Share

FATE 5: Omega yang Membutuhkan Alpha

Heat.

Siklus yang hanya dialami oleh para omega--terjadi setiap satu bulan sekali dan berlangsung kurang lebih satu minggu lamanya. Saat heat, hasrat omega untuk disetubuhi hingga kadang kala 'secara pasrah' ingin dihamili, terutama oleh para alpha meningkat berkali lipat. Karena ketika mengalami heat, peluang untuk hamil--terlebih bagi omega laki-laki, amatlah sangat besar persentasenya. Meski sering kali mereka kehilangan kontrol diri, sekadar peduli tentang betapa mereka ingin dicumbu serta diajak bercinta demi memuaskan birahi yang tak terkendali.

Bagi omega yang tengah dikuasai heat tetapi di lain sisi telah mempunyai pasangan atau bahkan cukup berani mencari 'pertolongan' dari pihak luar sekalipun itu uluran tangan milik orang asing, maka mereka dapat mengatasi siklus itu secara mudah tanpa perlu merasa tersiksa dan menderita seorang diri. Berbeda dengan para omega yang dirumahkan sewaktu terkena heat--mereka yang tak berkeinginan untuk melakukan seks bebas demi kepuasan sesaat yang pada akhirnya hanya akan mengundang penyesalan. Mereka yang walaupun dirundung kesakitan dan seakan-akan nyaris mati disebabkan nafsu yang tak sepenuhnya dapat disalurkan, tapi tak memiliki pilihan selain menerima keadaan.

Salah satu dari golongan omega itu adalah Feryan Feriandi. Yang sekarang ini tengah dikurung di dalam kamarnya, diamankan sedapat mungkin agar feromon omega yang disebarkannya tetap berada di satu titik tanpa perlu menjangkau orang lain di sekitaran.

Desyana Ayudiah secara kuat memegangi gagang pintu, yang walaupun sudah dikunci dari luar, akan tetapi terus coba dibuka paksa mati-matian oleh putra tunggalnya. Teriakan marah, nada memelas minta dibebaskan tak dihiraukan. Selalu, setiap kali masa heat Feryan menyerang dan menghilangkan kewarasannya.

"Gue butuh alpha! Tolong, buka pintu ini! Buka cepetan, setan! Akh! Gue butuh mereka!"

Omega laki-laki itu tampak kacau. Rambutnya berantakan, peluh menjejaki nyaris setiap titik di badan lantaran dirinya tak henti berusaha 'melegakan' hasrat yang kini sedang membuatnya gila. Sebelah tangannya bergerak naik turun di area kemaluan, sementara satu tangan yang lain jemarinya bermain-main di area lubang analnya yang basah nan licin dari pelumas alaminya selaku seorang omega. Telapak tangan maju-mundur bersamaan dengan dua jari yang keluar-masuk demi menyentuh titik nikmatnya yang berada di dalam sana. Mendesah parau sembari sesekali terisak-isak.

Memohon agar seorang alpha datang untuk membantunya. Berharap akan ada sosok alpha yang bersedia mengurangi beban dari dorongan birahinya yang kian menyiksa. Walaupun dia disetubuhi tanpa henti sampai dihamili, Feryan yang tengah dikuasai heat tak mungkin ambil peduli karena yang dipikirkannya hanyalah supaya terbebas dari belenggu nafsu terkutuk ini.

"Alpha. Siapa aja, tolong gue. Gue butuh seseorang," mohonnya dengan sorot nanar dan menerawang selepas orgasmenya yang ke sekian kali datang.

___ P Α S Ω ___

Setya menghentikan laju motor setibanya di area parkiran kampus. Memperhatikan helm yang berada di antara kedua kaki, lalu mengembuskan napas lesu kala teringat pesan yang disampaikan ibu Feryan ketika dia berniat menjemput.

"Fery sedang dalam masa heat, Nak Setya. Sudah mulai sejak tadi malam. Sepertinya hormon omeganya sedang meningkat pesat dan bikin heat-nya datang lebih cepat. Nggak usah khawatir. Mulai minggu depan dia akan berangkat kuliah lagi, kok. Pihak kampus juga sudah tante hubungi. Nanti tante minta tolong seperti biasa aja. Bantu catatatkan isi mata kuliah untuk Fery supaya dia nggak ketinggalan materi dari kelasnya, ya."

