Lets draw our world

Saint- Peterburg

Althaphan  (Alan)

Jika Frensques sangat cerdas dengan kemenangan rencananya, maka Alan lebih cerdas untuk melindungi Adera, ia menyuruh Carlos untuk mencari keberadaan Adera di Moskwa karena yakin ada hal tersembunyi dari Frensques yang mengirim utusannya atas nama Koroleva, ia tahu Koroleva adalah ibu Adera yang mana tidak akan pernah menyakiti putrinya sendiri.

Dipagi hari yang indah ini Alan menunggu kabar dari Carlos seraya memperhatikan Louis yang kini melukis banyak awan di kanvasnya, sangat indah dan begitu mengagumkan, tak terasa kaki Alan sudah ada tepat dibelakang Tsar tampan itu, dan tersenyum melihat karyanya.

“Sampai kapan kau akan mengagumiku tanpa bersuara?” ucapan Louis mengejutkan Alan yang kini dengan tampang gugupnya, alan pergi entah kenapa merasa malu tertangkap memperhatikan Louis, namun dengan sigap tangannya sudah di tarik Louis dan kini mereka seakan berpelukan dengan Alan dipangkuan Louis, mata mereka bertemu dan saling menatap dengan penuh arti.

“Apa salah jika aku menginginkah mahluk ini?" tutur Louis dengan tangannya yang membelai pipi mulus Ser Alan yang kini menatap penuh kegugupan.

“Detak jantungmu sangat cepat hingga terdengar apa kau merasakan apa yang aku rasakan juga?" jawaban apa yang harus Alan berikan ia benar benar bingung dan kedatangan pesuruhnya tiba-tiba membuat mereka kaget dan segara melepaskan satu sama lain.

“Mohon maaf menganggu Tsar dan Ser Alan, saya ingin menyampaikan ini” ia memberikan gulungan kertas pada Alan dan kini alan malah ikut pergi Bersama pesuruhnya karena wajahnya tak bisa ia kendalikan memanas begitu saja.

Alan membuka gulungan itu, ia sempat terhenyuk dan khawatir namun ia ingat satu hal, bahwa Adera bukanlah gadis lemah bahkan Adera diajarkannya menipu pengawal disaat mereka kabur dari Belaya Bashnya untuk pergi ke Peterburg hal itu membuat Alan sedikit kehilangan kecemasannya, ia pun menulis pesan kembali untuk membalas carlos yang kini mencari keberadaan Adera dengan seluruh kecerdasannya menulis tempat yang ia curigai Adera berada.

Selesai menulis pesan Alan merasa tertarik untuk mengelilingi Dvorets dan memainkan piano ruang dansa, sepertinya menyenangkan fikirnya, taka da teman disni membuat Alan kesepian, ia terus mendengus kesal dengan keadaan membosankan ini, masa ia harus menemui Tsar karena hanya Louis yang dikenalnya disni.

Sampai pintu ruang dansa terbuka dan menampilkan Prints Liam disana tersenyum kearah Alan, oh iya lupa bahwa masih ada Liam yang dikenalnya.

“Brat apa boleh kita bicara sebentar?”

“Tentu"

"Hmm bagaimana menurutmu tentang Brat Louis?" tatapan mengintimidasinya membuat pipi Alan memanas dan jantungnya berdetak tak karuan.

“Bagaimana apanya?" Alan justru kembali bertanya dan membuat Liam terkekeh.

“Ohh rupanya Brat Louis tidak bertepuk sebelah tangn cintanya, baguslah”

“Apa maksudmu?"  Alan tentu tidak mengerti.

“Bratku menyukaimu seperti aku menyukai adikmu” Alan membelalakan matanya dengan pengakuan Prints Liam.

“Jika kau berkenan aku minta izin mengencani adik cantikmu, untuk urusan Louis dan kau, itu urusanmu mau menerimanya atau tidak, tapi aku mau beritahu hal penting” alan menjadi serius untuk menunggu hal penting itu.

