Share

Part 03

-03-

            Setelah satu harian Natasha dikuasai oleh Pauline. Akhirnya pada malam harinya. Wanita itu dapat dikuasai sepuasnya oleh Jonathan.

            Pria yang sejak kemarin menahan hasratnya untuk tak menerkam Natasha secara membabi buta itu. Kini tengah menikmati dirinya yang berada di dalam Natasha.

            Wanita di bawahnya itu mampu membuat Jonathan mengumpat dan mengerang tak tau malu. Ditambah kegiatan itu sudah berlangsung selama satu jam lamanya.

            Jonathan yang begitu memasuki penginapannya. Langsung meraup bibir Natasha dengan tak sabaran. Memojokkan wanita itu ke dinding. Meremas bagian dada Natasha. Membuka baju Natasha dengan merobeknya.

            Lalu mencumbu bagian menonjol itu dengan tergesa. Membuat wanita itu mendesah.

            Jonathan membuka celananya lalu mengangkat Natasha dan langsung menyatukan dirinya dengan wanita itu. Menghentak-hentak hingga membuat suara gaduh.

            Sampai sekarang... Jonathan masih memaju mundurkan pinggulnya. Tak peduli pelu keringat sudah membasahi dirinya.

            Bahkan meja makan yang menjadi tempat berbaringnya Natasha telah bergeser dari tempatnya. Kegiatan panas yang menguras tenaga namun mendapatkan kenikmatan yang dia rindukan.

            Jonathan mulai mempercepat gerakan maju mundur itu, saat dirinya mulai mendekati pelepasan. Suara desahan Natasha semakin jelas terdengar dan keduanya mengerang saat pelepasan itu terjadi.

            Begitu hangat dan penuh. Itu yang dirasakan Natasha saat ini. Wanita itu hendak bangun. Namun Jonathan lebih dulu membawanya. Menggendongnya tanpa melepaskan miliknya yang masih betah di dalam Natasha.

            Membawa wanita itu ke kamar mandi untuk kembali memandikan Natasha. Entah kenapa itu menjadi yang paling favorite bagi Jonathan.

            "Kenapa kau senang sekali memandikanku?" tanya Natasha penasaran.

            "Selama aku masih sering mendengar kau berkata bahwa dirimu kotor, aku akan terus memandikanmu seperti ini," jawab Jonathan walau dia tak menatap Natasha yang menatapnya.

            Natasha meraih tangan Jonathan. Lalu pria itu berhenti dan menatap Natasha.

            "Sungguh... Kau sudah menjadi milikku. Dan aku tak ingin kau masih merasa seperti itu. Berhenti berpikir seperti itu. Aku ingin kau bahagia, denganku. Tanpa merasa takut lagi. Bukankah tadi pagi aku sudah berjanji di depan Tuhan dan Ibuku, bahwa aku akan senantiasa bersamamu apapun dan bagaimanapun keadaanmu," ungkap Jonathan. Dia kembali menggosok tubuh wanitanya dengan lembut dan perlahan.

            "Terima kasih untuk semuanya Nathan. Selain suamiku, kau sungguh seperti guardian angel bagiku," ujar Natasha.

            "Apa? Bisa kau ulangi ucapanmu barusan," pinta Jonathan menatap Natasha dalam.

            "Bagian mana?"

            "Bagian tengah."

            "Selain suamiku?" tebak Natasha.

            "Hilangkan kata pertamanya!"

            "Suamiku," jawab Natasha. Kedua ujung bibir Jonathan naik keatas.

            "Ya. Kau tau aku suamimu sekarang. Jadi jangan mengatakan dirimu ini dan itu. Atau aku akan marah. Mengerti?" tukas Jonathan. Natasha mengangguk.

            "Jawab aku Nath."

            "Iya... Aku mengerti suamiku tercinta. Pria yang paling kucintai. Dan hanya kau satu-satunya cintaku," ujar Natasha menjadi panjang.

            "Kau menggodaku?" tanya Jonathan. Dirinya sudah menyadarkan tubuhnya.

            "Hm... Tidak. Aku berkata yang sebenarnya," jawab Natasha.

            "Oh baiklah... Kau memaksa Nath. Aku tak akan membiarkanmu istirahat malam ini," ujar Jonathan membalikkan tubuh Natasha dan menyuruh wanita itu untuk sedikit membungkuk dan kembali menyatukan dirinya.

            "Ahh Nathan! Bagaimana bisa kau?!" pekik Natasha terkejut.

