Share

Bab 5

Baru kali ini ia, Stephen Laurent, gugup.

Membawa sebuket bunga mawar merah yang biasanya selalu disukai oleh semua wanita yang menjadi pacarnya, Stephen terus menunggu penuh cemas sambil menekan tombol bel apartemen Veronica.

Kemarin, Nikki marah padanya, dan ia tidak mengerti alasan kenapa wanita itu marah. Ia tidak merasa mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu tersinggung. Justru ia memilih dengan cermat setiap ucapannya agar tidak menyakiti perasaan Nikki, mengingat kondisi wanita itu yang spesial. Walaupun ia masih belum mengerti alasan di balik kemarahan Nikki, lebih baik ia meminta maaf. Biasanya, buket bunga mawar yang masih segar dan organik ini akan selalu berhasil menyelesaikan semuanya.

Ia harap begitu.

Masih tidak ada jawaban dari Nikki. Sekali lagi, ia menekan bel apartemennya.

"Sebentar!"

Terdengar suara teriakan Nikki dari dalam, tampak tergesa-gesa. Ia sempat mendengar suara benturan yang keras dari dalam. Apa wanita itu baik-baik saja? Ia merutuk dirinya sendiri. Harusnya ia lebih sabar menunggu. Bagaimana jika wanita itu terjatuh saat akan membuka pintu untuknya?

Pintu apartemen wanita itu terbuka. Sosok yang ia tunggu akhirnya muncul. Mata wanita itu setengah terpejam. Rambutnya tampak berantakan, mengenakan bando berbentuk telinga kelinci berbahan kain Terry putih dan merah muda. Kedua tangannya memegang kruk yang menyangga beban tubuhnya karena tidak memasang kaki prostetiknya. Setelan oversized sweatshirt berwarna dark green yang tampak seperti dress di tubuh mungil wanita itu dengan tulisan grafiti "I'm Not Yours" di tengah kaos itu tidak begitu cocok dengan imej imut yang diperlihatkan Nikki di awal pertemuan mereka, namun tidak mengurangi kecantikannya. Ia mendapati dirinya terpana mengagumi kecantikan Nikki, sampai tidak menyadari bahwa orang yang ia amati saat ini tengah memanggil namanya.

"Stephen? Ngapain kamu di sini?"

Ia melonjak kaget, nyaris menjatuhkan buket bunga mawar yang ia sembunyikan di balik punggungnya saat Nikki mendekatkan wajahnya hingga tersisa beberapa sentimeter. Refleks ia melangkah mundur beberapa langkah dari wanita itu, sambil menenangkan jantungnya yang mulai berisik. Ada apa dengannya? Ini bukan dia yang biasanya. Hanya karena seorang wanita mendekatinya berhasil membuatnya gugup seperti sekarang. Wanita itu menelengkan kepalanya. Dari raut wajahnya, ia rasa wanita itu masih marah padanya.

"Pagi, Nikki."

Wanita itu menguap lebar. Kantong mata wanita itu terlihat jelas. Sepertinya wanita itu tidak sempat tidur semalam. 

"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi."

"Ya?"

"Kamu ngapain ke sini?" tanya wanita itu, jutek. Sambil menyandarkan separuh tubuhnya di pintu, menunggu jawabannya.

Masih gugup, ia mengeluarkan buket bunga yang ia sembunyikan tadi, memberikannya pada Nikki.

"Untukmu. Permintaan maaf karena sudah membuatmu marah kemarin."

Wanita itu melirik sekilas buket itu, lalu memalingkan wajahnya. "Lalu? Apa aku harus menerimanya?"

"Itu tergantung kamu."

"Buang saja. Aku nggak butuh. Lagipula, pasti bukan cuma aku saja yang pernah mendapat buket bunga seperti itu, kan?"

Ia terdiam, mengetahui bahwa cara yang ia lakukan itu tidak berhasil. Wanita itu malah semakin kesal. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

"Ada lagi?"

"Itu ..." Stephen semakin gugup. Ini benar-benar di luar dugaannya. Ia bisa merasakan tangannya yang memegang buket bunga itu mulai berkeringat. "Aku ke sini untuk menjemputmu."

