Sheanette: The Fate (Bahasa Indonesia)
Sheanette: The Fate (Bahasa Indonesia)
Author: Riza Fumiko
I. Untuk Tuanku, dari Tanah Hindia Belanda

   Belakangan ini mendung terus menggantung tipis di langit, namun segan baginya sekedar untuk menjatuhkan gerimis barang satu helaan. Suasana semakin kelabu. Dunia seolah kehilangan warnanya. Seakan bukan gadis itu yang tengah berduka.

Namanya Shinta. Ia memulai menulis catatan pada masa berkabung. Saat ia tidak tahu apakah tuannya akan kembali atau tidak. Saat ia begitu buta akan hari esok, saat harap-harap cemas terus memakan hati dari hari ke hari.

Hujan di bulan Juni mendorong Shinta mengawali catatannya. Tentang seseorang yang ia harap tidak akan pernah ia lupa, walau sudah seribu tahun lamanya sekali pun. Tentang dia, Eropa totok bernama Thomas.

***

   Selama seumur hidup yang masih berumur jagung, Shinta Danurdara sudah dianugerahi ilmu pengetahuan yang luas. Pernah suatu kali direktur di sekolahnya bilang bahwa pengetahuan umum Shinta sudah jatuh lebih luas, bahkan ketimbang para pelajar setingkat di negeri Eropa sendiri.

Tentu hati Shinta jadi sangat gembung. Jelas karena dirinya belum pernah injak kaki di tanah kelahiran guru-gurunya itu lahir dan dibesarkan. Mereka adalah Eropa dan Indo yang sudah jelas sebagai pengajar terbaik di Hindia Belanda.

Shinta sangat mirip dengan kakaknya, baik dari tampilan maupun ilmu pengetahuan, itu kata direktur di sekolahnya juga.

Dan dengan itu Shinta sedikit menyombongkan diri. Siapa yang tak kenal Kinasih Danurdara? Puteri dari Bupati Banger yang berhasil menjadi dokter pertama dari golongan Pribumi. Kinasih Danurdara adalah seorang yang rupawan dan berpengetahuan luas. Ia juga sangat mengayomi para petani. Sejak masuk HBS, banyak lamaran menumpuk di rumah. Baik dari Eropa, Indo, Cina, Nihon, hingga Pribumi. Semua itu semata-mata hanya untuk meminang Kinasih. Hingga akhirnya, lamaran diterima jatuh pada seorang Eropa.

Shinta tidak pernah tahu jelasnya seperti apa. Sebab saat itu Shinta sedang berkunjung rutin ke kediaman Maria. Seorang Portugis yang merupakan teman kelasnya di HBS.

Berbeda dengan Kinasih yang disebut Dewi bagi para petani, Shinta lebih suka berkumpul dan bertukar pikiran dengan para Eropa. Bagi Shinta, mereka terhormat. Mereka adalah Dewa di atas tanah Hindia Belanda Meski mirisnya, hal itu yang membuat Pribumi kehilangan tempat berpijak di atas tanah mereka sendiri, termasuk Shinta.

Satu yang pernah Kinasih ajarkan, Shinta tak pernah lupa. Revolusi Prancis.

Dalam Revolusi Prancis, semua adalah sama dan setara. Hati Shinta tergerak untuk bertanya pada gurunya. Dan mereka membenarkan adanya. Sungguh, hati Shinta saat itu berada dalam dua angan-angan. Menyaksikan Eropa, Indo, dan Pribumi berdiri sejajar di atas tanah Hindia Belanda. Namun di saat yang sama, Shinta tidak bisa membayangkan Hindia Belanda tanpa Eropa sebagai penguasa. Memang bisa?

Tahun ini Shinta menyusul Kinasih. Shinta lulus dari HBS tepat waktu dan tentu ini adalah satu buah kebanggan mengingat tak banyak pelajar seumuran yang bisa menamatkan sekolah di tingkat itu.

