WHEN LOVE MEET
WHEN LOVE MEET
Author: FEYFI
Memergoki suami dengan wanita lain

“Rico, kamu harus menerima perjodohan ini,” tutur Risa ibunda Rico.

“Aku tidak bisa, Ma,” sahut Rico menolak keras.

“Baiklah, jika kamu tidak mau menerima perjodohan ini, maka, kamu akan dicoret dari ahli waris keluarga Adelard. Kakek lebih baik menghibahkan harta kakek untuk para anak yatim di panti asuhan dari pada kepada cucu pembangkang sepertimu,” tutur Bara Adelard selaku kakek dari Rico.

“Ta-tapi, Kek, sebenarnya aku sudah me—”

Belum selesai Rico menjelaskan sesuatu kepada Bara. Bara menjeda perkataan si cucu. “Tidak ada tapi dan alasan apapun. Kamu boleh memilih, menjadi orang miskin selamanya atau menerima perjodohan ini,” ujar Bara dengan tegas.

“Waktunya kamu membalas utang budimu kepada kakak Anggun. Berkat dia kamu masih bisa hidup hingga sekarang. Salah satu ginjalmu adalah milik dari Arsya. Dia yang menyelamatkanmu ketika kecelakaan dan mendonorkan salah satu ginjal untukmu sebelum meninggal,” ucap Risa kepada Rico.

“Arsya meninggal?” tanya Rico.

“Dia berpesan sebelum meninggal agar kamu menjaga adik kesayangannya. Akan tetapi, Anggun tidak mengetahui mengenai donor ginjal itu. Hanya kami para orang tua yang tahu.” Risa menjelaskan panjang lebar. “Ingat! Jangan sampai Anggun mengetahui hal ini!” tegas Risa mengancam Rico.

Rico hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dan ancaman dari ibu tercinta. Rico diam seribu bahasa tidak bisa berkata apapun lagi bahkan, membantah satu kata apapun tidak akan berhasil. Secara pribadi pun dia tidak akan pernah sanggup hidup miskin dan dicoret menjadi pewaris tunggal harta keluarga Adelard yang berlimpah. Pasalnya, sang kakek adalah salah satu dari 10 besar orang terkaya di Indonesia.

***

Matahari sudah terbenam, siang sudah berganti menjadi malam, waktu pertemuan di antara dua keluarga besar Adelard dan Wiley. Anggun belum diberitahu tujuan dari pertemuan dua keluarga ini. Anggun sama sekali tidak memiliki gambaran perihal pertemuan antara dia dan Rico. Dia masih bersikap ramah kepada keluarga Adelard. Namun, ketika dia mengetahui bahwa dia akan dijodohkan dengan Rico, Anggun geram dan menolak keras.

“Tidak! Aku menentang dan menolak perjodohan ini!” tolak Anggun dengan emosi.

“Anggun, duduklah!” titah sang ayah.

“Ma,Pa, aku tidak mau menikah. Aku masih kuliah, aku ingin berkarier dulu. Aku belum meraih semua cita-citaku. Apa Mama dan Papa tega melihatku menjadi ibu rumah tangga yang kerjanya hanya mengurus suami dan anak di rumah? Kakak sudah meninggal, Ma,Pa. Mama dan Papa hanya punya aku untuk melanjutkan perusahaan kalian. Ayolah, kalian bercanda, ‘kan, tentang perjodohan ini?” tanya Anggun dengan lirih.

“Tidak!” sahut sang ibu. “Jika kamu menolak perjodohan ini maka kamu akan melihat mayat mama.”

“Kok, jadi begini, sih? Ma, ayolah … Jangan begini. Aku menyayangi Mama, tetapi, aku tidak mau menikah dengan Mas Rico,” bujuk Anggun menolak sembari memelas.

Tidak ada jawaban sama sekali dari kedua orangtua itu pada saat Anggun meminta perjodohan ini dibatalkan. Ibunda Anggun pun tak berhenti meneteskan air mata. Melihat sang mama menangis membuat Anggun menjadi merasa bersalah.

“Baiklah … baiklah, aku akan menikah dengan Mas Rico, tetapi aku punya syarat,” ucap Anggun dengan lantang mengutarakan keinginannya.

