Mengintip status Anggun

Setiba di kantor, Nisa sudah menyambutnya dengan senyuman manis yang menentramkan kalbu. Rico pun membalas senyuman itu sembari mengecup kening Nisa dengan penuh cinta dan kasih sayang.

“Selamat pagi, Sayang. Bagaimana persoalanmu dengan Anggun?” tanya Nisa dengan tatapan nanar dan penuh ke khawatiran.

“Semua sudah selesai, aman!” sahut Rico sembari memeluk Nisa.

“Syukurlah, aku semalaman tidak bisa tidur. Aku teringat kepadamu dan Anggun. Kita juga tidak bisa menyalahkan dia, karena dia tidak tahu apa-apa. Dan wajar saja apabila dia kecewa atau marah kepada kita,” papar Nisa menjelaskan.

“Tidak, dia tidak marah. Dia mengerti bahkan kamu mulai hari ini bisa tinggal di rumahku. Dan apabila ada teman-temannya datang ke rumah, kita harus berpura-pura menjadi kakak dan kakak iparnya. Dia tidak mau kita berdua berpisah, untuk sementara waktu dia masih bisa bermain peran di hadapan keluargaku hingga mereka bisa menerimamu. Ini semua untuk kebaikan kita bersama. Jadi, jangan biarkan orang-orang tahu tentang pernikahan aku dan dia.”

“Benarkah begitu? Kenapa dia menerima begitu saja?” tanya Nisa penasaran.

“Dia memberikanku syarat yaitu jangan pernah menyentuh tubuh dan mengganggu privasinya.”

Senyuman terbit kembali di bibir Nisa. Kemudian dia mencium bibir Rico dengan lembut.

“Aku bahagia sekali, Sayang. Berkat Anggun kita bisa bersatu, bahkan kita bisa tinggal serumah. Aku tidak keberatan dengan persyaratan apapun yang Anggun berikan asalkan aku tidak kehilanganmu dan selalu bersamamu. Semoga kelak Anggun bisa mendapatkan kebahagiaan bersama pria yang mencintainya,” tutur Nisa yang berada di pelukan Rico.

Mendengar perkataan Nisa, pikiran Rico menjadi terfokus ke Anggun. Dan dia bahkan teringat pria yang memperhatikan Anggun di kampus. Dia pun melepaskan pelukan Nisa dari tubuhnya.

“Sayang, sudah waktunya bekerja. Kita masih bisa bermesraan di rumah nanti malam. Di kantor kita harus bersikap seprofesional mungkin. Jangan sampai ada orang yang curiga tentang pernikahan siri kita. Karena dampaknya akan berakibat fatal pada hubungan kita.”

“Siap, Sayang. Oh iya nanti setelah makan siang akan ada rapat dengan dewan direksi, aku akan mempersiapkan berkas-berkasnya terlebih dahulu.”

“Baik sayang, selamat bekerja. I love you,” tutur Rico sembari mengecup bibir merah Nisa.

Nisa pun pergi dari ruangan Rico. Setelah Nisa pergi, Rico mengambil telepon genggam dari saku celananya kemudian dia membuka salah satu aplikasi chat dan melihat status Anggun.

Anggun memasang status foto seorang pria tampan yang sedang memberikan materi di depan kelas dan bertuliskan, “Dosenku tampan tapi killer.”

Melihat dan membaca status Anggun, mendadak Rico kebakaran jenggot. Dia melonggarkan dasinya kemudian beranjak dari kursi kerja yang dia duduki lalu berjalan mondar-mandir sembari tolak pinggang.

“Argh,” teriak Rico karena emosi dan meninju dinding ruangannya.

Dari luar ruangan, Nisa mendengar teriakan Rico dan berinisiatif masuk ke dalam ruangannya.

“Sayang, kenapa kamu berteriak? Apakah terjadi sesuatu kepadamu?” tanya Nisa dengan khawatir.

“Aku sedang tidak enak badan. Badanku pegal-pegal jadi aku berteriak sembari menggerakkan tubuhku. Satu … dua … satu … dua,” tutur Rico kepada Nisa sambil berpura-berpura olahraga.

“Kalau begitu silakan lanjutkan olahraganya. Aku kembali bekerja, tapi kamu benar tidak apa-apa? Apa kamu membutuhkan obat sakit badan? Aku akan memintanya ke klinik kantor.”

“Tidak usah, dengan sedikit peregangan otot-otot aku akan segera baikan,” tutur Rico berbohong lagi kepada Nisa.

“Ya sudah, selamat berolahraga.”

“Terima kasih, Sayang!” ujar Rico memberikan senyuman yang dipaksakan.

Dia kembali melihat telepon genggamnya dan mengintip akun Anggun di aplikasi chat. Kebetulan sekali istrinya itu sedang online. Ingin rasanya dia marah-marah kepada wanita tersebut, tapi apa yang harus dia perdebatkan dengan Anggun. Namun, raut wajahnya yang sedang kesal mendadak tersenyum bahagia ketika melihat Anggun sedang mengetik pesan untuknya.

