Share

Bab 2

Mata Veronica mengerjap, tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat saat ini, terus memandangi sosok pria setinggi 185 sentimeter yang menatapnya sambil menyunggingkan senyum hangat yang sanggup menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya. Seperti dia yang sekarang berusaha mati-matian menenangkan jantungnya yang berisik hanya karena melihat senyuman pria asing itu. Senyuman itu anehnya, jauh lebih menyilaukan dari senyuman yang selalu diperlihatkan Bianca pada semua wanita yang ditemuinya.

“Ya?” ujarnya, setelah ia berhasil mengendalikan diri, mengontrol debaran jantungnya yang tidak lagi sekencang tadi. “Dari mana Anda tahu nama saya?”

Pria itu tanpa sungkan menarik kursi itu sebelum meminta izin pada mereka semua, duduk di kursi dengan kedua matanya yang masih menatap Veronica, meletakkan kembali buku menu itu di atas meja. Erna juga tampak syok mendapati kehadiran sosok pria itu, karena temannya itu sama sekali tidak mengatakan apa pun dengan mulut yang setengah terbuka, sebelum mata Erna dihalangi oleh tangan Bianca yang sudah melemparkan tatapan tajam ke pria itu.

“Siapa kamu!? Apa kamu nggak tahu kalau di sini wilayah kekuasaan Pedrosa?”

Erna yang kini sudah berhasil menguasai diri, kebingungan mendengar pertanyaan Bianca yang menurut wanita itu aneh, begitu juga dengannya yang mengernyit, tidak mengerti kenapa Bianca menyinggung nama keluarganya yang jarang dibicarakan.

“Woah, tenang, tenang. Aku nggak maksud menyerang wilayah kalian. Aku masih punya etika. Aku di sini hanya untuk menjemput orang yang diminta temanku,” ujar pria itu, tampak tidak terganggu oleh tatapan Bianca. Pria itu kini menggenggam tangannya, tidak mempedulikan Bianca dan Erna, “Nggak nyangka, kamu sudah tumbuh jadi wanita secantik ini.”

“Jangan mengabaikanku, Bedebah!” Bianca menarik kerah pakaian pria itu, seketika menarik perhatian pengunjung kafe yang memang tidak banyak orang saat ini. “Menjemput, menjemput! Dari baumu saja sudah mencurigakan! Mau bawa Veronica ke mana kamu!”

“Mencurigakan? Aku?”

“Memangnya ada siapa lagi selain kamu di sini, Bajingan!” 

“Ah, benar juga. Aku terlalu langsung, ya?” Pria itu tertawa pelan, melepaskan cengkeraman Bianca dengan mudahnya. “Oh, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Stephen Laurent. Aku di sini atas permintaan temanku, Karl Smith. Kamu sudah menerima sepatunya, kan?”

“Sepatu?” Veronica melirik ke arah tasnya yang ada di sampingnya, hendak mengeluarkan sepatu itu dari tasnya saat tangan pria itu bergerak menghentikan gerakannya. “No, no. Jangan sekarang.”

Amarah Bianca mereda seketika begitu mendengar alasan pria bernama Stephen. “Hanya itu alasannya? Tidak lebih?”

“Ya. Aku datang buru-buru, jadi baru lima menit yang lalu mengonfirmasi keluargamu.”

“Akan kucek.” Bianca meraih smartphonenya, sibuk menghubungi seseorang, mengabaikan Erna yang masih tidak memahami situasi yang terjadi. Berkali-kali temannya itu memandang ke arahnya, menunggu penjelasan, tapi ia sendiri juga tidak mengerti. 

“Ya, cukup sampai di sini saja pembicaraan kita,” ujar Stephen setelah melirik arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya, menampilkan struktur tulang tangannya yang tegas. “Waktuku nggak banyak karena masih banyak yang harus kuurus. Bisa kita pergi sekarang, Nona Veronica Darren?”

Ia agak ragu, memandang ke Bianca yang masih mengobrol dengan seseorang di ujung telepon. Wajah wanita itu awalnya tegang, lalu berubah lega sambil sesekali mengangguk.

“Aku mengerti. Sampai nanti.”

