Falling in Love with Old Man
Falling in Love with Old Man
Author: Fitri Laxmita
Kesepian

 "Lidya!" pekik Maya seraya mengetuk pintu kamar putrinya.

  "Ya Mi, tunggu sebentar!" pekik Lidya. Ia masih mematut dirinya di depan cermin.

"Cepatlah, Mami tidak punya banyak waktu, Mami harus segera pergi," ucap Maya.

  "Ck ... selalu aja kayak begitu, lebih mementingkan pekerjaan dari pada anak sendiri," ucap Lidya menggerutu.

  "Kenapa, Mi?" tanya Lidya seraya membuka pintu.

  "Mami cuma mau kasih ini," ucap Maya seraya memberikan kartu ATM kepada Lidya.

"Ini untuk apa, Mi?" tanya Lidya.

 "Uang bulanan kamu sudah Mami transfer ke sini, kalau ada biaya yang lain lagi, kamu tinggal bilang sama Mami atau papi," jawab Maya.

  "Uang yang kemarin papi kasih masih ada lagian aku gak butuh tambahan uang, yang aku butuhkan cuma Mami sama papi," ucap Lidya.

  "Sudahlah, tidak ada waktu untuk membahas itu sekarang Mami harus segera pergi, oh ya beberapa hari ini Mami pergi ke luar negeri, papi juga tugas di luar kota, kamu hati-hati di rumah," ucap Maya lalu mengecup kedua pipi Lidya.

  "Tapi, Mi ...."

   "Bye Sayang, Mami pergi dulu love you." ucap Maya lalu pergi.

  Lidya menghela nafasnya panjang selalu seperti ini. Lidya terdiam memikirkan makna 'I Love You' yang diucapkan oleh Maya, kedua orang tuanya lebih mementingkan pekerjaan dari pada dirinya, Lidya selalu ditinggal sendirian di rumah megahnya. Lidya tau bagaimana kisah kedua orang tuanya yang harus menikah saat mereka masih sekolah karena accident dan membuatnya hadir di dunia ini.

  Dengan langkah gontai Lidya masuk ke kamarnya lagi untuk mengambil tas, setelah itu ia menuju ke ruang makan.

  "Eh ... Non cantik sudah siap," sapa Bi Yum. Dia asisten rumah tangga sekaligus orang yang mengurus Lidya sejak ia masih bayi. Jadi, tak heran jika Lidya lebih dekat dengan bi Yum dari pada dengan kedua orang tuanya.

  "Bibi masak apa?" tanya Lidya dengan senyuman untuk menutupi apa yang ia rasakan.

  "Bibi masak omelet keju kesukaan, Non Lidya," jawab bi Yum.

 "Bi, jangan panggil aku kayak begitu buat aku bibi itu sama seperti mami, jadi panggil Lidya aja," ucap Lidya.

  "Mana bisa Bibi disamakan dengan nyonya Maya, bedanya jauh banget, kayak dasar bumi sama langit," ucap Bi Yum.

  "Tapi, cuma Bibi di sini yang peduli sama aku, mami sama papi terlalu sibuk dengan bisnis mereka sebenarnya mami sama papi sayang gak sih sama aku, Bi?" tanya Lidya.

  "Jangan bilang begitu, mami sama papi pasti sayang sama Lidya kalau mereka gak sayang, gak mungkin mereka memenuhi semua yang Lidya mau," jawab Bi Yum.

  "Tapi aku cuma mau sama mereka Bi, aku suka iri sama teman-teman, mereka diantar jemput sama papanya waktu pengambilan raport orang tua mereka selalu hadir, sedangkan aku berangkat sekolah selalu diantar pak Arif, mami sama papi gak pernah mau hadir saat pengambilan raport, apa itu yang dibilang sayang?" pertanyaan Lidya membuat bi Yum terdiam.

 Bi Yum sangat tau apa yang dirasakan oleh Lidya, kedua orang tua Lidya memang terlalu sibuk, bahkan terkadang mereka mengacuhkan Lidya.

  "Sekarang Lidya sarapan ya, nanti telat ke sekolah Bibi mau ke dapur dulu," ucap bi Yum.

  "Bibi temenin aku makan, ya!" pinta Lidya.

   "Iya, Bibi temenin," ucap bi Yum seraya tersenyum, lalu menyiapakan makanan untuk Lidya.

  "Bi, nanti aku pulang terlambat, soalnya mau belajar kelompok dulu sama Dhea," ucap Lidya.

  "Tapi jangan pulang terlalu sore, nanti mami sama papi marah," ucap bi Yum.

