Rasa bersalah Rico

“Aduh!” teriak Anggun dari dalam mobil. Anggun mengerem mendadak dan kemudian menolehkan kepalanya ke arah Rico. “Kamu apa-apaan sih, Mas? Kepalaku difitrahin tahu. Enak saja main toyor kepala orang sembarangan.” Anggun tidak terima diperlakukan seperti itu oleh Rico, dia pun keluar dari mobil dengan mata yang berkaca-kaca.

***

“Mau kemana kamu?” tanya Rico menyusul Anggun keluar dari mobil.

Anggun tidak meghiraukan perkataan Rico, dia terus melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia sangat kesal dan sakit hati dengan tingkah laku Rico yang memperlakukannya sangat kasar. Dari kecil dia sangat di manja oleh kedua orang tuanya sedangkan oleh seorang Rico dia diperlakukan semena-mena.

“Berhenti!” bentak Rico.

Anggun pun menghentikan langkahnya dengan berderai air mata. Dan, Rico berjalan dengan cepat untuk menghampiri Anggun. Dia membalikkan tubuh Anggun dengan lembut, dan kini Anggun sudah menghadap ke arahnya dengan wajah tertunduk.

Tangannya memegang dagu Anggun lalu mengangkat wajah cantik itu untuk melihat dirinya. Dan betapa terkesiap ketika melihat sang istri sedang terisak menangis oleh perbuatannya. Tanpa aba-aba dia menarik Anggun ke dadanya yang bidang. Akan tetapi wanita yang sedang merajuk itu memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Sayang, usaha Anggun tidak berhasil karena Rico mendekapnya sangat erat.

“Menangislah, keluarkan semua rasa kesalmu kepadaku. Jika kamu belum puas maka belahlah dadaku!” titah Rico kepada Anggun.

“Huaaa…,” teriak Anggun sembari menangis dan memukul-mukul dada Rico dengan kepalan tangannya.

“Maafkan aku!” bisik Rico di telinga Anggun.

Anggun tidak menjawab, jujur saja dia masih marah kepada pria yang sedang memeluknya.

Rico melepaskan pelukannya dan kemudian mengucap air mata Anggun dengan dengan menggunakan ibu jari. Dia pun menggandeng tangan Anggun dan kemudian membawanya masuk ke dalam mobil.

Mereka sudah berada di dalam mobil, kini Rico yang menyetir. Anggun masih tetap diam membisu. Dan sepanjang perjalanan dia memalingkan wajahnya dari Rico dan melihat kearah jendela.

Di sisi lain Nisa duduk seorang diri di jok belakang. Tangannya mengepal erat karena melihat Rico memeluk Anggun. Dia lebih senang ketika Rico bersikap kasar kepada Anggun daripada harus melihat Rico begitu peduli kepada wanita yang menjadi istri syah suaminya.

‘Rico hanya milikku, tidak ada yang boleh memilikinya selain aku. Dia tidak boleh mencintai wanita lain selain aku,’ tutur Nisa dalam hati.

Nisa mulai merasakan cemburu dan tidak rela jika Rico memberikan perhatiannya kepada Anggun. Dia berniat dalam hati jika dirinya harus lebih unggul dari Anggun dan takkan memberi celah sedikitpun kepada mereka untuk berduaan. Dia mulai khawatir jika Rico akan meninggalkannya dan lebih memilih Anggun.

Mereka bertiga sudah tiba di kediaman Rico. Anggun keluar mobil lebih dulu dan masuk ke dalam rumah. Dia masih tidak menghiraukan Rico bahkan untuk melihat wajah suaminya itu dia sangat malas. Anggun langsung masuk ke dalam kamarnya, dia membersihkan diri kemudian karena merasa lelah dia pun tertidur.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB dan kini Rico dan Nisa sudah berada di meja makan. Tidak ada tanda-tanda Anggun akan turun untuk makan malam.

Nisa sudah memegang perut karena cacing di perutnya sudah menagih untuk diberi makan. Rico melihat hal itu dan karena kasian kepada istri sirinya, maka Rico mengajak Nisa untuk makan lebih dulu. Sungguh Rico sangat tidak berselera, dia hanya menyentuh sedikit makanannya karena pikirannya terus tertuju kepada Anggun.

“Sepertinya, Anggun masih marah kepadaku!” tutur Rico membuka percakapan.

“Kamu terlalu berlebihan kepadanya. Walaupun kamu tidak mencintainya bukan berarti kamu bisa bersikap kasar seperti itu kepadanya. Apa kamu cemburu pada saat Anggun menggoda tukang parkir di mall tadi?”

“Tidak, aku hanya tidak suka dia berulah genit seperti itu. Dia sepertinya tidak menganggapku sebagai suami,” sahut rico kepada Nisa.

“Kenapa kamu tadi memeluk Anggun bahkan terlihat sangat perduli terhadapnya?” tanya Nisa lagi penasaran.

“Apa kamu cemburu?” Rico balik bertanya.

“Tentu saja, aku sangat cemburu. Aku tidak menyukai jika kamu bersikap sangat manis kepadanya!” tutur Nisa dengan jujur.

“Dia sama sepertimu, dia juga istriku. Aku harus bersikap adil kepadanya apalagi dia memegang rahasia kita. Kita harus memperlakukannya dengan baik, jika tidak aku takut dia mengadu kepada kedua orang tuaku,” kilah Rico memberi pengertian kepada Nisa.

“Baiklah, aku mengerti!” sahut Nisa sembari memegang tangan Rico.

