Share

Bab 4

Veronica terus bengong. Membiarkan Stephen yang baru saja kembali setelah urusannya selesai itu mengantarkannya pulang ke rumah. Mentalnya terguncang setelah pernyataan cintanya yang menurutnya terlalu mendadak sehingga ia tidak menyimak kata-kata Karl selanjutnya. Otaknya seketika kosong. Seperti sebuah buku ukuran F4 yang masih berwarna putih, kehilangan semua coretan yang sempat menghiasi buku itu. Tidak bisa memproses apa yang baru saja ia dengar dari pria rambut hitam berwajah oriental itu. Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih pada Stephen yang sudah mengantarkannya pulang.

“Nikki? Halo?”

Tepukan keras di bahunya berhasil menyadarkannya. Ia berbalik, memandangi Stephen yang berdiri di belakangnya, tertawa pelan melihatnya. 

“Akhirnya sadar juga. Sebentar lagi dahimu membentur pintu apartemenmu sendiri, tuh.” 

“Ah… oh!” Veronica menatap pintu apartemennya yang berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya, lalu menjauh dari pintu apartemennya. “Ya, kamu benar. Makasih.”

Veronica baru menyadari bahwa pria itu mengantarkannya sampai di depan pintu apartemennya. Tangannya segera merogoh kunci apartemen yang ia simpan di dalam tasnya. Karena terlalu gugup, ia sampai menjatuhkan kunci apartemennya. Pria itu segera bergerak mendekat, memungut kunci itu sebelum ia berhasil melakukannya. 

“Biar aku yang buka pintunya. Pasti kamu kecapekan,” kata Stephen, mengambil alih membukakan pintu apartemen itu untuknya sambil mengembalikan kunci itu padanya setelah ia masuk ke dalam. “Sampai besok, Nikki. Semoga tidurmu nyenyak.”

“Tapi ini masih jam enam sore!”

“Aku tahu,” ujar Stephen seraya menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulitnya, mengangkat bahu. “Tapi lebih awal lebih baik, bukan? Dari tadi aku nanya sama kamu pas di mobil, tapi kamu bengong terus, jadi kubiarkan. Gimana kesanmu soal temanku tadi?”

“Orang yang menyenangkan,” jawab Veronica, cepat. Tidak mungkin ia memberitahu Stephen kalau ia nyaris tergiur untuk menyentuh bokong padat temannya itu. Pasti pria itu akan menganggapnya sebagai wanita mesum. Jadi, hanya itu jawaban yang bisa ia berikan pada Stephen.

“Hanya itu? Melihat reaksimu tadi, sepertinya lebih. Ya, lebih baik simpan detailnya untuk kamu sendiri. Pasti kamu kaget karena pernyataan cinta Karl, bukan?”

Ia mendelik tajam, terkejut mendengar tebakan Stephen yang tepat sasaran. “Dari mana kamu tahu?!”

“Karena itu yang terus dikatakan Karl setiap kali membicarakan pertemuan kalian. Sampai telingaku sakit mendengarnya. Tapi temanku itu memang benar. Kamu yang sekarang jauh lebih menarik dari semua wanita yang pernah kukencani.”

Matanya menyipit begitu mendengar jawaban Stephen yang mengingatkannya akan Bianca. Ada perasaan kecewa yang menghinggapi dadanya. “Jadi, aku ini salah satu dari ‘wanita-wanita’ yang pernah kau dekati?”

Pria itu tampak tidak menampik perkataannya yang mengandung sindiran di bagian terakhirnya, karena pria itu mengelus belakang lehernya, tampak kikuk.

Well, yeah. Lebih baik jangan terlalu dekat denganku, Nikki. Aku memang bukan orang yang bisa kamu kategorikan sebagai orang baik, tapi temanku itu… yah, kamu bisa percaya padaku untuk yang satu ini. Karl itu orang yang bisa kamu andalkan.”

Veronica memutar bola matanya. Bagus. Pria yang ada di hadapannya ini berhasil menghancurkan impresi pertama yang kelihatannya dibuat pria itu tanpa sadar saat pertemuan pertama mereka di kafe.

“Sesuai perkataanmu, Stephen. Aku agak capek, dan butuh istirahat. Jadi sampai di sini saja. Selamat tidur,” katanya, kehilangan minat untuk melanjutkan percakapan mereka dan membanting pintu apartemennya tepat di depan wajah Stephen yang terkejut melihat perubahan emosinya. Sekilas ia melihat wajah Stephen yang berubah muram sesaat.

Pria yang aneh, gumamnya dalam hati. Tapi dia jauh lebih aneh lagi karena menyukai pria yang jelas-jelas tidak berminat untuk memajukan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. 

Veronica masih berdiri di pintu apartemennya, mendengus kesal. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia begitu kesal mendengar bahwa ia bukan wanita pertama yang didekati oleh Stephen Laurent. Maksudnya, ayolah, mana mungkin pria setampan Stephen Laurent tidak berpacaran selama hidupnya?

