Part 08

Satu minggu kemudian.

Malam sebelum Lea pergi menyusul Aleandra untuk operasi, James menghampirinya. Memberikan penjelasan tentang kemungkinan yang akan terjadi pada adiknya setelah operasi terjadi. Lea yang awalnya merasa optimis menjadi sedikit pesimis dengan kemungkinan sembuh total hanya lima puluh pesen.

"Apa kau siap untuk menerima hasil akhirnya nanti? Walau 80% aku yakin dia akan sembuh meski masih harus melakukan pengobatan terapi." Jelas James menutup laptopnya.

Lea terdiam. Dia menatap laptop yang tertutup dengan pandangan kosong. James mendekat lalu mengusap bahu Lea, memberi kekuatan untuknya tetap optimis.

"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Aku sangat yakin Aleandra akan sembuh total. Dia tak akan menggunakan kursi roda ataupun tongkat. Dia akan tetap berjalan dengan kedua kakinya.”

Lea menyandarkan kepalanya pada dada bidang James, merasakan takut kehilangan yang begitu kuat.

"Hanya dia yang aku miliki saat ini James. Dia lebih berharga dari nyawaku," ucap Lea lirih. Dia mulai meneteskan air matanya.

James mengeratkan pelukannya, membiarkan Lea menangis dengan pilu. Dia juga merasakan apa yang Lea rasakan saat berusia lima belas tahun ketika adiknya meninggal karena penyakit mematikan itu. Dari situlah dia bercita-cita menjadi dokter.

James melepaskan pelukan, sedangkan Lea menatapnya dalam. Dia menghapus air mata Lea dengan perlahan dan mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium Lea dengan perlahan dan lembut. Merasakan setiap getar dari bibir Lea yang terasa menyakitkan.

Lea menangis semakin dalam. Bukan lagi masalah Aleandra yang dia tangisi, melainkan hatinya yang tak bisa menolak setiap perlakuan James. Dia malah semakin masuk dan terlarut dengan perasaannya yang mampu menenggelamkannya saat James pergi dari sisinya dan kembali pada cintanya. Dia berusaha menahan setiap perasaan yang hadir setiap kali berada di dekat James. Berusaha besikap kasar dan marah, namun James yang keras kepala membuatnya sulit untuk menghindar dan malah terjebak dengan perasaannya sendiri.

Ciuman yang terlalu dalam hingga keduanya tak sadar bahwa sesuatu kembali terbangkitkan. Gairah yang tak dapat ditahan, menggebu dan menuntut untuk saling menunjukkan bahwa mereka saling membutuhkan. Setiap sentuhan yang tercipta bergerak secara spontan dan seakan tahu porsi mereka untuk saling bersentuhan.

James mengangkat Lea ke pangkuannya dan membawanya ke pantry, mendudukannya di sana. Bibirnya tak berhenti mencium, walau terlihat jelas bibir mereka sudah membengkak.

Mereka saling melepaskan baju yang melekat pada tubuh masing-masing. James membuka kait bra Lea sambil menciumi leher Lea yang telah memberikan akses untuk menjelajahinya.

Tangan James tak henti-hentinya meremas payudara Lea yang sudah polos, membuatnya melenguh. Lea meremas rambut James kasar saat James mengisap puncak payudaranya.

James kembali melumat bibir Lea dan bergumam, "Kenapa? Hm..." James kembali melumat lalu melepasnya. Bibirnya masih menempel pada bibir Lea. "Kenapa kau membuatku seperti ini? Aku sungguh tak bisa mengontrol diriku saat denganmu. Apa yang kau lakukan Lea? Apa yang kau lakukan padaku? Hmm..." Untuk kesekian kalinya James meraup bibir Lea seolah dia tak ingin mendengar jawaban dari wanita itu.

Lea sendiri merasakan hal yang sama dengan apa yang James rasakan. Dia hanya berusaha untuk menikmati keintiman ini sampai batas waktunya selesai–antara Aleandra sembuh atau James yang pergi lebih dulu. Dia sungguh tak berharap lebih, namun keintiman ini tak ingin dia lupakan.

