Dara  Amara
Dara Amara
Author: Meyliyani Jessika Maramis
Lorong sunyi

Aku bertemu Ayah.

Ia memgenakan setelah jas hitam dengan celana kain hitam miliknya serta sepatu coklat tua yang terpakai rapi dikakinya.

Aku dan dia juga berfoto.

Berpelukan.Aku memeluknya sangat erat.Sangat sangat erat seakan aku tidak ingin dia pergi lagi.aku ingin dia ingin tetap disampingku berdiri tersenyum padaku.Bahkan ia mengatakan bahwa ia sangat menyayangiku.

Menciumku dengan lembut dan memelukku dengansangat erat.

Mengajakku menari.bahkan melatihku menari dan semua orang yg menyaksikan itu ikut menyemangati kami.

Aku tidak mau mimpi ini kulupakan.

Oleh karna itu aku harus menulisnya.

Agar bisa kubaca dan kuingat kembali.

Namun,waktu berjalan begitu cepat.

Ayah harus diambil kembali.

Karna sebenarnya tubuh yang kupeluk adalah sebuah mayat yang dibekukan.

Ayah menciumku erat.Aku menyuruh Adikku mengambil gambar aku dan ayah.

Ayah tersenyum menghadap kamera seraya kembali memelukku erat.

Bau original tubuhnya sangat sangat kusukai.

Hingga ia kembali menciumku dan memelukku erat kemudia berkata Ia akan kembali lagi.

Aku menangis dan melihat kepergian ayah menaiki tangga ke atas untuk pergi.

Kemudian setelah tidak kulihat Tubuh besar ayah lagi,Ku ambil hpku.

Dan kulihat foto yang diambil Adikku.

Aku bahagia dapat berfoto dengan Ayah.

Walaupun hanya bersama tubuh pucat,kaku,dan muka tak tersenyum milik Ayah.

Kuharap esok aku memimpikabnya lagi.Namun,mimpi yang sama.

Mimpi yang terlihat seperti kenyataan.

Mimpi yang membuatku tidak ingin bangun lagi.

Ayah,Aku rindu.

Bahkan aku kembali melihat isi galeriku apakah itu nyata atau tidak.

Bodohnya Aku🙂

Kamis,18Maret

....

"Ampun!"

Hiks....

Hiks...

Hiks..

"Kumohon...sshh Aku akan lakukan apapun....Apapun yang kamu inginkan"

Seruan minta tolong serta suara memelas seorang wanita disebuah Lorong Gang kecil yamg kini hanya diterangi lampu kecil kuning yang hanya redup saja sedari tadi.

"Kumohon Dar..Aku mengaku salah.."

Ucap gadis itu masih menekan erat luka diperutnya yang kini sudah mengeluarkan begitu banyak darah.Terlihat rambut tipis milik gadis itu kini sudah basah karna keringat dingin bercampur darah.

Wajah putihnya bertambah pucat bibir bibirnya ia gigit sekuat mungkin untuk menahan Pedihnya luka diperutnya.

Sementara itu,Gadis dihadapannya masih berdiri santai dengan pisau yang dipegang erat ditangan Kirinya.Dengan langkah santai ia maju seakan akan tidak ada lagi sifat empati didalam dirinya.

"Dar....ahhh sshh plis gue mohon s...a...k...i...t...."

Ucap sikorban dengan tangan yang masih menekan lukanya menahan rasa sakitnya.

"Kamu salah jalan j*l*n*g kecil.Aku tidak pernah menolong orang.seharusnya kamu bertanya dulu atau setidaknya kamu pergi bersama pacarmu itu.Kamu tau kan sekarang sudah larut.Anak gadis tidak baik diluar sendirian."

Kata gadis psikopat ini sambil terus melangkah maju kedepan.

Kini jarak keduanya hanyalah beberapa senti saja.

Dengan kasar dia menarik Rambut gadis ini kemudian mendekatkan mulut berlipstik merah hitam pekat miliknya.

Si korban terus memohon seraya berkata

"Adara...pliss gue tau lu orang baik.gue tau lu ga bakalan ngebunuh gue kan Dar..."

"Kamu harus mati.Gadis baik saja yang harus hidup.Gadis yang penurut.Gadis yang seharusnya harus menutup mulutnya seumur hidup dan tidak membantah"

Bisik Gadis psikopat ini tepat ditelinga milik gadis yang kini sudah pucat berkeringat dingin dan lemas itu.

Gadis psikopat itu menarik rambut tipis milik gadis ini hingga kepalanya terangkat.Kemudian,dengan gaya cantiknya ia menusukan leher gadis ini 

Sekali.....

Dua kali....

Tiga kali....

Bahkan berkali-kali...

Darah hitam pekat kini bermuncratan keluar dari leher gadis muda ini.Pembuluh pembuluh darah gadis ini sepenuhnya sudah pecah.Terkoyak-koyak tak beraturan dikarenakan pisau hitam kecil milih gadis psikopat itu.

