Bab 9_ Tetap Ada Sayang

"Non, apa Non sudah tidur?" suara Bibi Ipah yang disertai bunyi ketukan pintu mengagetkan Smith yang tertidur di lantai. Gadis itu menangis sampai ketiduran.

Smith duduk dan mengusap wajahnya. Ia juga merapikan rambutnya.

"Sebentar, Bi."

Smith berdiri dan menarik napas panjang. Lalu berjalan mendekati pintu. Ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan mengembangkan senyum.

"Ada apa Bi Ipah?" tanya Smith setelah membuka pintu.

"Nona belum makan malam. Nanti perut Nona bisa sakit," ujar Bibi Ipah sambil meletakkan makanan di meja.

Smith melihat jam dinding di kamarnya. Jarum yang paling pendek berada di antara angka 10 dan 11.

Smith tersenyum haru. Bibi Ipah tidak pernah berubah, selalu perhatian dan peduli padanya. Smith pun tetap sama, selalu membuat perempuan yang sudah tua itu menjadi sangat berat pekerjaannya karena dirinya.

"Segera makan ya, Non."

Bibi Ipah berjalan keluar kamar dengan menahan segala hal yang telah ia ucapkan dalam batinnya.

Bibi Ipah yang sudah sangat lama bekerja pada keluarga Hendry, sangat mengenal majikan mudanya itu.

Bibi Ipah yang turut merawat Smith sejak kecil, tahu benar kalau gadis itu pasti telah menghabiskan air matanya. Lagi-lagi menangisi nasib buruk yang menimpa almarhum ibunya akibat dari perbuatan ayahnya.

Bibi Ipah selalu menyelipkan nama

Smith dalam doa-doanya. Ia berharap gadis manis itu akan kembali menjadi seperti dulu lagi; ceria, murah senyum, penyayang, dan selalu ramah. Tidak seperti Smith yang sekarang selalu menatap orang lain dengan pandangan penuh kecurigaan.

"Bi Ipah!"

"Ya, Non."

"Terima kasih."

"Sama-sama Non. Bibi harap, Non tidak lupa untuk menjaga kesehatan."

Bibi Ipah menutup pintu kamar Smith. Lalu menengok ke ruang tamu yang ada di lantai dasar.

Majikannya yang lain sedang terbaring di sofa dengan kedua tangan yang menyatu di depan dada dan tubuh yang sedikit meringkuk ke kanan.

Bibi Ipah menggeleng pelan dan menghembuskan napas berat. Rumah megah tempatnya bekerja sejak puluhan tahun lalu itu sungguh menyedihkan.

***

Smith telah menghabiskan makan malamnya. Tidak ada apapun yang tersisa di piring dan gelas.

Smith merasa sangat lapar hingga menyantap hidangan yang dibawakan Bibi Ipah dengan sangat lahap.

Ia kemudian membawa piring dan gelas kotor ke dapur.

Tapi Smith menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Ia ingin tahu apakah ayahnya masih berada di ruang tamu, di kamar, atau telah kembali ke rumah istri keduanya.

Smith berjalan mendekati pembatas lantai dua. Ia memegang pembatas besi yang tingginya sepinggang orang dewasa. Lalu melihat ke arah ruang tamu.

"Untuk apa dia tidur di situ? Merusak suasana saja," gumam Smith dalam batin melihat ayahnya tertidur di sofa.

Meski begitu, sebenarnya Smith menyimpan khawatir. Walau kadarnya tidak lebih besar dari rasa marahnya pada Hendry, Smith sempat berpikir untuk mengambil selimut di kamarnya.

"Cih! Untuk apa aku repot-repot mengambil selimut. Biarkan saja dia kedinginan. Dia saja tidak peduli pada ibu dan aku," tukas Smith lagi, berbicara dengan sangat kesal pada diri sendiri. Entah bagaimana, ia tidak bisa berhenti peduli begitu saja pada sang ayah.

Ia pun bergegas menuju dapur. Sepanjang perjalanannya, Smith teringat pada masa kecilnya. Ketika waktu tidur malam telah tiba, sang ayah akan mengantarnya ke kamar. Lalu membuatnya mengantuk dengan cerita yang tokoh-tokohnya adalah hewan. Dan sebelum pergi meninggalkan kamar, Hendry selalu mengecup keningnya, juga menyelimutinya.

Smith kecil tidak pernah suka memakai selimut saat belum tidur walau udara sangat dingin menusuk tulang. Itu sebabnya Hendry selalu menyelimuti Smith setelah gadis manis itu terlelap.

Maka, pada akhirnya, setelah mencuci tangan, Smith bersicepat menuju kamarnya untuk mengambil sebuah selimut. Ia menjadi cemas pada ayahnya karena teringat kalau Hendry akan mendadak pilek saat udara terasa begitu dingin.

***

Smith memandang wajah ayahnya. Telah muncul keriput di beberapa bagian.

Ayahnya juga tampak sedikit membuka mulutnya untuk bernapas. Smith yakin, hidung ayahnya sudah buntu.

Gadis itu sering berkhayal seandainya sang ayah tidak pernah berubah, mungkin sang ibu masih ada di antara mereka sekarang. Dan mereka akan terus menjadi keluarga bahagia selamanya.

Smith tersenyum getir. Kenyataannya semua hal buruk sudah terjadi. Dan ia sendiri tidak tahu kapan akan bisa memanfaatkan ayahnya.

Smith menyelimuti ayahnya dengan perlahan. Lalu membalikkan badan sambil mengumpat pada dirinya sendiri karena masih saja kesulitan untuk menghilangkan kepeduliannya pada sang ayah.

"Smith," panggil Hendry yang langsung duduk dengan tangan memegang selimut erat-erat.

Smith menghentikan langkahnya. Ia menelan ludah dengan detak jantung yang menjadi lebih cepat.

Namun Smith tidak membalikkan badan atau sekadar menoleh untuk melihat wajah ayahnya. Ia hanya berdiri mematung, juga tanpa mengatakan apa-apa.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status