Dia mendecak. Baru hendak melepaskan helm ketika ponselnya memperdengarkan dering tanda panggilan masuk. Ketika ponsel diambil, Setya sontak dibuat kebingungan mendapati nomor tak dikenal yang terpampang di layar. Ragu-ragu dia menggeser tombol jawab ke atas untuk menerima panggilan setelah itu menekan tombol loudspeaker.

"Halo?"

Satu detik, dua detik, tak ada jawaban.

Hingga tiba-tiba sebuah sapaan terdengar dari belakang yang bersahutan dengan suara dari corong ponsel miliknya. "Good morning, Surya."

Setya sigap menolehkan kepala. Memberikan tatapan sinis pada Ervano Johannes yang tersenyum puas padanya sambil memegang ponsel di tangan kanan.

"Surya itu siapa, ya?" tanya Setya mendesis sembari memutus panggilan lantas menyimpan ponselnya lagi. Disusul membuka helm yang selepasnya diletakkan di atas spion.

Senyum Ervano luntur sebab sadar bahwa nama yang tadi disebutnya salah. "Emm, Seiya?"

"Elo pikir gue judul anime tahun 90-an apa!" respons beta itu sambil turun dari kendaraan miliknya.

Dari belakang, alpha bertubuh tinggi ini sigap mengekori. "Then, boleh gue tau nama belakang lo?"

"Buat apa?" Setya melirik penasaran.

"Soalnya gue agak susah buat nginget dan nyebut nama depan orang."

Penjelasan itu membuat Setya menghentikan langkah lantas berbalik hingga Ervano refleks melakukan hal serupa. "Apa susahnya nyebut nama Setya, doang? Kecuali nama gue Schwarzenegger Zuckerberg, wajar aja kalo itu bikin elo kesusahan."

Kernyitan tebal muncul di dahi sang alpha setelah nama tadi perlahan merasuk ke memorinya. "Dua nama yang lo sebut tadi nggak bisa nyangkut sama sekali ke daya ingat gue," ujarnya sambil menggelengkan kepala.

Pemuda lebih pendek itu menghela napas, mendongak dengan posisi kepala lebih tinggi sebelum mengintsruksikan, "Coba ikutin gue. Sebut nama gue tiga kali. Setya, Setya, Setya. Ayo!"

Segera dituruti tanpa tanpa bantahan sama sekali. "Setya, Setya, Setya."

"Nah, sekarang ulangin!"

"Surya, Serya, Cintya," sebut Ervano, agak kebingungan dan asal-asalan.

Hening menggantung beberapa saat sebab Setya tengah berusaha mencerna momen menggelikan di depan kedua mata.

"Elo, bener-bener gak bisa nyebut nama depan?"

"Yup."

"Coba sebutin nama lo sendiri," tantang sang beta masih tak menyerah.

"Erzano Johannes. Oh, wait. Tapi itu bukan nama gue," ungkap Ervano santai saking sudah terbiasa.

Tak ayal Setya mengusap wajahnya sendiri lantaran merasa frutrasi. Kegilaan alpha di depannya ini sungguh tidak tertolong. "You're totally and absolutely weird."

Cengiran lebar diberikan. "I know that. So, what is your last name?"

"Febrianu." Dan pada akhirnya Setya menyerah, setelah itu lanjut melangkah masih dengan sosok Ervano yang membuntuti.

"Febrianu. Febri? Okay. Start from now, I'll call you Febri. Nama lo kedengeran enak banget buat disebutin."

Setya mengernyit. Baru menyadari sesuatu yang penting yang alhasil menghentikan lagi laju kakinya. "Wait." Sekali lagi menghadap alpha bertubuh menjulang di belakangnya yang lagi-lagi juga ikut berhenti berjalan. "Elo nyebutin nama depan gue nggak becus, terus gimana caranya elo nyimpan nama kontak gue?" tanyanya secara serius karena tak sanggup membayangkan apabila nama kontaknya disimpan menggunakan nama orang lain yang entah siapa. Apalagi Surya. Sungguh tak dapat diterima.

Ervano melirik ke arah lain sembari malu-malu mengakui, "Belum gue simpan. Soalnya nomor elo baru aja gue berhasil hubungin tadi setelah nyasar ke beberapa nomor orang lain."