“Apa … apa syaratnya?” sahut kedua belah pihak secara bersamaan dan penuh semangat.

“Kalian kenapa kompak sekali?” tanya Anggun penuh curiga.

Sang ibunda kembali menangis pada saat Anggun mulai curiga.

“Iya … iya, dengarkan persyaratan dariku! Yang pertama pernikahan ini diadakan di rumah pihak keluarga wanita hanya dihadiri oleh keluarga besar kita saja. Tidak ada resepsi besar-besaran cukup sah di mata agama dan hukum. Kenapa aku tidak mau dipublikasikan? Karena aku masih kuliah!” kata Anggun menegaskan. “Yang kedua, aku ingin menjadi wanita karier dan tidak mau menjadi wanita rumahan!” tutur Anggun dengan tegas.

“Setuju!” ucap serempak dari orang tua kedua belah pihak.

“Baiklah, pernikahan akan diadakan dua bulan lagi,” ujar Kakek Bara Adelard.

“Apa?” sahut Rico dan Anggun bersamaan.

Hari yang dinanti-nanti oleh kedua keluarga besar pun akhirnya terlaksana, sesuai keinginan Kakek tepat dua bulan setelah malam perjodohan. Kini, Anggun telah resmi menjadi istri sah Rico tanpa harus mengurusi tetek-bengek persiapan pernikahan. Kedua keluarga besar sangat bahagia, berbeda dengan sepasang pengantin yang berada di plaminan.

***

Resmi menjadi istri dari Rico Adelard, Anggun Wiley tinggal di rumah yang megah. Pernikahan yang berdiri atas paksaan atau dengan kata lain perjodohan, antara dua keluarga yaitu keluarga besar Adelard dan Wiley.

Sudah satu bulan kedua insan tanpa cinta itu menikah dan hidup di bawah atap yang sama. Dan, sampai saat ini, Rico belum pernah menyentuh Anggun sekali pun. Hanya nafkah lahir yang dia berikan, tetapi, tidak dengan nafkah batin. Anggun pun, tak pernah mempermasalahkan atau merasa keberatan. Toh, Rico bukanlah pria yang dia harapkan untuk menjadi suami.

***

Anggun sedang mengerjakan tugas kuliah tepat ketika ibu mertua menelepon. Dari nada bicara, terdengar sangat khawatir. Pasalnya, si ibu mertua merasakan firasat tidak baik dan selalu teringat akan putranya itu.

Anggun menenangkan wanita paruh baya itu dengan menawarkan diri untuk mencari Rico, suaminya. Dan, usaha kecil itu berhasil membuat sang Ibu mertua tenang.

Anggun menatap jam di ponsel. "Sudah pukul 9 malam," desis Anggun dengan nada kesal. "Mau cari ke mana?" Keluh wanita cantik itu lagi.

Setelah itu, dia mencoba menghubungi ponsel Rico berkali-kali sambil berpikir keras. Nihil, nomor yang dia hubungi tidak aktif.

Anggun memutuskan untuk mencari ke kantor dan kemudian dia mengambil kunci mobil. Dengan kecepatan sedang, benda broda empat itu berjalan di atas aspal hitam. Ada harapan, pria berstatus suami itu ada di ruang kerjanya malam ini, dan tentu saja tidak terjadi apa-apa kepadanya. Anggun tidak mau repot mengurus dia jika ternyata pria itu harus menginap di rumah sakit.

***

Setiba di kantor, Anggun menghampiri dan bertanya keberadaan Rico kepada Security kantor tersebut. Dan benar saja sang suami sedang lembur dan masih berada di ruangan kerjanya. Anggun pun memasuki kantor tersebut seorang diri karena dia menolak tawaran Security untuk mengantarkannya ke ruangan Rico. Kini, Anggun sudah berada di depan pintu ruangan sang suami. Langkahnya terhenti ketika mendengar desahan seorang wanita. Namun, dia masih berusaha berpikir positif terhadap suaminya.

