THE HEIR
THE HEIR
Author: Olivia Yoyet
Mabuk

-1-

Dering ponsel di saku kiri, membuat Theo terperanjat dan bergegas menghentikan aktivitas. Pria yang bernama lengkap Theonardus Liem itu segera mengambil benda yang tak hentinya berdering, dan mengernyitkan dahi saat melihat nama yang telah memanggil. 

"Ya, Mbak?" sapa Theo. 

"Buruan masuk, Nadine mabuk nih!" seru Indira, perempuan muda yang merupakan sahabat dari Nadine Alexandra, bos-nya Theo. 

Theo menutup telepon dan mematikan rokok, menginjaknya dengan cepat dan jalan memasuki sebuah lounge di kawasan Thamrin. 

Suasana dalam ruangan yang tidak terlalu terang, membuat Theo sedikit kesulitan untuk menemukan posisi tempat duduk bos dan ketiga rekannya tersebut. 

Pria bertubuh tinggi itu mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan akhirnya bisa menemukan keempat perempuan itu yang tengah duduk di kursi bagian sudut kiri.

Theo jalan mendekat dan disambut Indira dengan omelan yang tidak terlalu jelas. Theo mengabaikan perempuan bertubuh kurus itu dan memegangi lengan Nadine yang sudah mabuk.

"Bu, ayo, kita pulang," ajak Theo. Dalam hati dia mengumpat karena sekali lagi harus menggendong sang bos yang tengah mabuk berat. 

Santi, sahabat Nadine membantu Theo untuk mengangkat tubuh Nadine yang cukup padat. Sementara Elsa, sahabat setia Nadine sejak masih SMP, membantu membawakan tas milik Nadine. 

Indira berjalan dengan sedikit sempoyongan, hingga akhirnya dipapah oleh Elsa. Mereka jalan beriringan menuju dua buah mobil yang diparkir berdampingan.

Santi membukakan pintu penumpang, Theo segera meletakkan Nadine yang nyaris tidak sadarkan diri itu ke jok mobil. Tak lupa memasangkan sabuk pengaman agar perempuan muda tersebut tidak terjatuh. 

"Hati-hati, Theo," ucap Santi. 

Theo mengangguk dan bergegas masuk ke bagian pengemudi. Menyalakan mesin dan memasang sabuk pengaman. Memundurkan mobil dan ke luar dari tempat parkir. 

Mobil mewah hitam mengilat itu melaju menembus jalanan yang cukup ramai. Melewati gerbang tol, Theo memacu kendaraan dengan lebih cepat. 

Sesekali terdengar suara Nadine yang meracau tidak jelas. Theo hanya melihat sekilas untuk memastikan bos-nya tidak apa-apa. 

Sesampainya di gedung apartemen mewah di kawasan Pluit, Theo memarkir mobil di tempat biasa. Melepaskan sabuk pengamannya dan Nadine, membuka pintu dan menutupnya dengan cepat. 

Pria beralis tebal itu berpindah ke pintu penumpang, membuka pintu itu dan mengangkat tubuh Nadine. Sekali lagi dia harus menggendong sang bos, dan menutup pintu mobil dengan menggunakan kaki kanan. 

Setelah mengunci mobil, Theo bergegas menuju lift khusus pemilik kondominium. Memasuki lift dan menurunkan kaki Nadine ke lantai lift. Merangkul pundak gadis itu dan memencet tombol lift. Menunggu benda ini bergerak menaiki lantai demi lantai dengan sedikit tidak sabar. 

Saat pintu lift terbuka, Theo menggendong lagi tubuh Nadine yang masih lemas. Memasuki unit apartemen mewah tersebut dan bergegas ke kamar. 

Theo bersusah payah membuka pintu kamar, dan masuk dengan cepat. Membaringkan Nadine di atas tempat tidur yang sangat empuk dan wangi. Melepaskan sepatu gadis yang berusia dua puluh lima tahun itu dan meletakkannya di lantai. 

"Bagas, tega banget kamu," lirih Nadine. 

Theo memandangi wajah sang bos yang tampak sedih. Tertegun saat gadis itu terisak pelan dan menumpahkan bulir bening dari sudut mata. 

Mengikuti intuisi, pria berkulit kuning langsat tersebut mengusap aliran air di pipi Nadine. Tertegun saat menyadari bahwa pipi gadis ini ternyata sangat halus. 

