Pacar Simpanan
Pacar Simpanan
Author: Inlut
Awal perpindahan

"Ayah yakin! aku harus pindah dari sini  aku saja tidak yakin Ayah kalau aku pindah dari sini aku bisa beradaptasi dengan lingkungan aku yang baru!" seru Luna dengan menatap wajah Ayahnya yang berdiri di hadapannya.

"Luna! kamu harus mengikuti semua apa perkataan Ayah! ini semua Ayah lakukan hanya untuk kebahagiaan kamu," ujar Ayah Luna kepada dirinya. 

"Ayah tahu kan aku susah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru! memangnya Ayah mau melihat aku sengsara dengan kehidupanku yang baru!" seru Luna kepada Ayahnya.

Luna terlihat sangat tidak ingin mengubah hidupnya dengan cara berpindah di lingkungan yang baru.

"Tidak ada pilihan lain, kamu harus tetap pindah dari sini, kamu kan tahu sendiri bagaimana usaha Ayah di sini, sangatlah menurun jadi kita satu keluarga akan pindah," ucap Ayah dari Luna sembari menatap mata anak gadisnya. 

"Tapi ini tidak adil bagiku Ayah! aku tidak bisa begitu saja pindah dari 

sini!" tegas Luna.

Luna ingin Ayahnya itu memutar otak untuk tetap tinggal di daerahnya itu.

"Apakah kamu tidak bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayahmu?" tanya

Bunda Merlin dengan menatap wajah Luna.

"Bunda bagaimanapun alasannya, aku tidak bisa di paksa seperti ini aku tidak ingin aku pindah dari tempat ini! tolong mengerti Bunda!" tegas Luna dengan nada yang sangat keras tidak ingin dibantah 

 

Bunda Merlin pun terdiam ketika mendengarkan perkataan dari putrinya itu dia sangat menyayangi putrinya dan tidak ingin putrinya itu bersedih.

"Apa maksud kamu membantah apa yang dikatakan oleh orang tua kamu, aku didik untuk menurut kepada aku, tapi kenapa sekarang kamu membantah seperti ini!" tegas Ayah Luna yang kecewa kepada Luna. 

"Aku bukannya membantah apa yang dikatakan oleh Ayah, tapi aku juga berhak untuk memilih sesuatu yang aku inginkan dan aku bisa menolak apa yang tidak aku inginkan, iya kan Ayah!" seru Luna kepada Ayahnya yang sedang berdiri di hadapannya.

Luna selalu saja meminta dan selalu saja memohon kepada Ayahnya untuk tidak memindahkan dirinya dari tempat tinggal aslinya. 

"Tolong mengerti dan tolong kamu pikirkan dengan baik, aku ini Ayah kamu aku kepala rumah tangga di sini! kamu tidak tahu bagaimana kehidupan kita, ekonomi kita! tolong kamu mengerti keadaan Ayah kita harus pindah dari sini!" ujar Ayah Luna dengan sedikit tegas kepada anaknya itu. 

Luna terdiam memandangi wajah ayahnya yang selalu saja menyuruhnya untuk bersiap untuk pindah 

dari wilayahnya itu.

"Kenapa aku harus dipaksa seperti ini Ayah!" tegas Luna dengan menggunakan nada yang keras kepada Ayahnya itu.

"Sudahlah kamu jangan membentak Ayah begitu! semuanya Ayah lakukan hanya untuk masa depan kamu!" seru Ayah Luna dengan memandangi wajah putrinya itu.

Luna sangat sedih ketika mendengarkan perkataan Ayahnya, yang selalu saja ingin dimengerti Luna tidak tahu mengapa Ayahnya berani untuk membentak dirinya karena sebelumnya Ayahnya adalah seseorang yang lembut kepada Luna dan juga tidak pernah memarahi Luna sedikitpun.

Luna pun menangis dan berlari Pergi ke kamarnya untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.

Pada waktu yang bersamaan Bunda Merlin berbicara kepada Ayah Rian, untuk membahas Luna yang sedang menangis di dalam kamar. 

"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu dan membentak Luna seperti itu!" tegas Bunda Merlin 

suaminya itu.

"Aku bukan bermaksud untuk menyakiti hatinya tapi harusnya dia mengerti dengan keadaan kita sekarang! aku memang belum bisa menceritakan apa yang terjadi kepada usahaku dan ekonomi kita, kamu pasti tahu kan, bagaimana sekarang," ucap Ayah dari Luna untuk Bunda Merlin.

Bunda Merlin yang mengetahui semua apa yang dirasakan oleh Ayah Rian pun selalu saja menyemangati Ayah Rian untuk selalu saja bersikap lembut kepada anak gadisnya itu.

