Azzario's History
Azzario's History
Author: Riri Rfa
Varo Valerius

Tempat ini sunyi, pohon-pohon pinus berjajar rapi. Seperti sengaja ditata oleh tukang kebun ternama, semak belukar tampak cantik dengan bunga-bunga merekah. Tempat apa ini?

Aku berdiri di bawah salah satu pohon pinus, memandang sekitar dengan waspada, entah mengapa, padahal tak ada yang patut dicurigai, kecuali hanya suasana lengang tanpa seorang pun di sini.

Apakah aku terlempar ke zaman dimana para Dinosaurus mendiami Bumi? Bukankah tadi Nyla mengajak bermain jam pasir?

Barangkali ... ah, tidak! Tidak mungkin begitu! Memangnya ini negeri dongeng, yang hanya dengan bermain jam pasir, seseorang bisa terlempar ke masa lalu? Konyol!

Rasa penasaran membuat langkah terayun setapak demi setapak menyusuri tempat ini, tenang. Tak meragu harus ke mana kaki melangkah. Entahlah.

Insting menuntunku mengikuti jalan setapak berkerikil halus, cukup lama. Belum ada tanda-tanda terdapat manusia.

Tanpa sadar, aku tiba di sebuah tempat yang lebih mirip kota. Mengusap mata, memastikan pemandangan di depan ini bukan ilusi semata.

Berkali mengerjap, tak berubah, ini ... nyata.

Wow, luar biasa!

Di hadapan berdiri bangunan-bangunan megah terbuat dari susunan batu, mirip pertokoan zaman Eropa kuno. Menakjubkan.

Tapi kejanggalan itu masih terasa ada dan sama, sejauh ini, aku tak menemukan seorang pun.

Lebih heran lagi, semua fasilitas di sini bersih dan terawat, lalu siapa yang merawat?

Semakin memasuki kota tanpa penghuni ini, aku merasa diawasi oleh berpasang-pasang mata. Tapi, di mana mereka?

Apa mereka manusia?

Atau hewan melata menjijikkan?

Atau bahkan, Dinosaurus?

Tidak, jangan berpikiran negatif, Rayna. Ini pasti tempat yang aman. Iya, pasti begitu.

Sekelebat bayangan melintas di belakang, membuatku berbalik, tak ada siapa-siapa.

Lalu yang tadi itu?

 "Rayna!"

Teriakan samar itu seperti berada di kejauhan, tapi berpindah-pindah. Siapa?

"Siapa di sana?"

Nihil, tak ada sahutan.

Apa aku halusinasi?

"Rayna, bantu kami!"

Lagi. Kali ini terdengar seperti serombongan orang yang bicara.

"Si ...

"Tuan Putri, maaf terlambat menjemput, silakan naik."

Aku melongo, dari mana datangnya lelaki berpakaian kerajaan ini?

Dia ... membawa kereta kuda dengan dua gadis berseragam pelayan?

Apa-apaan ini?

"Ka-kalian siapa?"

"Kami diutus Pangeran untuk menjemput Tuan Putri, mari ...."

Lelaki itu membungkuk, mempersilakan aku naik, sementara dua pelayan wanita mengulurkan tangan menyambut  tangan kanan dan kiriku masing-masing.

Selanjutnya ....

***

PLAK!

"Aduh," ringis gadis yang masih telentang di atas tempat tidur.

Matanya terbuka, duduk lalu mengusap-usap pipi kiri yang tadi ditampar lumayan kuat.

"Ah, syukurlah."

Gumaman lega dari arah samping membuatnya menoleh, kemudian melotot.

"Nyla! Kau menamparku?"

"He he. Maaf, Rayn, kau ... ta-tadi kau mengigau," cengir gadis berambut hitam sebahu, Nyla.

"Mimpi," gumam Rayna ragu, itu tadi ... seperti nyata.

"Sudahlah, cepat mandi dan kita harus berangkat ke sekolah. Aku tidak mau dimarahi oleh Mr. Ricko yang galak itu.”