"Brat Louis belum pernah mencintai siapapun” ujarnya dan kini menepuk pundak Alan seraya berlari menghindari pertanyaan Alan yang kini memenuhi benaknya.

Apa apaan dia, meminta izin mengencani Adera seraya memberitahukan perasaan Tsar Louis tentangnya apa ia benar benar mengatakan yang sebenarnya? Apa Cuma menjahiliku saja? Ah bingung aku batin Alan.

Malam di Dvorets sangat berbeda dengan malam di Belaya Bashnya, yang tenang tidak seperti disni sangat ramai dengan suara Tentara penjaga dan suara bell raksasa yang sedari tadi berdentum, pening rasanya, meski ada rasa takjub akan keramaian disini, andai saja Adera disini ia akan histeris, mengingat tentang Adera aku lupa bahwa keberadaanya belum juga diketahui, Alan turun ke halaman Dvorets yang kini menampakan Carlos yang membuatnya membelalakan matanya.

“Hei kostum apa yang kau pakai hah?"

“Diam aku sedang menyamar jadi Czar Knight, untuk mencari Adera, dari pada nyerocos marah marah ayok bantu aku melepaskan pakaian super ribet ini” keluhnya. 

“oke sudah, sekarang apa?" aku sudah tidak sabar mengetahui keberadaan Adera. 

“Adera ada di Rostov, aku belum tahu dimana pastinya yang jelas kaki tangaku melihat kereta Moskwa berbelok arah ke Rostov.

“Oke sekarang kau kembali ke dalam, dari tadi banyak yang menanyakanmu karena kau mengiyakan untuk menjadi bagian dari pengawal Tsar”.

“Oke kau sana tidur anak kecil jangan berkeliaran malam” cibir Carlos yang kini memegang kepala alan gemas.

“Hei hei lepaskan bodoh, kita seumuran dan aku sudah dewasa aku 20 tahun"

“Iya iya hahahah menggodamu sangat menyenangkan”

“Sialan sana pergi!” Alan menendang bokong Carlos keras dan Carlos meringis sambal lari ketakutan.

Sedikit kecemasan hilang lagi, semoga Adera ingat semua yang ia ajarkan padanya.

Gerbang Kaukasus,Rostov

Adera 

Ahh sial kurang Panjang kain gordennya, Adera terus saja mengumpat karena kekurangan bahan untuk kabur dari Menara hitam sera mini.

“Ayok Adera jangan mau kalah dengan si Frensques”

Adera pun pelan pelan turun dan sangat kesulitan dengan korsetnya, sial sial sial, satu kata ia umpat terus menerus, ya sudah aku lepas saja, Adera melepas korsetnya kesusahan sambal bergelantunga, selesai melepasnya ia memberanikan diri meloncat dari ketinggian 10 kaki itu, dengan tarikan nafas yang kuat ia loncat dan teriak lepas sampai seseorang menyadarinya, tak mau ketauan Adera lari sekuat tenaga, dengan tiga pengawal dibelakangnya mengejar.

“Bodoh bodoh Adera kenapa berteriak”

Ia menggerutu kesal akan dirinya, sampai ia tersungkur jatuh dihadapan sebuah sepatu mengkilap dan gaun merah didepannya, ia mendongkakan kepala dan sadar bahwa yang dihadapannya yang menyekapnya dari kemarin.

“Aaaaa” teriak Adera dikala Frensques menyeret Adera sambil menjambak rambutnya kasar.

“Lepaskan sakit” ringis Adera dengan kekuatannya namun tak berdaya karena terkuras habis akibat kejar kejaran tadi.

“Mau kabur hah?!” bentak Frensques yang telah menyungkurkan Adera hampir mengenai api di perapian

“Kau kira aku akan membiarkanmu bahagia dengan calon suamiku hah?!”

“apa maksud anda Printessa?" Adera kesakitan dalam tanyanya.

