TEARS of WITNESS
TEARS of WITNESS
Author: ADRI AUSTIN
LAST DUTY

Udara malam yang dingin menyatu dengan gumpalan kental dari hembusan napas Eden, yang siap membidik target dari jarak 800 meter berada satu garis lurus di atas atap gedung 45 lantai. 

Sebuah senjata laras panjang yang terkenal dengan sebutan one shoot one kill, menghunus ke arah target dari celah-celah besi pembatas. 

Dari lubang scope 8x maksimum, Eden dapat melihat sasaran dengan jelas. Sementara jari sudah siaga, siap menekan pemicu tembak. 

Eden menghembuskan napas kembali, membuat dirinya tenang agar lesatan peluru tidak meleset.

"Mahal sekali harga kepalamu, Tuan Rey," gumam Eden.

Sebagai pembunuh bayaran yang dingin dan profesional, Eden tidak pernah gagal dalam melakukan misinya. Dan Eden, tidak pernah tersentuh oleh pihak penanganan tindak kriminal yang sudah dibuat pusing karena ulahnya. 

Dia sangat licin, cerdas dan juga pandai menyamarkan dirinya di antara masyarakat umum. Hampir tidak ada yang tau siapa pelaku penembak misterius yang bisa menembuskan timah panas di tengkorak kepala dengan jarak lebih dari 800 meter. Sampai-sampai, julukan Ghost Assasins melekat pada dirinya. 

Eden melirik jam G-Shock yang melingkar di pergelangan tanganya. Akan tetapi, intaian mata satunya masih cukup tajam memaku pada sasaran yang masih menikmati makan malam bersama keluarganya itu.

Ini adalah korban ke-121, Eden selalu mencatatnya dalam daftar pribadi untuk dia koleksi. 

Detik berlalu, tepat di mana jarum jam menunjuk pada angka 9 lewat 10 menit, Eden melepaskan timah panas itu. Melesat cepat tak terjangkau oleh mata.  

BRUAK! 

Target jatuh seketika, semua orang berteriak histeris. Mereka panik. Dan pengamanan pun mendadak ketat.

Pemilik perusahaan Calagher Coorporation Group mati dengan berceceran darah di atas meja makan. 

Eden merapikan senjata kembali masuk ke dalam boxnya. Dan kemudian, dia bergegas keluar dari tempat itu dengan tenang. 

Sangat tenang. Eden berjalan santai di antara banyaknya orang di sekitaran. Lalu, dia memasuki mobil yang terpakir tidak jauh dari gedung tempatnya mengeksekusi korban. 

KRING! KRING! 

Eden menjawab telpon masuk, tanpa menyapa si penelpon. 

"Aku sudah mendengar berita kalau Rey sudah mati. Kau akan terima sisa pembayaranmu sebentar lagi yang akan aku kirim ke rekeningmu. Dan ingat, hancurkan semua bukti. Jika kau tertangkap kau tau apa yang harus kau lakukan," kata seseorang di seberang telpon. Dan kemudian telpon itu terputus. 

Eden membuka penutup baterai ponsel, lalu mencabut kartu sim pada telpon genggam dan kemudian mematahkanya. Ponsel pun dibuang oleh Eden. 

Di ponsel lain, Eden menerima pesan masuk, sebuah pemberitahuan kalau sejumlah uang sudah terkirim ke rekeningnya. Eden tersenyum tipis. Mobil yang dikendarai Eden pun melaju cepat. 

****

SATU MINGGU KEMUDIAN

Seorang perempuan berlari dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat. "Aku harus bersembunyi," ucapnya, dengan bibir yang bergetir. 

Bola mata gadis itu menangkap ada sebuah bak sampah umum. Tak ada pilihan, gadis itu pun masuk ke dalamnya. Dia menutup hidung lantaran bau menyengat tak sedap dirasa. 

"Kemana perginya dia!" Seseorang terlihat kesal, berbicara kepada rekanya. 

"Mungkin ke arah sana, Bos," sahut rekanya, sambil menunjuk pertigaan yang ada di depan jalan. 

"Ayo cari! Jangan sampai dia lolos!" perintah laki-laki yang mengenakan jas hitam, yang merupakan bos dari 4 pria yang mengikuti arahanya. 


Katnis mengintip dari balik tempat persembunyianya. Dia menghela napas lega setelah melihat satu persatu para pengejarnya sudah menjauh dari area persembunyian. "Sepertinya mereka sudah pergi," gumam Katnis. Dan kemudian, Katnis pun keluar dari bak pembuangan sampah. 


Bersamaan kakinya yang baru saja menapak di aspal, seseorang secara tiba menarik rambut Katnis.

"Hahaa. Mau lari kemana kau?" 

"Ling, tolong lepaskan aku. Aku tidak mau kembali ke tempat itu lagi," pinta Katnis. 

"Enak aja kau mau pergi begitu saja! Kau itu perempuan pelacur! Tempat kau di sana!" Sahut Ling lantang. 