"Oh. Permintaan Karl?"

Ia menggeleng. Ini murni keinginannya sendiri. Karl memang sempat menawarkan diri untuk menjemput Nikki, yang ia tolak dengan tegas karena ia ingin meminta maaf pada wanita itu. Sekilas, ia melihat perubahan ekspresi Nikki yang tampak senang mendengarnya, sebelum ditutupi kembali. Dalam hati, ia lega. Apa pun itu, setidaknya Nikki tidak lagi marah padanya.

"Tunggu. Aku siap-siap dulu."

"Oke."

Nikki berjalan masuk ke dalam. Baru beberapa langkah, wanita itu berbalik kembali menghadapnya.

"Masuk saja. Apa aku perlu memberimu izin untuk masuk, seperti yang sering ada di cerita fiksi vampir?"

"Nggak perlu. Kalau begitu, permisi."

Nikki tersenyum padanya sebelum kembali berjalan menuju kamar tidur wanita itu yang terletak tepat di depan ruang dapur. Ia melepaskan sepatunya di rak sepatu yang disediakan di dekat pintu masuk. Apartemen itu tidak besar. Ada ruang tamu yang merangkap ruang makan. Dapurnya juga tidak luas, hanya cukup dimasuki oleh satu orang. Ada beberapa buku yang berserakan di atas meja tamu, yang beberapa di antaranya pernah ia baca. Ia meletakkan buket bunga mawar yang masih ia pegang itu di sampingnya, mengamati judul buku itu satu per satu.

Sistem Hukum, Pengantar Kriminologi, Viktimologi,  Kriminologi Psikososial, Kitab Hukum Perdata ...

Ia membaca sekilas semua buku yang berserakan itu. Topik yang berat. Apa ini materi perkuliahan wanita itu? Sewaktu kuliah dulu, ia mengambil jurusan Kriminologi, sehingga ia sedikit memahami buku-buku tersebut. Memastikan bahwa ia sudah mengembalikan buku itu ke posisi semua—tepat di halaman yang ditinggalkan Nikki—dan tidak merapikannya karena khawatir wanita itu masih membutuhkannya, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Apa wanita itu tinggal sendiri? Ia bahkan baru menyadari bahwa di apartemen wanita itu, ia tidak menemukan satu pun foto Nikki bersama orangtuanya. Hanya ada foto wanita itu bersama kakak perempuannya, dengan latar belakang danau. Apakah orangtua wanita itu sudah meninggal? Ia benar-benar tidak tahu, karena Karl hanya pernah menyinggung kakak perempuan wanita itu beberapa kali.

"Aku sudah siap. Maaf membuatmu menunggu."

Ia memutar tubuhnya tiga puluh derajat. Seakan waktu berhenti, ia memandangi sosok Nikki yang mengenakan semi kasual perpaduan biru dan putih. Kemeja dengan hiasan tali sepatu yang menjuntai di bagian lengannya yang longgar, bermotif horizontal biru dan putih, dipadu rok putih sepanjang lutut. Wanita itu sudah memasang kaki prostetiknya, sehingga tidak lagi mengandalkan kruk untuk membantunya berjalan. Ia beranjak dari kursinya begitu berhasil tersadar dari lamunannya.

"Tidak masalah ... Maksudku, ini masih pagi. Tidak perlu terburu-buru," Stephen bisa mendengar suaranya yang bergetar saat mengatakannya. Dalam hati, ia merutuki ketololannya. Nggak. Ia tidak boleh menyukai Nikki. Karl sudah menyukai wanita itu sejak lama. Mana mungkin ia merebut orang yang disukai sahabatnya sejak lama?

Tapi kenapa jantungnya semakin berisik hanya dengan melihat senyuman Nikki?

Nikki buru-buru menghampiri meja tamu, mengambil semua buku yang tadi sempat ia baca sekilas.

"Maaf, tempatku berantakan."

"Tidak masalah. Biar kubantu," ujarnya, ikut memungut semua buku yang berserakan itu dan merebut buku yang ada di tangan Nikki. "Ini ditaruh di mana?"

