When moon meet the sun

Belaya Bashnya, Moskwa 

Pancaran bulan malam ini sangat terang, menampilkan bentuknya yang tenang dengan bintang disekelilingnya, meski Brat Alan tertidur di kursi kayu, Adera masih terjaga dengan kain tebal menutupi wajahnya, biasa tak menutup tirai dikala tidur membuatnya menyamankan keadaan langit indah yang sangat sayang jika dilewatkan. Beranjak dari ranjang putih, kini Adera menyisir rambut coklat panjangnya dan memainkan rambutnya, seraya sepasang mata berbinar menatap bulan yang dikira merindukan matahari, kenapa bulan dan matahari tidak bisa Bersama, dan selalu saja bulan datang saat matahari tenggelam, karena kepercayaan kami warga Moskwa bahwa kebersamaan bulan dan matahari adalah bencana zatmeniye.

Sepanjang malam yang Panjang Devushka V Kletke itu menatap keluar jendela, berharap ada seseorang membawanya keluar dari Menara dan mengajaknya keliling dunia tanpa larangan Koroleva yang terus menahan keberadaanya. Ia kini mulai murung dan menitihkan air mata, ingin rasanya menangis di depan Ser Punn dan menyatakan kekesalannya, namun ia tahu jika Ser adalah seorang pelayan Koroleva dimana setiap ucapan Koroleva adalah sebuah kewajiban sakral.

Setiap tengah bulan biasanya Koroleva dan Prints Dominic akan mengunjungi Adera dan memberikan banyak hadiah, terkadang Koroleva memeluk sayang, ia selalu berkata bahwa Adera adalah dewi langit yang sangat ia jaga, maka dari itu ia menyembunyikan Adera disana, namun di pertemuan mereka Alan selalu saja menghindari Koroleva dan menatap tak suka, meski begitu ia menurut menjaga Adera bukan hanya karena keinginan Koroleva namun ia memang menyayangi gadis yang dijuluki Devushka V Kletke, si gadis terkurung.

Prints Dominic adalah yang terangkuh diantara prints Dvorets imperor, ia sangat menyebalkan bagi siapapun bahkan selalu saja menghina keluarga Ser Punn dengan sebutan budak pembangkang, ya keluarga ini mendapat kebebasan dimasa lalu karena kebaikan ayah Koroleva Alica, yaitu Ser Petra, yang merupakan sahabat Ser Pun, itulah mengapa mereka sangat menghormati Koroleva meski kini banyak rakyat yang menganggap Koroleva sebagai selir jahat yang menyakiti Koroleva dimasa lalu, dan sangat tak menginginkan jabatan Koroleva yang diberikan Koroleva mat’ kepadanya.

“Masih jadi penjaga si Adera hah?” Dominic menghentikan langkah alan yang kini membawa nampan ke atas Menara

Tak menjawab, Alan hanya menatap tajam dan mengacuhkannya, tak menerima perlakuannya Pritns Dom menghempaskan nampan ditangan Ser Alan dan membuatnya marah, mereka hampir berkelahi jika tidak ada Carlos disana.

“Hei hei ada apa ini?’

“Beritahu sepupu gila mu ini, sudah sangat tidak sopan dengan ku”

“Maaf Prints aku akan memberitahunya, ayo ikut aku Alan” Alan hanya diam dan menurut sementara mata merahnya masih menatap kesal si brengsek Dominic katanya dalam hati.

Ruangan bawah tanah, Belaya Bashnya

“Sejak kapan kau tak mampu mengendalikan emosimu hah?”

Alan tak mengubris dan melepas cengkraman Carlos darinya

“Alan dengarkan aku, kini Dominic bukanlah seorang anak brengsek yang selalu menjahilimu lagi, dia adalah Prins keturunan Tsar Kiev, berhentilan membawa keluarga kita dalam masalah”

“Aku tidak suka keangkuhannya, bahkan mengalahkan Tsar Louis yang sangat ramah"

“Tsar Louis ramah katamu?, kau tidak tahu sifat aslinya, dia sangat arrogan, sangat egois dan semua yang ia mau harus dituruti”

“Dari mana kau tahu?"

