Stop Saying Sorry

Belaya Bashnya, Moskwa

Adera 

Sudah seminggu aku mulai dengan penyamaranku, aku tak lagi menggerai rambut panjangku, aku tak lagi diam membisu dimenara putihku, bahkan aku kini tidak mampu memperlihatkan wajahku. Aku menutupi semua hal tentang ku dengan pakaian serba hitam, berpura pura baik baik saja memang sulit meski aku selalu menutupinya dengan senyuman tapi aku terluka di dalam

“bisa banjir Belaya Bashnya karena ulahmu, kau kenapa melamun begitu” suara alan mengagetkan Adera yang kini menyeduh teh sampai mengalir ke bawah meja

“astaga” Adera langsung mengelapnya segera

“kau yakin akan mulai penyamaran ini?"

“tentu, aku akan mengubah kesan czar knight dikalangan rakyat”

“itu terlalu bahaya” alan khawatir

“tidak perlu khawatir, aku baik baik saja bahkan aku pernah mengalami hal lebih dari ini brat” Adera mengelus tangan alan untuk meyakinkannya

“baiklah tapi jangan ke peterburg” ancam alan, Adera hanya mengangguk dan tersenyum

Namun bukanlah Adera jika ia tidak mendengarkan sebuah aturan, karena memang sejak lahir Adera tercipta untuk melanggar sebuah aturan

Dvorets Imperor, Peterburg

Kini gadis bercadar itu berdiri di depan gerbang sambil sembunyi memperhatikan keadaan dvorets, sangat menegangkan bagi Adera karena ini penyamaran pertamanya, ia kemudian masuk dengan seluruh kemampuannya dan berakhir di Menara selatan dvorets, namun ia tidak menemukan Liam yang biasa berdiri di balkon dan memperhatikan cahaya bulan disana, apa liam tidak ada di dvorets lalu ia dimana, bahkan tadi pun liam tidak ada di mansion biru, Adera mendengus kesal dan duduk di bawah pohon delima dengan mendongkakan kepala menatap rembulan, Adera ingat saat pertama kali ia kesini dan menghabiskan malam Bersama liam di Menara selatan itu, sangat romantis

Nyaman dengan lamunannya, tiba tiba ia mendengar seseorang diseberang pohon, takut ketauan Adera pun meninggalkan dvorets dengan cepat, kini ia bersembunyi di hutan belakang dvorets, alangkah terkejutnya ia menemukan sebuah pohon besar disana, anehnya pohon itu bercahaya seperti ada orang didalamnya, dengan sifat penasaran tinggi, Adera mencoba mendekatinya dan kini kebaradaanya diketahui 

“hei kau siapa?" tanya seseorang dibelakangnya, Adera hendak pergi bahkan melewati perkelahian sengit, ia tidak tahu jika Ken sangat hebat dalam bertarung, merasa hampir kalah Adera menendang selangkangannya kasar membuat Ken kesakitan dan berhasil membuka cadarnya, terkejut? Tentu saja ia terkejut namun kini rasa sakitnya lebih besar dibanding rasa penasarannya, sehingga Adera berhasil lari

Merutuki dirinya sendiri membuat Adera kesal ia bahkan gagal dalam penyamaran pertamanya, bagaimana jika Ken tadi melihat wajah Adera, walau itu mustahil dengan penerangan yang gelap dan suasana yang mencekam diantara mereka, tapi rasa khawatir menggerogotinya, hanya tebing perbatasan peterburg lah tempat ia melepas lelah, biasa mengunjunginya di pagi hari kini Adera akan kesana dimalam hari biasanya rembulan bersinar terang diarea sana

Ia terus berjalan sambil melantunkan lagu oh my darling yang pernah liam nyanyikan saat Adera hendak tidur, dengan menyanyikan lagu ini ia bisa mengobati rasa rindunya pada prints tersayangnya itu, namun langkahnya tertahan dengan pemandangan di depannya, seorang pria dengan lukisan ditangannya menangis meneriaki bulan dan meminta mengembalikan cahaya bulan yang dicurinya, entah mengapa sesesak ini melihat liam kacau dan menangis pilu, tak terasa lelehan bening membasahi pipi  Adera, dalam persembunyiannya kini, rasa ingin menemui bertingkat apalagi teriakan itu sangat ia harapkan untuk berhenti keluar dari mulut printsnya