Dibandingkan Stephen, rasanya Karl Smith berkali-kali lipat jauh lebih baik. 

Tidak, tidak. Kenapa ia mulai membandingkan kedua pria yang baru ia temui hari ini?

Veronica menepuk pelan kedua pipinya, menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan lamunannya. Mengeluarkan sepatu sneaker yang ia simpan di dalam kotak yang ada di dalam tas untuk dan menyimpannya ke dalam rak sepatu yang ada di dekat pintu masuk apartemennya, bersama dengan sepatu hak tinggi merah pemberian Karl yang ia kenakan. Lalu berjalan lunglai menuju kamar tidurnya. 

***

Napas Veronica langsung memburu begitu berhasil terbangun dari mimpinya. Ia menelan ludah, mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya sambil mengambil jam digital yang ada di atas nakasnya. Pukul tiga dini hari. Tangannya mengembalikan jam itu ke atas meja, sementara ia mengatur napasnya agar kembali normal. 

Sepulangnya dari kediaman Karl, tubuhnya dihinggapi rasa letih, sehingga ia memutuskan menggunakan sisa waktunya untuk tidur walaupun ia tahu bahwa ia masih memiliki tugas mengerjakan mata kuliah Viktimologi yang harus dikumpulkan minggu depan.

Lagi-lagi mimpi itu muncul. Mimpi yang sudah tidak menghantuinya selama dua tahun, setelah ia menghabiskan hampir sepanjang hidupnya mengunjungi psikiater setiap bulan untuk menangani trauma paska insiden penyerangan yang membuatnya harus kehilangan kakinya di usia delapan tahun. Veronica menyentuh pahanya mengelus bagian kakinya yang hilang itu dengan muram. Ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Namun, ingatannya masih tertuju pada kejadian dua belas tahun yang lalu.

Pada pertengkaran orangtuanya yang selalu terjadi setiap hari saat itu…

Pada keputusannya yang memilih pergi dari rumah karena tidak tahan dan berlari hingga tersesat jauh di dalam hutan yang dingin, di kegelapan malam saat bulan setengah penuh…  

Pada ketakutannya saat sosok serigala bermata hazel penuh amarah berlari menyerangnya. Menggigit kedua kakinya hingga ia menjerit kesakitan dan kehilangan kesadarannya…  

Seberapa kerasnya ia mencoba memancing ingatannya untuk mengingat lebih banyak mengenai kejadian itu, ingatannya selalu berhenti sampai di sana. Lalu berulang. Awalnya, akan berputar sangat lambat, lalu kemudian semakin cepat, dan semakin cepat, sampai kepalanya berdenyut karena tidak sanggup menerima kenangan yang berputar terlalu cepat itu. Seperti sekarang. Ia mencengkeram selimutnya, berusaha mengenyahkan kenangan itu dari pikirannya. 

Beberapa waktu kemudian, kilas balik ingatan itu menghilang. Ia menarik napas lega, kembali berbaring di tempat tidurnya. Matanya memandang ke langit-langit. Mengingat ekspresi wajah Stephen yang muram sesaat begitu melihatnya marah. Apa pria itu tahu sesuatu mengenai kejadian itu, mengingat sosok yang pernah menyerangnya itu adalah serigala? 

Benar juga. Mungkin saja pria itu tahu, dan sengaja merahasiakan fakta itu darinya. Latar belakang Stephen yang merupakan manusia serigala pasti memberi pria itu alasan untuk melindungi sesama manusia serigala. 

Tiba-tiba, ia merasa benci pada Stephen. 

Veronica sekali lagi mencengkeram sprei itu sekuat tenaga hingga buku-buku jarinya memutih. Kalau sudah begini, mustahil baginya untuk kembali melanjutkan tidurnya. Bagaimana jika mimpi buruk itu kembali muncul?

Sambil menghela napas panjang untuk ke sekian kalinya, Veronica melempar selimut yang dikenakannya tadi ke sisi tempat tidur, melompat keluar dari tempat tidurnya. Lebih baik ia gunakan waktunya untuk melanjutkan tugasnya yang sempat ia tunda tadi sore agar pikirannya teralih dari mimpi itu. Ia memandang kaki prostetiknya sejenak, lalu memilih meraih sepasang kruk yang tergeletak manis di samping kaki prostetiknya. Berjalan menuju meja belajarnya, menyalakan laptopnya. Lampu indikator baterai laptop itu berubah merah. 

Sial. Ia lupa mengisi daya baterai laptopnya kemarin, sebelum ia berangkat tidur. 

Kesal, ia merutuki ketololannya sendiri, menyambungkan kabel pengisi daya ke laptopnya. Pikirannya mencoba mengingat kembali mimpi itu, yang segera ia tepis. Begitu logo Windows 10 muncul di layar laptopnya, ia mencari berkas tugasnya, mulai mengerjakan tugas tersebut. Rasa kantuknya sudah benar-benar hilang saat ia harus membaca modul pembelajaran elektronik setebal lima ratus halaman, menandai bagian yang diminta oleh dosennya kemarin lusa untuk dipelajari.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status