Ciuman Pertama

Anggun hanya tersenyum sinis mendengar pernyataan Rico. Perkataan Rico memang benar tetapi terdengar konyol olehnya. Dia beranjak dari kursinya dan pergi ke dapur sembari membawa piring kotor. Setelah mencuci piring, Anggun tidak melihat keberadaan pria yang sangat menyebalkan itu di meja makan. Dia lantas masuk ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya ketika Rico sudah berada di tempat tidurnya.

“Sayang, sini! Ini aku sedang video call dengan mamah,” ujar Rico kepada Anggun.

***

Anggun mendekat ke arah Rico dan kemudian duduk di tempat tidur di samping suaminya. Awalnya dia tidak percaya bahwa Rico sedang melakukan video call dengan mertuanya. Namun, setelah dia lihat ternyata perkataan Rico benar.

“Hai, Ma!” sapa Anggun ramah kepada mertuanya.

“Sayang, bagaimana keadaanmu? Apakah sudah ada tanda-tanda kehadiran cucu Mamah di rahimmu?” tanya sang mertua.

“Anggun masih kuliah, Mah. Setelah selesai kuliah baru Anggun berencana punya dede bayi.”

“Akan tetapi Mamah dan Papah ingin segera memiliki cucu,” tutur sang mertua kepada menantunya.

“Mama sayang, bukannya aku tidak mau memberikan Mama dan Papa cucu secepatnya. Akan tetapi, aku saja masih beradaptasi dengan statusku yang baru. Pernikahan yang sangat mendadak ini sama sekali di luar dugaanku. Lagi pula sekarang aku sudah semester akhir. Jadi, mudah-mudahan aku lulus dengan lancar dan bisa secepatnya memberikan Mama dan Papa seorang cucu,” ujar Anggun untuk menenangkan mertuanya agar berhenti meminta cucu terus menerus.

Di sisi lain, Rico tidak menyangka bahwa Anggun akan berbicara seperti itu. Tapi dia mengaminkan semua perkataan yang di ucapkan oleh istrinya. Entah mengapa akhir-akhir ini Anggun selalu mengganggu pikirannya. Rasanya, dia selalu ingin dekat dengan wanita yang sedang berbincang melalui video call dengan sang ibu.

“Baiklah, maafkan Mama, Anggun!”

“Mama tidak perlu minta maaf. Hanya saja, Anggun meminta pengertian Mama dan Papa untuk lebih bersabar.”

“Iya, Sayang. Mama mengerti! Sebenarnya, Mama menghubungi kalian karena ingin mengabari bahwa Kakek sedang sakit dan ingin bertemu kalian. Jika kalian ada waktu, bisakah kalian datang kemari untuk menjenguk Kakek?”

“Baiklah, Ma. Aku dan Anggun besok akan ke Bali untuk mengunjungi Kakek,” ujar Rico kepada mamanya.

“Kalian sedang bertengkar? Mengapa Anggun terlihat enggan dekat-dekat dengan kamu?” tanya sang mamah penasaran.

“Heuh, ti-tidak kok, Ma!” tutur Anggun sembari terbata-bata.

“Ya sudah buktikan donk sama Mama kalau kita baik-baik saja!” tutur Rico memberikan senyum jahil sembari menyodorkan pipinya agar diberi sebuah kecupan oleh Anggun.

“Hehe,” senyum Anggun tampak di paksakan mendengar penuturan Rico. Dengan terpaksa Anggun pun mengikuti perkataan suaminya. Dia mendekatkan bibir merahnya ke pipi Rico.

Cup!

Pada saat Anggun akan mengecup pipi, ternyata Rico malah menolehkan wajah ke arah istrinya sehingga bibir mereka bertemu satu sama lain.

“Hempt,” mata Anggun membelalak pada saat bibirnya dan bibir Rico menempel.

“Terima kasih, Sayang,” tutur Rico sembari mengecup singkat berulang kali bibir Anggun yang masih suci. “Muach, muach, muach.”

Tubuh Anggun mengejang dan tangannya meremas seprai karena menahan emosi. Rico sudah mengetahui hal itu, dia pun segera berpamitan kepada mamahnya dan mengakhiri video call tersebut.

“Aku tahu kamu akan marah, tetapi sebelum kamu marah. Kamu harus ingat tentang keadilan pada saat pria itu menciummu. Jadi, jangan buang-buang waktu dan menghabiskan tenaga untuk marah-marah kepadaku. Lebih baik kamu persiapkan dirimu, besok pagi kita pergi ke Bali untuk menjenguk kakek.”

“Tapi—” tiba-tiba telunjuk Rico menutup bibir Anggun agar tidak melanjutkan perkataannya.