Temannya itu menutup telepon, tidak lagi seketus tadi. “Oke, Laurent. Aku baru saja mengonfirmasi perkataanmu tadi. Sebagai bayaran karena mendadak datang, izinkan aku dan Erna bertemu dengan temanmu itu. Kami ingin lihat seperti apa pria yang mengincar teman kami ini.”

“Akan kuusahakan—bukan, akan kupaksa dia melakukannya. Sebagian besar juga salahnya,” sahut Stephen, santai, seraya menarik pergelangan tangan Veronica. “Kami pergi dulu. Tidak apa, kan?”

“Tentu. Tapi antar dia pulang setelah urusan temanmu itu selesai. Tahu kan apa konsekuensinya kalau berani berbuat yang tidak-tidak di teritori orang lain?”

“Aku tahu. Pasti akan kuantar pulang. Kamu bisa pegang kata-kataku.”

Agak enggan, ia mengambil tasnya yang segera diambil alih oleh Stephen yang mempersilakannya untuk berjalan mendahului pria itu. Benar-benar sikap seorang gentleman sejati. Pria itu berjalan di sampingnya, membukakan pintu kafe itu dan menuntunnya menuju mobil hitam yang terparkir rapi di depan kafe. Begitu mereka tiba di depan mobil itu, Stephen membukakan pintu mobilnya, mempersilakannya masuk dengan tangan pria itu yang berada di atas kepala Veronica, memastikan ia tidak terantuk langit-langit mobil. Lalu setelah ia masuk, pria itu menutup pintu mobilnya, berlari kecil menuju kursi kemudi dan meninggalkan area kafe itu.

***

Veronica mengenggam erat roknya, tidak berani menatap Stephen yang fokus menyetir. Matanya terus menunduk ke bawah, memainkan kedua kakinya, lalu meringis, menyadari ia terlalu berlebihan menggerakkan kaki prostetiknya hingga menggores lututnya.

“Kenapa!? Apa ada yang sakit? Apa mau berhenti dulu?” Perhatian Stephen teralih dari kemudinya, memandang Veronica khawatir. 

“Tidak, bukan hal besar. Lututku hanya tergores.”

“Ah.” Pria itu menggumam lega, kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan. Menggunakan tangan kirinya yang bebas, pria itu membuka laci mobil di depan Veronica, mencari sesuatu sampai akhirnya menemukan krim salep.

“Pakai ini untuk meredakan nyeri di lututmu. Pasti berat kan, berjalan dengan kaki prostetik seharian?”

Matanya mengerjap keheranan, tapi ia tetap menerima krim salep itu. “Anda tahu?”

“Tentu. Panggil saja aku Stephen. Kita nggak perlu bersikap formal, karena dalam waktu dekat kita akan sering bertemu.”

“O-oh…” Veronica melepaskan kedua kaki prostetiknya, menyadari bahwa pria itu menurunkan kecepatan laju mobilnya agar bisa memberinya kesempatan untuk mengoleskan krim itu di lututnya. Pelan-pelan, ia mengoles krim itu.

“Nama yang indah. Tidak keberatan kan, kalau kupanggil Nikki?” 

“Tidak.”

“Bagus.” Pria itu tersenyum puas. “Aku memang tertarik padamu sejak melihatmu di kafe tadi, tapi yah, temanku sudah lebih dulu menyukaimu dan aku bukan tipe orang yang menusuk sahabatnya sendiri dari belakang, jadi aku mundur dulu. Untuk sekarang.”

“Maksudnya?”

“Tidak apa jika tidak mengerti. Aku hanya berbasa-basi,” ujar pria itu lagi. 

“Oh.” Veronica mengangguk, walaupun tidak mengerti maksud perkataan pria itu tadi. “Ngomong-ngomong, maaf soal tadi.”

“Hm, soal apa?”

“Temanku tadi sudah tidak sopan, membentakmu seperti tadi. Tapi dia bukan orang jahat, kok! Biasanya dia orang yang lembut. Tipe yang suka tebar pesona sana-sini, sih, tapi bukan orang yang mudah marah. Jadi aku minta maaf, mewakili temanku tadi.”

“Minta maaf? Untuk apa? Wajar, kok.” Stephen terkejut mendengar perkataannya. “Aku masuk ke wilayahnya secara mendadak. Wajar dia merasa awas.”

