Trapped by Sexy Model 2
Trapped by Sexy Model 2
Author: Mrs.Juno
Prologue

_PROLOGUE_

Ingar bingar suara musik dari dj yang asik memainkan alatnya terdengar memekakan gendang telingaku, yang sudah menjadi langganan setiap akhir pekan menghabiskan malam di sebuah bar di kota besar Manhattan. Tepatnya di kawasan Midtown.

Sedikit informasi tentang tempat ini....

Sebagai distrik bisnis pusat terbesar di New York, Midtown Manhattan menjadi distrik komersial tunggal tersibuk di Amerika Serikat, dan termasuk di antara kawasan real estate terpadat dan beragam di dunia. Sebagian besar pencakar langit besar New York, termasuk menara hotel dan apartemen tertinggi, terletak di Midtown.

Well... beralih ke kisah hidupku yang cukup tragis.

Kejadian pahit beberapa bulan lalu membuatku begitu tersiksa walau aku terlihat baik-baik saja di depan semua orang... namun tak ada yang tahu, bagaimana keadaan hatiku. Sungguh miris.

Terluka, tergores, tersayat dan semua hal menyakitkan begitu kuat kurasakan selama berbulan-bulan.

Baiklah kalian bisa mengatakan aku berlebihan, aku tak peduli.

Karena hanya satu wanita yang kutunggu... wanita yang menancapkan pedang itu ke dalam hatiku. Lalu meninggalkanku tanpa sempat mencabutnya kembali.

Dan wanita itu adalah Clara Davonna Dawn. Wanita yang begitu tega meninggalkanku terlalu lama. Dan menghilang tanpa jejak hingga detik ini.

Membuat seorang Dave Mose Williams merana dalam menjalani hidup yang terlihat begitu indah jika aku mau menikmatinya.

Namun... Tidak! janjinya untuk kembali harus ditepati. Dan aku memilih menunggu, membiarkan diriku terus menerus menjadi sasaran wanita yang begitu penasaran dengan kehidupan pribadiku.

Seperti yang tengah dilakukan sepasang mata yang menyoroti keberadaanku. Seorang wanita yang kuketahui berprofesi sebagai model, hendak mendekatkan diri denganku.

Hah... entah sampai kapan juga aku menjadi incaran buas para model itu... rasanya melelahkan harus berakting di depan mereka, demi mengetahui kepribadian model yang hendak masuk ke dalam management yang telah kudirikan dengan susah payah.

Lihat saja, pakaian yang super minim dan ketat itu. Ditambah dengan langkah gemulai, Wanita itu mulai berjalan mendekatiku. Aku harus menjaga sikapku untuk tetap tenang, walau sudah menghabiskan tiga gelas sloki vodka.

Well... Artinya aku harus berpura-pura, lagi!

"Hay handsome," sapa wanita berpakaian ketat dengan warna merah menyala sambil mengambil duduk di sampingku.

Ya ampun... wangi parfumnya begitu menyengat. Dan itu mengganggu bagiku!

Aku menoleh, memberikan tatapan dengan sorot mata dingin yang memancar begitu kuat terlihat jelas dari mataku... aku yakin itu.

Dia akan semakin tertantang dengan tatapan ini. Belum lagi, rahang tegas yang sengaja kututupi dengan bulu-bulu lebat disekitar dagu, demi membedakan aku yang sekarang begitu kacau tanpa Clara.

Namun hal tersebut malah membuat wajah wanita di sampingku sedikit menegang, karena tatapanku.

"Hei," jawabku singkat.

Dengan seulas senyum dari bibirku yang seksi ini. Dan tak lupa untuk kubuat sedikit menyeringai demi membuatnya bingung dengan tingkahku yang over percaya diri.

"Alone?" tanya wanita itu lagi.

Sambil sedikit membungkukkan tubuhnya di depanku.

Dengan sengaja aku kembali menatap minumanku, karena tak ingin dikatakan bahwa aku tergoda. Wanita itu seakan sengaja melakukannya untuk menggodaku dengan penampilan seksinya melalui dada yang menyembul keluar karena minimnya pakaian yang digunakannya. Dasar bitch!

"Ya. Kau mau menemaniku?" tanyaku. Sambil menenggak minuman keempatku.

"Tentu," jawab wanita berkulit putih pucat yang terlihat mengkilap diterangi cahaya berwarna orange dari lampu menggantung di atasnya.

Tangan halusnya mulai mengusap tanganku yang bergambar sarang laba-laba. Aku baru membuatnya beberapa bulan yang lalu.

Ya ampun, apa aku sudah menyebutnya 'bitch' barusan?

Itu artinya aku tak bohong, karena kenyataannya wanita ini terus menggodaku melalui tatapan sensual yang seolah menantangku untuk takluk padanya malam ini.

But, it's not that easy, Bitch! You want to play with me? Let's play!

"Tapi, aku tak bisa terlalu banyak minum. Dan sekarang malah aku mulai mabuk saat melihatmu. Bisa kau bawa aku pergi dari sini?" tanyaku tetap memasang wajah tampanku yang lagi-lagi aku selipkan sebuah seringaian mencurigakan.

Namun bagi seorang wanita yang memiliki sebuah tujuan, dia akan dengan senang hati membawaku bermalam bersamanya di sebuah hotel terdekat dari club ini.

"Of course, handsome," jawab wanita yang memiliki bibir merah tebal dan sedang menyungging naik ke atas seolah senang saat mendapatkan lampu hijau dariku -incaran banyak model sepertinya-.

"Well, sebelumnya aku harus memanggilmu apa?" tanyaku berbasa-basi lagi untuk menghabiskan sisa gelas kelima dari sang bartender yang sudah hafal dengan pesananku.

Tanpa sungkan wanita dengan lengkuk tubuh sempurna itu mengulurkan tangannya.

"Penelope Vexia," jawab wanita itu dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar seksi.

Aku mengangguk-anggukkan kepala, Sambil mengambil gelas terakhirku... lalu hendak meminumnya untuk kesekian kali. Dan aku belum merasa mabuk sama sekali... sialnya aku tetap harus menyingkirkan wanita pengganggu ini.

"Baiklah... aku-"

"Dave Mose Williams," sela Penelope.

Menebak namaku. Namun maaf, aku sama sekali tak terkejut. Aku malah menyeringai dan menenggak minuman terakhirku.

"Ya, sepertinya aku cukup terkenal dikalangan model cantik sepertimu," ujarku sambil terkekeh, memulai akting yang kubilang tadi.

"Tentu. Dan predikat-mu sebagai the lady killer bahkan sudah seperti rahasia umum bagi semua kalangan model sepertiku. Dan malam ini, aku ingin mencoba peruntunganku," ujar Penelope begitu yakin.

Ia tersenyum menatapku yang juga tersenyum begitu tampan. Namun sedetik kemudian aku mulai memejamkan mata dan menjatuhkan kepalaku ke atas pangkuan Penelope.

Seolah aku dengan sengaja memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menguasai diriku malam ini.

"Hah... Semudah ini? Well ini malam keberuntunganku rupanya!" gumamnya bersorak girang.

Namun nyatanya hatiku yang lebih bersorak!

Gotha you, Bitch! seruku dalam hati, sambil menyeringai walau mataku terpejam.

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status