“Tidak ada tapi-tapi, tidak ada alasan. Besok adalah weekend, dan kita juga ke Bali untuk menjenguk Kakek bukan untuk berbulan madu. Apa kamu menginginkan bulan madu? Kita belum pernah melakukannya, bukan!” ujar Rico sembari mengedipkan sebelah matanya ke Anggun.

“Amit-amit jabang bayi, jika aku harus berbulan madu denganmu, Mas!” sahut Anggun sambil mengusap-ngusap perutnya.

“Amit-amit jabang bayi? Memangnya di dalam perutmu sudah ada bayi? Jangan-jangan itu kode keras untukku, ya, agar aku segera menanamkan benih unggulku di rahimmu,” tutur Rico dengan seringai wajah menggoda kepada Anggun.

“Kamu ngomong apa sih, Mas? Ngawur!” sahut Anggun dengan wajah sebal.

“Hahaha,” Rico tertawa terbahak-bahak karena melihat Anggun yang sudah salah tingkah dibuatnya. Rico mendekatkan bibirnya ke telinga Anggun, dan dia membisikkan, “Oh iya, satu lagi, mulai dari sekarang aku akan sering-sering menciummu! Karena hanya itu yang bisa aku lakukan kepadamu. Kamu jangan sekali-kali menolak, jika kamu sampai menolak, aku akan bilang kepada ibumu jika kamu berselingkuh dan berciuman dengan pria lain di depan kedua mataku, mengerti!”

Sebelum dia menjauhkan bibirnya dari telinga Anggun, dia mencium leher Anggun dan membuat jejak cinta di sana.

“Aw, kamu gila, Mas. Apa yang kamu lakukan?” bentak Anggun sembari mendorong tubuh Rico.

“Agar besok kedua orang tuaku menyangka bahwa kita telah melewati malam yang panjang dan bergairah. Jadi, mereka tidak akan curiga bahwa kamu belum pernah aku sentuh.”

“Ish, kenapa jadi aku yang tersudut. Cepat pergi sana ke kamarmu, Mas!” tutur Anggun mencoba mengusir pria menyebalkan itu dari kamarnya.

***

Ternyata diam-diam Nisa melihat apa yang dilakukan Rico kepada Anggun dari celah pintu yang terbuka. Betapa sakit hatinya ketika Rico mengecup bibir Anggun. Tak terasa air matanya terjatuh, dia pun menutup mulut dengan telapak tangan agar tangisannya itu tidak terdengar oleh Rico dan Anggun. Dan, kemudian dia kembali ke kamarnya.

Rico pun perlahan masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau membangunkan Nisa dari tidurnya. Dia menghampiri wanita yang sudah satu tahun ini menikah dengannya walaupun dengan pernikahan siri.

Nisa pura-pura terbangun dari tidurnya, “Sayang, belum tidur?” tanya Nisa yang kemudian bersandar di dada bidang Rico sembari melingkarkan tangannya di perut sang suami.

“Mama tadi telepon mengabari bahwa kakek sakit, lalu bliau meminta aku dan Anggun untuk pulang ke Bali menjenguk Kakek. Besok, aku dan Anggun akan pergi ke Bali. Kamu tidak apa-apa di rumah sendiri?” tutur Rico dengan lembut meminta izin kepada Nisa.

“Tidak apa-apa, kebetulan aku besok mau hangout bersama teman-temanku. Mumpung weekend, jarang-jarang aku bisa berkumpul dengan mereka.”

“Baiklah, Sayang,” tutur Rico sembari mengecup puncak kepala Nisa.

“Kalau begitu aku akan siapkan pakaianmu untuk beberapa hari,” ujar Nisa menawarkan.

“Oke, terima kasih, Sayang!”

~Kamar Anggun~

“Dasar Rico brengsek, seenaknya saja dia mencium bibirku!” umpat Anggun sembari memukul-mukul guling ke kasurnya. “Hemm, mulai sekarang aku harus lebih berhati-hati jangan sampai dia bertindak semaunya terhadapku, apalagi di depan keluarganya!”

Anggun pun mengemasi pakaiannya dan dia tidak lupa membawa bikini. Dia berencana ingin berjemur di pantai Pulau Dewata.

“Selesai! Waktunya bobo cantik,” tutur Anggun sembari merebahkan tubuhnya di kasur.

Dia memejamkan matanya tetapi tiba-tiba wajah Rico muncul di pikirannya. Dia teringat saat Rico mengecupnya.

Deg!

“Kok, jantungku tiba-tiba berdegup kencang begini, Ya? Aduh, ada apa dengan jantungku? Apa aku sakit?” ucapnya pada diri sendiri sembari memegang dada.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status