Mine
Mine
Author: Ayzahran
1 || Dunia Malam

Tiga mobil sport saling menyalip di jalanan bebas hambatan, waktu menunjukkan lewat tengah malam. Deruman mesin mobil dari kelima muda-mudi yang ada dalam ketiga mobil tersebut membuat beberapa pengendara lain merasa kesal.

Mereka melaju dengan kecepatan tak tanggung-tanggung. Satu mobil Lamborghini Aventador berwarna silver memimpin jalan. Dengan gesit pengemudi mobil itu menyalip beberapa kendaraan di depan.

“Yuhuuuu!!!” Dia bersorak sambil menepuk-nepuk kemudi mobil.

“Dien, pelan-pelan aja! Lo bakal kena tilang kalau kecepatan di atas rata-rata,” ucap seorang wanita dengan rambut ikal sebahu yang duduk di sebelah kursi kemudi.

Andien menoleh dengan menyunggingkan senyum.

“Lo tenang aja. Polantas udah pada tidur, jam segini ngapain nugas coba. Santuy!”

Raya, sahabat Andien hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Suara klakson menembus gendang telinga Andien. Sebuah mobil Huracan berwarna kuning menyalip dengan cepat.

Andien berdecak, gara-gara Raya dia berada di posisi kedua.

Tiga mobil itu berhenti di garis akhir sesuai perjanjian. Andien menjadi posisi kedua setelah Rico berhasil merebut di saat terakhir.

“Lo kalah, Dien! Sesuai perjanjian kita, lo bakal ikut clubbing malam ini!” Rico berseru sambil melakukan high five kepada dua orang temannya yang berada di posisi ketiga.  

“Iya, iya. Gue juga nggak bakal lupa sama janji gue,” sahut Andien.

Raya menarik Andien sedikit mundur ke belakang.

“Apa nggak masalah Dien? Hati-hati lo sama dia,” bisik Raya.

“Lo tenang aja. Rico nggak bakal macam-macam. Gue pasti menang tadi kalau lo diam.”

“Gue khawatir tau. Lagian lo juga mau ikut balapan. Kita tadi harusnya langsung pulang,” balas Raya sedikit kesal.

“Udah, lo ikut aja. Gue lagi butuh hiburan.”  

Andien mengulas senyum manis lalu menarik tangan Raya kembali mendekat ke arah Rico.

“Kita mau ke mana? Lo yang nentuin!”

Sudut bibir Rico terangkat. “Go ahead.”

Andien mengikuti mobil Rico dan teman-temannya. Mereka terus melaju hingga masuk ke dalam kawasan sebuah kelab elit yang begitu ramai.

Andien mengibas rambut kecokelatan yang tergerai ke belakang punggung. Dress pendek seksi yang menampakkan lekuk tubuhnya, serta bagian belakang yang mengekspos sempurna menjadikan Andien pusat perhatian kaum Adam yang ada di sekeliling.

Suara musik yang memekakkan telinga menyambut Andien dan Raya begitu masuk ke dalam kelab malam tersebut.

Andien membawa Raya menuju kursi dekat bartender. Mata Raya was-was melihat ke sekeliling, para penikmat hiburan malam mulai terlena dengan kesenangan. Bahkan ada yang terang-terangan berciuman tanpa tahu tempat.

“Dien, balik aja yuk. Gue nggak nyaman nih,” ucap Raya sedikit mengeraskan suaranya yang tertutup suara musik.

“Baru juga datang. Nikmati aja.”

“Berikan satu Apple Jack dan Cola,” kata Andien lagi.

“Nikmati dulu, gue ke belakang bentar,” bisik Rico.

Andien mengangguk dan terus meneguk minumannya. Baru tiga gelas kepalanya sudah terasa berat. Raya yang tahu Andien tidak kuat minum terus membujuk Andien untuk pulang.

Andien menolak dan kembali meneguk gelas keempat.

“Siap berpesta?” Rico mengulurkan tangannya mengajak Andien.

“Let’s go!”

Andien dan Rico turun ke lantai, menunjukkan gerakan tari yang menggugah hasrat keduanya. Andien makin larut dalam rasa mabuk yang tak bisa dia kendalikan. Sementara Raya, hanya bisa melihat dari jauh. Dia makin risi dengan kedua teman Rico yang mencoba menggodanya.

Andien makin menggila, kepalanya pusing hingga dia terhuyung jatuh dalam pelukan Rico. Pandangan Andien perlahan samar dan dia tak sadarkan diri.

***

Perlahan-lahan, kedua iris cokelat bening itu mengerjap. Tampak asing dengan keadaan sekitar. Andien memegang kepalanya yang terasa berat dan pusing. Dia merasakan pegal di sekujur tubuhnya.

Mata Andien membulat ketika melihat tubuhnya yang tertutupi selimut tanpa sehelai pakaian. Andien menyapu pandangan melihat Rico mendekat dengan membawa segelas air jeruk.

“Selamat pagi, Sayang.”

“Di mana gue?”

“Di apartemen gue!” jawab Rico seraya menaruh nampan di atas nakas.

“Apa yang terjadi semalam? Beraninya lo nyentuh gue tanpa izin!” sentak Andien merasa tidak terima.

“Gue mendesah, lo mendesah. Kita sama-sama have fun dan nggak perlu izin dari lo. Lo sendiri yang ngasih tubuh indah itu ke gue.”

“Kurang ajar lo, ya. Lo udah manfaatin gue di saat mabuk. Apa lo sengaja lakuin ini?!” berang Andien melingkari tubuhnya dengan selimut.