Kini Shinta mampu sedikit mengangkat dagu. Seakan menyerukan, ini aku! Seorang puteri Bupati yang merupakan lulusan HBS, aku terpelajar!

Namun semua kesombongan itu runtuh seketika saat Bapak mengatakan Shinta akan segera dijodohkan dengan seorang Eropa. Yang lebih parahnya adalah, menjadi seorang gundik bagi seorang Eropa. Gundik.

Shinta masih tidak habis pikir. Shinta adalah puteri Bupati. Belum lagi, Shinta adalah seorang terpelajar, lulusan HBS tepat waktu. Namun Shinta tidak mendapatkan hak yang sama dengan apa yang didapatkan Kinasih. Tidak ada kebebasan memilih. Mungkin para teman Eropanya itu membuat Shinta lupa kodrat. Sebab Shinta tetap seorang Pribumi. Seorang perempuan.

"Katanya ada yang namanya karma, Bu. Mungkin karma karena aku terlalu menaikkan dagu ke Pribumi," kata Shinta menyisir rambut panjangnya di depan kaca rias. Matanya membengkak, menyisakan jejak tangis semalaman penuh sampai pagi.

Ibunda Shinta sedang ada di ranjang, membereskan kopor besi milik puterinya. Wanita itu menoleh, kemudian memeluk puterinya dari belakang. "Tuanmu seorang pemiilik perusahaan koran paling besar di Banger, Shinta."

"Tapi saya menjadi gundik, Bu." katanya meyanggah, air matanya kembali jatuh. Shinta tidak sanggup menahan malu apalagi di depan teman-temannya nanti. Sudah bicara besar tentang gerakan Revolusi Prancis di Hindia Belanda, lalu sekarang malah menjadi gundik dari seorang Eropa.

"Jangan kau pikir Bapakmu sebagai pria tidak punya tulang punggung, Shinta." kata Ibunda mengelus pucuk kepala puterinya. "Mereka janjikan Bapakmu naik pangkat."

"Mau naik setinggi apa lagi? Bapak kan sudah jadi Bupati,"

"Ibu harap kamu tidak lupa ada hutang yang harus Bapakmu bayarkan."

Shinta terdiam merapatkan bibirnya. Tidak, Bapak adalah orang jujur. Bukan seseorang yang akan tega mengorupsi bayaran para Pribumi. Shinta tahu itu. Ia yakin Bapak pasti dijebak oleh Eropa. Namun tiada bukti yang bisa ia gunakan juga membuat Shinta marah. Marah pada dirinya sendiri, marah pada keadaan, marah pada pendidikannya yang seakan sia-sia, marah akan semuanya.

"Nanti Bapak antar kamu ke kediaman Tuan Euginius, kamu—"

"Saya tidak ingin dengar."

Shinta segera bangkit tanpa ingin mendengar ucapan ibunya. Gadis itu mengambil kopor besi miliknya dan segera beranjak pergi. "Saya pamit, Bu."

"Tunggu Bapak—"

"Tidak perlu."

Shinta segera meninggalkan kediaman Bupati. Ia segera memesan sebuah kereta kuda yang kebetulan melintas di depan kediaman. Kediaman Tuan Euginius, Shinta menyebut tujuan itu pada sang kusir. Dan kereta kuda itu pun melintasi jalanan sore hari.

Hangat sinar matahari mengusap kulit Shinta. Ia memejamkan mata dan membiarkan rasa hangat bermekaran dalam hatinya. Tuan Euginius.

Keputusan yang diambil Shinta untuk tidak menyanggah perdebatan semalam di ruang makan bukanlah keputusan gegabah. Shinta sudah pernah bertemu Tuan Euginius saat usianya 15 tahun. Semuanya masih tergambar jelas di ingatan Shinta. Pemandangan lahan rakyat, senyum hangat Kinasih, dan tentunya pria Eropa itu, Thomas Euginius.