Darah masih mengucur deras.Membasahi baju seragam putih yang kini sudah tidak lagi berwarna putih itu.

Jiwa gadi itu mungkin saja sudah hilang.Nyawanya sudah terbang meninggalkn tubuh.

Namun,gadis dihadapannya ini masih setia mengoyak ngoyakn kerongkongan gadis ini.

Bahkam diambilnya beberapa urat urat leher yang licin lengket penuh darah itu kemudian mengepangnya menjadi ssperti serangkaian tali.

Gadis psikopat ini pun berdiri.

Mengeluarkan sebuah boneka Kayu kelinci dengan dua gigi depan yang panjang sembari tersenyum.

Diambilnya juga dua buah paku.

Kemudian ditusukannya paku itu didalam sebuah lubang tepat diatas kepala boneka kayu itu.

Kemudian,Gadis psikopat ini mengangkat baju putih yang sudah memerah itu ke atas.Hingga terlihatlah perut mungil milik gadis si korban itu.

Kemudian,

Duciumnya perut gadis itu seraya berkata

"Ada hadiah kecil untukmu"

Satu tusukan tajam kedalam perut gadis itu.hingga tertancaplah paku itu di perut gadis itu.

Boneka Kayu kelinci itu tersenyum menampilkan dua gigi depannya.

Diatas perut seorang gadis Belia yang mati teronggok begitu saja.

Dengan rambut yang berantakan dan tubuh yang bermandikan darah segar.bagian yang lain sudah mengering namun yang lainnya masih dengan semangatnya mengalir keluar.

Hari semakin gelap,bunyi Adzan magrib terdengar melwngking tinggi.

Hari semakin gelap.

Darah menghitam yang kini sudah mengering itu tececer begitu saja dijalanan sepi didalam gang sempit itu.

Bunyi sepeda dengan Gelas plastik yang sengaja diletakan diban itu tersengar dari ujung lurung.

Seorang anak Lelaki bekaos oblong biru tengah bersepeda menuju rumahnya.

Ketika sampai ke ujung gang,

Anak kecil ini masih berpikir dua kali.

Jika ia tidak melewati lorong ini ia harus berputar 2 kali lipat lebih jauh.

Sementara Rumahnya tepat berada dikiri ujung lorong tersebut.

Mata cokelat miliknya masih memandang penuh Bimbang.Bingung dan gelisah.Memilih melwati lorong gelap itu atau memutar untul sampai ke rumah.

Dengan menarik satu hembusan nafasnya,Si anak kecil ini mulai mendorong sepedanya menyusuri lorong gelap ini.

Sebenarnya tidak terlalu gelap namun tentu saja bagi anak umur 10 Tahun ini Sangat mengerikan.

Bunyi plastik dari sepedanya itu terus menjadi nyanyiannya sepanjang lorong gang itu.

Hingga Tiba dipertengahan Lorong sempit itu,si bocah kecil menggiring sepedanya cepat.Entah apa yang dilihatnya.Wajahnya pucat.Bibirnya memutih pertanda ketakutan sudah menguasai diri bocah ini.

Sepeda yang dirasa menjadi beban saja ditinggalkannya disitu dan segera berlari....

Berlari....

Dan teruz berlari menuju kerumunan.mencari orang dewasa yang setidaknya bisa melegakan ketakutan didalam dirinya itu.

"Dek,"

Nafas naik turun anak ini terus saja memburu.Jantungnya sudah tidak bisa ia tenangkan lagi.

Ketika,ia melihat sekumpulan anak muda sedang nongkrong disebuah kos-kosan.

"Dek,adek kenapa?"

Tanya salah seorang pemuda berambut kelimis dan berkacamata.

"Itu kak....itu....digang depan"

Nafas anak ini masih beradu.melawan kegugupannya serta ketakutannya sendiri.Ia tidak bisa mengendalikan deru nafasnya.Ditambah wajahnya yang sedari tadi sudah pucat.

"Ada apa dek?Ada apa digang depan?Ada yang jahatin adek?"

Kini bukan hanya satu yang bertanya.serempak2 pria dibelakang yang sedari tadi sibuk bermain Game ikut khawatir dan teralihkan perhatian oleh bocah ini.

Bocak berkaos oblong ini.Dengan wajah yang pucat sert badan yang sudah bermandikan kwringat dingin itu kemudian berteriak ketakutan.

"ADA MAYAT CEWE KAK!"

"Hah! dimana dek?jangan bercanda loh.Dosa!"kata si pria berkacamata,dengan sedikit menyipitkan matanya.

"Kakak semua pergi aja ke sana liat sendiri.sepeda aku juga masih disana kak.Aku takut kak.Takut pokoknya aku takut"ucap bocah ini masih mulai bersembunyi.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status