smith mengangkat wajahnya dan memandang temannya satu per satu dengan tatapan khas singa jantan.

Tapi hal berbeda terlihat di wajah Janu. Pemuda itu masih terpaku tak jelas, entah memandang apa, dengan kedua alis yang hampir menyatu.

“Janu, sekarang giliranmu,” suara Pak Jack mengejutkan Janu.

Pemuda itu menarik napas panjang. Lalu membuangnya secara perlahan sambil memejamkan mata, seolah tidak hanya melepaskan sisa udara dari dalam paru-parunya tetapi juga membuang hal yang menganggu pikirannya.

“Tangan. Aku melihat sendiri bagaimana jari-jari lentik itu menjabat tangan orang lain. Menguatkan dan menunjukkan kepedulian. Tidak banyak, oh tidak, tidak. Tidak ada orang yang tahu atau mengira, tangan itu bisa menjadi demikian manis. Itu adalah tangan yang sangat menawan. Tangan seorang dewi kasih sayang yang hanya akan tampak saat orang-orang tidak sedang melihat,” kata Janu dengan tatapan lurus ke depan.

Apa yang diucapkan Janu berhasil membuat kepala Smith menoleh. Jantung gadis itu berdegup kencang lantaran ada kecurigaan yang menyelimuti batinnya.

Entah mengapa, Smith merasa cemas kalau-kalau apa yang ia lakukan pada Pak Hadi diketahui oleh orang lain.

Ketika itu ia sempat melihat keadaan sekitar. Sangat sepi dan tidak terlihat ada orang lain di sekeliling mereka.

Atau rasa bahagia yang berlebihan melihat Pak Hadi telah kembali bertugas membuatnya menjadi kurang waspada?

***

“Smith!” panggil Janu yang berada dua meter di belakang Smith.

Tapi Smith yang telah mengenal suara itu, bukannya berhenti malah mempercepat langkahnya. Ia berjalan sangat cepat menuju pos satpam lain, bukan pos tempat Pak Hadi berada.

Pikirnya, jika memang Janu mengetahui apa yang terjadi di dekat pos satpam fakultas, tentulah pemuda itu memarkir motornya di sana.

Maka, Smith sengaja memilih jalan lain untuk keluar kampus supaya Janu tidak mengikutinya lagi.

Tapi gadis itu keliru, meski Janu sempat berpikir untuk mengambil motornya, nyatanya yang ia lakukan justru sebaliknya. Janu terus berjalan mengikuti Smith sambil berulang-ulang memanggil gadis itu.

“Sas! Berhentilah!” panggil Janu setengah berteriak.

Smith menghentikan langkah kakinya. Tanpa membalikkan badan. Ia sudah jengah menghindar. Terlebih setelah Janu memanggilnya dengan panggilan yang berbeda dari yang ia inginkan.

Melihat itu, Janu langsung bersicepat mendekat. Ia berdiri di depan Smith.

Beberapa orang yang kebetulan sedang lewat di jalan sempit itu, melihat Smith dan Janu yang saling menatap dengan wajah serius itu.

Rata-rata mereka mengira Smith dan Janu adalah sepasang kekasih yang sedang ribut.

“Apa maksud dari ucapanmu tadi?” tanya Janu setelah beberapa saat hanya diam memandang wajah keras Smith.

“Ucapan yang mana?” tanya Smith pura-pura tidak mengerti.

“Kau tidak terlalu banyak bicara di depan orang-orang. Aku tahu, kau tahu apa yang aku maksud,” tukas Janu dengan hati sedikit memanas. Entah mengapa ia merasa sangat kesal pada petikan prosa yang disampaikan Smith di depan kelas. Ia tidak terima dan sangat tidak suka.

“Apa ini soal prosa itu? Heh! Lelaki konyol. Apa kau tahu arti dari prosa? KARANGAN BEBAS! Jadi terserah aku mau membuatnya menjadi seperti apa. Sekarang menyingkirlah dari hadapanku! Wajahmu membuatku muak.”

Biuh, biuh, biuh. Smith meluapkan kekesalannya. Ia berbicara dengan sangat lantang di depan wajah Janu.

“Tapi, kau menggunakan mataku sebagai inspirasinya. Mengapa mataku membuatmu ingin mati?” tanya Janu dengan suara lirih saja, dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya.

Smith yang sempat berjalan beberapa langkah meninggalkan Janu, kini menghentikan kakinya. Lalu membalikkan badan dan kembali menghampiri Janu.

“Apa kau pikir jika aku menjadikan matamu sebagai inspirasi itu artinya yang aku katakan tadi tentang matamu? Sial! Mengapa aku harus memiliki teman satu kelas sepertimu? Dengar, aku tidak tahu mengapa ada orang sepertimu. Aku juga tidak punya urusan denganmu. Jadi, berhenti mengangguku atau kau akan terlibat dalam masalah,” kata Smith penuh penekanan sambil menepuk pundak Janu.

Gadis itu diam sejenak untuk melihat respons Janu. Dan ia menjadi semakin kesal lantaran bukannya takut, Janu justru tersenyum dan menawarkan pada Smith untuk mengantarnya pulang sebab hari sudah mulai gelap.

“Dasar pria aneh!” tukas Smith lagi, yang kemudian membalikkan badan dan meninggalkan Janu masih dengan dongkol yang kentara jelas di wajahnya.

Janu masih tersenyum. Ia semakin yakin kalau Smith adalah gadis unik yang sangat menarik untuk didekati. 

Satu yang pasti, sebagai gadis yang dipandang sangat aneh oleh orang-orang di sekitarnya, Smith sama sekali tidak canggung saat menyebut Janu sebagai lelaki aneh. Dan itu sungguh menggelitik batin Janu hingga membuatnya tersenyum-senyum sendiri.

“Kau memang lucu Smith. Entah sudah berapa kali kau membuatku tersenyum geli hari ini,” ujar Janu dalam benak.

“Ya salam... Motorku!” ujar Janu dengan mata terbelalak layaknya orang terkejut sambil menepuk dahinya pelan.

Janu teringat pada motornya yang masih berada di parkiran fakultas. Ia pun berlari kembali ke kampus. Jika masih beruntung, ia bisa dengan mudah keluar dari tempat parkir sambil menaiki motornya.

Tapi pemuda itu sudah terlanjur yakin, kalau ia harus berjuang keras supaya bisa keluar parkiran, karena biasanya palang pintu akan ditutup setelah jam terakhir perkuliahan selesai.

Entah akan melompati palang pintu itu, atau bagaimana, namun sepertinya motornyalah yang akan menaiki dirinya.

"Mereka benar, sepertinya mendekatimu akan mengantarkanku pada suatu masalah. Entah apa yang akan aku lakukan setelah ini," gumam Janu dalam batin dengan wajah ditenang-tenangkan.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status