La Tahzan, Miss Lemot
La Tahzan, Miss Lemot
Author: Hidsa
Salah Hari

Seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Entah apa yang ingin dia lihat? Yang jelas, dia hanya mengulas senyum manisnya. Senyum manis yang selalu terukir di bibirnya setiap hari, tanpa lelah. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan keluar kamar dan menuju ke ruang makan.

"Selamat pagi, Bun," sapa gadis itu kepada wanita paruh baya yang sedang berkutat dengan masakannya.

Gadis itu menatap ke arah meja makan yang terdapat beberapa makanan. Hati rasa ingin mencicipi, tetapi apalah dayanya yang takut sang bunda marah.

"Bunda, Ines berangkat dulu, ya. Assalamu'alaikum, Bun." Setelah mencium punggung tangan bundanya, Ines langsung berjalan keluar rumah menuju ke depan gerbang rumahnya.

Vinessa Queensheila Erick. Gadis yang cantik, manis, dan selalu menebar senyum kepada setiap orang. Dia juga selalu membuat orang tertawa sekaligus kesal dalam waktu yang bersamaan, karena ketidakwarasan dan kelemotannya, membuat siapa pun di sekelilingnya akan langsung naik pitam.

Seperti saat ini, dia sedang berdiri menunggu jemputan dari seseorang untuk berangkat ke sekolah. Namun, sudah pukul 07.25 WIB orang yang ditunggu tak kunjung datang. Dia kemudian mengambil ponsel di saku celananya untuk menghubungi orang itu. Saat sudah tersambung, Ines langsung berbicara pada intinya tanpa memberi salam sekalipun.

"Halo, Akang Fernanku yang gantengnya tiada tara," ucap Ines dengan nada selembut mungkin.

"Hm, apa?" tanya Fernan dengan suara serak khas bangun tidurnya di seberang sana.

"Lo lama banget, sih, jemput gue, Fer. Kaki gue kesemutan, bahkan badan gue hampir lumutan," papar Ines.

"Jemput lo? Emang mau ke mana?" tanya Fernan kembali.

"Ya ke sekolahlah, Akang Fernan!" tegas Ines sambil mengentakkan kakinya.

"Sorry, gue baru bangun tidur, Nes," sahut Fernan.

"Lo baru bangun, Fer? Kok bisa, sih? 'Kan hari ini sekolah, Fer?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Fernan, Ines malah balik bertanya dengan bertubi-tubi.

"Sebentar, Nes. Sekolah, ya?" beo Fernan, "emang hari ini hari apa? Bukannya hari minggu, ya? Kok bisa sekolah, sih? Atau gue yang salah? Gue lihat kalender dulu." Fernan menatap ke layar ponselnya dan membuka kalender.

"Fer, lo ngomong apaan, sih? Ayo, buruan jemput gue. Nanti kita telat!" pekik Ines.

Fernan mendengkus sebal. "Makanya, kalau lemot jangan dipelihara, Nes! Lo ganggu mimpi indah gue yang lagi kencan sama Lisa blackpink. Ini hari Minggu, Ogeb. Lihat kalender lo makanya. Udah, ah, bye."

"Minggu?" Ines menyalakan ponselnya, lalu melihat kalender.

"Si Fernan kayaknya pengen libur sendiri, nih, anak. Orang di kalender Ines aja sekarang hari kamis. Gimana bisa libur?" gumam Ines.

Ines mengedikkan bahunya, lalu berjalan menuju ke halte bus terdekat. Saat sedang menunggu bus yang lewat, tiba-tiba sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapan Ines. Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal.

Bagaimana tidak kesal? Mobil ini menghalangi pemandangan Ines. Gadis itu berjalan mendekati jendela mobil, lalu mengetuknya dengan pelan.

"Permisi, Pak, Kak atau siapa aja. Tolong mobilnya jangan menghalangi pemandangan saya!" ucap Ines dengan sedikit lantang.

Kaca mobil terbuka lebar, tampaklah seorang pria dengan setelan kantor lengkap dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

Pria itu melambaikan tangannya, lalu berkata, "Halo, Princess? Are you Okay?"

"Not fine."

Pria itu mendengkus sebal. "Mau ke mana?" tanya pria di dalam mobil itu sambil menatap Ines dari bawah sampai ke atas.

