Share

6. Juna cemburu

Satu dua buah nanas. Liat kamu sama dia hatiku panas. -Juna

๏ฟผ

๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

"Haduh, jadi gak ikut ulangan ekonomi kan. Ngapain pingsan segala sih," gerutu Laura kesal, inilah yang ia benci dari penyakitnya. Pingsan berujung UKS atau pulang yang nantinya di marahi sang ibu karena penyakitan.

Juna meraih pergelangan tangannya. "Kamu kan masih belum baikan. Mending disini aja deh,"

Laura menoleh. "Gak usah sok perhatian. Karena kak Juna bukan siapa-siapaku," tegas Laura menusuk.

"Kata siapa? Kamu itu sekarang pacarku," kata Juna dengan enteng dan santainya.

"Mimpi aja terus," Laura melangkah pergi dan berlari menghindari Juna. Ia tak ingin hidupnya penuh masalah di sekolah, cukup di rumah.

Laura terlalu fokus melihat le belakang memastikan keberadaan Juna hingga gak sadar menabrak seseorang dan sesuatu yang terjatuh.

"Eh, maaf ya. Aku tadi di kejar banteng," ucap Laura tak enak hati, Bram mengambil pensilnya yang tadinya lancip menjadi tumpul karena jatuh.

Melihat ekspresi Laura yang ketakutan kalau ia marahi pun terlihat lucu, Bram tertawa. "Tenang aja, aku gak bakalan marah kok," memamg Bram yang paling ramah di kelasnya.

"Beneran? Terus, itu pensil kamu," Laura menunjuk pensil Bram yang sudah tumpul, semua ini salahnya dan Juna kalau seandainya cowok itu tidak menunggunya sadar di UKS tanpa ada angin, hujan, badai, petir, musim dingin, kemarau, dan semi.

"Gak masalah kok ra. Oh iya, pak Mualim ngasih soal ulangan di lembaran kertas yang udah ada di bangkumu. Kamu bisa ngumpulin besok. Pak Mualim di pindah tugaskan ke SMA Kencana," ujar Bram lembut. Wajah yang tampan, ketua kelas, ramah, baik, menolong teman tanpa membedakan, pandai mengontrol emosi, mencari dimanakah sosok laki-laki yang sama seperti Bram?

Juna yang melihag Laura berkomunikasi dengan seorang cowok pun hareudang di buatnya. 'Apa-apaan Laura deket sama dia? Ck, sengaja ya kalau gue liat kepanasan?' batin Juna ketar-ketir. Juna mempercepat langkahnya, berniat menarik tangan Laura dan berteriak lantang kalau Laura adalah pacarnya sekarang. Namun, Laura dan manusia berjenis laki-laki itu pun berjalan bersisian menuju kelasnya.

Juna menarik rambutnya frustasi. "Arghh!!! Laura, kamu berhasil buat gue cemburu!" teriak Juna menggema di koridor, hingga beberapa siswa penasaran keluar melihat Juna yang teriak seperti orang gila.

๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

Saat bel pulang sekolah, Bram menawari Laura agar pulang bersamanya. Namun Laura menolak secara halus dengan alasan ia kerja kelompok, meskipun tugasnya di kumpulkan lusa.

"Tapi ra, aku kan mau nganterin kamu pulang selamat sampai tujuan. Bukannya jalan kaki sendirian, kalau ada apa-apa siapa yang nolongin kamu? Gak ada Laura," Bram memaksa, sudah berkali-kali Bram pernah menawarkan pulang bersama semenjak kelas 10 hingga sekarang, Laura tetap menolaknya.

"Maaf ya Bram. Aku bisa pulang sendiri, nanti ngerepotin. Permisi," Laura melangkah pergi, Bram mengejarnya.

Bram mensejajarkan langkah Laura. "Laura, tau gak? Hari ini aku bawa sepeda loh," ucap Bram menarik perhatian, Laura tidak suka motor dengan alasan pusing setelah menaikinya.

Laura mulai tertarik. "Oh iya?" rautnya berubah sumringah, sepeda membuatnya nyaman, merasa lepas, dan tidak menimbulkan pusing.

Bram mengangguk. "Beneran. Itu, sepedaku," Bram menunjuk sepedanya berwarna emas kecoklatan.

Laura takjub, wajar saja karena Bram dari keluarga berada.