Nyla beranjak, membuka lemari kemudian meraih baju seragam untuk dipakai hari ini.

"Kau masih mau di situ? Mau melihat aku ganti baju?"

Rayna mendengkus, gadis berkulit putih sayu itu menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi.

***

"Aku masak roti kari," ujar Nyla saat melihat sahabatnya menuruni anak tangga.

"Aku sarapan di sekolah."

"Oke, kau boleh tidak memakan masakanku dan sarapan di sekolah. Tapi, jangan harap nanti siang kau bisa makan di rumah."

Rayna mendesis, ini yang ia tak suka dari Nyla, terlalu perhatian. Jadi terkesan mengekang.

"Baiklah, Nona Nyla Vedruso, kau menang kali ini. Kebetulan uangku habis dan belum dikirim oleh Ibu jadi nanti siang aku pinjam mie ramenmu ya."

Ganti Nyla yang mendesis saat melihat Rayna duduk di kursi dan mengedipkan sebelah matanya, apa-apaan?!

"Kau pikir aku lelaki genit yang suka mengincar remaja baru mekar sepertimu, maaf saja, Nona Rayna Almarine. Enak saja."

***

"Aku mimpi yang sama lagi," keluh Rayna saat duduk di kelas bersama kedua sahabatnya.

Nyla tampak biasa, ia sudah sering melihat Rayna mimpi yang terkadang membuatnya mengeluarkan suara. Dan hal paling ampuh untuk membangunkan gadis bermata bening itu hanya satu, menampar pipi kirinya.

"Tapi kali ini lebih panjang, eum ... ada seorang lelaki berpakaian kerajaan dan dua orang gadis berseragam pelayan. Mereka membawaku naik kereta kuda setelahnya ...

"Setelahnya apa?" Vioren tampak penasaran, gadis berambut pirang itu memang tak sabaran.

"Setelahnya Nyla menampar pipiku dan aku terbangun," sahut Rayna polos.

Tawa Nyla meledak seketika, "Lagi pula siapa yang menyuruhmu bermimpi sampai pagi. Kalau kita terlambat, kau tahu apa yang akan dilakukan oleh Mr. Ricko, guru menyebalkan itu pasti menghukum kita."

"Hmm ... tapi aku penasaran dengan kelanjutan mimpi itu, Nyla. Dan kenapa mimpi itu datang hampir tiap malam selama hampir dua bulan ini, tujuh minggu tepatnya."

Vioren tampak menimbang, ia seperti ingin mengatakan sesuatu, sesekali mulutnya terbuka namun ditutup lagi. Ragu.

Suara ketukan sepatu beradu dengan lantai membuat ketiga gadis itu diam, duduk rapi di tempat masing-masing.

Seorang pemuda tampan berbadan sedikit berisi memasuki kelas, melirik sekilas ke arah Rayna, pandangan keduanya bertemu.

Gadis berambut panjang itu terdiam, dingin. Sebuah aura merasuki jiwanya. Seperti ada sesuatu yang telah lama hilang dari dalam dirinya dan baru disadari saat ini. Apa?

***

Kedua pemuda itu berhadapan, saling bicara lewat isyarat mata masing-masing, sebelum salah satunya buka suara.

"Haruskah aku menemuinya sendirian?"

"Kami sedang berusaha, Pangeran. Mengembalikan ingatan seseorang yang telah lama hilang, tidaklah mudah."

Pemuda tampan di hadapan bergerak gelisah, rambut hitamnya berkilau ditimpa cahaya bulan, hutan ini ... tampak mengerikan sekaligus menakjubkan pada malam hari.

"Lalu apa usahamu?"

"Kami berusaha sedikit demi sedikit, dia pias tiap kali bertemu pandang denganku."

"Jangan membuatnya takut, Dylon."

"Tidak pangeran, dia adalah sosok yang memiliki rasa penasaran tinggi."

Lagi, pemuda dengan pahatan rupa sempurna itu bergerak gelisah, pakaian serba putihnya bergoyang pelan ditiup angin.

"Aku takut terjadi sesuatu padanya."

