Share

82. Bukan yang Terakhir

Mino, Arin dan juga Rey di kumpulkan di sebuah ruang rapat yang berada di lantai tiga gedung utama di sekolah. Mereka duduk di meja bundar. Arin dan Mino bersebelahan sementara Rey duduk bersebrangan. Seharusnya Ali juga berada di sana, tetapi dia masih merasa kurang sehat sehingga memutuskan untuk libur pada hari itu. Lagi pula, Ali tetap ingin untuk pindah sekolah meski aku sudah membujuknya hari itu, saat kami selesai membuat video.

“Kau tetap akan pindah sekolah?”

Ali tersenyum lirih saat mendengar pertanyaanku. “Hm. Lagi pula aku memang tak ingin terus bersekolah di sini.” Ali berkata pelan. “Toh, aku tak punya teman yang merasa ditinggalkan jika aku pindah.”

“Hei! Memangnya kami ini bukan temanmu?” Arin berseru tak setuju. Dia meninju pelan lengan Ali yang duduk di sampingnya.

“Ah, itu….” Ali terkekeh. “Tapi keputusanku sudah bulat. Maafkan aku dan juga terima kasih atas semua ini.” Ali sudah mengucapkan salam perpisahan.

Locked Chapter
Continue to read this book on the APP
DMCA.com Protection Status