Wanita Simpanan 2 CEO
Wanita Simpanan 2 CEO
Author: Marrygoldie
1.Flora Comino

Ujian hidup yang kita terima tidak pasti kapan datang.

Bisa satu tahun sekali atau bahkan Tuhan menyatukannya dalam satu hari.

Tapi yang pasti tangan Tuhan selalu terulur pada kita yang meminta pertolongan pada-Nya

* * * * *

Flora Camino dengan rambut coklat yang digelung di belakang kepalanya berdiri di tengah ruangan. Wajah cantik yang dihiasi make up lembut tampak menampilkan ekspresi kesal. Pasalnya wanita yang mengenakan blouse cream dan celana panjang hitam itu dituduh menghilangkan desain ruang kerja sebuah perusahaan yang bekerjasama dengan Midas Interior, sebuah perusahaan desain interior besar di Athena, Yunani.

Ruangan yang tampak kacau dengan berbagai gulungan kertas desain berserakan itu tampak tegang. Pasalnya Flora melayngkan protesnya karena tidak terima atas tuduhan yang dilayangkan bosnya. Flora merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan Abercio Gerome. Pria berusia nyaris lima puluh dengan tubuh sedikit gemuk serta tatapan mengerikan yang tidak lepas dari Flora.

Abercio memandang tajam wanita itu. “Kau mengatakan jika kau sudah menyerahkan desain itu pada Bernice. Tapi Bernice menjelaskan jika dia sama sekali belum mendapatkan desain itu darimu, Flora. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri.”

Wanita dengan mata hijau lembut itu mendengus tidak percaya. “Aku tidak menyalahkan orang lain. Aku mengatakan yang sebenarnya, Abercio.”

“Apa kau memiliki buktinya? Apa kau memiliki bukti jika kau sudah menyerahkan desain itu kepada Bernice?”

Tubuh Flora membeku mendengar pertanyaan Abercio. Dia merutuki dirinya sendiri karena dia tidak memiliki buktinya. Wanita itu menyerahkan desain itu kepada Bernice tepat sebelum dia pulang. Dan semua karyawan Midas Tech sudah pulang. Sehingga tidak ada seorangpun yang melihat dia menyerahkan desain itu kepada Bernice.

“Kau tidak memiliki buktinya bukan, Flora? Kau sudah membuang waktuku. Sebaiknya kau membereskan barangmu dan pergi dari sini.”

Flora benar-benar dipecat sekarang. Dia sama sekali tidak bisa membela dirinya sendiri. Akhirnya dengan bahu terkulai lemas, Flora berjalan keluar. Dia memejamkan matanya berusaha menahan diri untuk berteriak. Akhirnya setelah berusaha menenangkan dirinya, Flora kembali berjalan menuju mejanya. Seorang wanita dengan rambut coklat panjang berjalan menghampiri Flora. Wanita itu adalah Mareva Gennimata, sahabat Flora.

“Bagaimana, Flo?” cemas Mareva setelah mendengar masalah yang menimpa sahabatnya.

Flora menghela nafas berat. “Aku dipecat.”

“APA! Dipecat?” kaget Mareva.

“Benar. Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa membuktikannya. Lagipula aku tidak akan bisa mengalahkan Bernice yang sudah meniduri Abercio agar bisa mendapatkan posisi tinggi.”

Mareva mendesis kesal. “Dasar wanita licik itu! Dia pasti sangat iri padamu, Flo.”

“Sepertinya begitu. Aku harus membereskan barangku, Mareva.” Ucap Flora dengan desahan yang berat. Dia malas harus mengomeli Bernice. Karena Flora yakin Bernice akan berpura-pura tidak bersalah. Hal itu hanya akan membuang energinya saja.

“Aku akan membantumu.” Mareva mengamit lengan Flora dan berjalan menuju meja wanita itu untuk membereskan barang-barangnya.

Padahal bagi Flora bekerja sebagai desainer interior di Midas adalah impian terbesarnya. Sayangnya sekarang impiannya harus dihancurkan oleh orang yang iri padanya. Dia berharap kehidupannya akan menjadi lebih baik lagi.

* * * * *

Sayangnya harapan Flora harus pupus tatkala wanita itu pulang ke rumah. Dia menemukan barang-barangnya dikeluarkan oleh pemilik apartemen yang disewa oleh Flora. Wanita membuka mulutnya dan menatap barang-barangnya tak percaya. Lalu dia menatap seorang wanita paruh baya yang menampilkan wajah galaknya.