Dia memegang gagang pintu tersebut dan keberuntungan sedang berada di pihaknya. Pintu itu tidak terkunci sehingga Anggun bisa membuka pintu tersebut tanpa harus mendobrak dengan tenaga dalamnya. Ya, Anggun adalah seorang atlet bela diri dan sudah tingkat sabuk hitam.

Dia membuka dengan perlahan nyaris tak terdengar pintu ruangan tersebut. Dan betapa terkesiap ketika dia melihat sang suami sedang bercinta dengan Sekretaris pribadinya. Tubuh Anggun bergetar karena emosi, napasnya memburu, jantungnya berpacu dengan kencang dan dia tidak menyangka bahwa Rico akan melakukan perbuatan serendah itu.

Walaupun Anggun tidak mencintai Rico tetapi jika suaminya itu berselingkuh dia tidak bisa memaafkan dan menerimanya.

“Mas Rico!” teriak Anggun dengan tatapan tajam dan tentunya dengan tangan yang mengepal.

Pasangan yang sedang bercinta itu terperangah dengan keberadaan Anggun yang tiba-tiba. Buru-buru mereka mengambil pakaian dan memakainya dengan cepat.

“Apa yang kamu lakukan, Mas? Pantas saja Mamamu meneleponku dan bilang dia sedang tidak enak hati. Ternyata batin seorang ibu benar. Kamu sedang berselingkuh dan berzina dengan wanita jalang ini.”

“Jangan sebut dia jalang!” bentak Rico kepada Anggun.

“Lalu aku harus mengatakan apa kepada wanita yang sedang berzina dengan suami orang lain,” tuturnya dengan intonasi tinggi.

“Jaga ucapanmu! Kami berdua tidak berzina.”

“Hahaha, lalu apa yang sedang kalian lakukan? Oooh aku paham sekarang. Ternyata ini alasan mengapa kamu tidak pernah menyentuhku sama sekali? Oke fine, malam ini juga ceraikan aku, Mas! Aku tidak sudi hidup dengan pria yang suka berselingkuh.”

“Diam, Jaga bicaramu!” bentak Rico kepada Anggun. “Asalkan kamu tahu, kami sudah menikah!” tutur Rico dengan intonasi tidak kalah tinggi dengan Anggun.

“A-apa?” Anggun terkejut sembari membulatkan matanya karena mendengar penuturan Rico.

“Duduklah! Aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” papar Rico yang mulai menurunkan intonasi nada bicaranya.

Walaupun dirinya sedang di selimuti emosi kepada Rico. Anggun tetap mau mendengarkan penjelasan pria yang berstatus suaminya itu.

"Silakan, apa yang mau kamu katakan, Mas?" tanya Anggun dengan tatapan tajam ke arah Rico.

“Sebenarnya, kami sudah lama menikah bahkan sebelum aku menikah denganmu. Kami menikah secara siri karena Mamaku tidak setuju jika aku menikah dengan Nisa."

“Kamu sudah beristri, Mas. Lalu mengapa kamu tidak menolak pada saat kita dijodohkan? kamu menerima begitu saja. Padahal aku sudah memohon kepadamu agar pernikahan kita digagalkan,” tutur dengan nada lirih.

“Itu karena—”

Nisa memotong perkataan Rico. “Sebelumnya, izinkan aku berbicara,” tutur Nisa dengan nada lembut sembari tersenyum sendu.

"Rico tidak bisa menolak perjodohan itu karena jika dia menolak, dia akan dicoret menjadi pewaris tunggal di keluarganya. Dan, satu lagi Pernikahan siri ini terjadi karena kami sudah putus asa mencari cara agar kami bisa bersatu. Aku dan Rico saling mencintai dan tidak bisa kehilangan satu sama lain. Hanya dengan pernikahan siri inilah, kami bisa saling memiliki. Maafkan dengan kejadian ini, maafkan juga karena kami telah membohongimu dan menutupi pernikahan siri kami," tutur Nisa dengan berderai air mata.

Anggun berpikir ternyata dia adalah orang ketiga dalam hubungan pernikahan ini dan parahnya lagi Rico menikah dengannya hanya karena warisan. 'Cih, hidupku jadi seperti drama korea begini,' tuturnya dalam hati. "Oke, Lalu jika kamu mencintai Mas Rico, kenapa kamu mengizinkan dia menikah lagi?"

