Share

Keadilan

"Siapa anda berani-beraninya melarang saya? Maaf Anggun adalah kekasih saya, jadi saya berhak membawanya dari kalian berdua," tutur pria asing tersebut.

"Kamu hanya kekasihnya sedangkan saya—”

Belum menyelesaikan ucapannya, Anggun memotong perkataan Rico.

"Dia adalah kakakku, jadi Mas Rico lebih berhak terhadapku. Ayo, Mas!" ajak Anggun sembari memegang tangan Rico dengan posesif.

Rico pun melambaikan tangannya dan tersenyum mengejek kepada dua orang pria yang sedari tadi ingin mencuri perhatian Anggun.

Pada saat tangan Rico dipegang sangat erat oleh Anggun, bibirnya tak berhenti tersenyum. Dia tidak menyangka bahwa Anggun akan memilihnya. Jiwa yang sedang diselimuti amarah perlahan berangsur mereda.

Anggun membawa Rico masuk ke dalam mobil. "Mas dengankan aku! demi Tuhan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan pria barusan maupun dengan pria lainnya. Bahkan namanya saja aku tidak tahu," papar Anggun.

"Tapi dia tahu namamu, dan memanggilmu dengan sebutan sayang. Sudah begitu, kamu mau saja dicium olehnya. Sedangkan aku, suamimu yang syah di mata hukum dan agama tidak boleh menyentuhmu sama sekali."

"Itu semua di luar sepengetahuanku, Mas!" tutur Anggun menjelaskan.

"Ternyata kamu yang selama ini berselingkuh, aku akan menagatakannya kepada kedua orang tuamu," ujar Rico memutar balikkan fakta.

"Jangan bicara macam-macam kepada kedua orang tuaku! Lalu sekarang apa maumu, Mas?" tanya Anggun.

"Aku hanya ingin keadilan," ujar Rico.

"Heuh, keadilan seperti apa yang kamu inginkan?" tanya Anggun yang mulai merasakan tidak enak hati.

"Aku suamimu tapi dia yang pertama menciummu?" tutur Rico pura-pura merajuk.

"Itu hanya sebuah kecupan di kening, Mas Rico."

"Ingat, walaupun kita tidak saling mencintai tapi aku suamimu yang syah. Lebih berhak atasmu dari pada pria tadi.”

"Iya-iya tidak usah diingatkan terus bahwa aku itu istrimu, aku juga tahu, kok! Lalu keadilan apa yang kamu mau dariku?" tanya Anggun dengan serius.

"Aku mau seperti pria itu, yang bisa menciummu kapan saja, dimana saja pada saat kita sedang berdua," sahut Rico.

"Ti-tidak bisa begitu, kita sudah menandatangani perjanjian," ucap Anggun terbata-bata.

"Aku tidak akan menyentuhmu jika kamu belum siap atau menerimaku. Tapi jika kamu yang menginginkannya aku bersedia dengan ikhlas menyerahkan seluruh tubuhku kepadamu. Hanya sekarang aku sedang meminta keadilan sebagai suami, dosa jika kamu tidak adil!" kilah Rico kepada Anggun.

"Perasaan kamu selalu bawa-bawa dosa terus jika berbicara denganku. Aku tidak bisa menerima keadilan yang kamu inginkan!" tutur Anggun dengan tegas.

"Baiklah aku akan video call mamamu dan bilang bahwa kamu telah berselingkuh juga berciuman di depan kedua mataku," tuturnya sembari mengeluarkan telepon genggang dari saku jasnya.

"Terserah! Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, Mas!" Anggun menantang balik suaminya.

Rico pun menyalakan telepon genggamnya dan melakukan video call dengan mertuanya.

"Hallo Nak Rico!" Sapa Mama Anggun di video call.

Mendengar suara mamanya, mata Anggun membelalak dan kemudian menyapa singkat lalu memutuskan video call tersebut.

“Oke-oke, untuk kali ini keadilan yang kamu inginkan akan aku kabulkan. Tapi tidak usah bicara macam-macam kepada kedua orang tuaku,” tutur Anggun sembari mengusap-ngusap dadanya karena tidak menyangka bahwa Rico ternyata akan berbuat nekad.

“Ayo!” ajak Rico.