Tolong aku sekarat

Aku tersayat dalam kegelapan

Aku terluka dalam kehilangan

Kembalikan cahaya bulanku

Kembalikan aderaku

Jangan engkau ambil dia dariku

Kembalikan padaku 

Aku sekarat disini

Menangis dan menangis lagi lagi hanya itu yang bisa Adera lakukan ia tidak mungkin melanggar sumpahnya pada ricky untuk tidak menemui liam, ia memang berkata akan berjuang pada alan, namun berjuang maksud Adera adalah berjuang melihat liam bahagia Bersama orang lain, melihat liam melupakan dirinya dan melihat liam mencintai wanita yang tidak akan mendatangkan luka padanya, bukan wanita sepertinya yang bahkan kata anak haram selalu melekat padanya, seluruh kata pedih adalah pangannya dan seluruh penyiksaan adalah sandangnya, Adera kembali menguatkan tubuhnya dan pergi meninggalkan liam dengan seluruh rindu dalam benaknya

Mansion Biru, Ibu Kota Peterburg

Malam yang dingin kini dilalui printessa bergaun merah itu sendiri tanpa siapapun, menunggu prints idamannya sejak pagi yang hilang entah kemana membuatnya jengkel, apalagi dengan keberadaan Adera yang sudah ia cari dari ujung peterburg sampai Rostov namun tidak tahu dimana, rasa khawatir akan pertemuan liam dengan Adera membuatnya marah , bahkan kini suasana kamar tidurnya selama disini sudah berantakan dengan beling dimana mana

“sial….” Ia mengumpat terus menerus dalam jambakan dirambutnhya sendiri, mata bengkak hitam menghiasi wajah cantiknya yang semakin menjadi seram

“aku membencimu Adera, aku membencimu”

Ricky masuk keruangan itu dengan perasaan khawatir, ia hendak merangkul frensques namun yang dirangkul mendorongnya keras sampai tersungkur, ricky membereskan pecahan kaca dan membalut luka dikaki frensques yang kini mengeluarkan darah

“sampai kapan kau akan terus emosional dan menyakiti dirimu sendiri karena cinta? Apa kau akan terus menyiksa dirimu hah” ricky membalutnya dengan lembut

“aku tidak tahu jika gadis kecilku yang lucu, besarnya jadi semenyeramkan ini” ricky sedikit terkekeh dengan wajah frensques yang mulai meredup amarah

“aku tidak suka kekalahan, hanya aku yang boleh memiliki liam” frensques mulai dengan tekadnya

“meski dia tidak mencintaimu?" ricky bertanya dengan wajah yang dirasa frensques melarangnya untuk berjuang lagi

“tentu, aku sudah sejauh ini aku.”

“kau tidak perlu melakukan apapun kau bisa terus ada bersamanya kini dan berhentilan mencari Adera dia sudah meninggal” nasihat ricky

“aku yakin Adera masih hidup”

“ia mati karenamu tidakkan kau merasa bersalah?”

“aku tidak akan berhenti mencarinya sampai aku melihat mayatnya, dan berhentilan mengurusiku aku bukan adikmu dan aku sudah dewasa jangan mengkhawatirkanku” lepas frensques kasar

Wanita 17 tahun itu yakin jika Adera gadis pembawa sial baginya masih hidup diluar sana, ia tidak bisa mempercayai sipapun kini, ambisinya semakin besar untuk mendapatkan liam yang kini masih meneriaki rembulan di tebing peterburg sendirian

Hutan belakang, Dvorets Imperor

Bukan hanya kisah Adera liam yang diujung tanduk, bahkan kisah louis alan sudah kandas sebelum berjuang, hanya duduk diperapian rumah bawah pohonnya membuat louis tenang dengan kerinduang disekujur tubuhnya

Apakah kau merinduku sepertiku merindumu?

Apakau kau tidur nyenyak tanpaku disampingmu?

Apakah kau merenungkan aku disetiap lamunanmu?

Beribu tanya ia ajukan dalam sendunya, keberadaan ken saja tidak membuat hilang rasa sepinya, meski ken terus memberikan lelucon  tetap saja terasa garing kini bagi seorang pria yang dimabuk cinta dan kerinduan dalam diam

“apa aku bisa membantumu jika aku bilang Adera masih hidup?” ucapan ken membuat louis terperangah, bagaimana bisa ken tahu Adera masih hidup

“hah apa maksudmu jangan bercanda”

“aku melihatnya dia kemari tadi, dan berkelahi denganku aku baru tahu dia pandai bertarung”

“kau salah lihat” ucap louis untuk menutupinya

"aku sering mengantar liam ke Belaya Bashnya jadi aku tahu Adera seperti apa bentukannya” ken terus yakin

“aku tidak percaya kalau tidak melihat sendiri”

"nanti akan aku buktikan, jika benar begitu liam akan bahagia dan kau akan kembali pada brat alan, karena tidak ada lagi alasan brat alan membencimu karena kematian adera" tutur ken yakin

“alan memutuskanku bukan karena Adera, tapi karena kami memang melakukan hubungan terlarang ia percaya banyak rakyat yang akan menentangnya”

"aww kenapa begitu, apa ia sangat pengecut, apa kau tidak meyakinkannya"

 "sudahtapi dia itu kalau sudah berpendirian maka aku tidak bisa buat apa apa”

"kau mau menyerah saja? Apa kau tahu prints dominic menyukai alan hah? Apa kau tidak takut ditikungnya?”