Penjelasan itu membuat Setya tercekat seperkian detik, sampai kemudian suara tawanya meledak. "Hahaha!"

Ditertawai begitu, jelas saja Ervano merasa kian jengah. "That's not funny, you know. Elo nggak tau aja tadi gue sempet dibentak juga sama suara bapak-bapak yang ngira gue mau nagih hutangnya lagi. Damn," katanya seraya menutupi sebelah muka.

Beta ini memukul-mukul dada bidang alpha di hadapannya dengan gemas. "Elo ini bener-bener ajaib, ya. Buat nyebut dan ngingat nama depan orang belepotan, tapi ngingat sembilan angka yang kemarin gue kasih malah lancar-lancar aja," selorohnya lantas kembali lanjut melangkah.

"Meskipun gue aneh, gue jelas tetap punya inteligensi."

Setya manggut-manggut. "I can see that. You're an alpha anyway."

Ervano menyipitkan mata. "Is that a compliment? Thank you."

"You wish," sembur Setya seraya menahan putaran bola mata.

Raut kecewa sontak terlihat. "But, why? Padahal gue kira elo--"

"Di sini elo rupanya!" Saga muncul bersama Dyas dan langsung menghadang langkah dua orang yang tengah asik berbincang sebagai kawan baru itu. "Gue sama Dyas nyari-nyari elo dari tadi. Ternyata elo lagi sama, Beta ini." Sosok Setya ditatapnya sekilas sebelum gantian melirik sang kawan. "Sejak kapan kalian punya hubungan istimewa?" tanyanya antara menyindir dan penasaran.

Secara sengaja Ervano membawa Setya ke dalam rangkulannya. "You'll never know."

"Singkirin tangan lo!"

Tangan itu ditarik kembali secara sigap sesudahnya. "Okay, Febri. Sorry."

Saga menelengkan kepala lalu menoleh ke sana-kemari, mencari-cari keberadaan satu sosok lain yang seharusnya ada di antara mereka. "Elo sendirian? Tumben."

Dyas dan Ervano kompak berdeham, membuat Saga refleks tersengih pada mereka.

Sedangkan Setya sekadar menunjukkan raut geli di wajahnya. "Tinggal bilang elo mau tanya Feryan ada di mana apa susahnya," ungkapnya lantas meneruskan, "Dia lagi kena heat. Jadi selama beberapa hari ke depan dia bakalan cuti kuliah sampe heat-nya berhenti."

Terang saja Saga terkejut mengetahui hal itu. "Is he gonna be okay?" Pantesan aja chat gue juga belum dibalas lagi sama dia sejak tadi. Gumamnya.

Setya mengangguk meyakinkan. "Don't worry. He'll be fine. Ada ibunya yang ngejaga Feryan di rumah selama dia heat, kok," jelasnya sembari melirik waktu pada jam tangan. "Nah, cuma itu informasi yang bisa gue kasih tau ke elo. So, I'm gonna go now," pamitnya yang lalu membalikkan badan terlebih dulu sebelum memutuskan pergi, "And you, don't follow me. Stay here. I have no interest in keeping a human pet."

Diberi peringatan macam itu justru membuat Ervano semakin kegirangan. Ditatapnya sosok Setya yang kian menjauh dengan sorot memuja. "Woaaah. He's really cool. I want him to step on me."

"Dude, seriously?" Dyas melirik risih.

Sementara Saga masih tidak mampu berhenti memikirkan fakta tentang Feryan yang tengah mengalami heat. "So, he's in his heat period now. Should I visit him?"

Pertanyaan yang Saga desiskan itu kontan saja membuat kedua kawannya mendelik ngeri.

Dyas menghela napas lelah. "You too, dude. Beneran deh, kalian para alpha ini kalau mulai dimabuk cinta apakah harus juga sekalian membuang akal sehat?" sindirnya sambil menggelengkan kepala masygul.

Ervano mendecak lantas ikut menimpali, "Saga, elo bahkan baru kenal Taryan--"

"Feryan!" Dyas mengoreksi tanpa kelupaan.

Dibalas gumaman malas oleh sang kawan tukang salah sebut nama depannya. "Ya, pokoknya dia! Elo 'kan baru kenal omega itu beberapa hari ini, dan elo udah ada niat buat ngehamilin dia? Bro, you're unbelievable," ucap Ervano antara berniat memuji sekaligus merendahkan.

