Part 02

—2—

Bunyi ‘prang terdengar begitu keras, menandakan sesuatu tengah terjadi di sebuah apartemen milik James.

“Key hentikan! Kau tak bisa bersikap seperti ini lagi!" James meraih bahu Keyla dan mengguncangkannya. Berusaha menyadarkan tunangannya yang kembali depresi setelah beberapa hari lalu dia menerima undangan pernikahan dari Ben Alexander. Mantan kekasihnya di masa lalu yang berpisah karena kecelakaan.

"Aku tak bisa James! Dia terlalu mudah melupakanku! Sementara aku?!"

"Bagaimana denganku, Key? Pernahkah kau memikirkan perasaanku saat kau kembali seperti ini? Haruskah aku menghilang darimu dulu agar kau memandang ke arahku?!" bentak James, menatap Keyla.

Keyla tersadar dan menatap James dengan sorot mata takut akan kehilangan. "Jamie... Tapi kau bilang, kau akan tetap mencintaiku sekalipun kau tahu aku belum sepenuhnya—"

"Kesabaranku ada batasnya, Key!” James berdiri membelakangi Keyla. “Jika Xander berpaling setelah tujuh tahun menunggumu, aku pun bisa berpaling setelah aku lelah menjadi bayangannya di matamu," ujar James. Dia melangkah keluar apartemen, meninggalkan Keyla yang tersadar bahwa dirinya telah menyakiti James terlalu sering.

"Jamie, jangan tinggalkan aku sendiri... Jamie!!"

***

Minuman alkohol mungkin bisa menenangkan dirinya sejenak. Dia akan melupakan cara hidup sehat yang selama ini dia jalani.

James memutuskan memasuki sebuah club yang tak jauh dari apartemennya. Mungkin hanya setengah jam jika menggunakan mobil. Saat ini ia sedang berada di sebuah ruangan yang ramai dengan orang yang asik berjoget meliuk-liukkan badan. Namun dia memilih duduk di pojok kanan dengan memesan minuman yang bisa menghilangkan pusing di kepalanya.

Seorang wanita membawakan minuman yang James pesan.

"Silakan, Sir," ujar pelayan wanita tersebut tanpa menoleh, membuat James sedikit menundukkan kepalanya untuk memastikan penglihatannya.

"Kau wanita menyebalkan yang berebut taksi denganku? Kau bekerja di sini?" tanya James.

"Apa ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu mengabaikan pertanyaan James.

"Temani aku di sini." James mengeluarkan beberapa lembar dollar dari dompetnya dan meletakkannya di meja.

Gadis itu hendak beranjak dari tempatnya dan mengabaikan tawaran James yang cukup menggiurkan. Padahal biasanya dia akan dengan senang hati mengambil beberapa tips besar jika ada tamu yang memintanya untuk menemani minum, walau dia hanya bertugas menuangkan minumannya saja.

"Aku akan tambahkan, duduklah. Aku... baru kali ini ke tempat seperti ini. Aku hanya jenuh dan ingin menenangkan pikiran," ujar James menahan lengan wanita tersebut.

Akhirnya wanita itu menyerah dan duduk dalam diam, menuangkan minuman yang dipesan James.

"Siapa namamu?" tanya James, namun diabaikan.

"Hei, Leanor! Ke mari! Pelangganmu datang!” teriak manajer si pelayan wanita yang ternyata bernama Leanor, Lea.

Lea hendak berdiri namun ditahan oleh James. Dia melambaikan beberapa lembar dollar kepada manajer tersebut dan mendapatkan tanda 'oke' dari manajer itu.

"Biarkan saya pergi, Sir. Saya harus melayani tamu lain."

James kembali mengeluarkan beberapa lembar dollar untuk menahan wanita itu. "Jika pelangganmu memberi lebih, aku akan naikkan dua kali lipat. Lagipula manajermu sudah memberi izin. Jadi kurasa aku akan jadi pelangganmu malam ini, Lea."

"Baiklah hanya sampai anda mabuk. Saya akan meminta security memesankan taksi untuk anda." Lea berujar dan menatap James. Seketika manik mata biru bening milik James terlihat jelas. Sorot mata terluka yang begitu dalam.

"Kau menantangku?"

Lea hanya mengangkat bahunya atas pertanyaan James.

Lalu James meminum pesanannya, awalnya dia merasa aneh. Namun setelah beberapa gelas dia meminumnya, sepertinya dia mulai terbiasa dan mulai menikmati minuman tersebut. Hingga lama kelamaan James menjadi mabuk dan bercerita tentang dirinya yang menyedihkan.