“Liam, Prints yang kau ambil dariku adalah calon suamiku apa kau dengar?!”

"Tidak mungkin! , dia mencintaiku dia selalu menyebutku dewinya, bulannya” ringis Adera tak mau mendengar ocehan menyakitkan Frensques, ia menutup telinganya sambil terisak.

“Buka telingamu!” Frensques memaksa Adera sampai menyeyat tangannya dan kini darah segar keluar dari tangan putih Adera, Adera kesakitan dan menurunkan tangannya dari telinganya.

Frensques kembali menjambak rambut Adera dan teriak kencang ditelinganya.

“Prints Liam milikku!” Adera kesakitan, telinganya berdengung dan tangannya terluka, kenapa dia begitu jahat melakukan ini, apakah salah aku mencintai seseorang yang juga mencintaiku.

“Ikat dia di menara paling atas dan buat dia tersiksa sampai memohon dibunuh olehku” Frensques menendang kaki Adera kasar dan pergi meninggalkannya yang kini diseret dua pengawal, tanpa Frensques sadari sejak ia menyeret Adera dari halaman mansionnya Ricky mengamati itu semua dan sesekali menitihkan air mata tak kuat melihat kelakuan pujaan hatinya.

Ruang Dansa, Dvorets Imperor Peterburg

Tsar Louis Gernes 

Alunan nada setiap gerakan jarinya sangat indah, tak mampu menarik Louis dari hal lain selain memperhatikan pria berwajah dewa itu disana, ia sesekali membayangkan memilki pria disana dan ia jadikan Korolevanya, sangat konyol namun bayangan ini adalah impiannya.

“Ayo lukis dunia kita Bersama” ucapan lembut Louis menghentikan permainan piano Alan yang kini terkejut atas keberadaan Tsar Louis, sejak kapan ia disana, pertanyaan itu memenuhi kepala Alan, tak lupa ucapan Liam yang paling ia rapatkan dimulutnya takut terucap saking membekas di hatinya.

“Sejak kapan anda disana?”

"Sejak kau memainkan lagu kedua”

“Hmm maaf aku menggunakan alat musik ruangan dansamu” Alan menunduk. 

“Tak apa, mereka jarang digunakan kecuali jika ada perayaan besar disni, lebih bagus ada yang memainkannya"

Alan mendongkakan kepalanya saat Louis maju menghampirinya.

“Bisakah aku duduk disampingmu?"

"Tentu ini Dvorets milikmu kau bisa duduk dimanapun”

“Tapi meski ini milikku namun seseorang duduk terlebih dahulu dimana ini miliknya, sama seperti hatiku yang sudah ditempati seseorang, maka yang akan mengambilnya harus berizin pada pemiliknya” senyumnya manis dengan mata sipitnya, ah dia punya sisi imut juga batin Alan.

“Siapa pemiliknya?” kenapa mulut ini, kenapa mengatakannya Alan menegang saat itu.

“Seseorang yang kutemui di perbatasan Peterburg-Moskwa malam malam hari saat aku berniat mengunjungi Belaya Bashnya, dia memelukku karena hampir jatuh” kekehnya pelan.

“Aku tidak memelukmu, kau yang memelukku”

"apa yang kubicarakan dirimu?” tanyaku disela tawaku, dia benar benar merah ingin sekali aku mencubit pipi itu

"Ishh ya sudah lalu siapa yang kau ceritakan?"

“Ser Alan Punsawat”, dia menatap kaget dengan pipinya yang semakin merah

“Apa aku bisa memiliki seseorang yang sudah memiliki hatiku ini?” tanyaku dengan membisik seduktif kearah telinga kanannya.

“Beri aku ruang, geser sedikit” ia mendorongku saat ini, aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya.

“Ternyata ada sisi lucu dari pria yang pernah melawan Czar Knight”

“Aku kalah kan, jadi aku tidak sehebat dia"

“Ia dan aku membantumu” jawabku padanya, dia hanya menoleh sebentar dan menutup piano.