“Mengapa semua barang-barangku dikeluarkan?” tanya Flora bingung.

“Karena kau terlambat membayar uang sewa.” Ucap wanita itu ketus.

“Terlambat membayar uang sewa? Terkejut Flora. “Tapi aku sudah menitipkannya pada Karolos agar diberikan padamu.”

Wanita pemilik apartemen itu mendengus sinis. “Karolos? Aku bahkan sudah menagih padanya tapi dia mengatakan kau belum bisa membayar.”

“APA!” Flora terkejut. Dia tidak mengerti mengapa Karolos mengatakan hal itu. Padahal setiap bulannya Flora akan memberikan uang sewa pada sang kekasih.

“Aku tidak mau menampungmu lagi. Jadi lebih baik kau pergi dari sini.” Wanita itu berbalik meninggalkan Flora dalam kebingungan.

Wanita itu meletakkan kardus yang berisi peralatan kantornya. Kemudian dia mengambil ponselnya hendak menghubungi Karolos. Namun saat mencari nomor ptia itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Wanita itu mendongak dan melihat tiga pria bertubuh besar menghampirinya. Seketika Flora bersikap waspada. Dia berusaha mengingat bela diri yang diajarkan ayahnya.

Langkah pria-pria itu berhenti di dekat Flora. Seorang pria yang berdiri di tengah mengamati Flora dari bawah sampai atas. Menilai penampilan Flora atau lebih tepatnya tubuh wanita itu. Seketika Flora memeluk tas dan menutupi tubuh bagian depannya.

“Apakah kau yang bernama Flora Camino?” tanya pria dengan kepala botak.

Flora menganggukkan kepalanya dan merasa bingung bagaimana bisa pria itu mengetahui namanya.

“Benar. Siapa kalian?” Flora memicingkan mata menatap ketiga pria itu.

“Kami adalah penagih hutang. Karolos Dendias sudah menandatangani perjanjian mengatasnamakan dirimu. Jadi kau harus membayarnya.”

“APA!” Seru Flora terkejut. “Tapi bagaimana aku membayarnya? Aku bahkan tidak menerima uang yang dipinjam Karolos. Dan aku juga tidak menandatangani surat perjanjian apapun.”

Pria itu merogoh saku jaketnya. Kemudian mengeluarkan selembar kertas dan membentangkannya. Dia memperlihatkan kertas yang berisi surat perjanjian hutang sebesar Sepuluh ribu Euro. Tapi yang membuat Flora ternganga adalah adanya tanda tangannya di surat itu. Flora tidak tahu bagaimana Karolos bisa mendapatkan tanda tangannya.

“Nama dan tanda tanganmu jelas tertera di sini. Kau harus membayarnya pada kami.” Ucap pria itu.

“Tapi aku sama sekali tidak memiliki uang. Aku bahkan baru saja dipecat dari pekerjaanku. Dan sekarang aku juga diusir dari apartemenku.” Jelas Flora.

“Kalau begitu barang-barangmu akan kami sita sampai kau bisa membayarnya. Datanglah kemari jika kau sudah memiliki uangnya. Dalam satu bulan jika kau tidak membayar, maka barang-barangmu akan kamu jual dan kami akan menjual dirimu sebagai gantinya.” Pria itu mengulurkan kartu nama.

Flora bergidik ngeri mendengar ancaman terakhir pria itu. Dengan gemetar dia mengambil kartu nama itu. Dia hanya bisa pasrah melihat orang-orang itu mengambil barang-barangnya. Hanya menyisakan satu koper pakaian untuk Flora. 

Setelah pria itu pergi, Flora berjalan pergi sembari menarik satu kopernya. Dia ingin sekali menangis karena takdir begitu jahat mempermainkannya. Tapi dia mengingat ucapan ayahnya. Dia harus menjadi wanita kuat agar bisa menjalani hidup yang keras. Lalu terdengar suara perut Flora bergemuruh. Dia lapar tapi uang dalam dompet tinggal sedikit. Jika dia pakai uang itu untuk makan maka di mana dia tinggal. Begitu juga sebaliknya. Lalu ponsel Flora mendentingkan notifikasi. Dia melihat notifikasi itu. Seketika bibirnya menyunggingkan senyuman. Setidaknya dia memiliki pertolongan malam ini. Flora akan memanfaatkan kesempatan malam itu sebaik-baiknya.

* * * * *

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status