“Ngetik apa sih kamu, lama banget?” ketusnya tidak sabar sembari melihat benda pipih miliknya.

Room Chat Anggun dan Rico

Rico: “Cepat ngetiknya, kamu mau bilang apa?”

Anggun: “Mas kok tahu, aku mau mengirimkan pesan. Jangan-jangan ngintip akun aku, Ya! Ayo ngaku! (emotion LOL)

Rico: “Enak saja, tadi aku mau memberitahukan bahwa mulai malam ini Nisa akan tinggal bersama kita.”

Anggun: “Oh!”

‘Hahaha, dia pasti cemburu,’ pikir Rico sembari tersenyum geli.

Rico: “Tenang aku akan bersikap adil kok.”

‘Heuh, ikh apaan sih. Duh kepercayaan dirinya sangat tinggi,’ ucap Anggun dalam hati.

Anggun: “Mas Rico sepertinya aku akan pulang sedikit terlambat!”

Rico: “Kenapa kamu harus bilang kepadaku?”

Anggun: “Karena kamu itu suamiku jadi aku harus memberitahumu. Aku tidak mau dikutuk menjadi batu jika aku tidak izin kepadamu.”

Rico: “Ya! terserah apapun yang akan kamu lakukan, aku tidak peduli.”

Anggun: “Oke, terima kasih!”

Rico: “Sama-sama.”

Anggun pun mengakhiri chat bersama Rico, kemudian memasukkan lagi telepon genggamnya ke dalam tas.

‘Kenapa dia tidak membalas chatku lagi? Dan kenapa juga dia harus offline?’ racau Rico di dalam hati sembari kesal.

Rico pun kembali melihat status Anggun dan membaca isi dari status tersebut.

“Hari ini dosen killer menjadikanku asisten dosen, mati gaya jika harus selalu bersama dia setiap hari.”

Membaca status tersebut, Rico tanpa ragu menelepon Anggun. Napasnya memburu, dia sudah siap untuk memaki-maki wanita yang berstatus istrinya itu.

“Hallo, Mas. Tumben telepon, ada apa?” tanya Anggun.

“Ka-kamu sedang apa?” tanya balik Rico tergagap.

“Aku di suruh menemani dosenku makan siang sambil mempersiapkan materi. Oh ya, aku sekarang menjadi asistennya dosen killer.”

“Tidak boleh! Aku akan ke kampusmu sekarang juga,” tutur Rico.

“Mau apa ke kampusku?” tanya Anggun dengan heran.

“Ma-mau makan siang di kantin kampusmu. Katanya makanan di sana enak-enak,” sahut Rico terbata-bata.

“Memangnya di kantormu tidak ada kantin, Mas? Biasanya juga makan di restoran mahal bersama Nisa,” sahut Anggun yang mulai merasa kesal oleh tingkah Rico.

“Aku ke sana sekarang, tunggu aku di gerbang kampusmu! Jangan biarkan aku mencarimu atau menunggu lama!” titah Rico.

Rico pun segera keluar dari kantornya. “Nisa aku pergi ke kampus Anggun dulu. Anak itu membuat masalah dengan dosennya. Walinya di suruh menghadap,” tutur Rico berbohong kepada Nisa.

“Mau aku temani?” Nisa menawarkan diri.

“Tidak usah, aku hanya sebentar. Kamu juga harus mempersiapkan berkas-berkas untuk rapat setelah makan siang. Aku akan segera kembali.”

“Baiklah, hati-hati!” tutur Nisa.

“Terima kasih.”

***

Anggun merasa ada yang aneh dengan Rico. Setelah menandatangi perjanjian tersebut sikapnya berubah. Sepertinya Rico sengaja mau membuat hidupnya tidak nyaman.

Anggun menginjak-nginjak kembali kakinya bergantian seperti jalan di tempat karena kesal. Wajahnya yang ceria menjadi lesu. Dia pun pergi ke ruang dosen killer tersebut untuk meminta izin bahwa dia tidak bisa menemani makan siang dan membahas materi. Namun, ternyata dosen itu tidak berada di ruangannya. Dia pun memutuskan untuk ke luar menjemput Rico. Pada saat menuju gerbang, tak sengaja dia bertemu dengan dosen killer tersebut.

“Pak, kebetulan sekali kita bertemu!” ucap Anggun sembari membarikan senyuman manisnya.

“Ada apa?” tanya dosen tersebut.

“Ehm anu Pak, aku mau bilang sesuatu kepada Bapak.”

“Bilang apa? Katakanlah!”

“Bapak enggak akan marah ‘kan?” tanya Anggun berhati-hati.

“Tidak,” sahut dosen tersebut sembari memberikan senyuman.

‘Ya Tuhan, demi apa aku baru melihat dosen killer ini tersenyum. Tampan sekali,’ puji Anggun dalam hati.

“Anggun!” panggil seseorang dari kejauhan.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
h-d
laki modelan rico nggak cocok buat anggun...
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status