“Tsar aku permisi sudah malam” dia beranjak dari duduknya namun aku tak mau melepaskan dia dari mataku, dia menatapku bertanya dengan apa yang kulakukan, lagi lagi aku menariknya kepangkuanku.

“Tsar jangan main main denganku, aku pria jangan menggodaku begini” ia melepaskan kungkunganku.

“Lalu apa salahnya mencintai pria?" aku berteriak saat ia melangkahkan kakinya.

“Kau tidak salah, tapi peraturan negeri yang dibuat ayahmu lah yang menghalangi mu”

“Lalu? Kita bisa mematahkannya dengan aku menjadi Tsar”

“Apa kau fikir aku menyukaimu?" jawaban itu sangat menyakitkan rasanya.

“Sudahlah Tsar jangan berlaku yang tidak tidak, aku pergi dulu, lebih baik kau basuh wajahmu agar kau sadar”

Menatap punggunya dari kejauhan terasa sesak, namun apalah daya cintaku sudah terlalu besar padanya, ia juga akan tinggal disini jadi aku akan lebih mudah membawanya kedalam pelukanku, seringaiku senang.

Menara Selatan, Dvorets Imperor

Althaphan (Alan)

Memikirkan apa yang dilakukan Louis padanya ia hanya berdecak kesal, apa Louis menganggapnya sebagai wanita? Bisa bisanya menggodanya dengan gombalan khas dibuku novelnya yang sering dibaca Alan, sudahlah ini sangat memusingkan lebih baik aku tidur, mungkin besok ia akan sadar mabuka kali tadi.

Keesokan harinya, Alan mendapat banyak perlakuan istimewa, banyak bunga tersebar di ruangan tidurnya, ada sajian sarapan mewah si mejanya, dan kini ia mendapat surat digenggamannya, sejak kapan ada orang masuk kesini aku tidak mengingatnya.

Terjaga setiap malam

Terjaga setiap siang

Aku bagaikan langit 

Membutuhkan bintang disini

Menatap punggungmu jauh

Apakah rasakan isakku

Kupeluk kau dimalam hari

Ingatkah kau dipagi hari

Dan aku adalah milikmu

adalah milikmu

-Louis seniman malammu

Aku tersenyum dengan senang, ia sangat manis dalam berkata kata, jika gadis yang diperlakukannya pasti sudah terlentang siap disenggarainya, namun aku? Aku seorang pria dan bahkan seorang Ser yang agung bagi banyak rakyat Moskwa, aku kini bernafas terbata bata, ingat sesuatu hal malam tadi, pantas aku nyenyak dalam kehangatan , ia memelukku sejak terpejam.

Bangun dari tidurku, kini Koroleva memberi tugas untuk mengurus seluruh penyediaan bahan makanan di Peteburg bagi kekaisaran maupun rakyat, karena memang ini bidangku sebagai pengatur pangan di Moskwa, aku sempat bertanya tanya bagaiman dengan Moskwa siapa yang mengaturnya, hingga surat dari ayahku membuatku lega bahwa kini ayahlah yang mengaturnya.

Aku pergi ke ibu kota Peterburg Bersama Prints Dominic, teman masa kecilku ia sangat berubah menjadi sangat tampan sejak berada di Dvorets, banyak gadis memerhatikan kereta kami yang mana pasti memuja Dominic, namun Dom kini semakin diam dan acuh bahkan pria dingin seperti Louispun dikalahkan oleh dingginya aura Prints putra Alica ini.

“Prints sudah sampai” ucapku padanya formal

“Berhentilah formal dan kembalilah memanggilku Brat Dom, aku tidak suka dengan sikap kepura puraanmu ini” ia pergi meninggalkanku kesal, ya memang aku juga ingin kembali menyebutnya Brat, namun kejadian 10 tahun lalu mengingatkanku akan kejamnya dia yang hampir membunuh adiknya sendiri, meski dulu ia sangat muda namun tetap saja ia sudah kejam sejak dini membuatku bergidik ngeri.