"Hah... hah... izinkan aku, Lea. Malam ini izinkan aku bermalam di sini, menyatukan kita," ujar James serak. Entah apa yang membuatnya harus meminta izin Lea kali ini.

"Lakukan James. Malam ini… aku milikmu," balas Lea. Dia sendiri tak tahu apa yang merasukinya. Dia hanya tak ingin menyiksa hatinya lagi. Dia hanya berusaha membiarkan hatinya bahagia walau sesaat. Setelah berhari-hari menolak dan menepis semuanya, khusus malam ini dia mengizinkan hatinya mengambil alih dirinya. Membiarkan hatinya berharap pada pria yang telah membuatnya kesulitan namun sekaligus membuatnya merasakan hal yang berbeda dalam hidupnya. Yang mungkin juga akan membuat hidupnya berubah nantinya.

James menurunkan Lea dari meja pantry dan mengangkat rok Lea sampai batas perut. Dia menarik turun celana dalam Lea lalu kembali menaikkannya ke atas meja. Dia berlutut mengecup lembah hangat milik Lea, membasahinya walau sudah basah. Memberikan sensasi aneh yang membuat Lea mendesah menyebut namanya.

Lalu James berdiri membuka celananya dan mengarahkan miliknya untuk menyatukan dirinya dengan Lea. Hingga pekikan terdengar dari mulut kecil Lea. Gerakan memicu desahan mereka yang menggema memenuhi ruang dapur sampai ruang tamu. Mereka saling menyebutkan nama, saling memuja dan mencari titik kepuasan itu hingga pelepasan terjadi.

James menggendong Lea dan membawanya ke kamar. Dia membaringkan Lea dan kembali menciumnya. Dia memuja tubuh Lea, menyentuhnya begitu intens. Sesuatu di bawah sana bangkit kembali dan meminta untuk segera masuk. Mereka melakukannya lagi sampai Lea lelah dan terlelap.

James berusaha memakaikan Lea pakaian dan menyelimutinya, lalu dia menatap wajah tenang Lea yang tertidur pulas. Dia mengecup keningnya sekilas. Dia beranjak keluar dari kamar Lea.

Dia hanya pergi untuk membeli vitamin dan kembali lagi untuk meletakkan vitamin di atas nakas samping tempat tidur Lea. Dia mengusap rambut Lea sebentar sebelum akhirnya kembali pulang pada Keyla. Sebesar apapun keinginannya pada Lea, pada akhirnya James akan tetap kembali pada kekasihnya. Hal itulah yang membuat Lea merasa tersakiti berulang kali.

 

**

Lea terbangun pada dini hari dan langsung melihat ke samping. Tak ada siapapun di sana.

Apa yang kau harapkan Lea?  Dia turun dari tempat tidurnya dan melihat sesuatu di atas nakas.

 

Minumlah ini. Kau tampak pucat hari ini. Baik-baiklah di Amerika, aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Di sana kau harus makan yang banyak agar kau gemuk. Kau semakin kurus Lea.

-James

 

Hanya itu yang tertulis, tanpa bermakna dan berarti hanya seperti kekhawatirannya pada pasiennya dan hal itu kembali membuat dada Lea semakin sesak.

Ingin menangis namun tak bisa mengeluarkan. Air matanya terasa berat menangisi kekasih orang lain dan membuatnya terlihat rendah. Dia menyalahkan dirinya yang sudah jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa memberinya luka tak berkesudahan. Meruntuki kebodohannya yang terus berlanjut sampai detik ini. Sesuatu yang tak akan bisa dia maafkan adalah telah mengecewakan adiknya.

Setidaknya Aleandra akan sembuh. Aku hanya harus fokus pada pengobatannya. Maka aku akan melupakannya. batin Lea.

***

Keyla duduk terdiam di sofa. Ketika dia terbangun, dirinya tak melihat James berada di sampingnya. Dia merasa bahwa James berubah. Hal itu semakin jelas terasa ketika dalam seminggu ini James sering keluar saat dia sudah tertidur setelah meminum obat.