“Masuk ke wilayah? Dari tadi aku tidak mengerti pembicaraan kalian berdua soal wilayah. Apa sebenarnya yang kalian maksud dengan wilayah?”

“Wilayah, ya wilayah. Teritori masing-masing kelompok yang harus dijaga.” Stephen menjawabnya lugas. 

“Makanya kutanya. Maksudnya wilayah itu apa? Aku nggak ngerti.”

Stephen menoleh sekilas, menaikkan sebelah alisnya. “Loh, kamu nggak tahu sama sekali atau pura-pura nggak tahu?”

“Menurutmu?”

“Bener-bener nggak tahu, nih? Kujelasin aja deh, biar nggak rumit.” Stephen menepikan mobilnya ke tempat yang sepi, lalu mematikan mesin mobilnya, mendekat ke arahnya. Hidungnya menangkap aroma parfum yang dikenakan pria itu, membuatnya entah kenapa merasa nyaman. Memunculkan perasaan aman yang sudah lama tidak ia rasakan. 

“Begini. Kamu tahu legenda soal vampir, manusia serigala, warlock, dan naga, bukan?”

Ia mengangguk, mencoba menebak arah pembicaraan mereka saat ini.

“Mereka semua itu nyata. Dan tunggu, aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang. Mungkin menurutmu ini aneh, tapi mereka semua itu nyata. Contohnya, aku yang ada di depanmu saat ini. Aku ini manusia serigala, begitu juga dengan Bianca yang vampir.”

“Serigala? Vampir?”

“Lalu temanku yang sebentar lagi akan kamu temui itu adalah naga.  Umurnya sudah delapan ratus tahun, tapi bukan berarti dia tipe naga yang konservatif seperti naga pada umumnya yang harus kuakui, menjengkelkan sekali.”

Kepalanya mendadak pusing mendengar penjelasan aneh yang baru saja diucapkan pria itu tadi. Ia mengangkat tangan kanannya, meminta pria itu memberi waktu sejenak padanya untuk mencerna informasi absurd yang baru saja ia terima dari pria itu tadi.

“Bisa kita lanjut? Waktuku nggak banyak.”

“Tunggu.” Veronica menyusun semua kepingan informasi yang baru ia dapatkan tadi, lalu mengangguk. “Ya, silakan lanjutkan.”

“Bagus. Berbeda dengan cerita legenda urban yang selalu mengatakan bahwa kaum vampir dan serigala itu saling bermusuhan, vampir dan serigala dalam kehidupan nyata sama sekali tidak bermusuhan. Justru kami itu malah satu aliansi. Yang membedakan hanya kaum vampir lebih peka terhadap sinar matahari dan suka sesuatu yang berbelit-belit. Semakin tinggi peringkat mereka, pesona mereka akan semakin meningkat. Kaum serigala, di lain pihak, jauh lebih fleksibel. Kami sangat membenci kaum naga karena kesombongan mereka yang bisa bertahan hidup lebih lama daripada kami. Pengecualian pada temanku yang kukatakan tadi. Nanti kamu akan tahu setelah bertemu dengannya. Sampai di sini, kamu mengerti?”

“Ng… ya. Mungkin.”

“Kuanggap iya. Udah selesai? Kalau gitu pasang lagi kaki prostetikmu dan gunakan sepatu pemberian temanku tadi. Karena itu tanda agar kamu bisa masuk ke wilayah temanku nanti. Atau perlu kupakaikan?”

“Nggak. Aku bisa pakai sendiri,” jawab Veronica, menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang merona karena membayangkan pria itu memakaikan sepatu itu padanya. 

“Sayang sekali. Padahal aku mau.”

Veronica mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mewujudkan apa yang baru saja ia bayangkan tadi. “Ka-kalau begitu, kalau tidak keberatan…”

Pria itu bergeming sesaat, tampak syok, sebelum pria itu tersenyum lembut padanya. “Tentu. Aku nggak keberatan. Sama sekali nggak. Akan kupakaikan begitu kita sampai di tempat temanku nanti.”

Suasana mendadak canggung. Pria itu mengelus belakang lehernya, tampak sedikit merona, tidak berani menatapnya. Begitu juga dengannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba berinisiatif untuk memecah suasana hening yang mereka ciptakan sendiri. Lalu pria itu berdehem, menyalakan mesin mobilnya dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat mereka.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status