Bab 13_ Kunjungan Saudara Sambung

Smith berjalan menuju pintu dengan wajah malas. Wajah itu tidak berubah sedikit pun ketika ia membuka pintunya. Bahkan menjadi semakin malas ketika melihat siapa orang di balik pintu rumahnya.

"Untuk apa kau ke rumahku malam-malam begini? Apa tidak bisa bertamu besok saja? Pulanglah! Aku sedang malas untuk menerima tamu," ujar Smith sambil menoleh ke belakang sesaat. Melihat seorang tamu lainnya yang tengah duduk di lantai, yang membuatnya sudah ingin tidur saja.

"Aku hanya datang membawa makan malam untuk ayah. Mama membuatkan makanan ini secara khusus. Ini menu kesukaan ayah, nasi goreng spesial pakai udang," kata gadis tinggi semampai yang rambut panjangnya diikat rapi itu.

"Apa kau pikir aku peduli? Lagipula ayahmu tidak ada di sini. Jadi pulanglah! Aku sangat lelah."

Smith memegang kepalanya dengan tangan kiri. Entah bagaimana rasa pening langsung ada di sana. Sementara tangan kanannya di gerak-gerakkan sebagai pertanda bahwa Smith berharap agar gadis itu lekas angkat kaki dari rumahnya.

"Tapi mama sangat khawatir pada ayah. Ayah belum pulang, juga tidak bisa dihubungi. Terakhir dari sini, ayah masuk angin dan sakit maghnya juga kambuh. Aku tidak..."

"Sudah aku katakan padamu, ayahmu TIDAK ADA DI SINI!" tukas Smith dengan suara sangat lantang. Hingga membuat Janu menghentikan jari-jarinya yang bergerak lincah di atas laptop. 

Janu menoleh ke arah Smith. Ia sungguh ingin tahu, dengan siapa Smith berbicara hingga terdengar begitu marah. Tapi Janu menahan rasa ingin tahunya. Ia tidak mau ikut campur dalam urusan pribadi Smith.

"Dengar, aku sungguh malas berbicara padamu, tapi berhentilah menanyakan ayahmu. Dia sudah besar, sudah bisa menjaga diri. Biarkan saja dia pergi. Tidak ada gunanya menunggu orang seperti itu. Akan lebih baik jika dia tidak kembali lagi."

Smith sudah sangat berusaha untuk menyabarkan diri. Tapi semua memang terasa sulit. Ia tidak pernah suka dengan situasi seperti itu. Smith masih belum bisa menjernihkan pikirannya dari masa lalu.

"Smith, aku tahu kau sangat marah pada ayah. Dan tidak suka padanya, tapi tidak seharusnya kau..."

"Tsuut! Mengapa kau sangat menyebalkan?"

kata Smith memotong ucapan tamunya. Ia sungguh kesal pada gadis yang seumuran dengannya itu. 

Smith pun berlalu meninggalkan gadis yang berdiri di depan pintunya, tanpa mempersilakan masuk, juga tanpa menutup pintu. Seolah membiarkan tamunya untuk memilih sendiri akan masuk atau pulang.

Smith yang kesal berjalan menuju ruang tamu masih dengan menggerutu. Janu pun terkejut saat Smith membanting tubuhnya ke atas sofa. Kepala singa jantan itu benar-benar terasa nyut-nyut karena gadis yang masih berdiri di ambang pintu rumahnya.

Perempuan yang bertamu malam-malam itu bernama Sisilia Pradita. Putri dari istri kedua Hendry Sasongko, ayah Smith. Tapi ia bukan anak kandung Hendry. Sisil merupakan buah cinta dari Sinta dengan suami pertamanya yang sudah meninggal.  

Gadis itu adalah anak perempuan yang dulu dilihat Smith kecil di taman kota saat mengantar almarhum ibunya periksa ke dokter. Gadis kecil yang tampak sangat bahagia menerima kado dari Hendry.