            "Nikmati saja sayang, aku akan membuatmu tak bisa berjalan besok!" ujar Jonathan dan air di dalam bathup itu bergerak keluar dari tampungannya. Layaknya air laut yang sedang pasang.

            Gemah suara keduanya mengisi kamar mandi. Hingga saat keluar, Jonathan membawa istrinya ke dalam gendongannya. Natasha menyandarkan kepalanya di bahu Jonathan.

            Jonathan membaringkan Natasha dengan perlahan dan terkikik melihat Natasha yang mendelik.

            "Kau sudah kalah Nath. Bahkan itu baru ronde kedua," ujar Jonathan mengejek Natasha. Pria itu duduk di samping Natasha.

            "Kau seperti kesetanan. Aku tak menyangka kau begitu cepat bangun kembali. Gladius sialan! Apa yang kau berikan padanya sampai secepat itu dia terbangkitkan lagi? Padahal barusan di dalam air," cicit Natasha. Jonathan tergelak.

            "Gladius yang sialan ini akan menghasilkan banyak anak untukmu. Jadi jangan meremehkannya Mrs. Walz," ujar Jonathan menanggapi panggilan unik Natasha kepada miliknya. Natasha ikut terkikik menyadari ungkapan kekesalannya pada milik Jonathan.

            "Tidurlah sayang... Karena aku tak bisa menjamin jika tengah malam nanti gladius-ku akan bangun dan meminta lagi." kata Jonathan mengusap kepala Natasha dengan lembut.

            "Oh... Aku akan menunggunya," ujar Natasha mengejek.

            "Kau tak akan bisa bangun dan berjalan jika kau terus mengejeknya Nath," ujar Jonathan mengecup bibir Natasha.

            "Ayo tidur!"

            "Kau juga," pinta Natasha manja.

            "Baiklah." kata Jonathan. Lalu pria itu mengambil posisi di samping Natasha dan tertidur dengan memeluk wanitanya.

***

            Jonathan terbangun ditengah malam saat merasakan Natasha bergerak dengan gusar. Pria itu melihat wajah Natasha yang seperti ketakutan dengan pelu keringat membasahi keningnya. Manik mata hijau itu masih tak terlihat yang artinya wanita itu sedang memimpikan sesuatu yang buruk.

            Lantas Jonathan berusaha membangunkan Natasha. Agar wanita itu terbangun dari mimpi buruknya.

            "Nath! Bangun! Natasha, bangun sayang!" kata Jonathan. Namun Natasha masih tak bangun. Wanita itu malah terlihat semakin ketakutan. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan. Kedua tangannya mencengkram sprei.

            "Natasha!" teriak Jonathan. Dan seketika Natasha membuka matanya. Jonathan langsung memeluk wanita itu dengan erat. Natasha tersadar dan menangis di dalam pelukan prianya.

            "Nathan... Aku bermimpi," lirih Natasha.

            "Ssttt... Tenanglah... Itu hanya mimpi. Kau aman bersamaku." Jonathan memeluknya semakin erat dan mengelus kepala Natasha dengan sayang.

            "Bukan aku yang mengalami hal buruk di dalam mimpiku Nathan, tapi temanku. Dia selama ini sering membantuku. Mafia keparat itu sering menyiksanya karena sering membantuku kabur dari rumah pembeliku. Dia selalu bilang agar aku kabur saja. Tapi aku tau mereka memasangkanku gps. Karena setiap kali aku pergi, mereka selalu dengan mudah menemukanku," jelas Natasha.

            "Nathan... Bisakah kau membantuku menyelamatkannya. Dia banyak membantuku waktu itu," ujar Natasha melepas pelukan itu. Jonathan tampak berpikir, lalu kembali menatap Natasha.

            Wajah wanitanya yang memohon, membuat dirinya tak tega.

            "Baiklah... Aku akan pikirkan caranya nanti, dan membicarakannya dengan Richard. Tapi syaratnya, kau tak boleh ikut campur dengan semua urusan ini. Dan selama aku menolong temanmu, kau harus tinggal dengan Pauline," ujar Jonathan.

            "Dia ibumu Nathan!"

            "Ya aku tau," jawabnya.

            "Kau tak sopan!"

            "Aku yakin dia lebih suka dipanggil begitu. Karena orang asing yang mendengarnya, tak akan mengira kalau dia sudah mempunyai anak sepertiku," jelas Jonathan. Natasha tergelak.

            "Hah...Dasar sinting!"

            "Kau bilang apa?!"

            "Aku tak bilang apapun," jawab Natasha.