“Kami satu akademi panahan di Peterburg dan mengambil kelas melukis Bersama, kami tidak dekat namun sering kali mata kami bertemu”

“Pantas saja dia seperti mengenalimu”

“Hmm mungkin, karena aku terkenal di akademi dengan ketampananku” sombong Carlos dan menyisir rambut depan dengan tangannya

“Besar kepala” Alan meninggalkan carlos dan pergi ke tempat tujuannya untuk menepati janjinya sejak kemarin bahwa ia akan membawa Adera ke Danau Ladoga yang sangat popular dikalangan rakyat Moskwa.

Dengan cantiknya Adera menemui Alan di halaman belakang mansion, benar benar cantik fikir alan. Alan pun tak kalah menawan, dengan bibir merah dan tebalnya serta pakaian Ser yang sangat rapi ditambah rambut hitam pekat membuat siapa saja jatuh hati pada Ser Alan kami.

Mengendarai kuda dengan ditemani carlos mereka memasuki Kawasan kota Peterburg yang sangat ramai dan membuat Adera histeris kesenangan, ia melihat berbagai makanan pasar dengan aneka warna membuatnya ingin turun untuk menyicipinya, namun Ser Alan menghentikannya karena ia takut kembali ditegur Koroleva jika mengetahui keberadaan Adera di Peterburg, tapi ya Namanya Adera, remaja 16 tahun dengan sifat penasarannya ia hilang dari jagaan Carlos dan Alan membuat keduanya panik dan mencari kemana mana.

Mansion Tentara Perang, Peterburg

Kini Adera dengan gaun coklatnya menghampiri sebuah mansion biru yang sangat menawan dengan tanaman bunga matahari merah muda yang sangat cantik memanggil Adera, ia memetik dan menciuminya senang, bahkan tingkah polosnya membawa akar bunga ini ke dalam kantung bajunya membuat seseorang tertawa di seberang sana.

Pria putih dengan wajah imut dan tubuh kecil ini menggigit apel dan memperhatikan tamu tak diundang di halaman depan mansion, ia menghampiri gadis itu yang kini sibuk mencabut akar bunga.

“Mau kau apakan akar itu ?"

"Mau ku tanam di dalam menaraku" sadar bahwa ada seseorang dibelakangnya, Adera berniat kabur namun tangannya ditarik dan kini ia ada dalam dekapan pria itu.

“Jangan pergi kau harus ikut menghadap yang mulia Prints karena sudah merusak bunganya”

Ricky menarik tangan Adera dan Adera hanya mengikutinya karena takut dipenjara, kata Brat Alan seorang pencuri akan dipenjara.

Dengan lucunya kini Adera menangis dan berjongkok dihadapan Prints berlesung pipi itu, ia beberapa kali memohon maaf.

“Maafkan aku, aku telah merusak bungamu, aku akan menggantinya jika Brat Alan menemukanku hiks”

“Mana Brat mu hmm, kau kabur ya nakal sekali” ujar seseorang yang diyakini lelaki berkaki Panjang yang kini mengelus rambut Adera gemas.

“Iya aku pergi sebentar, lalu aku lupa jalan ke kereta Brat Alan”

“Kau harus disini sampai mereka menemukanmu untuk menebus dosamu” Adera mengangguk lucu.

Gadis ini datang sendiri kesini, setelah hampir 2 minggu aku menunggu setiap sore di tebing perbatasan Peterburg-Moskwa, benar kata Brat Louis, bahwa takdir tidak bisa kita atur karena sudah tertulis sendiri disana.

Mengajak Adera mengelilingi mansionnya, Liam begitu senang ketika mengetahui Namanya , dia benar benar polos dan hanya tahu main saja, bahkan berkali kali bertanya tentang semua benda di mansion ini seolah dia gadis paling kepo dikalangan kami, sesekali ia tersenyum kearah liam menampakkan senyum manisnya yang ia rindukan sejak dua minggu lalu, sampai, dia sadar sebuah lukisan adalah wajahnya.

“Ini aku?” tanyanya pada Liam yang memang memajang lukisan Adera di meja kerjanya.

Tak bisa berkata apa apa selain mengaku, kini Liam megangguk dan kembali membelai surai indah gadis di hadapannya.

“Kenapa Prints sangat suka membelai rambutku apa Prints mau berambut Panjang juga?” tanyanya polos, Liam hanya terkekeh dengan pertanyaan itu dan kembali membelai rambutnya.

