Share

STOP BULLYING!

              Shassy yang melihat wanita itu pun terkejut dan segera membuka lebar-lebar pintu ruangan  yang ada di dekatnya itu. 

Shassy pun melihat wanita tersebut sedang tersungkur di lantai, dengan beberapa luka memar di tubuhnya.

"Apa yang kalian lakukan!" teriak Shassy pada 2 orang laki-laki yang ada di dalam ruangan itu.

Kedua laki-laki itu pun segera menatap ke arah Shassy yang hanya menggunakan handuk di tubuhnya.

"Nah, kalau ini ... baru yang namanya pelayan osen," ujar salah seorang laki-laki yang ada di ruangan tersebut.

"Kalian laki-laki bodoh, apa yang kalian lakukan ini sangat memalukan," ujar shassy sambil membatu karyawan tersebut berdiri dan  Shassy pun melangkah untuk mengambilkan kaca mata milik pegawai tersebut yang tergeletak di lantai, agak jauh dari tempat Shassy berdiri saat ini.

Ke dua laki-laki itu pun mendekat ke arah karyawan tadi, dan dengan cepat menarik rambut karyawan tersebut. "Wanita seperti ini mengganggu pemandangan saja."

Shassy pun segera menatap tajam laki-laki tersebut. "Kalian jangan keterlaluan!" teriak Shassy

"Maafkan saya Tuan, tapi saya yang di tugaskan untuk melayani kamar ini, dan tidak ada karyawan lain yang tersisa," sahut wanita tersebut,

"Lalu, apa kamu pikir, kamu itu pantas melayani kami?" 

"Saya tau saya tidak cantik, tapi ini sudah—"

"Kamu itu bukan tidak cantik, tapi super jelek," sela laki-laki tersebut, "Udah gemuk, buluk, keriting lagi, bagaimana tempat sebagus ini bisa mempekerjakan wanita buruk seperti kamu."

Wanita tersebut hanya terus menunduk, tak berani melawan.

Shassy pun mengepalkan tangannya. "Hei wanita bodoh!" teriak Shassy.

Wanita  itu pun  menatap ke arah Shassy.

"Kesini Kamu!" panggil Shassy

Wanita itu pun mendekat ke arah Shassy.

"Ini kaca matamu," ujar Shassy sambil memberikan kaca mata di tangannya pada wanita tersebut.

"Terima kasih Nona." 

Lalu wanita itu pun segera memakai kaca matanya, dan akhirnya bisa melihat Shassy dengan jelas.

Shassy pun menepuk pundak wanita tersebut dengan penuh tenaga. "Kamu itu sebagai wanita, jangan mau direndahakan, mengerti?" 

"Tapi, apa yang dikatakan oleh mereka itu benar. Saya sadar, kalau saya memang jelek." Wanita itu pun menundukkan kepalanya.

Shassy yang medengar ucapan wanita tersebut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan dengarkan mereka, Kamu itu cantik," ujar Shassy.

"Cih, cantik ...." Salah satu laki-laki itu menyahut dan menghina wanita itu lagi.

Lalu Shassy menatap ke arah 2 laki-laki yang ada di ruangan itu, penuh amarah. "Mereka itu buta, apa kamu percaya pada penilaian orang buta?"

Wanita itu pun menggeleng pelan.

Kedua laki-laki itu pun mendekat ke arah Shassy dan mencengkeram dagunya. "Hei wanita, beraninya kamu menghina kami."

Shassy lalu tersenyum sinis. "Lalu apa yang harus aku lakukan? memuji kalian? Laki-laki picik yang suka menghina, merendahkan, bahkan tega menganiaya wanita lemah."

"Pintar sekali mulutmu bicara," ujar laki-laki tersebut sambil semakin erat mencengkeram wajah Shassy.

Shassy pun dengan sekuat tenaga, menepis tangan laki-laki tersebut. "Jangan mengira semua wanita itu lemah, dan akan menerima begitu saja perlakuan kamu," ujar Shassy sambil menatap tajam laki-laki tersebut.

Laki-laki itu pun menyenggol temannya. "Yang seperti ini pasti asyik di ranjang, hehehe." 

"Kamu benar," sahut temannya.

    Kedua laki-laki itu pun segera mendekat pada Shassy, dan mencoba menyergap Shassy. Tapi dengan cepat, Shassy pun melawan.

Ia mulai menendang kedua laki-laki tersebut, dan juga memukul wajah salah satu laki-laki tersebut dengan vas bunga yang ada di dekatnya.

"Heh, dasar wanita liar. Jangan panggil aku Marko, kalau aku tidak bisa menaklukkanmu." ujar laki-laki tersebut sambil mengusap bibirnya yang meneteskan darah, akibat pukulan dari vas bunga yang ada di tangan Shassy.

**

               Di dalam ruangan yang sebelumnya, terlihat Keen, Raka, dan Liora sedang berendam dengan tenang menikmati relaksasi di dalam kolam tersebut. Beberapa pegawai  juga ada di dalam ruangan tersebut, dan kini terlihat tengah memijat kepala mereka bertiga.

