Bab 8_ Pengabdian Seorang Anak

Sudah tiga hari Smith dan ibunya berada di rumah. Tapi Hendry tidak juga datang atau sekadar menelpon.

Walau Smith tidak pernah lagi menghubungi ayahnya, tapi ia selalu bersemangat melihat ponselnya jika berdering ada panggilan masuk, ataupun berbunyi ketika sebuah pesan diterima. Dan Smith selalu kecewa karena yang ia harapkan tidak juga memberi atau menanya kabar.

"Sas, ibu ingin buang air kecil," ujar Lisa lirih. Tapi mengagetkan Smith yang melamun memikirkan ayahnya.

"Iya, Bu."

Smith selalu memasang senyum semanis-manisnya. Ia akan sangat sabar dan telaten merawat sang ibu.

Bagi Smith, bersama ibunya adalah kebahagiaan tidak ternilai. Mau seperti apapun lelahnya mengurusi segala keperluan dan kebutuhan sang ibu, Smith tidak pernah mengeluh atau sekadar menunjukkan wajah capai.

Tapi Lisa, tentu saja ia merasa kasihan pada putrinya. Smith tidak pernah tidur nyenyak di malam hari karena dirinya. Padahal keesokan harinya Smith masih harus pergi ke sekolah. Juga pada siang hari, putrinya itu tidak pernah beristirahat.

Selama Smith berada di rumah, ia yang akan menyiapkan segala keperluan ibunya. Bukan Bi Ipah atau orang lain.

Sebetulnya Lisa telah berulangkali meminta pada manajer di butiknya untuk mencarikan seorang perawat yang bisa mengurus dirinya di rumah. Namun, sudah dua kali perawat yang berbeda datang, langsung diberhentikan Smith dan diberi uang pesangon sebelum sempat melakukan apa-apa sebagai seorang perawat di rumahnya.

Dan Lisa tidak berani lagi meminta untuk dicarikan perawat lantaran Smith mengancam akan berhenti sekolah saja jika sang ibu melakukan hal itu lagi.

"Terima kasih sayang."

"Tidak masalah ibu. Sekarang ibu harus beristirahat. Hari sudah terlalu malam. Aku akan tidur sebentar di sini."

Smith menyelimuti ibunya yang baru kembali di tempat tidur. Lalu duduk di samping ibunya dengan kepala yang diletakkan di atas ranjang.

Smith meletakkan tangan kanan ibunya ke atas kepalanya. Lalu memejamkan mata.

"I love you, ibu," ujar Smith lirih.

Lisa tersenyum. Ia kerap memandang haru putrinya yang selalu tidur di kamarnya. Kadang di sofa, kadang berbaring di sebelahnya, kadang juga terlelap sambil duduk di sampingnya seperti saat ini.

Lisa sering merasa bersalah atas apa yang dialami putrinya. Semestinya, Smith yang baru duduk di bangku kelas delapan SMP bisa menikmati hidupnya dengan hal-hal yang menyenangkan. Bergembira bersama kawan-kawan, jalan-jalan ke mall, dan lain sebagainya.

Tapi Smith tidak merasakan semuanya. Tidak bermain-main, tidak bersenang-senang, juga tidak berbahagia bersama keluarganya yang berantakan.

"Malang sekali nasibmu, nak. Tidak seharusnya kau memikul beban seberat ini. Kau berhak bahagia Sasmitha." Begitulah yang selalu diratapi Lisa dalam malam-malamnya.

Tapi kemudian ia bisa menegarkan dirinya sendiri. Lisa mencoba menjejali pikirannya dengan hal-hal positif yang bisa membuatnya untuk kembali bersyukur atas pemberian Tuhan dan berhenti meratapi keadaan.

Lisa merasa beruntung karena ada Smith di sisinya. Ia sangat bangga pada putri kecilnya yang kini telah menjelma menjadi sosok yang begitu dewasa dan bertanggung jawab.

Lisa tersenyum lagi. Meski pernikahannya dengan Hendry kini telah berada di ujung tanduk, dan seolah tidak ada lagi yang bisa diharapkan, setidaknya masih ada yang bisa disyukuri, yakni karunia dari buah percintaan mereka, Smith-nya yang manis.

Lisa sudah tidak mau lagi memikirkan tingkah suaminya yang sangat menyakiti batin. Semua skandal yang diperbuat Hendry dengan pacarnya telah merusak keluarga harmonis yang penuh cinta kasih.

Smith telah keliru. Ia berusaha keras untuk menutupi pengkhianatan yang dilakukan ayahnya di taman kota, dengan harapan tidak akan membuat ibunya sakit hati.

Padahal, Lisa telah tahu apa yang dilakukan Hendry di belakangnya. Perselingkuhan suaminya, sejak kapan Hendry main serong, siapa perempuan dan anak seusia Smith itu, bahkan Lisa juga tahu dimana rumah selingkuhan suaminya.

Faktor yang paling mempengaruhi kesehatan Lisa memang tingkah dari Hendry. Semenjak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan suaminya, Lisa menjadi sakit-sakitan. Hingga puncaknya adalah stroke yang ia derita sekarang.

Sesaat sebelum Lisa terjatuh di kamar mandi, pacar Hendry menelpon untuk meminta izin menikah. Sebenarnya itu bukan untuk yang pertama kali. Lisa sudah sering menerima telpon demikian.

Tapi ketika itu, pacar dari suaminya juga mengatakan akan membuat Hendry melupakan putri kandungnya. Perempuan gila itu lantas menyarankan pada Lisa untuk lekas mati saja agar semua tidak menjadi lebih buruk. Lalu telpon diakhiri dengan gelak tawa yang berkepanjangan.