"Ck, mau sekolah, Bang Arka," jawab Ines dengan santainya.

Arka, pria di dalam mobil itu langsung terkejut dengan mata yang melotot. Dia atau gadis di hadapannya ini yang bego? Pasalnya, tadi dia melihat kalender sebelum pergi, tetapi ini bukankah hari minggu?

"Kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Arka dengan hati-hati.

Ines menganggukkan kepala. "Baik."

"Kayaknya kamu nggak baik, deh. Abang tahu kamu lagi frustasi, tapi nggak begini juga, Nes." Mendengar ucapan abangnya, Ines hanya mengerutkan dahi sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Orang aku sehat, Bang."

"Sehat kok oon," gumam Arka.

"Ini hari minggu, Nes. Ngapain kamu sekolah? Mau mejeng dengan Pak Kobet? Ya, kali, Dek. Jangan malu-maluin abang dong!" Sinis Arka.

"Minggu? Ini kamis, Bang," bantah Ines.

"Coba lihat ponsel kamu."

Ines menyerahkan ponselnya kepada Arka, membuat pria itu langsung menghidupkan ponsel adiknya. Dia mengecek kalender dan ternyata benar. Ya, benar-benar buat kesal.

"Ya, gimana nggak hari kamis! Lihat, ini bulannya. Dasar ogeb!" Arka menoyor kepala Ines, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.

Arka menarik tangan Ines agar masuk ke mobilnya. "Masuk, Abang ajak kamu ke suatu tempat."

***

Arka memarkirkan mobilnya di halaman perusahaan milik sang ayah, yang kini telah diambil alih olehnya. Ines cemberut, gadis itu mengira bahwa Arka akan membawanya ke suatu tempat yang indah. Ternyata ke perusahaan? Tempat membosankan dan melelahkan bagi Ines. Bagaimana tidak? Di sana Arka hanya menyuruhnya duduk, lalu terkadang meminta bantuan.

"Ngapain, sih, ke sini?" tanya Ines.

Arka menatap ke arah adiknya. "Mau jual paku."

Ines mengerutkan dahinya bingung. "Hah? Gimana ceritanya, Bang, perusahaan jualan paku? Dikira matrial kali," ucap Ines sambil memutar bola matanya jengah.

Arka menjitak kepala Ines dengan gemas. "Ya kali, Nes. Masa abang yang gantengnya mirip Bright, harus jualan paku di perusahaan."

"Ganteng dari mana, Bang?" tanya Ines, "kalau Bang Sean sama Bang Erick beneran gantengnya, abang mah oplas kali."

"Yang bener aja, Nes! Masa abang harus oplas dulu biar ganteng! Ini kegantengan alami yang diturunkan oleh Ayah sama Bunda," ungkapnya dengan bangga.

"Muka kayak badut ancol aja bangga," gumam Ines yang masih terdengar oleh Arka.

"Adek siapa, sih, lo? MasyaAllah, pinter banget. Saking pinternya, gue pengen pelet lo," gerutu Arka.

"Ye, dikira melet pacar apa? Ya kali Ines mau jadi pacar Abang, ogah. Mending Ines jadi pacarnya si Jupri aja," cerocos Ines.

"Ih, itu mulut atau burung perkutut? Nyerocos aja kalau ngomong. Mending suaranya bagus, kayak kaleng rombeng!" pekik Arka sambil menoyor kepala Ines.

"Abang kdrt, nih, dari tadi jitakin kepala Ines mulu," racau Ines.

Arka memukul tangan Ines dengan lumayan keras, membuat sang empu mengaduh kesakitan.

"Ya kali gue kdrt sama adek sendiri. Kalau sama bini gue, baru namanya kdrt. Lo kapan pinternya, Nes?" pungkas Arka dengan nada kesal, lalu berjalan mendahului Ines.

"Nanti, Bang. Kapan-kapan!" teriak Ines sambil berlari menyusul sang kakak.

Ketika Arka dan Ines akan memasuki gedung, tiba-tiba sebuah suara memanggil nama keduanya.

"Bang Arka, Ines," panggil seseorang, membuat keduanya menatap ke asal suara. Arka menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Ines menatap tajam ke arah orang di hadapannya kini.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status