"Gordhova sangat takut akan ketuaan, dia takkan berani melangkah ke dunia manusia," sahut pemuda yang dipanggil Dylon.

"Kau benar tapi, utusannya?"

"Kami yang akan melindungi Tuan Putri. Dia satu-satunya harapan kita, bukan? Satu-satunya keturunan dari suku Edelyn yang tersisa. Setelah ayah kandungnya gugur dalam peperangan." Dylon menghela napas berat.

"Aku percaya padamu, Dylon. Jaga dia baik-baik."

"Baik, Pangeran."

Keduanya berpisah, melangkah ke arah berlawanan, meninggalkan tempat.

Hanya angin dan pepohonan yang menjadi pendengar pembicaraan yang hanya mereka berdua mengerti.

***

Aku dibawa memasuki pelataran istana yang indah, berbeda dengan sebelumnya. Jika tadi tak terlihat seorang pun manusia, tapi di sini, manusia lalu lalang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Ada yang aneh, manusia di sini ... memiliki mata yang berbeda-beda warnanya.

Aku? Mataku bening, sejernih air di telaga tengah hutan.

"Mari, Tuan Putri, kami akan mengantar Tuan Putri."

Salah satu pelayan mempersilakan, aku hanya mengikuti.

Melewati lorong bangunan, lampu berhias mutiara dan batu safir menggantung di langit-langit.

Lukisan bunga-bunga dan tetumbuhan langka menghias dinding di sepanjang lorong. Cantik.

Sampai akhirnya, tibalah kami di depan sebuah pintu kokoh berwarna coklat.

Pelan, salah satu pelayan mengetuk pintunya.

"Pangeran, Tuan Putri sudah datang."

Tak berapa lama, pintu dibuka, menampakkan wajah tampan seorang pemuda.

Rambutnya hitam pekat dan berkilau, alis melengkung bagai kepakkan sayap elang, bola mata sebiru safir memancarkan keteduhan, hidung mancung membelah pipinya, dilengkapi dengan rahang yang kokoh. Tubuhnya terbentuk sempurna. Tinggi dan tegap.

Senyuman pemuda itu menyadarkanku, segera menunduk, tak tahu harus berbuat apa.

"Rayna," sapanya.

Aku tersentak, suara itu seperti tak asing.

"Sa-saya, Pangeran."

"Tinggalkan kami berdua," titahnya pada kedua pelayan.

Keduanya membungkuk sopan lalu meninggalkan tempat, kini hanya aku dan pemuda tampan bak Dewa Yunani di depan pintu kamar ini.

"Aku ...

***

Rayna terengah-engah usai bangun dari mimpinya, menoleh ke kiri, Nyla terlelap di sana. Kali ini ia bangun sendiri. Melirik jam di atas pintu masuk, pukul dua dini hari.

 Itu tadi ... mimpi lagi?

"Varo Valerius," gumamnya pelan.

***

"Hah? Siapa, Rayn? Varo Valerius?" Vioren menatap Rayna yang duduk di depannya, gadis berambut hitam itu mengangguk malas, "Apa ... matanya biru?"

Rayna yang tengah menyeruput minumannya sontak mendongak, "Dari mana kau tahu, Vio?"

"Eum ... itu, a-aku hanya menebak saja," cengirnya.

Mata bening itu menyelidik, "Bukan karena kau tahu sesuatu?"

"Hah? Apa? Tahu apa?"

Nada suara Vioren terlalu buru-buru, membuat Rayna yakin ada yang ia sembunyikan.

"Kau kenal Varo Valerius?"

"Ti-tidak."

"Jangan bohong, Vioren. Sudah cukup lama kita berteman."

Vioren menoleh kiri-kanan, "Kalau aku bicara ... apa kau akan mendengarkan dan percaya?"

"Eum ... iya."

"Baiklah, tapi tidak di sini." Vioren beranjak, "Ikut aku!"

***

Rayna memerhatikan sekitar, banyak pepohonan tumbuh liar, belakang sekolahnya memang masih hutan.

"Apa?"