“Kemana?” tanya Anggun.

“Cium aku!” titah Rico sembari memejamkan matanya.

‘Ya Tuhan, Bagaimana ini? aku tidak mau melakukannya!’ ucapnya dalam hati.

Cup!

Anggun mengecup singkat kening Rico dengan cepat. Ada seulas senyum bahagia dari bibir Rico yang berwarna merah muda itu.

“Hai wanita suci, bukan cium seperti itu yang aku inginkan. Oke, aku ajari, Ya!” tutur Rico sembari memajukan wajahnya ke wajah Anggun.

Anggun menutup matanya dan melipat bibirnya ke dalam mulut agar Rico tidak bisa mencium bibirnya yang masih suci. Pada saat Rico hampir meraih bibir ranum Anggun, telepon genggamnya berbunyi.

“Haish, shit!” umpat Rico sembari melihat telepon genggamnya.

“Yes!” ucap Anggun sembari tertawa kegirangan dan mengangkat lengannya.

“Jangan senang dulu, lain kali kamu tidak akan lolos,’ tutur Rico mendelikkan matanya kepada Anggun.

“Ya Sayang, ada apa?” tanya Rico kepada istri sirinya.

“Rapat akan segera dimulai, kamu dimana?” tanya Nisa yang sedang merasa cemas.

“Di jalan, sepuluh menit lagi aku akan segera sampai!” sahut Rico.

“Oke baiklah, hati-hati!”

“Iya Sayang terima kasih, Muach!” tutur Rico sengaja ingin membuat Anggun cemburu tetapi ternyata usahanya sia-sia. Anggun tetap cuek bebek tidak ada rasa cemburu di raut wajahnya yang cantik.

Anggun membuka pintu mobil dan pamit kepada Rico.

“Mau kemana kamu?” tanya Rico.

“Mau menemui dosenku lah, aku masih ada kuliah!” sahut Anggun.

“Tidak boleh, kamu ikut denganku ke kantor!” titahnya sembari menarik tangan Anggun kembali masuk ke dalam mobil.

Dengan terpaksa Anggun pun mengikuti suaminya ke kantor. Setiba di kantor semua menunduk hormat kepada Anggun dan Rico. Anggun pun menyapa mereka dengan ramah. Semua karyawan merasa kagum kepada kecantikan Anggun dan keramahannya.

“Mas Rico, boleh aku ke kantin kantormu? Aku lapar!” tutur Anggun dengan wajah memelas.

“Tidak boleh, kamu makan di dalam ruanganku saja!” titah Rico.

“Baiklah!” sahut Anggun dengan lemas dan pasrah.

Setiba di ruangan, Anggun bertemu dengan Nisa. Nisa pun memeluk Anggun dan sangat erat.

“Woow, ternyata seleramu kepada wanita juga, Nisa. Aku wanita normal!” tutur Anggun merasa risih dan berusaha melepaskan pelukan Nisa di tubuhnya.

“Hahaha, kamu sangat lucu, Anggun,” ucap Nisa sembari melepaskan pelukannya.

‘Lucu-lucu jidatmu peang,’ ucap Anggun dalam hati.

“Mas aku lapar! Kamu mau membuat aku mati kelaparan? Biar jadi duda secepatnya!” ketus Anggun kepada Rico.

Rico pun memesan makan siang untuk Anggun setelah itu dia meninggalkan Anggun sendirian di ruangannya karena harus menghadiri rapat bersama dewan direksi.

Setelah beberapa jam, Rico dan Nisa kembali ke ruangan dan mereka melihat Anggun yang tertidur di sofa. Rico menatap lekat istrinya itu, ‘Kamu sangat cantik,’ tutur Rico dalam hati.

“Sayang, sebelum pulang kita ke mall dulu membeli bahan-bahan makanan untuk makan malam. Kebetulan beberapa asisten rumah tangga aku pecat karena mereka senang sekali bergibah. Jadi, hanya ada Bi Darmi, beberapa tukang kebun, dan Security. Hanya mereka yang bisa aku percaya karena aku takut jika terlalu banyak orang asing di rumah, maka pernikahan siri kita akan terbongkar dan terdengar oleh kedua orang tuaku.”