"What? Siapa juga yang punya niatan ke sana!" Saga berdalih sambil memutar bola mata.

Yah, tak dipungkiri sedikit sekali niatan itu memang tengah menggodanya. Akan tetapi, Saga tetap berusaha mempertahankan kesadaran dan kewarasan dirinya. Sebab apabila dia gegabah, bisa-bisa dirinya hanya akan dirundungi risiko yang tak main-main.

Dyas membetulkan letak kacamatanya. "Ya udah. Kalo gitu elo cukup diam aja sambil nunggu sampe omega itu balik ke kampus. Jangan nekat atau itu malah bikin kalian berdua berada dalam bahaya."

Komentar itu ditanggapi helaan napas lesu. "I'm just worried about him, okay? Siapa yang tau alpha buas macam apa yang ada di sekitarnya dan bisa jadi akan nyerang dia kapan aja," ujar Saga seraya memasukkan kedua tangan ke kantung jeans. Mencoba kelihatan tenang demi menutupi kalut yang mungkin saja diperlihatkan.

Ervano menyahut cepat, "Dan alpha paling buas yang elo sebutan itu udah ada di sini." Hidung besarnya bergerak menunjuk Saga secara sengaja. "So, rest assured. He's totally gonna be fine."

Putaran bola mata itu muncul untuk ke sekian kali. "Will you guys shut up?"

Dua kawannya terkekeh puas. "Yah, beda kasusnya andaikan omega incaran lo ini ternyata udah punya pacar yang bisa diajaknya buat--"

"Nope." Saga memotong kesimpulan yang berniat Dyas tuturkan. "Gue yakin dia single."

"Kenapa elo bisa seyakin itu?" Mata Ervano menyipit, tertarik ingin tahu lebih jauh.

"Karena dia nggak menarik, berisik, dan nyebelin. Gue rasa, alpha mana pun nggak ada yang akan suka ke dia."

"Kecuali elo?" Kompak Dyas dan Ervano bertanya karena jawaban yang disuarakan sang kawan berbanding jauh dari segala hal yang telah mereka saksikan.

"Well, yes." Saga menganggukkan kepala sedetik setelahnya.

"Suit yourself, Dude. Elo bener-bener udah mulai bucin sama male omega itu."

"You think so?" Saga mengernyit mendengar komentar dari kawan alphanya ini.

Ervano mengangguk-angguk. "Yup. Your whole face totally screaming the word about how much you want to impregnated him. Aww. I'm just joking, okay!" Dia lalu menggosok-gosok tulang keringnya yang barusan mendapatkan tendangan.

"Whatever!" ucap Saga yang kemudian mulai melangkah diikuti dua kawannya yang sempat menertawai reaksinya.

"So, it means you're really serious about him?"

Pertanyaan Dyas dijawab lugas. "No doubt."

"Good luck for you, Brada!"

Dukungan dari Ervano dibalas langsung olehnya. "You too."

"Thanks. But for what?" Ervano malah balik bertanya.

Saga terkekeh. "Don't play dumb. You also have a thing for that beta, right?"

Ditanyai begitu sontak membuat wajah girang Ervano berseri lagi. "Oh, yeah. You're right. Elo gimana, Dyas? Apa nggak ada seseorang di luar sana yang lagi lo incar?"

Dyas yang gantian ditanyai menjawab malas, "Buat gue bunuh? Ada. Kalian berdua!" jawabnya seraya melipat kedua tangan di depan dada.

Bukan tanpa alasan. Bagi sang beta berkacamata, tingkah laku dua kawan alphanya yang sedang dimabuk cinta ini sungguh luar biasa mengesalkan baginya.

"Aww. Come on, man. Gue yakin suatu hari elo juga bakal ketemu sama belahan jiwa lo."

Kata-kata Ervano malah membuat Dyas merasa semakin muak karena dirinya sama sekali belum memikirkan hal semacam itu. "Stop spouting nonsenses. Kalian urus aja kisah percintaan kalian sendiri. I'm rooting for you guys from here."

Saga tersenyum mendengar kalimat tulus dibalut nada sinis itu.

Sementara Ervano menunjukkan ekspresi terharu yang berlebihan, setelahnya memberi pelukan kepada sang kawan. "Aww, Dyas. Even if you can't found your true love, you have to know that I will always love you, Man."