"Wah, bagus banget. Pasti mahal ya?" Laura teramat ingin memiliki sepeda mewah seperti Bram, namun itu hanya angan-angan semata.

"Hadiah ulang tahunku dari nenek. Jarang aku pakai sih," Bram menaiki sepedanya. "Ayo ra, pegangan ya,"

Laura was-was. "Kamu mau ngebut ya?" tanyanya cemas.

Bram menggeleng. "Gak kok, pegangan aja biar gak jatuh nanti. Ngapain ngebut? Gak boleh ra, kan jalan raya. Kalau keserempet kendaraan? Bahaya ra, mending pelan-pelan aja asal selamat," ucap Bram bijak, ah andai saja Bram itu masih jomblo, Laura sangat berharap Bram menaruh hati padanya. Sangat di sayangkan Bram sudah dekat dengan Tina, cewek cantik ketua junalistik.

J

una yang melihat Laura yang sudah tancap gas pun mengikuti diam-diam. Juna meragukannya, bisa saja cowok itu ada maunya dengan Laura.

Hingga di jalan raya, sepeda yang di tumpangi Laura di serempet motor misterius, Juna mengenali jaket yang berlogo tengkorak, Batalion beraksi.

"Wah, hati-hati dong!" teriak Bram tak terima, motor itu menerobos lampu merah seenaknya. Bram beralih menatap Laura, kakinya sakit tertimpa sepedanya. "Maaf ra, andai aja kamu gak pulang bareng aku. Mungkin kejadiannya gak kayak gini, pasti kamu masih baik-baik saja," ucap Bram merasa bersalah.

Laura menggeleng. "Gak kok, bukan salah kamu. Bram, sepedanya singkirin dong. Sakit nih kakiku," keluh Laura kesakitan.

Juna menghampiri keduanya. Membantu Laura berdiri. "Lo gimana sih? Nganterin Laura aja gak becus, gak usah sok nawarin deh!" semprot Juna ngegas, bagaimana jika Laura kecelakaan? Ia tak bisa mempermainkan perasaan Laura, gagal nantinya.

"Maksud lo apa? Huh? Nyalahin gue? Ini musibah," tegas Bram tersulut emosi.

Juna membelalak tak percaya, semua sisea SMA Permata memanggilnya anda atau bos.

"Lo nantangin gue?" Juna menarik kerah seragam Bram.

Bram menepis tangan Juna. "Kalau iya kenapa?"

Laura menarik seragam Juna. "Udah kak, jangan berantem di tengah jalan gini. Malu," ucap Laura takut, Juna bisa segalanya dalam perkelahian, persenjataan, hingga pengintaian yang akurat. Bram? Hanya cowok biasa, menguasi silat masih tahap jurus tangan kosong. Juna yang tidak ikut bela diri pun menguasai semuanya, skill tawuran entah darimana.

"Laura, kamu pulang sama aku ya?" tanya Juna lembut, emosinya surut jika melihat Laura.

"Halah, sok drama. Nyari muka, pahlawan kesiangan lo," sewot Bram, pasti Juna mengikutinya diam-diam.

"Aku pulang sendiri aja," Laura berjalan menuju pangkalan ojek yang harus menyebrangi pertigaan jalan raya, kendaraan berlalu lalang membuat Laura ekstra hati-hati, hingga akhirnya selamat.

Juna ketar-ketir melihat Laura menyebrangi pertigaan jalan raya seorang diri, truk, bis, angkot, dan motor yang kebut-kebutan sangat mengkhawatirkan jika Laura di serempet.

Juna beralih menatap Bram. "Jauhin Laura! Kalau lo gak mau ada masalah sama gue," tekan Juna emosi, gertakan ini pasti akan membuat siapapun mundur, kabur, lari terbirit-birit tak ingin Juna menghabisi nyawa saat itu juga.

"Laura gak bisa gue jauhin. Karena dia butuh teman, sahabat. Dan juga pendengar yang baik," Bram tak akan membiarkan siapapun menyakiti Laura, sudah cukup cewek itu menderita. Bram ingin membahagiakan Laura.

"Alesan! Pokoknya jauhin Laura. Inget," Juna menjeda ucapannya. "Gue pantau lo dari jauh,"

'Kamu aman ra, gak akan gue biarin Juna deketin kamu. Dia itu berbahaya,' batin Bram was-was. Dari tampilannya Juna membawa aura panas, mematikan.

๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status