“Baiklah, Sayang!” sahut Nisa. “Kita bangunkan saja Anggun!”

“Jangan! Dia tampak kelelahan. Dia pasti kurang tidur karena semalam kami sempat bertengar hebat.”

“Lalu, bagaimana? Tidak mungkin kita tinggalkan dia di kantor!” tanya Nisa.

“Aku akan menggendongnya!”

“Baiklah, biar tasnya aku yang bawakan!” tutur Nisa menawarkan diri.

Rico membawa Anggun dengan Ala bride style di temani oleh Nisa ke dalam mobil. Dia menidurkannya di jok mobil belakang dengan sangat hati-hati karena dia takut Anggun terbangun dari tidur. Akhirnya setelah tiga puluh menit perjalanan dari kantor mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan. Rico dengan sengaja mengerem mobil dengan agak kasar agar Anggun terbangun dari tidur. Walaupun tidak tega harga diri tetap nomor satu. Dia tidak mau membangunkan Anggun dengan lembut karena takut jika Anggun menjadi besar kepala.

Dugh!

“Aw,” rintih Anggun sembari memegang kepalanya karena terbentur jok depan. “Bisa enggak sih, mengerem itu lembut sedikit. Kepalaku jadi pusing ‘kan!” ketus Anggun kepada Rico.

“Rico kamu sih, kasian ‘kan Anggun!” tutur Nisa membela Anggun.

Rico tidak membalas ucapan Anggun dan Nisa. Dia hanya tersenyum smirk ke arah mereka.

***

Mereka sudah berada di dalam Mall untuk membeli bahan-bahan makanan dan Anggun di minta Rico untuk membawa troli yang berisi belanjaan yang mereka beli.

Setelah selesai Anggun pun dikerjai oleh Rico untuk membawa semua belanjaan yang telah mereka beli ke dalam bagasi mobil.

“Ini kuncinya, kamu yang menyetir aku lelah!” tutur Rico sembari melempar kunci kepada Anggun.

“Kamu jangan seperti itu sama Anggun!” tutur Nisa.

“Dia adalah Nyonya Rico jadi harus kuat lahir batin!” ucapnya sembari masuk ke dalam mobil.

“Nyonya Rico? Memangnya siapa yang mau jadi istrimu?” ketus Anggun sembari masuk ke dalam mobil dan menduduki kursi depan.

Ketika akan memarkirkan mobilnya, tiba-tiba datang sesosok pria tampan menghampir Anggun.

“Neng. mau saya bantu!” tawar tukang parkir.

“Owh iya Mas, boleh!” tutur Anggun.

Tukang parkir itu pun melihat kondisi jalan takutnya ada orang yang sedang berjalan.

“Ganteng banget, Mas!” teriak Anggun.

“Iya, Neng?” tanya tukang parkir.

“Mendung banget, Mas,” kilah Anggun.

“Owh, iya Neng. Emang mau hujan,” sahut si tulang parkir.

“Pacaran, yuk akh!” ajak Anggun.

“Kenapa, Neng?” tanya tukang parkir lagi.

“Tolong parkirin, Ya!” sanggah Anggun.

“Owh, siap Neng!” Tukang parkir tersebut membantu Anggun memakirkan mobil dari arah luar.

“I love You!” tutur Anggun kepada tukang parkir tersebut.

“Ada apa, Neng!” tanyanya lagi.

“Nuwun sewu, Mas!” dalih Anggun sembari tertawa dan memberikan selembar uang seratus ribu.

“Waduh, ini kebanyakan Neng!”

“Tidak apa-apa, Mas! Itu hanya sekedar untuk membeli cilok Mang Dadang.”

“Terima kasih, Neng!”

Nisa pun ikut tertawa karena tingkah Anggun yang lucu dan polos sedangkan Rico tampak marah dan emosi. Karena kesal, Rico menoyor kepala Anggun dengan kencang dari jok belakang.

“Aduh!” teriak Anggun dari dalam mobil. Anggun mengerem mendadak dan kemudian menolehkan kepalanya ke arah Rico. “Kamu apa-apaan sih, Mas? Kepalaku difitrahin tahu. Enak saja main toyor kepala orang sembarangan.” Anggun tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Rico, dia pun keluar dari mobil dengan mata berkaca-kaca.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status