“Kata Brat Alan aku tidak boleh ke Peterburg” dia mengerucutkan bibirnya dan duduk di jendela mansion.

“Awas jatuh Adera, kamu membuatku khawatir saja” yang di khawatirkan malah cengengesan.

“Kenapa tidak boleh kesini, ini kan jantung negeri dan sangat menyenangkan disini”

“Tidak mau kasih tahu orang asing” Adera mengalihkan pandangannya kearah jendela seolah menolak bertatapan dengan Liam.

“Auu kenapa begitu, aku kan sudah tahu namamu dan kamu sudah tahu namaku, jadi bukan orang asing lagi”

“Tapi kata Brat orang yang ditemui kurang dari sehari adalah orang asing”

“Ya sudah mari habiskan banyak hari disini dan ubah kesanku dihatimu yang sebelumnya orang asing”

Adera hanya menatap beberapa detik kearah Liam dan kini liam mendekatkan wajahnya bersiap ingin mengecup bibir yang sedari tadi menggodanya, hingga

“Brat Alan!” teriak Adera dan langsung beranjak dari duduknya berlari kebawah membuat Liam sedikit kesal dengan kedatangan Brat Alan.

Adera memeluk brat Alan dan menundukan kepalanya minta maaf, sementara Alan seolah mengacuhkannya dan marah.

“Maafkan aku”

“Hmm ya sudah ayo pulang”

“Tunggu, aku mau berterimakasih pada prints Liam, dia yang menolongku sampai aku tidak terlalu tersesat karena ada disni, aku juga merusak bunganya”

“Baiklah”

Liam datang keruangan yang kini berisi tiga orang asing disana, brat Alan menundukan kepalanya hormat dan berterimakasih atas penjagaan Adera pada liam, Liam pun tersenyum menerima permintaan maaf dan ucapan terimakasih.

“Tidak apa, dia lucu anda bisa sering sering kemari, dua hari lagi ada pemberkatan Tsar Louis di mansion ini, dan akan banyak hiburan jika anda berkenan saya mengundang anda dan nona Adera”

“Tentu Prints, undangan anda adalah sebuah kewajiban, kalau begitu kami undur diri” Alan menunduk kembali dan meninggalkan mansion yang berisi Prints Liam beserta kedua temannya disana, sedangkan Adera melambai tangan seolah mengucap sampai jumpa lagi, membuat pria berlesung pipi itu tersenyum dan malu salah tingkah.

Dvorets Imperor, Peterburg

Liam Hedric 

Tak henti hentinya aku mengagumi wajahnya, bahkan aku hampir mengecup bibir indah miliknya, kali ini manusia paling ku kesali adalah Ser Alan, dia membuatku kehilangan kesempatan mengecup gadis cantik itu.

Adera, nama itu memenuhi kepalaku sampai meloncat loncat berhamburan menyebar cinta. Aku ingin kembali melihatnya meski baru siang tadi aku bertemu, rindu sudah menyerebak dalam benakku menginginkan wajahnya tersenyum ku belai.

“Tersenyum sendiri lama lama gila kau” ketus ricky menepuk pundakku kaget

“Biarlah dia sedang jatuh cinta, apa kau tidak pernah merasakannya hmm?"

“Tidak akan, malas aku harus jadi melankolis seperti dia”

"Jika nanti dewi mu menghampirimu jangan harap aku tidak mengolok olokmu”

Dengan sikap acuhnya Ricky meninggalkan Liam dan Ken yang kini keduanya sama sama mabuk cinta.

Engkau yang kucintai; cinta, barangkali;

Belum begitu sirna di jiwaku;

Tetapi biarkanlah ia lebih banyak tidak mengusikmu;

Aku tak mau mendukakanmu sebintik pun

Engkau kucintai dengan diam-diam, dengan tanpa pengharapan,

Kadang dengan ketakutan, kadang dengan hasad

kita menyiksanya

Kucintai kau dengan tulus yang sangat,

dengan lembut yang sangat

Demikianlah Tuhan menganugrahimu

untuk dicintai 

Moskwa 22.00

Adera 

Tersenyum lagi, sudah berapa kali aku tersenyum mengingatnya, lucu fikirku.

