Bab 11_ Tekad Janu

"Aku? Aku sedang melihatmu menulis. Siapa orang yang kau maksud dalam tulisanmu itu? Apa itu kekasihmu?"

Smith tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menggeleng sambil memasukkan semua barang yang telah ia keluarkan dari dalam tasnya. Lantas berdiri dan berjalan meninggalkan Janu.

"Tunggu, Smith! Tunggu!" ujar Janu sambil berlari mengejar Smith.

Tapi smith tidak peduli. Ia terus berjalan bahkan dengan langkah yang semakin cepat.

Sampai akhirnya Janu berdiri di depan Smith. Ia menghadang gadis itu agar tidak lagi meninggalkannya.

"Minggir!" ujar Smith dengan wajah datar.

"Tidak. Kita perlu bicara. Aku tidak suka kau mengabaikanku begitu saja. Setidaknya, duduklah sebentar dan mari kita berbincang. Besok lusa tugas sudah harus dikumpulkan. Tapi kita bahkan belum pernah berdiskusi sama sekali."

"Tidak perlu. Biar aku mengerjakannya sendiri."

"Mana bisa begitu?"

"Tentu saja bisa. Aku sudah biasa seperti itu. Dan selama ini mereka yang satu kelompok denganku, tidak masalah dengan itu. Malah dengan senang hati mereka menerimanya," kata Smith sambil melangkah ke samping kanan dan kembali berjalan ke depan melewati Janu.

"Tapi aku tidak begitu."

Janu menahan Smith. Ia menggenggam pergelangan tangan gadis itu erat-erat.

"Lepaskan tanganku."

Smith tidak menarik tangannya. Ia juga berbicara lirih saja. Namun, tatapan matanya persis dengan tatapan singa jantan yang mengincar mangsanya. Sangat tajam.

Namun Janu tidak takut. Ia tetap menggenggam tangan Smith tanpa melonggarkannya sedikitpun. Dan tentu saja itu berhasil membuat Smith semakin kesal.

"Lepaskan tanganku sekarang juga," pinta Smith lagi masih dengan suara pelan.

Lagi-lagi Janu tidak menurutinya. Pemuda itu hanya menggeleng dan mengatakan bahwa ia baru akan melepaskan genggamannya hanya jika Smith mau duduk dan berbincang dengannya.

"Dasar gila! Lepaskan tanganku! Apa kau pikir bisa memperlakukanku seperti perempuan-perempuan lainnya? Apa kau kira aku akan diam saja? Sekarang lepaskan tanganku atau aku akan menendangmu!" bentak Smith dengan sangat lantang hingga membuat orang-orang yang berada di sekitar mereka menoleh.

Kali ini Janu menuruti ucapan Smith. Ia tidak ingin orang-orang akan menilai buruk gadis itu. Selama ini Janu yakin penilaian mereka pada Smith telah keliru, dan hal itu akan semakin salah karena Smith memang sama sekali tidak peduli pada tatapan sinis orang-orang.

Saat Janu menjadi cemas mendapati orang-orang memandang Smith sambil berbisik-bisik, gadis singa jantan itu bahkan hanya fokus menatap matanya.

"Smith, kita harus diskusi. Aku akan datang ke rumahmu nanti malam," ucap Janu pada Smith yang telah berjalan menuruni tangga.

"Dasar pria sinting!" gerutu Smith sambil menyisirkan jari-jari tangan kanannya ke rambutnya yang tergerai.

***

Jika Smith merasa kesal, tidak demikian dengan Janu. Lelaki itu semakin bersemangat untuk mendekati Smith.

Janu sangat yakin jika seseorang yang memiliki jiwa sosial tinggi seperti Smith, tidak mungkin mempunyai hati yang keras seperti batu. Jadi, cepat atau lambat pastilah mereka akan bersahabat juga. Begitulah pikir Janu.

"Pak Hadi."

"Ya. Ada apa, Mas?"

"Apa Bapak sedang repot?"

"Hehehe, ya seperti ini Mas. Mengawasi orang yang masuk dan keluar. Juga mengawasi tempat parkir. Memangnya kenapa, Mas? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Hadi yang kemudian keluar dari dalam posnya. Semula ia berbincang dengan Janu hanya melalui lubang posnya yang seperti jendela kecil.