Lea hanya diam tak berkomentar apa pun, sampai James tertidur di atas pangkuannya dan membuatnya kesulitan berdiri untuk sekadar memanggil bosnya atau security guna membantu James pulang.

Ketika salah seorang rekan kerja Lea datang, James justru terbangun. "Lea jangan antar aku ke apartemen, aku ingin menghilang darinya walau hanya semalam. Memberinya sedikit pelajaran agar dia menghargaiku," racau James.

"Jadi ke mana aku harus mengantarmu? Aku tak mungkin membawamu ke hotel aku tak punya uang," ujar Lea.

"Ambil saja ini, kau pakai saja berapa pun yang kau mau, asal malam ini kau temani aku." James mengeluarkan dompetnya.

"Maaf, tapi bukan tugasku menemani tamu ke hotel." Lea menjelaskan walau tahu James tak akan peduli.

"Hanya kau! Oke? Ambil semua yang kau butuhkan, asalkan kau yang membawaku. Aku tahu kau wanita baik jadi aku percaya padamu." James berujar tanpa membuka matanya. Dia bersandar pada pundak Lea. "Ayo kita ke hotel, kau bisa membawa mobil? Bawalah mobilku," lanjut James.

Lea akhirnya menurut saja. Kebetulan dia juga sedang kurang sehat, dan mengantar James bisa jadi alasannya untuk pulang lebih cepat.

***

Sesampainya di hotel James kembali berceloteh tak jelas, mengulang setiap kata yang membuatnya merasa seperti orang bodoh. Sementara Lea dengan susah payah memapah James ke ranjang, menjatuhkannya hingga dirinya ikut tertarik ke atas tubuh James. Dan James kembali terbangun, tapi tidak dengan ‘kesadarannya’.

"Hei, Key. Apa kau sudah sadar bahwa aku lebih baik darinya?" James mulai meracau dan meraih tengkuk Lea yang dikiranya Keyla. Dia menciumnya dengan kasar seakan ingin memberitahu kepada Keyla bahwa dia marah.

Leanor melepaskan ciuman itu dengan susah payah. "Hei! Sadarlah! Aku bukan kekasihmu!”

James tertawa mengejek. Dia benar-benar mabuk. "Apa kau bilang? Aku tak pernah bisa menggantikannya?" ujar James. "Mari kita buktikan." Lalu James menarik Lea hingga terjatuh di ranjang dan menindihnya. Menciuminya dengan liar tanpa peduli teriakan Lea yang mengatakan bahwa dia bukan Keyla.

James mulai membuka kemeja Lea dengan kasar. Dia meremas payudara Lea dengan keras, membuat pemiliknya meringis kesakitan. Lea akhirnya pasrah, dia lelah memberontak. Tenaga pria  jelas lebih kuat, ditambah James yang mabuk dan kalap, membuat Lea semakin sulit menyadarkan James. Dia sudah berkali-kali memukul-mukul dada James. Namun tetap tak mempengaruhi pergerakan James yang terus menciuminya.

Lea mengaduh kesakitan saat James dengan keras mengisap puncak payudaranya. "Please..., jangan lakukan ini!" ujar Lea mulai menangis.

"Bahkan kau menolak untuk aku sentuh, Key?! Apa aku harus menghamilimu seperti mantanmu yang menghamili kekasihnya?!" Ucapan James kali ini membuat Lea membulatkan matanya dan kembali memberontak.

Namun James tetap tak bergerak dari atasnya. Dia malah dengan mudahnya menarik turun underware-nya dan menyisakan roknya yang berada di perutnya. James mulai memainkan area sensitif Lea dengan mengelus-ngelus dan menggodanya, bermain dengan klitorisnya membuat Lea merasa ingin buang air kecil.

"Please, stop! Aku mohon.... Aku bukan Keyla, James! Sadarlah!" Lea menarik kepala James yang sedang menikmati payudaranya dengan leluasa. Lea merapatkan kedua pahanya, menutup akses mainan tangan James yang berusaha membukanya dan bermain di sana.

Entah sejak kapan James telah membuka celananya dan siap dengan dirinya yang sudah mengeras. James menahan tangan Lea ke atas kepalanya dengan satu tangannya. Sementara tangan satunya mengarahkan miliknya untuk menyatukannya dengan diri Lea. Berkali-kali Lea mencoba merapatkan kakinya, namun berkali-kali juga James menahannya. Dia berada di antara kedua paha Lea, bersiap menembus pertahanan Lea.