“Itu karena aku memiliki kekurangan, Mama Rico tidak menyutujui kami bersama karena aku yang tidak sempurna.”

Anggun mengernyitkan dahinya karena dia tidak mengerti maksud dari perkataan Nisa. Dia langsung melihat postur tubuh wanita yang berada di hadapannya itu. Apabila dilihat dari fisik, Nisa memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang bisa dikatakan cantik walaupun masih lebih cantik dirinya ketimbang Nisa. (Masih sempat-sempatnya Anggun sombong walaupun hanya dalam hati).

“Maksudmu?” tanya Anggun penasaran.

“Aku mengalami Sindrom MRKH yaitu sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser. Sindrom ini terjadi pada sistem reproduksi seorang wanita. Kondisi ini menyebabkan organ intim, serviks, dan rahim tidak berkembang sebagaimana mestinya pada seorang wanita, atau bahkan ada yang tidak ada sama sekali meskipun kondisi alat kelamin dari luarnya terlihat normal.  Maka dari itu, wanita yang mengalami sindrom MRKH ini biasanya tidak mengalami menstruasi karena tidak punya rahim. Dan apa kamu tahu, jika wanita yang tidak memiliki rahim akan bagaimana? Dia tidak akan bisa hamil dan memberikan keturunan,” papar Nisa menjelaskan.

Anggun sungguh terkejut dengan apa yang terjadi pada istri siri suaminya itu. Namun, egonya berkata lain. Dia tetap tidak mau jika apa yang menjadi miliknya menjadi milik orang lain. Dan dia pun tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Rico dan Nisa. ‘Akh, tidak-tidak aku tidak mau jadi Pelakor,” ucapnya dalam hati.

“Hah,” desah kasar dari mulut Anggun. “Mungkin ini adalah hal tersulit bagimu, tetapi aku tetap tidak bisa berada di tengah-tengah kalian. Maaf aku egois, karena aku pun ingin bahagia dengan pria yang aku cintai. Dan aku tidak mau berbagi suami dengan wanita lain. Tenang, kamu jangan khawatir, Nisa. Aku yang mundur, aku akan segera menceraikan Rico, dan semoga kalian bahagia, permisi!” tuturnya sembari melangkah kaki keluar dari pintu ruang kerja Rico.

“Cepat kamu kejar dia, Rico. Jika dia menceraikanmu, semua akan terbongkar. Dan pastinya orang tuamu akan memisahkan kita berdua. Aku tidak mau berpisah denganmu Rico. Aku sangat mencintaimu,” ujar Nisa dengan ratapan sedih.

Tanpa berpikir panjang Rico mengambil jas dan tas kerjanya kemudian menyusul Anggun pulang ke rumah.

***

Setiba di rumah Anggun langsung pergi ke kamarnya dan mengemasi semua pakaian ke dalam koper. Tak lama Rico pun tiba di rumah dan melangkahkan kaki ke tempat peristirahatan Anggun.

“Anggun, aku tidak akan menceraikanmu. Kamu akan selalu menjadi istriku.”

Anggun menolehkan kepalanya ke sumber suara. “Ck, seenaknya saja kamu bilang, kamu tidak akan menceraikanku,” decak Anggun malas. “Aku tidak terima kamu memperlakukan aku seperti ini, Mas. Wanita mana yang rela dan tidak sakit hati jika suaminya mencintai dan memiliki istri siri.”

“Aku tahu, kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu sedang cemburu, Anggun. Jangan mengingkari hatimu, jawablah dengan jujur! Apa kamu mencintaiku?” tanya Rico dengan nada mengejek.

Comments (6)
goodnovel comment avatar
Feyfi
@rya arista : sindrom mkrh jadi dia ga pny rahim
goodnovel comment avatar
rya arista
itu si nisa ada penyakit apaan? Jad inget ssi aprilia manganang yg lagi viral wkwkwkwk
goodnovel comment avatar
Feyfi
@Deuis MmhChayra : siappp sore up lagi
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status