"Pak Hadi kenal mahasiswa Sastra yang namanya Smith?" tanya Janu langsung tanpa basa-basi setelah Pak Hadi duduk di sampingnya di atas kursi panjang sederhana dekat pintu pos satpam.

"Hehe, Mas ini siapa? Maafkan saya Mas, di sini ada banyak mahasiswa. Saya ingat wajah Mas yang biasanya parkir motor di sini. Tapi saya tidak ingat nama Mas."

Seperti biasa Pak Hadi yang bersahaja selalu tersenyum dan setengah membungkuk saat berbicara. Ia merasa tidak enak hati karena benar-benar tidak tahu siapa nama pemuda yang duduk di sebelahnya itu.

"Hehe, saya Janu. Teman satu kelasnya Smith. Di jurusan Sastra."

"Ooo, teman Nona Smith," kata Pak Hadi manggut-manggut.

"Jadi..., apa Pak Hadi mengenal Smith?" ujar Janu mengulangi pertanyaannya.

"Ya, ya. Saya kenal Nona Smith. Tapi kenapa Mas Janu menanyakan Nona Smith pada saya?"

"Begini Pak Hadi, sebenarnya kami menjadi teman satu kelompok untuk tugas mata kuliah tertentu. Tapi, kami belum pernah berdiskusi. Saya mengalami sedikit kesulitan untuk bisa berbicara baik-baik dengannya. Saya pikir, jika saya mengetahui informasi tentang Smith, akan membantu saya untuk lebih dekat dengannya, sehingga tugas kami bisa lekas selesai."

"Begitu ya...."

"Benar. Sore itu tanpa sengaja saya melihat Smith berbincang dengan Bapak. Dia terlihat sangat berbeda dari biasanya. Bapak dan Smith tampak akrab. Dia belum pernah kelihatan begitu bahagia saat berada di kelas. Bahkan dia kadang tampak menakutkan katena hanya diam saja, tidak berbicara sama sekali."

"Hehehe, apa iya Nona Smith begitu? Dia selalu baik pada saya."

"Begitulah pak. Saya yakin Smith orang baik. Karena itu, saya ingin berteman dengannya. Tapi sepertinya itu akan cukup sulit. Dia tidak pernah merasa nyaman ketika ada di dekat saya."

Janu berkata jujur. Ia cukup kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat Smith nyaman. Janu sangat sadar jika Smith selalu kesal ketika berbicara dengannya.

"Saya sendiri tidak mengetahui banyak hal tentang Nona Smith. Tapi yang jelas, dia gadis yang sangat baik. Awalnya Nona Smith melihat saya yang berpegangan di tembok pos sambil memegang perut. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja Nona Smith sudah ada di belakang saya. Dia menanyakan keadaan saya yang katanya sangat pucat dan mengeluarkan banyak keringat. Nona Smith melihat tangan saya bergetar, dan menduga dengan benar kalau saya belum makan. Saat itu hari sudah sangat siang.

Nona Smith meminta saya untuk duduk saja. Lalu dia pergi entah kemana. Beberapa saat kemudian, saya melihat dia berlari membawa sekantong kresek. Ternyata Nona Smith membelikan saya makanan dan minuman.

Dia melarang saya untuk bicara dan meminta saya untuk cepat-cepat menyantap makanan yang dia belikan. Lalu Nona Smith berlari lagi, dia bilang ada kelas saat itu.

Dia sempat mengancam saya untuk menghabiskan makanan itu, sebab dia akan kembali ke pos satpam saat perkuliahan telah selesai untuk memastikannya.

Sejak saat itu kami menjadi akrab. Nona Smith sering membelikan saya makanan. Beberapa kali dia juga datang ke rumah kontrakan saya dengan membawa segala macam."

Pak Hadi sudah mengakhiri ceritanya. Namun Janu masih tertegun. Dalam pikirannya ada banyak hal yang ingin ditanyakan. Misalnya soal keluarga Smith, latar belakangnya, juga hal-hal tertentu yang mungkin tidak diketahui orang lain.

"Mas Janu."

Pada akhirnya lamunan Janu buyar oleh suara Pak Hadi yang memanggilnya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status