Rakyat menyambut Prints Dominic dengan senang, yang disambut juga tersenyum manis, rindu senyumnya batinku, akupun segera menghilangkan perasaan rindu itu dan kembali mengatur pemasoka petani peterburg dan pengolahan bahan mentah untuk pasar peterburg, kami kembali sekitar pukul 9 malam dengan Prints Dominic yang tertidur dipundakku, sangat tenang , seluruh tarikan nafas dan dengusan tidurnya terdengar olehku membuat bulu kudukku merinding.

“Apa kau tidak lelah?" tanyanya dikala aku diam memerhatikannya.

“Tidak”

Ia bangun dan menatapku serius

“Alan aku rindu padamu, aku sangat rindu belaian dirambutku sejak 10 tahun lalu, bisakah kita kembali berteman?" ia menatapku sendu.

“Kau sangat jahat waktu itu, kau membiarkan Adera tenggelam di danau kau sangat kejam”

"Maaf aku sungguh iri padanya, kau menyayanginya ibu menyayanginya dan aku dibiarkan" ia menunduk lucu fikirku.

“Kau sudah 11 tahun waktu itu dan dia 6 tahun apa kau benar benar cemburu padanya hah, aneh”

“Aku berjanji takkan menyakitinya lagi”

“Hmm aku percaya"

Ia kembali menyender kebahuku dengan perbedaan tinggi kami yang jauh ia pasti keslitan namun tetap melakukannya.

Ia ternyata tetap seorang bocah yang kesepian minta dicintai, desas desus yang membuatnya terlihat jahat membuatku tak habis fikir mana ada seorang Czar Knight yang masih merengek minta dimaafkan dan ditemani begini, kekehku pelan disela lamunanku.

Dvorets Imperor, Peterburg

Sampai aku disana dan terlihat Tsar menghampiri kereta kami, entahlah bagai ketauan selingkuh, tsar keliatan jengkel dengan prints dom yang menyenderkan kepalanya tertidur dipundakku, ia berjalan pergi setelah menatapku kesal, aku pula malah menghampirinya dan berlari seperti hendak menjelaskan, sampai akhirnya ruangannya ia tutup dengan keras dan membuatku sakit hati.

Apa ini untuk apa aku kesini dan mengapa dia kembali melakukan hal aneh, aku dengan segala keberanianku masuk kedalam ruangannya dan mengunci pintu, ia menoleh ke arahku dengan penuh makna.

“Aku minta maaf jika aku membuatmu marah, meski aku tidak tahu mengapa?" ucapku pura pura tidak tahu

“Kau sungguh tidak tahu hah? Aku cemburu padamu?"

Aku menatapnya bertanya ia memelukku erat dan terisak, entah apa yang kurasakan aku juga sedih melihatnya terluka.

“Aku terluka dengan apa yang kulihat tadi, kau membiarkan dia tidur dipundakmu sementara aku kau tolak kemarin apa kau mencintainya?” lirihnya. 

“Tidak, aku dan dia adalah teman masa kecil kau tahu kan Belaya Bashnya adalah tempat tinggal masa kecilnya?” bujukku agar ia tenang.

“Benarkah begitu? Jadi siapa yang kau cintai?” tanyanya seraya menatapku memohon jawaban.

“Kau mau aku menjawab dirimu kan? Aku belum mencintaimu namun jika kau berusaha lagi mungkin bisa” apa ini mengapa aku berkata demikian?.

Senyum merekah diwajahnya membuatku yang sedari tadi menggerutu dalam hati tentang ucapankupun berhenti, kini aku merasakan sebuah benda kenyal menyentuh bibirku dan memainkan mulutku dengan mata terpejam kurasakan sentuhan lembut itu tanpa membalas ataupun menolak.

Dictionary

Semuanya adalah kata yang sudah dijelaskan makna aslinya di part sebelumnya

Sajak : sumber murni dari author

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status