Selama dua tahun mengabdi sebagai supir pribadi, hubungan mereka memang cukup dekat. Nadine sering menjadikan Theo sebagai tempat curahan hatinya. 

Nyaris tidak ada cerita tentang dirinya yang tidak diketahui oleh Theo. Termasuk perihal kandasnya hubungan cinta antara Nadine dan Bagaskara Praditya, seorang pria tampan dan pengusaha muda yang berusia dua puluh tujuh tahun.

Hubungan yang terjalin selama satu tahun terakhir ini sepertinya menjadi pelabuhan hati terakhir bagi Nadine. Perempuan berkulit putih itu benar-benar jatuh cinta pada Bagaskara.

Nadine benar-benar terpukul, saat dua minggu lalu Bagaskara tiba-tiba saja memutuskan hubungan mereka, dengan alasan ingin kembali pada mantan pacarnya dulu yang bernama Yuri Madika, seorang perempuan keturunan Jepang yang berprofesi sebagai model terkenal. 

Theo menjadi saksi akan keterpurukan Nadine. Harus menahan hati bila harus menemani gadis itu ke klub mahal, hanya untuk bermabuk-mabukan bersama sahabat-sahabatnya. 

Malam ini merupakan kali keempat Nadine mabuk, sekaligus yang terparah. Perempuan berhidung bangir itu kembali meracau sambil menyebut nama Bagaskara. 

Saat Theo hendak berdiri, tiba-tiba Nadine menarik tangannya. Theo menoleh dan mendapati Nadine sedang berusaha untuk duduk. 

"Kamu tahu nggak, Bagas, kalau aku itu benar-benar cinta sama kamu!" seru Nadine sambil memandangi wajah Theo yang mengerutkan dahi dengan bingung. 

"Saya bukan Bagas, Bu. Saya, Theo," sahut pria berambut tebal itu dengan pelan. 

"Diam! Dengarkan aku ngomong!" Nadine mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah Theo yang terdiam. "Apa kurangnya aku dibandingkan dengan dia? Aku jelas lebih cantik dan kaya!" 

Theo menggigit bibir bawah untuk menahan tawa. Berusaha sedapat mungkin untuk bersikap tenang dan santai, walaupun sebenarnya saat ini dia ingin mengguncangkan pundak Nadine agar gadis itu bisa sadar kembali.

"Apa aku kurang seksi, hah?" Nadine menatap Theo yang menggeleng pelan. 

"Atau, kamu ninggalin aku, karena tidak memberikan apa yang kamu minta, betul?" 

Theo menghela napas dan menggeleng lagi. Tetap berusaha untuk bersikap tenang. 

"Apa aku harus memberikannya padamu saat ini? Agar kamu paham akan besarnya cintaku?" Nadine memajukan tubuh dan melingkarkan tangan di leher Theo yang kebingungan. 

"Bu, maaf, saya Theo." Pria berwajah tampan itu mencoba melepaskan tangan Nadine. Akan tetapi, perempuan itu malah menaiki tubuh dan duduk di atas pangkuan Theo. 

"Diam!" seru Nadine sambil memiringkan kepala ke kiri dan kanan. Mengamati pria di hadapan dengan pandangan mengabur. 

Theo terperangah saat Nadine menarik tangan kanannya dan beralih mengelus pipi pria itu dengan pelan. Theo seolah-olah terpaku dan tidak bisa menghindar. Hanya mampu memandangi wajah perempuan muda yang cantik itu dengan dada berdegup kencang. 

"Kumis kamu mulai panjang, Sayang," lirih Nadine sembari terus mengusap bagian atas bibir Theo, yang berusaha sedapat mungkin untuk menguasai diri. 

"Tapi aku suka, karena sensasinya berbeda," lanjut Nadine. 

Seulas senyuman tipis menghiasi wajahnya yang cantik. Perempuan itu semakin mendekat dan membuat Theo menahan napas. 

Degup jantungnya semakin tidak terkendali. Susah payah pria bertubuh tinggi itu menahan tangan agar tetap berada di tempatnya. Akan tetapi, saat bibir Nadine menempel, Theo refleks membuka bibir. Menikmati setiap sentuhan lembut gadis itu dan membiarkannya terlena. 

Tangan Theo yang terkepal akhirnya membuka. Menari di paha hingga pinggang Nadine. Gumaman gadis itu kian kencang dan menjadikan Theo semakin kesulitan untuk mengendalikan diri. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status