"Aku tahu perekonomian kita sedang tidak bagus, tapi alangkah baiknya kamu tidak berbicara seperti itu kepada anak kita!" seru Bunda Merlin kepada Ayah 

Rian.

Ayah pun terlihat sangat sedih ketika mendengarkan perkataan dari istrinya itu! dia merasa sangat bersalah kepada anaknya karena dia telah membentak dan juga kasar kepada anak gadisnya itu. 

"Aku tidak tahu kenapa pikiranku sangat kacau ketika Luna selalu saja membantah apa yang aku katakan kamu tahu sendiri kan? bagaimana aku tidak bisa dibentak apalagi oleh anak aku sendiri!" tegas Ayah Rian 

kepada Bunda Merlin.

Ayah selalu saja memberikan pengertian kepada Bunda Merlin karena dia tidak ingin Bunda Merlin ikut berpikiran negatif kepada Ayah Rian.

"Sudahlah kamu tidak perlu membantah apa yang aku katakan sekarang kamu berusaha untuk sabar menghadapi anak gadis kamu itu! kamu tahu sendiri kan dia adalah orang yang sangat pemarah jika dia sampai dipaksa seperti itu!" tegas Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Ayah dari Luna.

Setelah Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Ayah dari Luna Ibu Merlin pun bergegas untuk pergi ke kamar untuk melihat anak gadisnya yang sedang berlinang air mata. 

"Kamu ada apa sih? sudahlah jangan dipikirkan apa yang dikatakan oleh Ayahmu itu adalah untuk kebaikan kamu sendiri, mungkin Ayah dan Bunda belum bisa memberitahukan apa sebenarnya yang terjadi tapi Ayah dan Bunda ingin kamu mengerti dan bisa memahami dengan keadaan ini!" tegas Bunda Merlin kepada anaknya yang sedang berlinang air mata di hadapannya. 

"Tapi aku tidak bisa untuk melakukan semua ini Bunda, aku masih bisa kok bertahan di sini!" seru Luna dengan nafas yang tersendat-sendat. 

Begitu banyak air mata yang dia keluarkan karena kekecewaannya kepada Ayahnya. 

"Tidak ada bantahan soal ini kamu harus bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh Ayah kamu itu adalah hal yang baik!" tegas Bunda yang menyela pembicaraan Putrinya itu.

 

Bunda Merlin memandangi wajah anak gadisnya itu Bunda pun mengusap rambut dan selalu memberikan semangat kepada Luna.

"Bunda aku bukan bermaksud untuk membentak Ayah tadi, tapi aku hanya kecewa dengan perlakuan Ayah kepadaku yang memaksakan aku untuk pergi dan pindah!" tegas Luna dengan memandangi wajah Bundanya itu. 

"Dia selalu ingin dimengerti karena dia tidak menyukai hal yang dipaksakan oleh Ayahnya, coba kamu dengarkan apa yang dikatakan Bunda ya, kamu tidak boleh membantah apa yang dikatakan oleh Ayah kamu!" tegas Bunda yang selalu memberikan pengertian kepada anak gadisnya itu.

 

Semakin Bunda Merlin memberikan pengertian kepada Luna semakin deras juga linangan air mata yang keluar dari mata anak gadisnya itu.

"Sudahlah kamu juga kan sudah Cukup dewasa kamu tidak perlu menangis seperti ini! Bunda mendidik kamu tuh untuk menjadi seorang wanita yang kuat tidak cengeng seperti ini!" tegas Bunda Merlin dengan wajah yang sangat tegas, memberikan pengertian kepada anak gadisnya itu. 

"Bunda tahu tidak sih apa yang aku rasakan kenapa seperti aku di sini yang di pojokan, tapi aku tidak pernah diberikan perhatian sedikitpun harusnya ada yang membela aku tapi semuanya membela Ayah!" seru Luna yang ingin diperhatikan oleh Ayah dan juga Bundanya. 

"Kamu sudah cukup besar dan kamu juga sudah cukup dewasa kamu tidak melihat kamu mempunyai adik yang masih berumur 15 tahun, dia tidak pernah seputud asa ini!" tegas Bunda Merlin yang membandingkan Luna dengan Lina adik kandung dari Luna.

"Kok semakin ke sini bunda malah membandingkan aku dengan Lina maksud Bunda apa sih! aku salah apa Bunda!" tegas Luna dengan menatap wajah Bundanya itu dan juga semakin deras buliran air mata yang dikeluarkan oleh Luna.

bersambung 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status