 'Kemana wanita ini, kenapa lama sekali keluarnya,' batin Keen yang mulai gelisah, ketika menyadari kalau Shassy sudah lama pergi dari ruangan itu.

Keen pun akhirnya berdiri dan naik ke atas kolam.

"Kamu mau ke mana Keen?" tanya Raka yang kini masih menutup matanya, menikmati pijatan dari karyawan tempat tersebut.

"Aku mau keluar sebentar," jawab Keen dengan santai, sambil berjalan menjauh dari kolam tersebut.

            Keen yang sudah mengganti handuknya pun segera meninggalkan ruangan itu. 

"Di mana sih wanita itu?" gumam Keen sambil berjalan menyusuri lorong yang ada di tempat itu.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya Keen melihat ada salah satu ruangan yang terlihat ramai.

"Apa mungkin ... ah, tapi tidak mungkin," ujar Keen.

 Tapi, tiba-tiba ...

"Mampus gak Lo!" Terdengar teriakan dari dalam ruangan yang terbuka tersebut.

Keen pun bergegas pergi ke ruangan tersebut, dan ...

"Nona, tolong hentikan," lirih karyawan wanita tadi, yang terlihat ketakutan dan hanya bisa berdiri di pojokan ruangan tersebut.

"Heh, mampus gak Lo, dasar laki-laki jahat!" ujar Shassy yang kini tengah menendang laki-laki yang  tersungkur di depannya.

 Mata Keen pun membulat melihat kejadian tersebut. 

'Hah, wanita ini sungguh menarik,' batin Keen yang masih menatap Shassy dengan sebuah senyum tipis di wajahnya.

Tiba-tiba ...

"Wanita sialan!" teriak laki-laki lainnya sambil melemparkan sebuah vas bunga ke arah Shassy,

Shassy yang tak sempat menghindar  hanya bisa menutupi kepalanya menggunakan tangannya. 'Ah, bocor nih kepalaku,' batin Shassy sambil memejamkan matanya.

PYARRR! Terdengar suara vas bunga tersebut pecah.

'Eh, kok gak sakit,' batin Shassy.

Shassy pun membuka matanya dan menyadari ada orang lain yang  kini sedang berdiri di belakangnya dan melindungi dirinya.

 Shassy pun menoleh ke belakang, dan menatap sosok di belakangnya itu.

"Pak Keen," ujar Shassy.

Keen pun menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja melempar vas bunga itu. "Berani sekali kamu!" ucap Keen dengan nada mengancam.

Laki-laki itu pun terkejut ketika Keen mendekat ke arahnya. 'Tatapan ini ... ah, laki-laki ini pasti bukan orang biasa. Apa aku sanggup menyinggungnya.'

Nyali laki-laki itu pun semakin menciut ketika melihat Keen mengangkat kursi yang ada ruangan tersebut dengan ringan dan membawa kursi tersebut ke arahnya.

"Brakkk!" keen dengan sekuat tenaga melemparkan kursi tersebut ke arah laki-laki tersebut hingga kursi itu patah menjadi dua bagian.

"Akhhhh!" teriak laki-laki tersebut lalu tersungkur di lantai.

"Berani kamu menyakiti orangku! Apa kamu bosan hidup?" teriak Keen.

"Ampun Tuan, ampun," ujar laki-laki yang ada di depan Keen sambil terus memegangi tangannya, yang terasa seakan patah karena lemparan kursi dari Keen.

"Berdiri kamu!" bentak Keen.

Laki-laki itu pun segera berusaha berdiri dengan tubuh yang terasa seperti remuk itu.

             Keen pun mendekat kembali ke arah Shassy yang kini tengah melongo menatap dirinya.

"Apa masalah kamu dengan mereka?" tanya Keen.

Saat mendengar suara Keen, Shassy pun segera mengganti sikapnya.

"Ah, aku ...," ujar Shassy yang sempat melupakan masalah sebenarnya, "Itu, tadi mereka menghina karyawan itu," ujar Shassy sambil menunjuk ke arah karyawan yang meringkuk di pojokan karena ketakutan.

Keen lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil mengusap lembut salah satu sudut bibir Shassy yang memerah karena terkena pukulan saat berkelahi tadi.

"Isssh," desis Shassy.

"Sakit?" tanya Keen sambil menatap dalam-dalam wajah Shassy.

"Sedikit," jawab Shassy dengan canggung.

"Kalau Kamu tau sakit, kenapa kamu berkelahi?"

Shassy lalu mengerucutkan bibirnya. "Ya habis, mereka membully karyawan itu. Lihatlah, badannya terluka karena mereka."—Shassy menunjuk ke arah karyawan—"Apa karena wanita itu kurang menarik di mata mereka, jadi mereka  boleh menghina sesuka hati. Semua wanita itu cantik, dan berharga. Aku tidak bisa menerima hal seperti ini terjadi di depanku." 

Suara Shassy pun terdengar semakin lama semakin serak, dan seolah ingin menangis.

Keen pun segera memeluk Shassy, hingga akhirnya Shassy benar-benar menangis di dalam pelukannya.

*

Di balik pintu ruangan tersebut.

"Jadi seperti ini," geram Raka.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status