Setelah makan malam tadi, Keyla sengaja tak meminum obatnya. Dia tak ingin tertidur terlalu lama. Kali ini dia hanya tertidur sesaat karena lelah lalu terbangun saat James baru saja beranjak dari ranjangnya. Dia keluar dari kamar setelah tak mendengar apapun di luar kamar. Dan benar saja bahwa Jamesnya pergi lagi untuk yang ke sekian kalinya dalam seminggu.

Keyla tak tau harus berbuat apa. Dia hanya bisa menerka dan menunggu James menjelaskan semuanya. Dia terduduk di sofa sambil melamun sampai akhirnya James kembali dan terkejut melihatnya yang hanya diam tanpa menoleh ke arahnya.

"Key, kau belum tidur? Kenapa kau di sini?" James duduk di samping Keyla.

Keyla menoleh, menatap manik mata biru terang milik James, sangat mirip dengan Xander, bahkan kilatan cinta itu juga masih ada.

"Apa yang kau lakukan setiap tengah malam seperti ini Jamie? Kali ini alasan apa yang akan kau berikan untukku?" Keyla bertanya menahan tangisnya. Sejak tadi dia berusaha mengenyahkan pikirannya dari kemungkinan terburuk yang James lakukan.

"Aku...." James bahkan tak bisa melanjutkan perkataanya.

“Jika kau menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Pergilah, Jamie. Aku tak ingin mengikatmu lagi. Aku sudah terlalu sering aku mengecewakanmu. Dan aku rasa kau yang paling tahu rasanya. Jadi jika kau sungguh mencintaiku, ku mohon jangan membuatku merasakan itu." Keyla berdiri setelah mengucapkan hal yang sejak tadi berkecamuk di kepalanya, membiarkan sesak di dadanya hilang. Dia memasuki kamar dan menguncinya, tak membiarkan James masuk.

"Key, dengarkan aku. Sampai saat ini kau yang ada di hatiku. Sungguh, aku tak berbohong Key. Hanya saja... aku... buka pintunya, Key. Biarkan aku meminta maaf padamu. Aku memang salah."

"Tidurlah di kamar sebelah. Biarkan aku berpikir dengan tenang," sahut Keyla.

"Tapi Key, kau tak boleh melakukan apapun yang membahayakan dirimu. Ku mohon..."

"Kau tenang saja, aku tak akan melakukannya," jawab Keyla terakhir kalinya.

Setelah itu James terus bicara dan mencoba meyakinkan Keyla, namun tak ada lagi jawaban. James menyerah. Dia pergi ke kamar sebelah, mengistirahatkan hati dan pikirannya yang semakin tak karuan.

Kenapa rasanya begitu menyakitkan saat melihat kembali mata sendu Keyla? Apa yang kulakukan telah melukai hatinya yang bahkan sudah tak berbentuk. James membatin. Dia memejamkan matanya mencoba tidur namun tak bisa.

Apa yang kulakukan lebih buruk dari apa yang Xander lakukan. Aku... sungguh mengecewakannya. James berusaha memejamkan matanya untuk terlelap walau sulit.

Di dalam kamar Keyla menangis. Merasa bahwa apa yang dia pikirkan benar setelah mendengar James yang tak bisa menjawab dan menyangkal perkataannya barusan.

Ke mana dirimu yang dulu, Jamie? Aku merindukanmu. Kau seperti orang asing bagiku saat ini. Ku kira kau adalah orang yang benar-benar dikirim pencipta untuk melengkapi hidupku yang selama ini gelap. Aku berharap kau adalah matahariku. Tapi ternyata kau hanyalah sebuah lilin yang bisa dipadamkan apinya saat angin menghembusmu. batin Keyla.

Entah apa yang akan terjadi padanya. Dia hanya bisa menyerahkan segalanya pada takdir, membiarkan semuanya mengalir alami dan berjalan sesuai waktu yang sudah ditentukan.

Dia tidak tahu apakah mampu bertahan, atau dia memilih untuk mundur. Jika dia mampu bertahan, dia yakin akan ada badai yang mengguncangnya. Namun jika dia menyerah, dia akan kehilangan semuanya dan menyisakan sebuah penyesalan dalam hidupnya.

Bahagia seolah tak memihak padanya, sehingga dia terus mengalami sakit dan kecewa berulang kali. Bahkan saat dia sudah memberikan hatinya untuk James.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status