"Kau akan tahu, Key! Setelah ini, kau akan tahu bahwa hanya aku yang mencintaimu," ujar James dan mendesak memasukkan miliknya. Walau sulit, dengan sekali hentakan dia menembus dinding pertahanan Lea. Hingga dia tersadar bahwa wanita yang berada di bawahnya bukanlah Keyla atau pun jalang. Namun seorang wanita yang baru saja dia renggut mahkotanya.

"Ahhh...!!" teriak Lea saat James memasukinya.

"You're Virgin?" James terkejut, namun dia tak bisa menarik kembali dirinya. Karena dia yakin akan lebih sakit jika dia menghentikannya sekarang.

"Argh! You the jerk doctor!" teriak Lea.

James menciumi bibir Lea dengan lembut dan mengusap air mata yang mengalir di pipi wanita itu. "Maaf... aku sungguh tak tahu, aku akan bergerak secara perlahan."

"Lakukan dengan cepat! Ini bukan percintaan, kita tak saling mencintai! Anggap saja kau sedang beruntung dan aku sedang sial!" ujar Lea yang bahkan tak mau menatap James yang terlihat merasa bersalah.

James tak menjawab. Dia mulai bergerak perlahan, berusaha untuk cepat menuntaskan perbuatannya walau kepalanya sangat sakit karena menahan rasa mabuk yang menderanya. Kemungkinan besar dia akan lupa dengan apa yang dia lakukan sejak tadi.

James benar-benar menyesal karena salah mengira Lea adalah Keyla, atau jalang yang memang terbiasa melakukan ini. Dia sungguh tak tahu jika ini adalah yang pertama bagi Lea. Pantas saja dia merasa bahwa ciuman wanita berambut cokelat itu terbilang kaku.

James kembali menciumi Lea dengan lembut. Namun Lea tak kunjung membalas pagutan bibirnya. "Bagaimana aku bisa menyelesaikannya dengan cepat jika kau tak membalasku?" James meracau dan kembali menciumi Lea yang akhirnya mau memberi akses bagi James untuk bermain di dalam rongga mulutnya.

Lalu James menggerakkan pinggulnya dengan cepat, membuat erangan lolos dari mulut Lea.

Shit! Kau benar-benar sempit," racau James masih betah bermain dengan puncak payudara wanita yang tengah menggeliat di bawah tubuhnya. Sementara bagian tubuhnya yang mengeras terus bergerak semakin ke dalam, membuat Lea kembali mengerang nikmat.

"Ah...!" Sial! Kenapa aku bisa menikmatinya? Ini gila! Aku melepaskan keperawananku pada pria asing dan aku malah menikmatinya? batin Lea.

James semakin mempercepat gerakannya, menghunus semakin dalam, tak menyisakan bagian dari dirinya berada di luar walau hanya beberapa senti.

"Ah...!"

"Yes, Babe. C'mon!!" seru James meminta Lea terus mengerang untuk membuatnya semakin bernafsu dan mempercepat permainannya.

Lalu mereka mencapai kenikmatan bersama. Lea merasakan cairan hangat menyembur dalam dirinya, yang juga baru saja mendapatkan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan.

James ambruk ke samping Lea dan memeluk wanita itu erat. "Thanks and sorry, Lea." James langsung terlelap karena kepalanya sangat sakit.

Lea kembali meneteskan air matanya dan memejamkan matanya sebentar. Meringkuk dalam pelukan James, hingga terlelap sampai beberapa jam kemudian.

Ketika terbangun, Lea menarik dirinya dari pelukan James dan beranjak ke kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhnya, yang penuh dengan tanda merah terutama di bagian dada dan lehernya. Dia terus menggosok bagian itu dengan kasar hingga lecet, sambil terus menangis di bawah kucuran air.

Lelah menangis, Lea pun mengeringkan diri lalu memakai pakaiannya sambil menatap perih James yang terlelap. Dia yakin pria yang sedang tertidur dengan tenang itu tak akan mengingat dirinya yang telah diambil keperawanannya.

Lea memilih pergi tanpa menuliskan pesan atau apa pun untuk mengingatkan James. Dia cukup tahu diri bahwa semua terjadi karena dirinya yang juga bersedia dan tak menolak dengan keras saat James memohon bantuannya.

Semoga setelah ini, kau bisa bahagia dengan wanitamu, ujar Lea dalam hati, sebelum akhirnya dia berlalu keluar, menutup pintu kamar hotel.

Dia akan menganggap semuanya tak pernah terjadi. Dia berharap dirinya saat ini sedang tidak dalam masa subur, agar terhindar dari kemungkinan akan tumbuhnya janin dalam rahimnya. Semoga kehidupannya akan tetap berjalan seperti biasa.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status