“dari mana kau tahu, dari tadi bicara asal saja”

“aku tentu tahu, dia bahkan sering memperhatikan brat alan memainkan piano dan cemburu saat melihat kalian”

“lalu kenapa dia tidak mendekati alan?"

“apa kau bodoh brat, pasti krovena melakukan rencana jahat padamu dan brat alan dibantu prits dom, makanya brat alan bisa kesini”

“kenapa aku tidak kefikiran” louis mulai mencerna perkataan ken

“kenapa kaka beradik sama begonya kalau soal cinta, terlalu mencintai bikin bego ternyata” pukul louis tepat di kepala ken keras membuatnya meringis dan mengumpat

"kau juga akan merasakannya”

Entah mengapa perkataan ken membuatnya kembali ingin berjuang, memang benar yang dibutuhkan kini bukan diam merutuki takdir tapi selama masih bisa bernafas louis harus terus memperjuangkan cintanya, seperti Nastasya ibunya yang selalu memperjuangkan cinta seorang tsar kejam seperti kiev

Tebing Peterburg

Liam Hedric 

Meski setiap hari ia lakukan untuk berdoa dan mencari Adera, ia tetap hanya mendapatkan sebuah penyesalan dan luka dihatinya ia hanya menangis dan kecewa dengan tuhannya

“bisakah aku ikut mati bersamanya"

“apa tidak apa apa aku terjun kedasar tebing”

“apa bisa aku membunuh diriku sendiri”

Selalu saja berakhir ke mansion biru dan yakin Adera akan kembali, ia meninggalkan tebing itu dengan kudanya dan kembali ke mansion rumah keduanya setelah dvorets, jam 2 malam adalah saat yang tepat untuk pulang disaat semua orang terlelap dan tak lagi menghujaninya dengan pertanyaan kenapa prints bersedih, apakah prints masih memikirkan gadismu yang mati di Georgia itu, selalu saja begitu liam tak tahan dengan pertanyaan menyakitkan itu

Hampir saja merebahkan tubuhnya, liam melihat frensques yang kini berbincang dengan seseorang di bawah balkon kamarnya, penasaran dengan itu liam menghampirinya, bukan main rasanya sangat tersentak saat tahu apa yang dibicarakan mereka berdua, kini frensques menyuruh pengawal itu untuk mencari Adera dan kembali mengurungnya di Menara hitam, antara senang dan sedih bercampur disana, senang karena Adera kemungkinan masih hidup dam sedih karena baru mengetahui siapa yang selama ini membuatnya merindu setengah mati dengan bulannya itu, ternyata gadis yang berkedok keramahan inilah penyebabnya, liam bukanlah seorang yang kasar tapi ini sudah lebih dari kata keterlaluan ia tidak bisa diam saja

Selesai dengan perbincangannya Bersama pengawal itu, printessa kembali kekamarnya dan saat ia menyalakan lampu kamarnya ia melihat prints kesayangannya itu berdiri di depannya, frensques memeluk liam rindu, namun liam menatapnya marah dan jengkel ia melepaskan frensques kasar dan mendorongnya, kini liam bahkan menyodongkan pedangnya kearah mata frensques membuatnya terkejut dan ketakutan, ini pertama kalinya frensques melihat liam dengan tatapan seram

“apa yang kau lakukan pada kekasihku hah?” frensques bergetar hebat dan menunduk dengan menutupi telinganya

“jawab aku printessa terhormat atau aku memanggal kepalamu di sini sekarang"

 "aku aku tidak melakukan apa apa” bibirnya bergetar dan menangis

“kau mengurungnya hah kau menyiksanya, pantas aku mendengar jeritan Adera di menaramu namun aku bodoh malah mendengarkan ocehanmu yang seolah peduli dan ingin membantuku mencari Adera, kau memang jahat frensques kau bahkan tak pantas ada dihadapanku” liam menghentakan pedangnya tepat di samping gadis yang kini terus menahan takut

“kau benar benar membuatku jengah” hampir saja menikam frensques namun kesadaran akan apa akibat dari perbuatannya nanti membuat liam menjambak rambutnya kasar