Belum ada sahutan dari Vioren, gadis berambut pirang bertubuh tinggi langsing itu menoleh ke kiri-kanan, memastikan sekitarnya aman.

"Vioren, siapa Varo Valerius?"

"Dia ... dia pangeran di negeri kami," sahut Vioren akhirnya.

"Pangeran?"

"Iya."

"Kau anggota kerajaan mana?"

"Aku anggota kerajaan dari dimensi lain, Rayn. Kerajaanku bernama Azzario, duniaku bernama Vhoris."

Rayna mengernyit, Azzario? Vhoris? Tempat apa itu?

Apa sahabatnya ini tengah membuat lelucon?

"Aku tidak mengerti, dimensi lain bagaimana, jelas-jelas kau manusia." Terkekeh gadis itu.

Vioren mendengus, "Kau sudah berjanji untuk mendengar dan mempercayaiku, Rayn."

"Oh, maaf, bisakah kau menjelaskannya?"

"Eum ... di negeriku, manusianya berbeda dengan di Bumi. Mata kami memiliki warna yang berbeda-beda. Sesuai sukunya."

"Hmm, lalu?"

"Tiga suku terkuat adalah suku Edelyn yang hanya menyisakan satu keturunan murni, mereka memiliki mata sejernih embun."

Rayna mendengarkan, potongan adegan di mimpinya membenarkan ucapan Vioren. Gadis di hadapannya tahu banyak hal. Barangkali saja, ia bisa mendapat pencerahan akan mimpinya.

"Lalu suku Rosan, para keturunannya memiliki mata berwarna biru. Terakhir suku Nevish, bola mata mereka berwarna coklat terang. Biasanya suku Nevish ini menduduki jabatan tinggi di kerajaan. Seperti ahli pedang dan prajurit pilihan."

"Eum ... kalau suku Rosan?"

"Pangeran kami terlahir dari campuran suku Edelyn dan Rosan. Ratu Ava adalah murni keturunan Edelyn sementara Raja Zius dari suku Rosan. Dan pangeran mewarisi suku ayahnya dengan mata biru cerah."

"Lalu bagaimana keturunan suku Edelyn?" Rasa penasaran membuat Rayna bertanya.

"Edelyn, suku terkuat, hanya tinggal memiliki satu keturunan murni. Dan dia sekarang ada di Bumi manusia."

"Benarkah?"

"Ya."

"Aku penasaran, apa kau tahu dia di mana?"

"Di hadapanku."

"Hah?!"

Rayna melongo, di hadapanku?

Apa maksud Vioren? Di sini hanya ada mereka berdua, kan? Lalu, siapa?

Apa mungkin keturunan terakhir suku Edelyn itu adalah 

... dirinya? Tak mungkin! Ha ha, lelucon macam apa itu?

"Ya, kaulah keturunan terakhir suku Edelyn, Rayna," ujar Vioren tanpa tedeng aling-aling.

Rayna terhenyak, sejenak gadis itu melongo lalu mengerjap-ngerjap perlahan.

"Ka-kau bercanda?"

"Tidak, aku punya banyak bukti."

"A-apa?"

"Pertama, bola matamu bening seperti embun. Kedua, rambut aslimu tidak hitam, tapi keperakan. Kau yang mewarnainya menjadi hitam, lalu jarimu, di jari telunjuk kananmu ada tanda bintang berwarna putih terang. Itu ciri-ciri keturunan suku Edelyn murni."

"A-aku? Ta-tapi, aku manusia Bumi, Vio. A-aku ....

"Sampai bertemu di Azzario, Rayna." 

Vioren tersenyum lalu melangkah pergi. Meninggalkan Rayna tergugu dengan pemikirannya, sesaat kemudian hujan turun tanpa disangka-sangka. Gadis itu kelabakan meninggalkan hutan, mencari tempat berteduh.

Di sanalah, terlihat jelas tanda bahwa ia keturunan suku Edelyn. Rambut yang dicat berwarna hitam, tertimpa air hujan, melunturkan warnanya dan berubah menjadi keperakan.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status