"Ling tolong ... Aku tidak mau bekerja seperti itu ... " 

"Nggak bisa!" Pria yang dikenal sebagai algojo dari tempat Katnis bekerja, menarik paksa Katnis. Dia menggiring Katnis. 

"Ling lepaskan aku!" Katnis mencoba meronta. Namun percuma, karena tenaga Ling lebih kuat darinya. 

"Ling ..." 

"Jangan banyak bicara kamu!" Ling menampar Katnis. Hingga mulut Katnis luka dan meneteskan darah. 

Sesampainya di Bar Keli, Ling menghempaskan Katnis dengan kasar kehadapan si pemilik Bar. 

Dia mencengkram wajah Katnis dan menatapnya tajam. "Berani kau lari dariku, perempuan jalang!" Ucapnya tajam. 

"Tuan Key, tolong lepaskan aku ... Aku tidak ingin bekerja di sini ... " mohon Katnis lirih. 

PLAK! 

Tuan Key menampar Katnis keras, sehingga menambah luka di bibir Katnis. Katnis menangis, merintih menahan sakit. 

"Kau itu sudah diberikan oleh keluargamu sebagai penebus hutang. Jadi kau milikku!" 

"Tuan, aku janji akan membayarkan hutang-hutang keluargaku. Kasih aku waktu." 

"Iya, kau akan membayarkan hutang-hutang keluargamu dengan bekerja sebagai wanita malam di sini. Hahha." Tuan Key terkekeh. 

"Bawa dia ke dalam! Suruh dia bersih-bersih!  Malam ini sudah ada pelanggan yang menginginkanya!" perintah Tuan Key kepada anak buahnya. Katnis pun digiring paksa. 

"Tuan lepaskan aku! Aku tidak mau bekerja menjadi perempuan pemuas napsu!" 

"Diam!" Bentak anak buah Key, sambil menggiring Katnis dengan kasar. 

Tidak ada hasil apa-apa dari permohonan Katnis. Dan kemudian, Katnis dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang banyak dikenal orang adalah kamar mandi bersama. "Waktumu 30 menit," ucapnya. Lalu Katnis didorong masuk ke dalam kamar mandi. 

Rupanya, Katnis tidak sendiri. Ada beberapa perempuan lain yang juga sedang membersihkan diri. Namun bedanya, wajah mereka ceria dan nampak bahagia, berbeda dengan Katnis yang sangat terlihat ketakutan. 

Seorang perempuan menatap Katnis sinis. "Kau anak baru?" Tanyanya. 

Katnis menangguk. 

Lalu, semua wanita yang ada di tempat ini pun terkekeh. Entah apa yang mereka tertawakan? Dan itu hanya membuat Katnis semakin takut. 

"Sebaiknya kau cepat membersihkan dirimu sebelum Tuan Key naik pitam," ujar gadis yang wajahnya mirip perempuan asia tengah itu, mengingatkan Katnis. 

Dan tidak ada pilihan, Katnis pun mencoba mengguyurkan air ke tubuhnya secara perlahan dari ujung kepala hingga ujung kaki. 

30 menit kemudian, Katnis sudah tampil berbeda dari sebelumnya. Tubuhnya sudah dibalut kain tipis yang indah dan juga wangi. Dan kemudian, Katnis menemui Tuan Key. 

Mata Tuan Key berbinar menatap Katnis yang sudah terlihat lebih menggoda dari sebelumnya. 

"Aku tidak mengira kau akan secantik ini. Kau akan membuatku kaya. Hahaha," ungkapnya, sambil terbahak. 

Katnis menggigil. Dia sangat katakutan. Sebagai seorang mahasiswi, dia tidak pernah menduga akan berakhir di tempat seperti ini. Apalagi, kehormatanya akan terenggut oleh pria-pria hidung belang. 

"Bawa dia ke ruang VVIP di lantai 30!"  perintah Key kepada anak buahnya. 

Anak buahnya pun gegas mengikuti perintah bosnya itu. 

"Selamat malam Tuan, ini perempuan yang anda inginkan," kata Ling, setelah berada di ruangan tamu. 

"Emm." Pria itu hanya berdehem. Lalu Ling meninggalkan Katnis bersama pria asing. 

Katnis gelisah. Rona wajahnya memerah.  Tanganya tidak pernah lepas dari menutup kedua dadanya. Karena pakaian yang Katnis kenakan sangat terbuka. Sehingga membuat dia risih. Sementara, pria yang wajahnya nampak tampan namun dingin terlihat santai menikmati Wine merah. 

Dan kemudian, pria itu meletakan sebuah pistol kecil di atas meja. Membuat Katnis terbelalak. 

"Apa yang akan kau lakukan, Tuan?" Tanyanya, dengan suara pelan. 

Pria itu tidak menanggapi. Lalu, dia mengokang senjata api laras pendek setelah memasukan peluru ke dalam slongsongnya. Itu membuat pikiran negatif Katnis semakin mendominasi. 

"Pakai itu dan ikuti aku!" perintahnya. Katnis menerima jaket pemberian dari pria asing tersebut, lalu memakainya.

Dan kemudian, pria itu menggandeng Katnis lalu berjalan keluar dari ruangan. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status