            "Kau ingin aku menjadi sinting? Hm?" Jonathan mendekatkan wajahnya, Natasha mundur secara teratur hingga berbaring lagi. Jonathan mengunci Natasha.

            "Kau... Tak sungguh-sungguh akan membuatku tak bisa berjalan bukan?" tanya Natasha.

            "Hm... Tadinya. Tapi setelah kau mengataiku sinting... Aku berubah pikiran," ujar Jonathan. Seringaian devil tercetak jelas di wajah Jonathan.

            "A-aku tak mengataimu seperti itu... Tapi...."

            "Tapi apa? Hm?" bisik Jonathan. wajahnya semakin dekat, sampai napasnya terasa ke kulit wajah Natasha.

            "Tapi... Aku mengatai gladius-mu!" jawab Natasha cepat dan hendak menghindar, dengan bangkit secara tiba-tiba. Namun Jonathan lebih cepat dan cekatan. Hingga membuat Natasha kembali ke dalam rengkuhannya.

            "Kau salah besar berani mengatai gladius-ku seperti itu! Dia akan menghukummu sampai kau hanya bisa berbaring di ranjang ini!" ujar Jonathan langsung meraup kembali bibir Natasha. Membungkam semua protes yang akan keluar dari mulut manis Natasha.

            Hingga pergulatan kembali terjadi sampai pagi. Dan membuat Natasha maupun Jonathan tertidur sampai siang.

***

            Pauline datang ke tempat Jonathan dan Natasha, berniat memberikan obat serta vitamin untuk Natasha yang menurutnya terlalu kurus. Dan jangan lupakan betapa Pauline sangat menginginkan seorang cucu.

            Wanita paruh baya itu juga membawakan Natasha obat penyubur agar Natasha bisa dengan cepat mengandung seorang anak.

            Namun dia melupakan niatnya saat melihat keadaan tempat penginapan Jonathan yang berantakan. Terutama di area meja makan dan sekitarnya.

Pauline yakin anaknya -Jonathan-, tak membiarkan Natasha berada jauh darinya walau itu hanya sejengkal.

-

            Natasha terbangun saat mendengar suara gaduh di luar kamar. Dia menyingkirkan tangan Jonathan yang berada di perutnya, lalu beranjak dari ranjang.

            Keluar dari kamar dan terkejut mendapati mertuanya sedang menyiapkan sesuatu dimeja makan.

            "Mom? Kapan kau datang?" tanya Natasha.

            "Kau sudah bangun Nath? Apa yang dilakukan anak nakal itu hingga kau terlihat lelah seperti ini?" tanya Pauline memeriksakan keadaan Natasha. Dengan memutar-mutar tubuh menantunya.

            "A-aku baik-baik saja mom."

            "Baik bagaimana? Hm?" tanya Pauline gemas, "hampir diseluruh tubuhmu tercetak jelas perbuatan bocah nakal itu!

            "Ehm itu..."

            "Ini minum dulu air putih. Duduk dan makanlah roti dan susu itu. Lalu minum vitamin ini," perintah Pauline. Lalu beranjak dari ruang makan itu.

            "Mom tak makan?" tanya Natasha.

            "Mom sudah. Kau habiskan semua itu, sementara aku membangunkan bocah nakal itu!" jawab Pauline, "hah..., bagaimana bisa dia membuat menantuku seperti itu?!" gerutunya lagi dan berjalan menuju kamar.

            Natasha hendak mengikuti Pauline. Namun seperti mempunyai mata dibalik kepalanya. Pauline berbalik untuk kembali memperingati Natasha.

            "Jangan membelanya Nath! Selesaikan tugasmu saja, oke?" tukas Pauline. Natasha kembali duduk dan mengangguk patuh. Dan hanya bisa berdoa di dalam hati semoga suaminya tak terkejut dengan kedatangan Ibunya.

            "Jonathan Walz! Bangun dan jelaskan apa yang kau lakukan pada menantuku!" terdengar teriakan dari dalam kamar hingga ke tempat dimana Natasha berusaha menikmati sarapannya yang terlambat.

            "Astaga... mom. Untuk apa pagi-pagi begini kau sudah datang?! Dan pertanyaan apa itu barusan? aku tak mau menjawabnya!"

            "Dasar anak nakal! Awas saja jika saat Natasha hamil. Kau masih membuat seluruh tubuhnya berbekas biru dan merah. Aku akan menghajarmu!"

Natasha hampir tersedak mendengar omelan dari Pauline yang menginginkannya untuk hamil.

            "Hamil?" gumamnya lalu tersenyum sendiri.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status