“aaah sial aku ingin membunuhmu” ucapnya membuat frensques benar benar terluka dan memendam banyak sayatan dihatinya segitu cintakah liam pada Adera

Kekacauan dan teriakan liam membangunkan banyak tantara dan ricky kini terkejut dengan pemandangan didepannya, ricky hendak bertanya namun tatapan liam membuat semuanya takut, apalagi kini liam dengan mata merahnya siap membunuh siapa saja, dengan amarah besarnya liam keluar dari ruangan iblis ini, ia ingin meminta maaf karena sangat terlambat menemui kekasihnya

Kuda ia pacukan cepat menuju moskwa, selama penantian dan pencariannya ia hanya ke moskwa satu kali dan tidak kesana lagi saat tahu Adera di Georgia, ia terus yakin Adera ada disana sambunyi sampai akhirnya ia melihat bukit Georgia dengan Menara kosong tak berpenghuni, Ia terus menunggu Adera di tebing peterburg meneriaki bulan dan sadar itu sia sia

Belaya Bashnya, Moskwa

Sampai di Menara putih itu liam menghentikan kudanya, ia terhalang banyak penjaga yang mengusirnya dan kini pandangan kea rah kertas bertuliskan larangan masuk bagi keluarga kekaisaran membuatnya kembali curiga, emosi liam yang kini menggebu membuatnya dengan mudah mengalahkan para bajingan yang kini terus menahannya, banyak yang bahkan liam penggal dengan pedangnya, bukan keanehan lagi julukan di penyayat nadi ini memang benar adanya

“Adera.."

“Adera keluarlah prints mu disini”

“jangan bersembunyi”

“maafkan aku”

“maafkan aku yang terlambat menemukanmu”

“Adera temui aku adera"

“kumohon maafkan aku, aku mencintaimu adera"

Teriaknya terus sambil mengetuk seluruh pintu Menara dan mansion punsawat tanpa jawaban, frustasi akhirnya liam menyayat sendiri tangannya

“aku akan mati didepanmu, setidaknya tatap mataku sebelum aku mati” teriaknya lagi, awalnya Adera tidak peduli namun melihat darah bercucura dari pergelangan tangan liam membuatnya takut ia berlari kebawah tangga sampai akhirnya berdebat dengan alan carlos bahkan jyijzi namun rasa cintanya tidak bisa ia tahan

Saat pintu gerbang mansion terbuka, liam tersenyum bahagia memeluk gadis tercintanya, ia menangis dalam pelukan dengan darah yang terus bercucuran, kini darah keringat dan air mata menjadi satu dalam pelukan rindu yang sudah lama ia pendam terus dalam kesedihan akan kematian Adera

"ayo kita lari dari sini kita tinggalkan rusia dan hidup Bersama, aku mencintaimu aku mati tanpamu”

“kau gila hah, kau hampir membunuh dirimu” Adera menarik liam kedalam dan terus menekan luka sayatannya agar darahnya tidak keluar lagi, jyijzi membantunya dengan membawa obat herbal dan menaruhnya dibagian luka itu

“adik kakak sama gilanya, apa kaisar hanya menghasilkan prints gila hah?" ucap carlos asal

Liam hanya terus mengucap maaf sambil memeluk Adera, sementara Adera mengusap lukanya pelan dan terus menekan darah yang mengalir deras

“kau menyayat arterimu , kau rela mati karenaku?” Adera menatap mata liam yang kini sangat bengkak dan hitam diarea kantungnya, liam benar benar tidak tidur dan terus menangis sepertinya ia juga Nampak kurus tidak seperti sebelumnya

“maafkan aku, tolong jangan tinggalkan aku, aku akan mati jika kau pergi dariku adera"

“berhenti mengucap maaf, kau tidak salah” Adera mengusap pipi liam lembut

“berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku”lirih liam dalam isaknya

“mnn" Adera mengangguk dan kembali memeluknya, Adera mencium luka liam dengan lelehan air mata dipipinya

“berjanjilah kau akan terus mencintaiku” tutur Adera lembut

“aku berjanji selama hidupku hanya kau wanita yang akan aku cintai” 

Berpelukan dalam dingin dengan noda darah dan air mata mereka merasa bahagia, setidaknya perjuangan dilakukan Bersama akan terasa indah walau jaminan kebahagiaan dimasa depan jauh dari kata pasti, tapi selama keduanya saling memiliki mereka akan terus mengabadikan perjuangan melawan takdir Bersama

Comments (1)
goodnovel comment avatar
alanasyifa11
emang ya,don't judge a book by it's cover padahal ceritanya cukup bagus loh,semoga setelah ini viewers nya naiiik! btw author ada sosmed ga?
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status