"Bibi suka lucu deh, mami sama papi gak akan peduli sekalipun aku gak pulang, waktu itu aja mami sama papi gak nyariin aku waktu aku nginep di rumah Dhea," ucap Lidya lalu tersenyum tipis.

 "Ya pokoknya jangan pulang terlalu malam, gak baik anak gadis malam-malam masih keluyuran, bahaya," ucap bi Yum.

 "Iya Bibi, aku pergi dulu bye," ucap Lidya lalu meraih punggung tangan bi Yum untuk dikecup.

"Hati-hati," ucap bi Yum, lalu mengantar Lidya sampai ke depan pintu.

  "Pak Arif, hati-hati bawa mobilnya," ucap bi Yum.

  "Beres, aku antar tuan putri kita sampai sekolah dengan selamat," ucap pak Arif.

  "Pak Arif, apaan sih lebay banget," ucap Lidya setelah ia masuk ke mobil. Lalu pak Arif mulai memacu mobilnya menuju sekolah Lidya.

  "Kasihan sekali kamu Nak, orang tua kamu memang memberikan materi yang sangat berlimpah sama kamu, tapi mereka kurang memberikan kasih sayang sama kamu." ucap bi Yum.

  Bi Yum masih mengingat, saat Ia diminta untuk mengurus Lidya oleh kedua orang tua Maya, Maya hamil saat ia duduk di kelas dua SMA. Karena hal itu, mau tidak mau Maya dan Pras papi Lidya harus menikah secara diam-diam setelah mereka menikah, orang tua Maya membawa Maya ke luar kota untuk menutupi aibnya dan Maya berhenti sekolah, sedangkan Prass masih tetap melanjutkan sekolah di Jakarta. Setelah Lidya lahir, Maya kembali melanjutkan sekolahnya, sampai lulus kuliah Maya dan Prass memutuskan untuk tinggal bersama.

  Keduanya sama-sama terobsesi mengejar karir, hingga melupakan jika Lidya membutuhkan kasih sayang dari mereka, yang mereka tau hanyalah memberi Lidya materi dan fasilitas yang mewah, menurut mereka itu sudah cukup.

***

  "Pak Arif, nanti jangan jemput aku ya," ucap Lidya.

  "Memangnya kenapa, Non?" tanya pak Arif.

  "Soalnya, aku mau pergi sama Dhea," jawab Lidya.

  "Oke, Non." ucap pak Arif, lalu Lidya turun dari mobil, bersamaan dengan mobil sport mewah yang berhenti tak jauh darinya. Mata Lidya memicing saat melihat Dhea yang turun dari mobil itu.

  "Dhea?" tanya Lidya.

  "Hai Beib!" jawab Dhea dengan heboh, lalu memeluk sahabatnya.

   "Lo dianter siapa?" tanya Lidya, bukan bermaksud merendahkan, Lidya sangat tau bagaimana kehidupan orang tua Dhea di kampung halamannya, Dhea bisa melanjutkan sekolah di Jakarta karena bantuan pamannya, tapi semenjak usaha pamannya bangkrut Dhea mencari uang sendiri untuk membiayai semua keperluan sekolahnya, tak jarang juga Lidya yang membantu keuangan Dhea.

"Dia, om gue," jawab Dhea dengan santai.

"Om yang mana? Perasaan om lo cuma satu," ucap Lidya mereka berjalan beriringan menuju kelas.

 "Sstt ... om plus plus!" bisik Dhea.

 "Hah? Om plus plus maksudnya apa?" tanya Lidya tak mengerti.

  "Nanti gue jelasin, sekarang gue mau bayar hutang dulu sama lo," jawab Dhea.

  "Hutang apa?" tanya Lidya setelah mereka duduk dengan nyaman di dalam kelas.

  "Ya hutang gue, masa lo lupa hutang gue kan banyak sama lo," jawab Dhea.

  "Gue gak inget, lagian gua gak pernah ngerasa kasih pinjem uang sama lo," ucap Lidya.

  "Nih, ambil aja," ucap Dhea seraya memberikan segepok uang kepada Lidya.

  "Ya ampun ini uang semua?" tanya Lidya dengan mata yang terbelalak.

  "Iyalah, lo kira daun," jawab Dhea.

 "Tunggu, lo dapat uang sebanyak ini dari mana?" tanya Lidya dengan mata yang memicing.

  "Gue ...."

  "Selamat pagi anak-anak!" ucapan Dhea terhenti karena guru sudah memasuki kelas.

  "Lo berhutang penjelasan sama gue!"

  

~ to be continue ~

  

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status