Shinta masih ingat jelas bagaimana pemandangan Tuan Euginius keluar dari lumbung dengan diiringi orang-orang di belakangnya, seakan ia adalah kepala pemerintah. Entah apa tujuan dari kunjungannya ke sana, tapi Shinta masih ingat dagu tajam yang terangkat itu. Shinta hanya bisa menatap diam saat Tuan Euginius tiba-tiba menghentikan langkah dan menoleh.

Derap suatu Tuan Euginius yang mendekat. Debar jantung yang tidak takut pada sorot mata Eropa itu. Mata yang tidak pernah lepas dari iris kecoklatannya. Tuan Euginius tersenyum.

"Bukankah ini takdir? 300 tahun aku menunggu, lalu kita kembali bertemu, di sini, di tanah ini. Bukankah kita memang pasangan yang ditakdirkan Semesta?"

Shinta terdiam saat itu, tidak terlalu mengerti. Ia hanya terdiam dengan pandangan lurus yang terpaku pada Tuan Euginius. Waktu seakan berhenti saat itu, suasana jadi sangat hening walau pemandangan para petani itu masih tergambar jelas.

"Sampai jumpa, Shin. Kalau tidak hari ini, Fortuna akan selalu membawamu kembali padaku."

Shinta hanya mengangguk saat itu, entah anggukan yang setuju akan apa, atau aggukan patuh begitu saja. Shinta melakukannya spontan, ia juga tidak tahu mengapa.

Tuan Euginius kembali tersenyum selama beberapa saat sebelum akhirnya pergi dengan kereta kudanya. Pemandangan itu membuat Shinta menangis, matanya menghangat dan satu air mata lolos membasahi pipi. Entah untuk apa, dan karena apa.

Shinta tersadar dari lamunan saat keretanya melewati jalanan berbatu. Shinta sadar ia baru saja menangis lagi, entah untuk apa. Saat itu juga Shinta segera menghapus air matanya dengan hati yang terus bertanya: apa Tuan Euginius yang akan ia temui masih sama dengan Tuan Euginius yang kutemui saat berusia 15 tahun?

Shinta ingin segera melihatnya.

Walau itu mempertaruhkan harga dirinya dia atas kereta sewaan ini.

Air mata Shinta kembali jatuh, kini membasahi kopornya. Ia mulai panik dan segera mengusap pipinya yang basah. Namun tangisan itu berubah menjadi isakan pedih. Shinta hanya bisa berdoa semoga kusir tidak dengar. Meener Julio pasti malu melihatnya jadi seperti ini.

Shinta memutuskan untuk mendongak, berharap itu bisa menghentikan air matanya. Dan di saat yang bersamaan, pandangan gadis itu terhenti pada cahaya matahari senja yang berhasil menembus sela pohon rindang yang sudah sangat tua. Cahaya itu menimbulkan rasa hangat, sesaat.

Hangat.

Hangat yang seperti Tuan Euginius. Seperti senyumannya. Seperti mentari senja yang hangat. Shinta tidak dapat membayangkan bila Batara Kala membuat Tuan Euginius terhambat dalam menemuinya. Mungkin Shinta akan jadi seperti hujan, yang dingin, sedih, tanpa tahu kapan akan selesai.

Tuan Euginius, Shinta datang menemuimu.

Entah bagaimana ia mengetahui nama Shinta saat itu. Tapi sebagai calon gundik, Shinta ingin meminta Tuan Euginius untuk mengajarkan tentang musim yang ada di Eropa sana. Meener bilang Eropa punya empat musim. Shinta ingin mengenalnya semua. Itu pun kalau sikap ingin tahunya tidak terlalu lancang.

Pula, Tuan. Shinta ingin tahu. Shinta ingin tahu dari mana dasar rasa bahagia dan hangat yang selalu datang saat mengingat Tuan. Juga untuk dingin yang menusuk belikat saat bisikan Tuan yang mulai bicara soal perpisahan.

Shinta ingin tahu semuanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status