Because I'm Pregnant
Because I'm Pregnant
Author: tiwayyu
1. Fakta Mengejutkan

Angin sore berhembus menerbangkan rambut hitam lurus milik Galen, dia menatap ke sekeliling berharap agar orang yang membuat janji dengannya tadi siang datang lebih cepat. Suara langkah kaki terdengar begitu jelas membuat pemuda tersebut segera menoleh.

"Kenapa kau lama sekali? Cepat katakan! Apa tujuanmu menemuiku  sekarang?" tanya Galen dengan wajah datar.

Perempuan yang berdiri di depan pemuda tampan itu menatap penuh ragu kemudian mengambil sesuatu di dalam tas, benda pipih berwarna putih tersebut terulur ke arah Galen.

"Aku ... Hamil," lirih perempuan itu sambil menundukkan kepala. Dia tidak mau melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh pemuda di hadapannya.

Benda pipih berwarna putih tersebut terhempas ke tanah, ketika tangan besar pemuda di depannya menepis dengan kuat, "Itu bukan urusanku. Apa hanya ini yang ingin kau katakan? Sungguh, membuang waktuku saja!" Dia berbalik badan.

"A-apa? Kenapa ... Kau berbicara begitu Galen?!" bentak perempuan itu tak terima, air mata bahkan sudah jatuh melewati kedua pipinya yang tembem.

"Aku tidak meminta mu untuk menolong ku hari itu Nasya, jadi jangan salahkan aku." Pemuda tersebut dengan santai menjawab kemudian pergi meninggalkan gadis bernama Nasya itu sendirian.

Tangan Nasya bergetar hebat ketika mengambil test kehamilan yang di tepis oleh Galen tadi, dengan telaten ia kembali memasukkan benda itu ke dalam tas. 

"Apa yang harus aku lakukan sekarang Tuhan?" tanya Nasya gemetar. Perempuan itu memandang kepergian Galen dengan tatapan sendu dan juga marah.

****

Pagi ini Nasya sudah siap dengan seragam sekolah berwarna putih abu, ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Perlahan tangan putih milik Nasya mengelus perut yang masih rata, akan tetapi ia tahu bahwa di sana sudah ada kehidupan baru. 

Sebuah janin yang sepertinya datang tidak sesuai waktu, dia menggelengkan kepala mengenyahkan sebuah pemikiran yang begitu aneh. Bergegas saja Nasya meraih tas yang terletak di atas ranjang, membuka pintu kamar dan turun ke lantai bawah.

Suara kayu berderit adalah ciri khas rumah Nasya, ia tinggal di sebuah rumah kayu dengan dua lantai. Lantai pertama untuk kedua orang tuanya membuka restoran kecil dan lantai kedua untuk mereka tinggal.

"Pagi Nasya, ayo makan dulu." Keina memanggil anak perempuan semata wayangnya agar segera mendekat.

Dengan langkah kecil Nasya mendekat dan merasa aneh ketika mencium aroma masakan sang Ibu, "Aku ... Aku harus berangkat sekolah Bu, perutku masih kenyang." Kemudian berlari ke luar rumah.

"Hei! Kau belum makan apapun, Nasya ayo kembali!" teriak sang Ibu begitu nyaring sehingga menggelar di rumah kecil mereka. Ayah Nasya yang tadinya sibuk membaca koran menatap dengan heran.

"Biarkan saja Keina, mungkin dia sedang terburu-buru," jawab Carel Ayahnya Nasya santai.

Perempuan berbadan dua tersebut duduk di halte bus, ia membuka tas dan mengambil benda pipih di dalamnya. Dia tersenyum kecil ketika melihat pesan dari Ratu, sahabatnya. Akan tetapi fokusnya teralihkan pada foto seseorang yang berada di galerinya. Di sana wajah Galen terpampang begitu jelas, sudut bibirnya terangkat ke atas.

"Untuk apa aku menyimpan foto ini? Sungguh bodoh sekali," rutuk Nasya memukul kepalanya pelan.

****

Suasana sekolah sudah mulai ramai ketika Nasya menginjakkan kaki di sana, beberapa orang akan menatap dirinya sinis karena Nasya adalah anak beasiswa. Entah kenapa status orang yang sekolah karena beasiswa begitu rendah di mata siswa lainnya.

"Nasya ayo ke sini!" teriak seorang gadis yang sudah menunggu kehadiran perempuan itu di depan pintu kelas. 

"Kenapa kau terlihat begitu antusias?" tanya Nasya begitu penasaran.

Gadis itu tampak menatap sekeliling dan menarik tubuh Nasya mendekat, "Kau tahu ada satu anak beasiswa yang dikeluarkan dari sekolah karena ia sedang hamil, sungguh malang sekali bukan?"

Detak jantung Nasya berdegup lebih cepat, rasa takut memenuhi rongga dada. Dengan gemetar tangannya memegangi kepala dan mengundang tanya di benak Ratu.

"Kenapa Nasya? Apa ada yang sakit?" tanya gadis itu begitu khawatir, ia memapah tubuh sahabatnya itu masuk ke dalam kelas, membawanya menuju tempat duduk. Ratu mengulurkan air minum miliknya, "Minumlah ini."

Masih dengan tangan gemetar Nasya mengambil botol tersebut, ia meminum air dengan begitu cepat.

"Ada apa denganmu Nasya?" tanya Ratu lagi ketika melihat bahwa sahabatnya itu sudah sedikit baikan setelah meminum air.

Nasya menggelengkan kepalanya, "Aku ... Aku tak apa Ratu, hanya sedang haus saja. Lagipula tadi Pagi aku tidak sempat sarapan." Nasya berbohong, padahal sudah jelas tadi Pagi sang Ibu sudah menyiapkan makanan untuknya.

"Aku pikir kau kenapa, apa ingin aku belikan makanan?" tanya Ratu lagi masih dengan nada khawatir.

"Tidak, aku tidak apa Ratu. Jangan begitu khawatir," kekeh Raina yang membuat Ratu kesal.

"Kau ini!" ujar gadis itu kesal sambil memukul bahu Nasya. Keduanya pun tertawa, tanpa mereka sadari bahwa semenjak tadi ada satu pasang mata yang tak henti-hentinya menatap pada Nasya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status