Bab 6_ Perubahan yang Mengundang Lara

Smith kecil tidak tahu harus berbuat apa. Ia jelas tidak tega melihat ibunya diperlakukan dengan begitu buruk. Tapi, ia juga takut pada ayahnya.

Smith belum pernah melihat Hendry demikian menyeramkan. Selama ini, perlakuan kasar Hendry terjadi di belakang Smith. Ketika di hadapan putrinya, Hendry selalu berusaha menahan amarahnya. Ia bersikap manis kepada sang istri.

Kalaupun Hendry dan Lisa berselisih di depan putrinya,  Hendry tidak sampai main tangan. Selain itu, salah satu di antara mereka biasanya akan mengambil jeda dan meminta Smith untuk lekas masuk ke dalam kamarnya.

Dan dari sekian banyak kesalahan yang diperbuat Hendry, hal yang membuat Smith merasa mustahil untuk bisa memaafkan sang ayah adalah karena pengkhianatan yang dilakukan pada keluarga.

Saat itu Smith menemani ibunya untuk check up ke dokter. Sang ibu yang mengidap hipertensi sudah merasa tidak enak badan selama dua hari sebelumnya.

Awalnya Lisa, ibunya Smith, hendak menunggu waktu luang suaminya agar diantar ke rumah sakit sebagaimana dulu ketika dirinya sakit.

Lisa sungguh berharap sakit yang ia rasakan itu akan membuat hubungannya dengan Hendry membaik. Ia ingin sang suami kembali seperti Hendry yang dulu begitu menyayangi keluarganya.

Lisa tidak mau ketegangan antara dirinya dan sang suami akan dirasakan juga oleh Smith hingga membuat putrinya itu merasa kehilangan keharmonisan dalam keluarga.

Namun, keadaan Lisa tidak kunjung membaik dan Hendry justru semakin sibuk. Entah karena urusan bisnis atau yang lainnya, yang jelas Henry memang seperti sudah tidak peduli lagi pada istrinya.

Akhirnya, dengan ditemani putri tercinta, Lisa memeriksakan keadaannya ke rumah sakit, sekalian mencari udara segar. Mereka menyempatkan untuk sekadar duduk-duduk di taman sebentar, sebelum pergi ke rumah sakit.

Lisa selalu mengatakan pada Smith bahwa dirinya baik-baik saja. Dan suasana yang berbeda mungkin bisa membantu pemulihannya.

Smith yang selalu ingin membahagiakan ibunya, menurut saja pada apa yang dikatakan ibunya. Ia meminta sopirnya untuk berhenti di taman kota.

Tapi, baru saja Smith keluar dari dalam mobil, matanya terbelalak melihat sang ayah tengah memberikan sebuah kotak hadiah besar pada seorang anak perempuan yang seumuran dengan dirinya. Dan sebagai imbalannya, Hendry menerima kecupan kecil di pipi kiri dari anak tersebut, sekaligus ciuman dari ibunya di pipi yang lainnya.

Smith yang baru saja hendak membantu Lisa keluar dari dalam mobil, terpaksa berpura-pura merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia juga meminta sang sopir untuk lekas pergi ke rumah sakit saja.

Smith tidak ingin ibunya merasakan apa yang ia rasakan. Ia tidak mau hati ibunya hancur setelah melihat sang suami main serong dengan perempuan lain.

"Sasmitha, katakan pada ibu apa yang kau makan pagi ini? Apa kau diam-diam masih suka memakan makanan yang sangat pedas?" tanya Lisa sambil mengusap rambut putrinya.

"Sasmitha? Apa kau mendengar ibu?"

"Aduh, aduh, sakit. Sakit sekali ibu," ujar Smith kembali berbohong untuk menutupi pikirannya yang kacau.

Tidak bisa dipungkiri, kepala gadis itu menjadi pening karena memikirkan siapa sebenarnya perempuan dan bocah perempuan yang bersama ayahnya di taman. Jika orang lain yang melihat tingkah mereka, pastilah mengira kalau itu adalah sebuah keluar kecil bahagia.

Smith mulai menduga-duga apakah sang ayah memiliki istri lain dan anak itu adalah anak hasil hubungan gelap? Apakah ibunya telah mengetahui kelakuan bejat ayahnya sehingga kesehatannya memburuk? Apakah perempuan itu yang membuat kedua orang tuanya kerap cekcok saat bersama?

Smith hanya bisa mendengus kesal karena semua pertanyaan yang memenuhi kepalanya itu tidak mendapatkan jawabannya.

"Sasmitha, kita sudah sampai. Apa kau akan turun atau tetap di sini?" kata Lisa untuk yang kesekian kalinya karena Smith tidak kunjung merespons ucapannya.

"Ya, ya, Bu. Aku... akan turun sekarang," jawab Smith terbata-bata karena kaget.

"Ada apa sayang? Mengapa kau seperti sedang mencemaskan sesuatu? Apa karena sakit di perutmu semakin terasa?" tanya Lisa lagi khawatir menyadari perubahan sikap putrinya.

"Tidak, tidak, Bu. Mungkin hanya karena aku terlalu lelah." Smith tersenyum dan memegang tangan ibunya.

"Ya, sebaiknya kita periksakan dirimu dulu nak," ujar Lisa sembari mengelus kepala putrinya.

"Tidak, tidak. Perutku sudah tidak sakit lagi, Bu. Mungkin tadi menjadi kram karena aku sedang datang bulan," ucap Smith yang kembali berbohong untuk menutupi kebohongannya.

Smith yang selalu berkata jujur, kini membenarkan pepatah yang mengatakan bahwa satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lainnya. Dan bagi Smith, rasanya sungguh tidak enak, bisa membuat jantungnya berdetak kecang, bahkan juga memicu keringat lebih banyak keluar.

***

Usai memeriksakan diri ke dokter, keadaan Lisa semakin baik. Meskipun demikian, ia tetap diminta untuk tidak banyak beraktivitas dulu dan memperbanyak waktu istirahatnya.

Sampai suatu ketika hal buruk terjadi pada Lisa. Sangat buruk.

Lisa ditemukan tergeletak tidak sadarkan diri di kamar mandi dengan bercak darah yang tercecer di lantai.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status