Nikki menunjuk ke sebuah rak buku yang berada di dekat ruang tamu.

"Oke."

Ia meletakkan buku itu ke rak buku, lalu kembali menghampiri Nikki yang kini berada di depan pintu masuk, tengah mengenakan sepatunya. Tangannya mengambil buket bunga tadi, menyusul wanita itu. Sekilas, ia melihat sepatu pemberian Karl yang masih tergeletak rapi di rak paling atas, yang baru ia sadari sekarang.

"Sepatu kemarin nggak kamu pakai?"

Nikki yang sudah selesai mengenakan sepatunya, menoleh ke arah yang ditunjuk Stephen, menggeleng cepat.

"Kata Bianca, sebaiknya aku nggak terlalu sering memakai sepatu ini."

"Oh, si Pedrosa itu? Kenapa memangnya?"

"Takut kalau nanti pacar-pacarnya mengamuk karena melihatku mengenakannya."

"Kenapa? Bukannya bagus? Sepatu itu cocok untukmu."

Wanita itu menyipitkan kedua mata cokelatnya ke arah Stephen. "Aku lupa. Kamu sama dia sama-sama tipe player. Mana mungkin mengerti perasaan orang yang keberadaannya seperti debu ini?"

Ada sedikit nada sarkasme saat Nikki mengatakannya, membuatnya sedikit kebingungan. Apa ia lagi-lagi melakukan suatu kesalahan?

"Oke."

Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Ia membukakan pintu apartemen Nikki, mempersilakan wanita itu untuk keluar terlebih dahulu. Setelah menutup pintu dan memberikan kunci apartemen itu pada Nikki, ia berjalan di belakang Nikki, mencari tempat sampah untuk membuang buket bunga itu. Nikki tidak mau menerimanya, dan tidak ada seorang pun yang bisa ia berikan bunga itu, sehingga hanya itu pilihan yang tersedia untuknya. Dengan berat hati, ia membuang buket bunga yang ia beli dengan susah payah setelah mencari ke berbagai toko bunga pagi-pagi sekali, lalu menyusul Nikki yang sudah berjalan mendahuluinya.

Hidungnya tiba-tiba mengendus aroma aneh saat mereka menyusuri lorong menuju lift, merasakan keberadaan beberapa vampir yang bukan berasal dari kelompok yang ia kenal. Ia mencegat Nikki yang sudah berdiri di depan lift akan memasuki lift yang berhenti, menarik wanita itu mundur dari lift.

"Ada apa?" tanya wanita itu, gusar.

Tidak menjawab pertanyaan Nikki, ia menggendong tubuh mungil Nikki, membawa wanita itu berlari menjauhi lift yang perlahan terbuka. Matanya menangkap sekilas bayangan beberapa pasang kaki yang mengenakan sepatu pantofel hitam. Perasaannya tidak enak.

"Stephen! Jawab pertanyaanku!"

Ia tidak menggubris teriakan Nikki yang memintanya untuk menurunkan wanita itu. Kakinya segera melompat, menapak pinggiran balkon yang ada di sebelah kirinya.

"Tutup matamu."

Wanita itu menurut. Di belakangnya, beberapa orang sudah berlari menyusulnya. Ia melompati gedung tujuh lantai itu, mendarat mulus di area parkir apartemen Nikki.

"Kita pergi sekarang. Akan kujelaskan nanti," ujarnya, begitu melihat wanita itu akan kembali melontarkan pertanyaan padanya.

Begitu tiba di depan mobilnya, ia menurunkan Nikki dari gendongannya, membukakan pintu mobilnya. Matanya melirik ke belakang, mendapati orang-orang tadi berlari menyusulnya. Ia mendecakkan lidah, menutup pintu itu dan memasuki mobilnya. Lalu menyalakan mesin mobilnya, bergegas keluar meninggalkan area itu.

***

Nikki tidak mengerti.