Sejujurnya, Lisa terkadang memang ingin mati saja. Tapi pikirannya kemudian berubah. Ia khawatir jika suatu ketika ia tiada, bagaimana dengan Smith?

Lisa menjadi takut jika memikirkan Smith yang selama ini sudah seperti anak yatim, pasti akan merasa sangat kehilangan dirinya. Apalagi jika sampai pacar suaminya itu benar-benar melakukan apa yang dikatakan padanya.

Lisa menjadi begitu cemas karena ada banyak pikiran buruk yang terlintas di benaknya setelah kematiannya. Apakah Smith akan mampu bertahan? Apa putrinya akan kesepian? Apa kehidupan putrinya itu akan semakin menyedihkan? Apa Hendry akan peduli pada putrinya lagi? Dan seterusnya, dan seterusnya.

***

"Halo ayah? Ayah, cepatlah ke rumah sakit Pertiwi. Ibu kritis. Aku takut ibu akan... Kemarilah ayah. Aku berjanji tidak akan pernah bandel lagi, akan selalu les piano seperti yang ayah inginkan. Aku akan menuruti semua perintah ayah. Tapi aku mohon, kemarilah a..."

"Hei, berhenti bicara! Ayahmu sedang sibuk. Urus ibumu sendiri. Jangan pernah telepon lagi!"

Tut... Tut... Tut...

Sambungan telepon terputus. Membuat jantung Smith seolah berhenti. Air matanya berjatuhan dengan sendirinya.

Walaupun yang mengangkat telepon darinya bukanlah sang ayah, tidak semestinya Hendry membiarkan ponsel pribadinya dipegang sembarang orang.

Smith menyimpan kembali ponselnya. Ia mencoba melihat sang ibu dengan menempelkan wajahnya ke dinding kaca ruang ICU. Tapi tentu saja tidak ada apa-apa yang bisa ia lihat. Kaca buram itu tidak memberi kesempatan pada orang yang berada di luar ruangan untuk melihat apa yang terjadi di dalam.

***

"Telepon dari siapa?" tanya Hendry yang baru keluar dari kamar mandi.

"Aaah, bukan dari siapa-siapa sayang. Hanya orang sint*ng yang menawarkan investasi bodong. Haaah, sekarang ini semakin banyak orang yang kerjaannya menipu orang lain. Apa mereka pikir bisa membodohi orang seperti kita? Membuang-buang waktu saja," ujar pacar Hendry berbohong.

"Ya, ya, ya. Sudah letakkan ponselnya dan duduklah di sini," kata Hendry sambil menepuk pahanya. Lekas-lekas diikuti senyum genit dari pacarnya yang berjalan mendekat setelah meletakkan ponsel di meja.

"Sayang, katamu Lisa kena stroke. Gimana keadaannya sekarang?" tanya Sinta pura-pura tidak tahu. Padahal ia tahu lebih banyak dari apa yang diketahui Hendry.

"Ya, begitulah. Kau tidak perlu memikirkan Lisa. Sasmitha pasti akan merawatnya dengan baik. Aku yakin itu. Dia anak yang sangat berbakti."

"Aaah, tidak. Aku hanya khawatir jika sewaktu-waktu Lisa meninggal. Bagaimana dengan dirimu sayang?" ujar Sinta sambil merangkulkan kedua tangannya ke leher Hendry.

"Hahaha, tidak ada yang perlu dicemaskan. Kalau dia pergi, itu sudah takdir. Toh sudah ada kau yang lebih pandai dalam melayaniku," balas Hendry memegang dagu Sinta.

"Kau ini. Apa iya aku ini hanya akan jadi pelayanmu saja?" Sinta memasang wajah masam.

Hendry sudah mengerti arah pembicaraan itu. Tentu saja menyoal pernikahan mereka yang terhalang oleh izin dari Lisa.

Meski Hendry bisa saja menikah dengan Sinta kapanpun yang ia mau, kenyataannya lelaki itu memiliki sedikit adab. Ia merasa perlu untuk mendapatkan izin dari istri pertamanya, sebelum menikah lagi. Dan sudah jelas kalau Lisa tidak akan pernah memberi izin padanya. Maka, Hendry hanya berpacaran saja dengan Sinta.

Tapi entah mengapa, memang ada perasaan aneh yang kerap menggelayuti batin Hendry. Ia merasa sangat mencintai Sinta, namun jika untuk menikah, entahlah. Wajah istrinya yang senantiasa tersenyum atas semua usaha yang ia lakukan dalam masa-masa sulitnya dulu, tidak peduli berhasil atau gagal, selalu terlintas dalam pikirannya.

"Apa kau sudah tidak sabar untuk menjadi istriku?" ucap Hendry sembari memainkan rambut pirang pacarnya.

"Ayolah sayang, aku sudah bertahun-tahun menunggu untuk bersanding di pelaminan denganmu. Apa aku perlu mencekik leher Lisa, baru kau akan menikahiku?"

"Tenanglah. Tidak perlu terburu-buru. Sembari menunggu, kau bisa menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk pernikahan kita. Mungkin kau bisa memulainya dengan memikirkan mas kawin apa yang kau inginkan."

"Benarkah?"

"Kau bisa meminta apa saja. Pikirkan baik-baik dan katakan padaku jika sudah menentukannya. Aku pasti akan memberikan semua yang kau mau."

"Aaaa, terima kasih sayang. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," tukas Sinta yang begitu bahagia sebab hal yang sangat ia inginkan selama ini, mungkin akan segera terwujud sebentar lagi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status