Entahlah mengapa pesonanya sangat memabukkan bagiku, selama ini aku hanya menatap dua pria Brat Alan dan Brat Carlos, namun tak semembekas wajahnya di fikiranku, apakah brat alan juga pernah merasakan rindu ini, rindu ingin bertemu namun saat bertemu malah malu tak terhindar. Mencoba tenang di kamarnya tadi membuat jantungku berdegup kencang, aku yakin ia akan menciumku jika saja aku tidak cepat cepat memanggil brat alan karena takut. Aku belum berpengalaman dengan ciuman , aku harus berlatih dulu dengan guling misalnya. Mungkin dia menganggapku polos, namun aku tidak sedemikian itu, aku sering membaca buku dewasa milik brat carlos ketika bosan, dan menemukan banyak pernyataan cinta dengan Bahasa tubuh, entahlah aku melayang kini, inikan cinta pertama?

Oh, pangeran, kau tampan,

Oh, pangeran, kau lumayan pangeran.

Bisa sedikit berbahaya. Oh ya ...

Ambil hatiku,

Simpanlah, pikirkan aku

Percayalah, semuanya tak sia-sia.

Lantunan lagu dari bibirnya bahagia dan menari nari dengan gaun merahnya, mengganti sedikit kata dimana seharusnya cantik jadi tampan dan seharusnya hidup jadi pangeran, karena bagi seseorang yang jatuh cinta seperti Adera, Prints Liam adalah hidupnya.

Surat kecil rindu Nastasya

Berdandan cantik sebelum tidur berharap ia datang dimimpiku, tak sabar bisa bertemu dua hari lagi, rasanya aku juga diberi rindu yang sama besar dengan rindu kaisar Kiev terhadap Koroleva Nastasya di buku romantis yang ia baca, katanya rindu ini berat, rasa ingin bertemu sangat menyiksa, berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan bayangannya namun tetap saja, wajah itu lagi wajah itu lagi yang muncul, inikah sensasi mencintai, bagai terbelah dua tubuh ini, satu bersamaku dan lainnya bersamannya, bisakah kita bertemu sekrang aku sudah mati berdiri karena rindu belaianmu Prints Kiev- Printessa Nastasya 1694.

Surat itu dibacanya sepanjang malam, berharap bisa menidurkannya dari rindu yang membuatnya terjaga.

Sepenggal cerita Ricky

Ibu Kota Peterburg

Ricky Hermes 

Teringat Liam karibku begitu mendalami cinta sepihaknya, aku yang kini menelan apel merah terkekeh tak habis fikir. Seorang Prints yang sering mencabut nyawa banyak penjahat harus larut dalam cinta tiga detiknya, masih ingat dia berkata sudah tergila gila dengan wajah yang ditatapnya 3 detik, aku sangat awam dalam cinta sehingga tak mengubris dan memberi banyak ide untuk dia menggapainya.

Selain Liam dan Ken aku memiliki satu sahabat kecil yang sudah terpisah jauh sejak 5 tahun lalu, dia akan mempersiapkan diri sebagai menantu kekaisaran, kufikir dia akan disandingkan dengan Tsar Louis, wajahnya sangat cantik, kurasa dia tidak pantas bersanding dengan si pria dingin, ku harap Pritessa Frensques bisa menjadi pendampingku suatu hari nanti.

Bagai punduk mendambakan bulan aku berkutik dengan masalalu kami, kemungkinan kami saling mencintai sangat besar saat itu, sampai pesona Liam membuyarkannya, sejak Liam ku kenalkan dengan Frensques ia sangat mengaguminya, dan berkata bahwa sangat mendambakannya, serasa mudah jika Frensques sebagai seorang Printessa mencintai Prints, aku angankan mereka bagai jari manis dan jari tengah. Kekhawatiranku sedikit menghilang saat tahu Liam mencintai gadis lain, namun bayangan akan pelatihan Koroleva bagi Frensques membuatku terhanyut dalam kesedihan diam akan siapa aku, dimana tempatku yang berjauh melampaui Himalaya. Layaknya mengharapkan gurun hujan sulit.

Dictionary

Belaya Bashnya: Menara putih

Devushka V Kletke: Gadis Terkurung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status