Ia baru saja senang karena Stephen berinisiatif menjemputnya. Sebenarnya, ia juga senang saat mengetahui pria itu mendatangi apartemennya pagi-pagi sekali hanya untuk meminta maaf. Tapi, saat pria itu menyodorkan buket berisi mawar merah yang masih segar, ia kecewa. Ia tahu, pasti bukan hanya dia saja yang pernah diberikan buket bunga mawar seperti itu. Karena itu ia menyuruh Stephen membuang bunga itu.

Sekarang, pria itu mengajaknya berlari saat pintu lift terbuka. Ia tidak paham saat pria itu menggendongnya sebelum ia sempat menolak. Ia berteriak, mencoba bertanya pada Stephen apa yang sedang terjadi, namun pria itu tidak menggubris pertanyaannya. Wajah pria itu tampak tegang, membuat perasaannya tidak enak.

“Tutup matamu,” perintah Stephen. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia menurut. Ia bisa merasakan embusan angin yang kuat menerpa tubuhnya, seakan ia tengah melayang, sebelum akhirnya kaki Stephen mendarat mulus di atas tanah. 

Tunggu! Apa jangan-jangan Stephen membawanya melompat dari balkon?! Ini gedung tujuh lantai, dan apartemennya berada di lantai lima! Apa pria itu gila?! Ia segera membuka matanya, mendapati bahwa Stephen membawanya ke area parkir yang ada di depan gedung apartemen. Ia menoleh ke belakang, melihat apa yang terjadi. 

Di belakang mereka dan juga dari atas balkon, ia melihat sekelompok orang berlari mengejar mereka. Tubuhnya gemetar ketakutan, mencengkeram baju Stephen sekuat tenaga. Matanya sempat bertemu pandang dengan salah satu orang yang tengah mengejar mereka. Iris mata mereka yang merah, ditambah kulit mereka yang pucat sedikit bercahaya saat terkena sinar matahari.

Apa jangan-jangan, mereka adalah vampir?

“Kita pergi sekarang. Akan kujelaskan nanti.”

Hanya itu yang dikatakan Stephen. Begitu mereka tiba di depan mobil, pria itu membawanya masuk ke dalam mobil. Stephen melirik ke belakang. Di belakang pria itu, orang-orang yang mengejarnya semakin dekat. Pria itu mendecakkan lidah, kesal, segera memasuki mobil. 

“Jangan khawatir. Ada aku.”

Kata-kata Stephen sama sekali tidak berhasil menenangkannya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana orang-orang itu menatapnya tadi. Apakah Bianca juga akan seperti itu saat sosok vampirnya muncul? 

Pria itu melajukan mobil yang mereka naiki itu dengan kecepatan penuh, meninggalkan kawanan orang-orang tadi yang menggeram kesal karena gagal menyusul mereka. 

“Maaf, Nikki. Pagi harimu disambut dengan cara yang tidak enak begini. Aku nggak tahu kenapa vampir-vampir itu menyerangmu,” Stephen akhirnya angkat bicara setelah mereka terdiam selama beberapa saat. Kejadian tadi membuatnya teringat akan mimpi buruknya tadi malam, membuatnya ketakutan. Ditambah dengan aroma tubuh Stephen yang tidak sengaja ia cium saat pria itu menggendongnya, membuatnya teringat akan sosok serigala yang dulu pernah menyerangnya. Bagaimana pun, pria ini adalah serigala. Ia tahu, pria itu berbeda. Tapi ketakutannya terasa begitu nyata.  Kelihatannya Stephen menyadari ketakutannya, karena tangan pria itu yang bebas berinisiatif mencari tangan Nikki dan hendak menggenggamnya. Refleks, ia menjauhkan tangannya dari Stephen. 

“Jangan sentuh aku!”

Ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya. Tidak seharusnya ia menolak gestur Stephen tadi. Pria itu pasti ingin menenangkannya. Tapi kenapa ia yang sekarang merasa takut berada di samping Stephen Laurent?

“Aku mengerti. Maaf,” Stephen menarik tangannya, kembali memegang setir kemudi. Wajah pria itu berubah muram. Suasana kembali hening karena reaksinya tadi. Pria itu bahkan tidak mencoba mencairkan suasana, terus terdiam sama sepertinya, hingga tiba di depan gedung kampusnya.

***


Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status