Sisil sangat berbeda dengan Smith. Baik dari tampilan ataupun perangainya. 

Gadis itu selalu tampak anggun dengan rok atau dress. Ia juga kerap mengenakan baju dengan ornamen bunga, juga renda yang membuatnya terlihat semakin feminim.

Selain itu, Sisil juga berbicara dengan santun dan lembut. Tidak suka berteriak, apalagi membentak. Sungguh bertolak belakang dengan Smith yang setiap hari selalu berkata kasar. Entah pada diri sendiri atau orang lain.

"Apa semua baik-baik saja? Siapa yang datang? Kau terdengar sangat marah."

"Bukan urusanmu. Diam dan selesaikan saja urusanmu. Tidak usah sok peduli padaku," jawab Smith tanpa membuka matanya.

Janu menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir mengapa Smith bisa begitu kesal untuk hal-hal sepele yang sebenarnya bukan suatu masalah. 

Tapi raut wajah Janu kemudian berubah, ketika seorang gadis memasuki rumah Smith setelah beberapa saat sebelumnya hanya berdiri di ambang pintu membawa sebuah rantang antik bercorak bunga lili.

"Sisil?"

"Janu?"

Dan orang yang paling kaget di antara mereka tentu saja, Smith. Gadis yang semula merebahkan badannya di atas sofa itu, kini langsung duduk dan memandang saudara serta teman satu kelasnya dengan tatapan heran.

"Kalian saling kenal?" 

"Ya, kami teman satu kelas saat SMA dulu," jawab Janu yang diikuti senyum manis Sisil.

"Hebat. Ini benar-benar luar biasa. Ada dua orang sinting yang reunian di rumahku. Haah, aku bisa gila. Aku benar-benar akan gila," gerutu Smith yang berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di dahi.

"Smith, kau mau kemana?" tanya Janu yang mulai curiga Smith akan meninggalkannya.

"Ini rumahku, terserah aku mau kemana saja," sahut Smith tanpa menoleh.

"Tapi tugas kita be..."

"Selesaikan saja sendiri. Atau tinggalkan saja biar aku kerjakan nanti. Sekarang kepalaku rasanya mau pecah."

Smith tetap melanjutkan langkahnya. Ia bahkan sudah menaiki tangga dan tidak menghiraukan Janu sama sekali.

"Dan kau, anggap saja ini seperti rumahmu sendiri. Tapi aku sarankan agar kau cepat pulang. Aku sudah pengalaman menunggu lelaki itu. Dia hanya akan membuatmu kecewa. Mungkin saja sekarang dia sedang berkunjung ke rumah simpanannya."

Janu bisa melihat kemarahan di wajah Smith saat berbicara pada Sisil dari lantai dua. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi antara teman lama dan teman satu kelasnya itu. 

"Sisil..." kata Janu lirih melihat Sisil yang berkaca-kaca matanya.

"Tidak apa, Janu. Tolong maafkan Smith. Dia selalu berbicara kasar pada siapapun. Tapi sebenarnya dia gadis yang baik."

Sisil berusaha untuk tetap tersenyum. Membuat Janu juga menggulirkan senyum di wajahnya. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati karena harus menyaksikan peristiwa seperti itu.

Biasanya Sisil selalu diperlakukan dengan sangat baik oleh siapapun. Janu belum pernah melihat seorang pun memarahi Sisil sejak sekolah dulu.

Sisil yang santun dan cemerlang, juga sangat cantik, selalu menerima pujian dari semua orang. Baik dari sesama siswa, ataupun dari guru-guru.

"Tapi, apa hubungan Sisil dengan Smith? Mengapa Sisil menunggu ayahnya di rumah Smith?" kata Janu dalam hati yang sempat samar-samar mendengar percakapan antara dua gadis jelita di pintu rumah mewah itu.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
SaRie HaRyanto
bagus crta nya
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status