Diberi ungkapan demikian serta menjadikan mereka berdua pusat perhatian jelas saja membuat Dyas hilang kesabaran. "You gross me out, Vano. Stop it already!" Dia menghajar selangkangan Vano tanpa ampun menggunakan lutut.

Saga meringis nyeri sambil tertawa.

Sedangkan Ervano membungkuk lemas, memegangi bagian tengah tubuhnya seraya merintih panjang. "Ouch! My asset of future. My poor little Johannes."

Meski pada kenyataannya, tiga sekawan ini selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang-orang di sekelilingnya ke mana pun langkah membawa mereka. Terutama alpha yang selalu menjadi pusat utama dari setiap pandangan; Juanda Saga Fransiskus. Ketika dia mulai tersenyum atau menunjukkan aura mendominasinya sebagai alpha, para omega seolah-olah siap bertekuk lutut di kakinya, rela melakukan apa pun untuknya hingga berharap dapat menjadi satu dari sekian peran dalam hidupnya walau sekadar sebagai orang yang disapa dalam sekali kedipan mata. Sayangnya, orang-orang ini tidak tahu saja bahwa alpha popular pujaan mereka telah memiliki satu nama yang terus dipikirkan olehnya tanpa henti. Bahkan sampai detik ini.

___

Saga duduk di tepi ranjang. Sambil menggosok-gosokkan handuk di rambut, dia juga terus-terusan mengetuk ibu jarinya ke layar ponsel. Menimbang-nimbang tentang haruskah dirinya menghubungi Feryan ataukah tidak. Karena chat yang sejak pagi tadi dikirimkan olehnya sudah tak terhitung kali tidak mendapatkan satu pun respons, yang tak ayal membuat dia khawatir. Selain itu, dirinya juga tidak terlalu tahu banyak hal mengenai kondisi apa yang akan dialami oleh omega ketika heat mereka tengah melanda.

Apakah serupa ketika para alpha seperti dirinya mengalami rut? Atau bisa jadi, lebih parah?

Pemuda ini sejak kecil tumbuh dan menjalani kehidupan dengan dikelilingi oleh para alpha serta beta. Dan itu membuatnya kekurangan informasi mengenai omega. Mencarinya di internet pun tak banyak membantu sebab dirinya belum pernah menyaksikan langsung menggunakan kedua mata. Bagaimana seorang omega berjuang mengatasi siklus heat yang mendera tubuh mereka. Yang mana, itu jelas mustahil dapat dilakukan karena risiko yang akan ditanggungnya amatlah luar biasa.

Handuk dilemparkan ke sofa, sesudah itu Saga duduk bersandar ke ujung ranjang king size-nya sambil menekan-nekan layar ponsel. Entah akan seperti apa hasilnya, saat ini yang dirinya inginkan hanyalah memastikan bahwa Feryan tengah baik-baik saja.

Panggilan telepon yang dilakukan oleh Saga langsung tersambung. Menggugah kesadaran pemuda omega yang berbaring lemas di sudut kasur yang berantakan. Nama 'Alpha Bangsat ಠ益ಠ' muncul di layar ponsel yang perlahan diraih dengan sebelah tangan gemetar. Matanya nanar, antara sadar dan tidak sadar dirinya memutuskan untuk menjawab panggilan itu.

Saga tercekat tatkala panggilannya mulai diangkat. "Halo, Ryan? Are you--"

"Tolong gue."

Jakun itu seketika naik turun dengan bulu kuduk yang serta-merta meremang menangkap bisikan berupa desahan dari seberang sana. Tanpa dapat dikendalikan, bagian tengah tubuhnya langsung bereaksi dan terlihat menonjol di balik celana piyama yang dikenakan.

"Tolong gue. Haaa. A-ah!" Feryan mendesah sambil merengek, sementara jemari tangannya sudah saja bergerak di area lubang analnya. Mulai melakukan sesi masturbasi entah untuk yang ke berapa kali hari ini. "Alpha, tolong gue."

Saga mengumpat tertahan sebelum akhirnya mengambil keputusan yang terbilang gila, tapi tak pula memberinya banyak pilihan. Dia perlahan menurunkan celana, kemudian berkata, "I'll help you. It's okay. Gue ada di sini sama lo, Ryan. You're not alone."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Pluie El Khotim
ugh kagum ma saga
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status