“Aku hanya akan mencintaimu, hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Untuk apa aku tetap bersama Anggun jika bukan karena aku sangat mencintaimu dan ingin mempertahankanmu di sisiku,” ujar Rico.

“Sayang, aku menginginkannya,” tutur Nisa kepada Rico.

“Ayo, dengan senang hati!” sahut Rico.

Rico pun menggendong Nisa ala bridestyle ke kamarnya. Rico memandang Nisa dengan penuh cinta, dalam hati dia berkata, ‘Junior, mulai malam ini kamu tidak akan berteman lagi dengan jari-jariku.’

Rico menidurkan Nisa di ranjangnya dan mulai mengecup mesra bibir Nisa dengan rakus. Dia memainkan lingualnya ke dalam rongga mulut istrinya itu dengan lincah. Nisa begitu menyukai permainan Rico yang membuat jiwanya melambung tinggi dan dia pun mengikuti alur yang diciptakan oleh sang suami. Setelah mereka saling menstimulasi akhirnya mereka pun melakukan penyatuan diri. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalar cepat hingga ke ubun-ubun. Suara desahan saling bersahutan di antara mereka berdua.

***

Anggun terbangun dari tidurnya karena mendengar suara desahan Rico dan Nisa dari kamarnya. Kebetulan kamar dia terletak di samping kamar Rico, jadi suara mereka yang sedang bercinta begitu jelas di indra pendengarannya.

“Heuh, kalian menodai pendengaranku,” monolognya kepada diri sendiri.

Ada suara bergemuruh di dalam perut Anggun. Dia teringat bahwa belum makan malam karena tertidur pulas sehabis membersihkan diri. Dari pada dia mendengarkan suara-suara menyeramkan, pikirnya. Lebih baik dia pergi ke dapur dan membuat makanan untuk mengisi perutnya yang sedang kelaparan.

Rico dan Nisa pun telah selesai melakukan hubungan suami istri. Nisa sangat kelelahan sehingga dia langsung tertidur pulas. Tak sengaja Rico mencium aroma masakan yang memanjakan indra penciumannya. Walaupun dia sangat lelah karena selesai bercinta, tetapi tubuhnya mengajak dia untuk bangkit dan mencari sumber aroma masakan tersebut.

Setelah tiba di dapur ternyata dia tahu sumber aroma itu berasal dari masakan Anggun. Dia tersenyum dan berjalan mengendap perlahan-lahan menghampiri Anggun yang sedang meniup kuah di sendok sayur yang berbahan alumunium. Ketika Anggun akan menyeruput kuah ramen yang dia buat tiba-tiba Rico menyambar sendok sayur tersebut.

“Ehmm, ini enak sekali. Aku mau satu mangkok, ya! aku tunggu di di meja makan, cup!” tutur Rico sembari mengecup pipi Anggun.

Anggun melongo sembari mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia masih terkejut oleh Rico yang datang secara tiba-tiba dan mencium pipinya. Tanpa banyak berdebat, dan dia pun sudah sangat lapar, kemudian Anggun menyiapkan dua mangkuk mie ramen untuknya dan untuk suaminya yang sangat menyebalkan.

Anggun menghidangkan mie ramen buatannya kepada sang suami. Tanpa basa-basi Rico langsung melahap mie tersebut hingga habis tak tersisa.

“Istriku ternyata pintar memasak juga. Terima kasih istriku atas sarapan dan makan malamnya,” tutur Rico membujuk Anggun yang masih terlihat merajuk kepadanya.

Anggun masih enggan menjawab perkataan Rico, dia masih khusyuk menikmati mie ramen buatannya.

“Anggun, aku tidak suka jika kamu bersikap dingin kepadaku seperti itu. Aku mengakui bahwa perbuatanku kepadamu itu keterlaluan, tapi kamu juga harus menghargaiku sebagai suami. Kamu menggoda pria lain di hadapanku. Jika itu terjadi di posisimu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Rico.

Anggun menghentikan aktivitas makannya kemudian melihat ke arah Rico dengan tatapan tajam.

“Oke aku jawab pertanyaanmu, Mas. Apa yang aku lakukan jika kamu menggoda wanita lain di hadapanku? Dan jawabanku adalah aku tidak peduli, paham!” sahutnya dengan nada tegas.

“Tetapi aku suamimu, aku tidak terima jika kamu menggoda lelaki lain baik di hadapanku maupun di belakangku. Lebih baik kamu menggodaku saja!” tutur Rico spontan.

“Kamu ingin aku menggodamu? Jangan mimpi!” sahut Anggun dengan ketus.

“Tapi kamu akan mendapatkan pahala jika kamu menggodaku apalagi sampai kita melakukan begituan. Apabila kamu menggoda pria lain, yang kamu dapatkan hanyalah dosa, kamu enggak mau ‘kan masuk neraka hanya karena menggoda pria lain,” tutur Rico menakut-nakuti sembari meyakinkan istrinya dengan tatapan lekat.

Anggun hanya tersenyum sinis mendengar pernyataan Rico. Perkataan Rico memang benar tetapi terdengar konyol olehnya. Dia beranjak dari kursinya dan pergi ke dapur sembari membawa piring kotor. Setelah mencuci piring, Anggun tidak melihat keberadaan pria yang sangat menyebalkan itu di meja makan. Dia lantas masuk ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya ketika Rico sudah ada berada di tempat tidurnya.

“Sayang, sini! Ini aku sedang video call dengan mamah,” ujar Rico kepada Anggun.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status