“Gue nggak maksa lo. Malah semalam lo yang paling buas. Nih, lo bahkan ninggalin jejak di sini.” Rico menunjukkan tanda kiss mark di lehernya.

Andien memegang kepalanya yang masih berdenyut. Dia tidak tahu harus menyalakan Rico atau memang dirinya yang berada di luar kendali. Bagi Andien, hal lumrah jika melakukan permainan ranjang. Namun, Andien selalu memakai pengaman jika ingin melakukan dengan pria yang ingin dia tiduri. Rico sudah membuat kesalahan besar karena tidak mempersiapkan lebih dulu.

“Berikan baju gue!”

“Ada tuh di sofa. Jalan ke sana aja, ambil sendiri.” Rico mencolek dagu Andien lalu melangkah masuk ke kamar mandi.

Andien segera meraih pakaiannya. Setelah mematut diri di cermin, Andien meneguk air jeruk lalu menyambar heels dan beranjak pergi.

***

Andien mengendap perlahan ketika memasuki rumahnya. Dia memastikan sekeliling, tidak ada orang rumah yang melihatnya pulang dengan keadaan kusut seperti itu.

“Andien!”

Andien menahan langkah. Matanya terpejam takut mendengar suara berat seseorang yang berdiri tak jauh di belakang. Mahendra Laksmana—ayah Andien.

“Dari mana saja kamu semalam? Kenapa baru pulang?”

Andien membalikkan badan. Dia menarik otot wajah membentuk senyum manis.

“Andien tidur di rumah Raya, Pa,” cicit Andien mencari alasan.

“Kamu ini kerjaannya cuma keluyuran saja. Papa suruh kerja nggak mau. Mau jadi apa kamu?!” tegas Mahendra menatap tajam putri semata wayangnya.

“Buat apa kerja, Pa. Andien kan tinggal nikmatin hasilnya aja tanpa harus capek-capek kerja.”

Andien lantas berbalik cepat dan berlari menuju kamarnya. Mahendra hanya bisa menarik napas berat melihat tingkah Andien yang tiap hari membuat kepalanya pusing.

Andien mendesah lega ketika masuk dalam kamarnya. Setidaknya dia tidak harus mendapat omelan dari Mahendra setiap kali berbuat salah.

Andien segera membersihkan diri dan melakukan aktivitas seperti biasanya—datang ke perusahaan Mahendra dan bertemu dengan Raya.

Andien sudah bersiap. Dia memeriksa lagi penampilannya di cermin. Setelah memastikan tidak ada yang kurang, Andien mengemudikan mobil kesayangannya menuju perusahaan.

Dari kejauhan kendaraan mahal itu terlihat menyilaukan ketika beradu dengan sinar matahari pagi. Andien turun dengan elegan memasuki perusahaan.

Andien mengibas rambutnya dan mengaitkan anak rambut ke belakang telinga. Dia melangkah dengan membusungkan dada, merasa paling cantik di antara pegawai wanita yang ada di bawah naungan perusahaan Arya co, Ltd.

Tiba-tiba, seseorang menabraknya saat keluar dari ruang kerja Raya bersamaan dengan Andien yang hendak membuka pintu.

“Punya mata nggak sih?!” sentak Andien kesal. Dia menatap angkuh pada pegawai OB yang memegang nampan dengan pandangan tertunduk.

“Maaf, Bu. Aku tidak sengaja.”

“Bu, bu. Lo pikir gue ibu lo!” balas Andien tidak terima.

Pria itu mengangkat muka. Dia menatap lekat wajah Andien.

“Terus aku panggil siapa? Nona? Tidak mungkin, karena umur Anda tidak muda lagi.”

“Berani lo ngatai gue!” Mata Andien melotot tajam. Asap emosi mulai mengepul. Beberapa pegawai kantor yang berada di sekitar hanya bisa memandang diam.

“Aku hanya berkata apa adanya. Aku juga sudah minta maaf. Lagi pula, tidak ada yang lecet di tubuh Anda. Kita hanya bersentuhan bahu saat Anda hendak masuk jadi tidak perlu perpanjang. Permisi!”

Andien terbelalak melihat pria itu berani sekali melawan perkataannya.

“Andien!” Raya menahan tangan Andien saat dia ingin mengejar pria itu.

Raya memaksanya masuk ke dalam ruangan. Andien sangat kesal dia melempar punggungnya di sofa.

“Siapa pegawai sialan itu? Kenapa gue baru liat?”

“Dia pegawai baru. Lagian lo kenapa juga ribut untuk hal sepele. Bukankah dia sudah minta maaf.”

“Enak aja, gue nggak terima lah. Lo tau gue kan, gue nggak suka ada yang berani melawan gue. Lo harus pecat dia. Segera!”

“Mana bisa gitu, itu bukan wewenang gue.”

Andien mendengus kesal dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

“Berarti hanya bokap gue yang bisa.”

“Pak Hendra juga nggak mungkin mecat pegawai tanpa alasan berdasar. Apalagi hanya karena berurusan dengan lo.

“Ih ... menyebalkan!”

“Semalam gimana lo sama Rico? Katanya dia nganter lo pulang. Beneran?” Raya mengalikan topik.

Andien berdecak. “Dia menjelajah tubuh gue saat gue dalam keadaan mabuk berat.”

“Hah?! Ya ampun, Dien. Lo kapan sadarnya sih. Apalagi sama Rico, dia itu nggak sebaik yang lo liat.”

“Nggak usah peduliin itu. Panggil OB yang tadi buat bawain gue kopi. Sekarang!”

Raya hanya bisa menghela napas berat melihat tingkah Andien yang selalu seenaknya. []

DMCA.com Protection Status